Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Om Level Dewa

Sistem Om Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Hidup tenang Bayu sebagai karyawan sekaligus selebgram hancur seketika saat ia harus mengasuh enam keponakan perempuannya yang super aktif. Namun, kemunculan "Sistem Om Level Dewa" mengubah segalanya dengan menjanjikan kekayaan tak terbatas asalkan ia berhasil membuat para keponakannya bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Bentuknya memang lebih mirip permen jeli daripada obat kapsul pada umumnya.

Sinta mengambil satu butir dan menatapnya dengan pandangan curiga.

"Om yakin ini aman? Kenapa bentuknya aneh begini dan tidak ada merek di botolnya?"

"Tentu saja aman Sinta, Om tidak mungkin memberikan barang berbahaya untuk kalian."

"Coba saja dikunyah sedikit, rasanya manis seperti permen stroberi kok."

Sinta akhirnya memasukkan kapsul itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya pelan.

Benar saja, rasa manis dan segar langsung menyebar di dalam mulutnya tanpa ada rasa pahit sedikit pun.

"Wah benar Om, rasanya sangat enak seperti permen buah," ucap Sinta terkejut.

Melihat Sinta sudah memakannya, kelima keponakan yang lain langsung berebut meminta kapsul tersebut.

Glek glek glek.

Dalam waktu singkat keenam butir kapsul seharga enam ratus juta rupiah itu ludes ditelan oleh mereka.

Bayu tersenyum lega melihat wajah keponakannya yang mendadak terlihat jauh lebih segar dan merona dari sebelumnya.

"Uang bisa dicari lagi dengan mudah, tapi kesehatan mereka adalah investasi terbaik yang pernah aku lakukan."

Keesokan paginya, matahari bersinar sangat terik menyinari gedung Pratama Creative Agency.

Bayu melangkah masuk ke dalam lobi kantornya dengan gaya kasual mengenakan kemeja biru muda.

Tok tok tok.

Bayu mengetuk pintu ruangan manajer dan langsung membuka pintunya tanpa menunggu jawaban.

Di dalam ruangan, Dimas terlihat sedang sibuk menyortir tumpukan map lamaran kerja yang sangat tebal di atas mejanya.

"Selamat pagi Dimas, kau terlihat sangat sibuk pagi ini, sedang mencari dokumen apa?" sapa Bayu sambil duduk di kursi tamu.

Dimas mengusap wajahnya yang terlihat sedikit kelelahan.

"Pagi Bos Bayu, aku sedang menyortir lamaran pekerjaan untuk posisi asisten pribadi Maya dan admin kantor kita."

"Kita sudah mendapat kontrak iklan besar, Maya tidak mungkin mengurus jadwal dan keperluannya sendiri di lapangan."

Bayu menganggukkan kepalanya setuju dengan analisis operasional dari manajernya tersebut.

"Kau benar Dimas, agensi kita akan semakin sibuk ke depannya jadi kita memang butuh tambahan karyawan."

"Apakah ada kandidat yang bagus dari tumpukan berkas sebanyak itu?"

Dimas mengambil sebuah map berwarna biru dan menyodorkannya ke arah Bayu.

"Ada satu yang sangat menarik perhatianku Bos, namanya Naya, usianya dua puluh empat tahun."

"Pengalaman kerjanya sangat bagus di bidang administrasi dan dia bersedia digaji sesuai standar awal kita."

Bayu bahkan tidak repot-repot membuka map biru tersebut dan langsung mengembalikannya ke meja Dimas.

"Lakukan saja proses wawancaranya hari ini Dimas, aku serahkan urusan rekrutmen staf kecil ini sepenuhnya kepadamu."

"Aku punya urusan penting lain untuk memantau persiapan studio di lantai tiga bersama Reza."

Dimas mengangguk mantap dan merapikan kemejanya.

"Siap Bos, aku sudah menjadwalkan wawancara dengan kandidat bernama Naya ini jam sepuluh pagi nanti."

Bayu segera beranjak dari kursi dan berjalan keluar ruangan meninggalkan Dimas yang kembali sibuk dengan pekerjaannya.

"Aku beruntung punya manajer serajin Dimas, aku jadi bisa bersantai dan hanya mengurus hal-hal besar saja."

Tepat pukul sepuluh pagi, seorang wanita berjalan memasuki lobi gedung Pratama Creative dengan langkah anggun.

Wanita itu mengenakan kemeja putih berlengan panjang, rok hitam selutut, dan sepatu hak tinggi yang tidak terlalu mencolok.

Wajahnya dirias dengan gaya natural yang sangat berbeda dari gaya riasan tebal pada umumnya.

Sebuah kacamata baca berbingkai kotak bertengger di hidungnya, menutupi sebagian wajah aslinya.

Rambut panjangnya yang dulu selalu digerai kini diikat rapi membentuk sanggul kecil di belakang kepala.

Wanita itu berjalan menghampiri meja resepsionis dengan senyuman yang sangat ramah dan sopan.

"Selamat pagi Mbak, nama saya Naya, saya ada jadwal wawancara dengan Bapak Dimas jam sepuluh ini."

Resepsionis itu mengecek daftar tamu dan mengangguk sopan.

"Oh iya Mbak Naya, silakan langsung naik ke lantai dua, ruangan Pak Dimas ada di ujung lorong sebelah kanan."

Wanita bernama Naya itu mengangguk dan berjalan menuju lift dengan tatapan mata yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin.

Di dalam lift yang kosong, wanita itu melepaskan senyuman ramahnya dan mendengus sinis.

"Sangat mudah mengelabui orang-orang bodoh di perusahaan baru ini."

"Bayu pasti tidak akan menyangka kalau wanita bernama Naya ini adalah mantan pacar yang dia usir tempo hari."

Wanita itu adalah Vanya, yang sengaja memalsukan identitas dan mengubah penampilannya secara drastis untuk menyusup ke dalam agensi.

Ting.

Pintu lift terbuka di lantai dua dan Vanya kembali memasang topeng wajah gadis lugu yang sedang mencari pekerjaan.

Tok tok tok.

Vanya mengetuk pintu kayu bertuliskan Manajer Operasional itu dengan pelan.

"Silakan masuk," sahut suara Dimas dari dalam ruangan.

Cklek.

Vanya membuka pintu dan melangkah masuk lalu menundukkan kepalanya dengan sangat sopan di depan Dimas.

"Selamat pagi Pak Dimas, saya Naya kandidat yang bapak panggil untuk wawancara hari ini."

Dimas mendongak dan menatap penampilan Vanya dari atas ke bawah dengan pandangan menilai.

Dimas belum pernah bertemu dengan Vanya secara langsung karena saat Bayu putus dulu, Dimas sedang cuti sakit di kantor lama.

Jadi Dimas sama sekali tidak mengenali wajah asli dari mantan pacar bosnya tersebut.

"Silakan duduk Naya, saya sudah membaca resume kamu dan saya cukup terkesan dengan pengalaman kerjamu."

Vanya duduk dengan anggun dan meletakkan tasnya di pangkuan.

"Terima kasih Pak Dimas, saya memang sudah terbiasa bekerja di bawah tekanan dan mengatur jadwal pimpinan."

Dimas mengangguk puas mendengar nada bicara Vanya yang terdengar sangat profesional dan tenang.

"Pekerjaan di agensi ini menuntut fleksibilitas tinggi, kamu harus siap mengikuti talenta kita ke lokasi syuting luar ruangan."

"Apakah kamu tidak keberatan bekerja melebihi jam kantor jika jadwal syuting sedang padat?"

"Saya sama sekali tidak keberatan Pak, bagi saya kesuksesan perusahaan adalah prioritas utama seorang karyawan."

Vanya memberikan jawaban yang sangat klise namun terbukti selalu ampuh untuk meluluhkan hati seorang penyeleksi kerja.

Di dalam hatinya, Vanya tertawa meremehkan pria berwajah kusam di depannya ini.

"Manajer ini sangat mudah dipengaruhi, tidak butuh waktu lama bagiku untuk mengendalikan posisi penting di sini."

Dimas menutup map biru itu dan menatap Vanya dengan senyuman lebar.

"Jawabanmu sangat memuaskan Naya, kamu terlihat seperti orang yang bisa diandalkan dalam tim."

"Karena kita sedang sangat membutuhkan tenaga tambahan secepatnya, kamu resmi saya terima bekerja mulai besok pagi."

Vanya langsung berdiri dan membungkukkan badannya dengan raut wajah yang berpura-pura sangat terharu.

"Terima kasih banyak Pak Dimas! Saya berjanji tidak akan mengecewakan kepercayaan Bapak dan Bos Bayu."

Dimas menjabat tangan Vanya dengan hangat tanpa menyadari ular berbisa macam apa yang baru saja dia masukkan ke dalam rumahnya.

"Sama-sama Naya, besok pagi kamu langsung melapor kepadaku agar aku kenalkan dengan seluruh anggota tim kita."

Vanya berjalan keluar dari ruangan Dimas dan menyusuri lorong lantai dua dengan senyuman miring yang sangat menakutkan.

"Langkah pertamaku berhasil dengan sangat mulus."

"Sekarang aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan diriku di depan Bayu."

"Aku akan membuat pria itu bertekuk lutut lagi kepadaku dan merebut semua kekayaannya dari dalam."

Sementara itu di lantai tiga, Bayu yang sedang mengecek perlengkapan lampu studio tiba-tiba bersin dengan sangat keras.

Hasyim.

Bayu mengusap hidungnya yang mendadak terasa gatal.

"Aneh sekali, padahal aku sudah meminum Kapsul Kesehatan Prima dari sistem tadi malam."

"Mungkinkah ada seseorang yang sedang membicarakan keburukanku di belakangku saat ini?"

Bayu mengangkat bahunya tidak peduli dan kembali fokus berdiskusi dengan Reza tentang konsep pencahayaan.

Dia sama sekali tidak menyadari bahwa ancaman besar dari masa lalunya kini sudah resmi masuk ke dalam wilayah kekuasaannya.

1
Adelina Lin
thor,gimana ibunya anak anaknya gk diceritakan lagi
kiyoe: heheh iyaa nanti muncul kok kak ibu dari keenam anak² itu 🙏
total 1 replies
Wega Luna
yu, ponakan2 mu itu bisa dibuat model juga🤣🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
apa gunanya sistem kalo tidak memberi peringatan, jangan sampai lah terjebak terlalu jauh ,semoga ketahuan,
Adelina Lin: thor jangan sampai rencana busuknya si vanya terlaksana, kasihan bayu dan keponakannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!