Indonesia
NovelToon NovelToon
MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TIGA PULUH

Berita soal perceraian Anyara dan Juned ternyata tidak bisa lama-lama disembunyikan dari lingkungan sekitar. Entah dari mana asalnya, kabar itu mulai menyebar di antara tetangga, bahkan sampai ke telinga keluarga besar Juned yang tinggal jauh di luar kota.

Suatu siang, saat Anyara baru pulang dari butik, ia mendapati Bude Tuti sudah duduk di ruang tamu, berbicara serius dengan Ratih. Begitu melihat Anyara masuk, keduanya langsung menghentikan pembicaraan.

"Eh, Anyara, kamu udah pulang," ucap Bude Tuti, tersenyum kaku.

"Iya, Bude. Ada apa ya, kok kelihatannya serius banget?" tanya Anyara, meletakkan tasnya.

Ratih menghela napas, memberi isyarat pada Anyara untuk duduk. "Bude Tuti kesini mau ngomongin soal rencana cerai kamu sama Juned, Nak. Kabarnya udah nyampe ke keluarga besar."

Bude Tuti melanjutkan dengan nada yang terdengar berusaha bijaksana, meski tersirat sedikit nada menghakimi. "Anyara, Bude denger-denger kamu udah ajuin gugatan cerai. Bude cuma mau tanya, apa nggak ada jalan lain lagi? Kasian juga kalau sampai anak nanti lahir tanpa status yang jelas dari bapaknya."

Anyara menatap Bude Tuti, mencoba menahan diri untuk tidak terpancing emosi. "Bude, dengan segala hormat, keputusan ini bukan diambil sembarangan. Mas Juned udah selingkuh sama tiga orang, dan salah satunya sekarang hamil. Saya rasa bukan saya yang harus dipertanyakan di sini."

Bude Tuti terdiam sesaat, tampak tidak menyangka Anyara akan menjawab setegas itu. "Bude ngerti kok situasinya berat, Anyara. Tapi kadang demi anak, perempuan itu harus rela berkorban lebih banyak."

"Bude," Ratih tiba-tiba menyela, suaranya tegas, "Anyara udah cukup banyak berkorban selama ini. Ini bukan lagi soal berkorban demi anak siapa pun, tapi soal harga diri Anyara sendiri yang udah diinjak-injak sama anak saya. Saya sebagai ibunya Juned aja dukung penuh keputusan Anyara."

Bude Tuti terkejut mendengar Ratih membela Anyara sedemikian tegas, jauh berbeda dari sosok yang dulu dikenalnya sebagai mertua yang keras dan selalu membela anaknya sendiri. "Ya udah kalau gitu, Bude cuma nyampein aja apa yang keluarga besar omongin. Terserah kalian aja mau gimana."

Setelah Bude Tuti pamit pulang, Ratih menghela napas panjang, menatap Anyara dengan raut wajah lelah. "Maaf ya, Nak, keluarga besar jadi ikut campur kayak gini. Ibu udah bilang tegas tadi, semoga mereka nggak lagi ganggu kamu."

"Nggak apa-apa, Bu. Saya udah siap hadapin apa pun reaksi orang-orang. Yang penting Ibu dukung saya," jawab Anyara, tersenyum tipis meski hatinya masih sedikit lelah menghadapi tekanan bertubi-tubi dari berbagai arah.

Sore harinya, saat Anyara sedang beristirahat sejenak sebelum berangkat kerja, gosip di lingkungan tetangga juga mulai terdengar jelas. Ia mendengar dari kejauhan, Bu Ida sedang berbincang dengan beberapa ibu-ibu lain di depan rumah sebelah.

"Denger-denger si Anyara beneran mau cerai ya sama suaminya. Untung juga sih, daripada dimadu diam-diam kayak gitu," ucap salah satu tetangga.

"Tapi kasian juga anak yang di kandungan wanita itu, gimana nasibnya nanti," timpal yang lain.

Anyara mendengar percakapan itu dengan perasaan campur aduk, tapi kali ini ia memilih untuk tidak lagi terlalu memikirkan omongan orang lain. Ia sudah cukup lelah menghabiskan energi untuk peduli pada pendapat orang-orang yang bahkan tidak benar-benar memahami situasinya secara mendalam.

Malam itu, ia menceritakan semua kejadian hari itu kepada Hans, yang seperti biasa mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Pak, hari ini berat banget. Keluarga besar Mas Juned mulai ikut campur, tetangga juga masih pada ngomongin."

"Wajar, Mbak, kasus kayak gini emang biasanya jadi bahan omongan. Tapi yang penting, Mbak tetep pegang teguh keputusan yang udah Mbak yakini sendiri."

"Iya, Pak. Untungnya mertua saya sekarang malah jadi yang paling bela saya di depan Bude Tuti tadi."

"Itu perkembangan yang bagus banget, Mbak. Nggak semua orang seberuntung Mbak, punya mertua yang akhirnya bisa berubah jadi pendukung terkuat."

Anyara tersenyum membaca balasan itu, menyadari kebenaran di baliknya. Meski proses ini penuh dengan tekanan dari berbagai pihak, ia merasa bersyukur memiliki dukungan yang solid dari Ratih dan Hans, dua sosok yang kini menjadi pilar penting dalam perjalanan hidupnya yang baru.

"Makasih udah selalu dengerin, Pak. Rasanya lega banget bisa cerita ke seseorang yang bener-bener ngerti."

"Kapan aja, Mbak. Saya selalu ada."

Keesokan harinya, saat Anyara sedang bekerja di butik, sebuah pesan tak terduga masuk dari Juned.

"Ra, keluarga besar minta kita ketemu bareng-bareng minggu depan, buat bahas soal ini secara kekeluargaan. Kamu bisa dateng?"

Anyara menatap pesan itu lama, mempertimbangkan apakah pertemuan itu akan membantu atau justru memperumit proses yang sudah berjalan sejauh ini. Ia memutuskan untuk mengonsultasikan hal ini terlebih dahulu kepada Pak Bram sebelum memberikan jawaban pasti, tidak ingin gegabah mengambil langkah yang bisa memengaruhi proses hukum yang sedang berlangsung.

"Saya pikir-pikir dulu, Mas. Nanti saya kabarin," jawabnya singkat, memilih untuk tetap berhati-hati di tengah tekanan yang datang dari berbagai arah, sambil terus memegang teguh keyakinan bahwa jalan yang ia pilih adalah yang terbaik untuk masa depannya sendiri.

(Bersambung ke Bab 32)

1
Heny
Apa anyana gk punya tlp orang kantor bisa di tanya kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!