"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."
"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"
Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.
Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.
Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.
Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.
"Via... kita mulai dari awal."
"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Ketika Orang Lain Melihat Kesempatan
Sore itu, halaman sebuah gedung pertemuan dipenuhi beberapa istri prajurit yang akan mengikuti kegiatan Persit. Sebagian masih duduk sambil menikmati minuman, sementara yang lain bercakap-cakap dalam kelompok kecil.
Levia datang mengenakan blouse sederhana dengan celana panjang bahan. Rambutnya diikat rapi, membuat wajahnya yang kini semakin tegas terlihat jelas.
Begitu melihatnya, beberapa perempuan langsung menyambut. "Levia, sini!"
Levia tersenyum dan menghampiri mereka.
"Sudah lama gak ketemu," ujar salah seorang perempuan. "Kamu sekarang makin berubah, ya."
Levia tertawa kecil. "Berubah apanya?"
"Penampilanmu."
Salah seorang lainnya memerhatikan tubuh Levia dari atas sampai bawah. "Berat badanmu sekarang berapa?"
"Masih sekitar delapan puluh empat kilogram," jujur Levia.
Mata mereka langsung membesar.
"Serius?"
Levia mengangguk. "Iya."
"Kirain sudah di bawah delapan puluh."
"Kalau dilihat memang kelihatan lebih ringan," sahut perempuan di sebelahnya.
Levia tersenyum. "Mungkin karena aku rutin olahraga. Selain berat badan turun, tubuh juga jadi lebih padat."
"Olahraga apa?"
"Macam-macam." Levia menjawab dengan ramah. "Kardio, latihan kekuatan, tinju, sama bela diri."
"Tinju?"
"Iya." Levia mengangguk.
Mereka langsung tertawa kagum.
"Pantasan sekarang kelihatan beda."
"Dulu kamu gak pernah ikut kegiatan seperti ini."
Levia mengangkat bahu. "Dulu aku memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah."
Mereka saling pandang. Tidak ada yang melanjutkan kalimat itu. Semua tahu bagaimana Levia dulu dikenal.
Salah seorang akhirnya mengalihkan pembicaraan. "Oh iya, kami dengar kamu sekarang punya perusahaan?"
Levia tersenyum. "Masih kecil."
"Kecil apanya? Aku lihat beberapa produknya sudah mulai dikenal."
Levia tersipu malu. "Masih tahap awal. Aku masih belajar banyak."
"Namanya apa?"
"Brenda." Levia mengucapkannya dengan mantap.
"Brenda?" Perempuan itu mengulang nama tersebut. "Kenapa namanya Brenda? Ada arti khusus?"
Levia terdiam sejenak sebelum tersenyum. "Ada."
Sebelum menjawab, ia memandang gelang pemberian ayahnya yang melingkar di tangannya. Gelang yang katanya milik mendiang ibunya.
"Brenda itu gabungan nama kedua orang tuaku. Bram dan Dahlia."
"Ah..." Perempuan di depan Levia tampak takjub. "Berarti nama ayah dan ibu?"
Levia mengangguk. "Iya. Aku bisa sampai sejauh ini karena mereka. Ayah yang membesarkanku dan selalu mendukungku, sementara Ibu memang sudah gak ada, tapi beliau tetap bagian dari hidupku."
Levia tersenyum kecil. "Jadi aku ingin ada nama mereka dalam sesuatu yang kubangun sendiri."
Beberapa perempuan langsung tersenyum.
"Manis banget."
"Berarti E-nya dari Levia?" tanya perempuan di samping Levia.
Levia terkekeh. "Iya. Anggap saja begitu."
Mereka tertawa kecil.
"Bagus, lho. Jadi bukan sekadar nama perusahaan."
"Iya," sahut Levia. "Aku ingin setiap kali melihat nama itu, aku ingat dari mana aku berasal."
Salah seorang perempuan yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya membuka suara dengan hati-hati.
"Levia..."
Levia menoleh. "Hm?"
"Maaf kalau pertanyaannya terlalu pribadi."
Levia mengerutkan dahinya. "Apa?"
"Dulu aku sering dengar kabar kalau Kapten Vandra mau nyeraiin kamu."
Suasana di antara mereka sedikit berubah.
Levia tetap tenang. "Memang pernah ada pembicaraan soal itu."
"Kalau sekarang kamu sudah berubah seperti ini..." Perempuan itu tampak ragu. "Apa kamu masih mau bercerai?"
Levia tidak langsung menjawab. Beberapa pasang mata menunggunya.
"Aku rasa..." Levia tersenyum tipis. "Kalau soal itu, aku gak bisa memutuskan sendirian."
"Kenapa?"
"Karena pernikahan bukan cuma tentang apa yang aku mau." Nada suaranya terdengar tenang. "Vandra juga punya keputusan sendiri."
Salah seorang perempuan mengangguk pelan. "Tapi kalau boleh jujur..." katanya. "Sayang banget kalau sampai cerai."
"Betul."
Perempuan lain ikut menyela, "Aku juga berpikir begitu. Kamu sekarang punya perusahaan, punya kemampuan, tubuhmu juga semakin sehat. Kalau aku jadi Kapten Vandra, aku malah takut kehilangan."
Levia tertawa kecil. "Jangan begitu."
"Serius."
"Kalau kalian terus ngomong begitu, nanti aku jadi besar kepala," canda Levia.
Mereka tertawa.
Seorang perempuan yang duduk di samping Levia kemudian berkata, "Kalau Kapten Vandra benar-benar tetep mau cerai, itu malah bikin aku heran."
Levia mengangkat alis.
"Adik iparku kebetulan belum menikah," lanjutnya santai. "Dia juga pebisnis. Kalau kamu benar-benar bercerai, kenalan saja dengannya."
Yang lain langsung tertawa. "Astaga, kamu langsung menawarkan adik ipar!"
"Kenapa?" sahut wanita di samping Levia. "Aku malah senang kalau punya adik ipar seperti Levia."
Seorang wanita lagi ikut bersuara dengan nada antusias. "Levia, adikku juga masih single. Dosen. Boleh juga tuh kenalan sama kamu."
Levia sampai menggeleng sambil tertawa. "Kalian ini..."
"Tapi serius," ujar perempuan itu. "Dia bakal senang kalau punya istri yang punya bisnis sendiri, mandiri, dan gak bergantung sama keluarga."
Levia tersenyum. "Terima kasih, tapi untuk urusan jodoh, aku belum kepikiran."
"Belum kepikiran atau masih menunggu seseorang?" goda yang lain sambil menaik turunkan alisnya.
Pertanyaan itu membuat Levia terdiam sesaat. Ia kemudian tersenyum lembut. "Aku sekarang sedang sibuk membangun hidupku sendiri."
Jawaban itu membuat mereka saling pandang. Tidak ada lagi Levia yang dulu selalu membicarakan Vandra. Sekarang, bahkan ketika namanya disebut, perempuan itu tidak lagi menunjukkan kegelisahan.
Dan tanpa Levia sadari, perubahan itulah yang justru membuat beberapa orang mulai bertanya-tanya.
"Kalau Levia benar-benar sudah gak ngejar Kapten Vandra lagi..." batin seorang wanita yang duduk tak jauh dari mereka.
Sejak tadi, wanita itu diam-diam mendengarkan percakapan tersebut. Ibu Risa, istri seorang jenderal, menatap Levia beberapa saat.
Dulu ia sering mendengar bagaimana Levia begitu terobsesi pada Vandra. Namun perempuan yang dilihatnya sekarang benar-benar berbeda.
Sorot matanya kemudian berubah. "Lalu gimana reaksi sang kapten ketika pulang nanti?"
Ia terdiam sejenak sebelum sebuah pikiran terlintas di benaknya. "Kalau begitu... apa Risa masih punya kesempatan untuk mendapatkan Vandra?"
...✨“Dulu ia ingin menjadi seseorang yang pantas dicintai. Kini ia memilih menjadi seseorang yang pantas dibanggakan oleh dirinya sendiri.”...
...“Saat seseorang berhenti mengejar, ruang yang ditinggalkannya bisa saja menjadi kesempatan bagi orang lain. Namun belum tentu orang yang ditinggalkan rela membiarkan kesempatan itu diambil.”✨...
.
To be continued
Mimpi kali Ninis. Mau menjatuhkan Levia.
Ninis sendiri nanti yang nyungsep terjerembab karena ditendang keluar dari rumah Gultom.
Bagaimana caranya mau bikin Vandra mengurungkan niatnya untuk menceraikan Livia. Niat banget nih Risa.
Vandra tidak memberi peluang kepada Risa untuk membahas masa lalu.
Risa mau bikin Vandra cemburu atau marah ketika memberitahu tentang Levia yang menjalin kerjasama dengan Andri Mahesa.
Risa ngomongnya mbulet aja. Sudah Risa, kamu nggak ada peluang lagi untuk mendapatkan Vandra.
Sekarang pusat dunia Vandra adalah Levia. Levia sendiri pusat dunianya Brenda, sudah bukan sang Kapten lagi.
Vandra belum bilang mau membatalkan perceraian. Belum punya nyali dia, belum tahu alasannya apa kalau Levia bertanya😁.
Salahnya sendiri kasih surat cerai untuk ditandatangani Levia. Kini menyesal.
Sekarang Vandra tidak ingin kehilangan Levia. Mau membatalkan perceraian. Bingung sendiri jadinya.
Mereka tertawa tanpa merasa dosa sedikitpun. Sedangkan Vandra tidak ikut tertawa. Ingatannya ada pada foto Levia yang tersenyum, berdiri di samping Andri Mahesa.
Vandra semakin diam, semakin nggak karuan rasanya ketika rekan-rekannya semakin gencar membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi nanti.
Rekan-rekan Vandra bicaranya semakin bikin Vandra benar-benar galau. Mereka dengan enaknya bicara seperti mengejek Vandra dengan kenyataan yang ada.
Yang punya Nahesa Retail masih muda, belum menikah pula.
Daun telinga Vandra panas ngga tuh mendengar obrolan rekan-rekannya.
Mereka juga membicarakan Levia di masa sebelum Vandra mendapat tugas tugas ke Libanon.
Vandra hanya diam.
Vandra melihat foto Levia sedang berjabat tangan dengan Andri yang dia tidak mengenalnya.
Perasaannya mulai tidak nyaman mengetahui Andri seorang pengusaha muda, belum menikah.
Vandra menyesal ngga setelah melihat foto-foto Levia dengan aktifitasnya dan segala perubahannya.
Belum bercerai namun sudah memberi surat perceraian untuk ditandatangani Levia.
Sepertinya Vandra masih punya harapan untuk bersama Levia yang belum menandatangani surat cerai.
Dari dulu Risa saja yang mengganggap remeh Levia.