Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...
lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....
ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...
Hati menjerit serta memanjatkan doa....
berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....
Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....
ke hadiran yang ku nanti telah tiba...
dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...
Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Saudara Beda Kehidupan
Keesokan paginya, sinar matahari pagi menyelinap lembut menembus celah dedaunan di taman belakang rumah keluarga Wijaya, menciptakan bintik-bintik cahaya keemasan di atas meja kayu yang tertata rapi. Udara pagi itu terasa segar, berembus pelan membawa aroma bunga melati dan rumput yang baru saja disiram. Di sudut taman yang teduh itu, Rina duduk bersandar di kursi rotan empuk, menikmati ketenangan pagi yang biasanya selalu ia nantikan. Di hadapannya tersaji secangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap putih, serta sepotong kue cokelat kesukaannya yang baru saja diambil dari kulkas.
Namun pagi ini, ketenangan itu terasa sedikit berbeda. Rina tampak melamun menatap ke arah hamparan bunga mawar yang bermekaran, tangannya memegang sendok teh namun tak bergerak sama sekali. Pikirannya masih tertinggal pada kejadian kemarin—perdebatan yang sempat terjadi di ruang tengah, kata-kata Kak rania yang dengan tegas menolak, serta rasa bersalah yang mulai muncul namun berusaha ia tepis. Rasa cemas akan apa yang akan terjadi selanjutnya membuatnya gelisah. Ia berusaha menenangkan diri, mencoba menikmati pagi yang indah ini, berharap semuanya akan kembali seperti sedia kala.
Tiba-tiba, suara dering telepon yang nyaring terdengar memecah keheningan pagi itu, membuat Rina tersentak kaget. Suara itu berasal dari ponsel yang tergeletak di atas meja kayu, tepat di samping piring berisi kue cokelatnya.
Layar ponsel itu menyala, menampilkan nama penelepon yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Dengan cekatan, ia segera meraih benda pipih itu, menyeka sedikit keringat dingin yang tiba-tiba muncul di telapak tangannya, lalu menekan tombol hijau untuk mengaktifkan panggilan tersebut. Ia menarik napas panjang, berusaha menata suaranya agar terdengar tenang, lalu mengangkatnya ke telinga.
"Halo..." sapanya pelan, namun ada getaran bahagia yang tak bisa disembunyikan dalam nada bicaranya.
Dari seberang sana, terdengar suara laki-laki yang berat, tenang, dan terdengar begitu akrab di telinganya, suara yang selama ini selalu ia rindukan.
"Selamat pagi, Rina. Bagaimana kabarmu di sana?" tanya pria itu dengan nada lembut yang seolah mampu menembus jarak ribuan kilometer yang memisahkan mereka saat ini.
"Pagi... Kabarku baik. Sangat baik, apalagi mendengar suaramu" jawab Rina perlahan, senyum tipis perlahan mulai terukir di bibirnya, mengusir sejenak segala kegelisahan yang sempat memenuhi hatinya.
"Kamu sendiri? Bagaimana keadaanmu di sana? Semuanya lancar?" tanya rina.
"Lancar seperti biasa. Hanya saja... ada satu kabar yang ingin kusampaikan padamu" ucap pria itu, dan nada bicaranya yang tadi santai kini berubah menjadi lebih hangat dan penuh arti, seolah ada sesuatu yang istimewa sedang tersembunyi di balik kata-katanya.
Rina menyipitkan matanya sedikit, rasa penasaran mulai menggantikan rasa kekhawatirannya yang tadi.
"Kabar apa? Jangan membuat aku penasaran, katakan" desaknya lembut, tangannya kini memegang ponsel itu lebih erat, seolah tak ingin melewatkan satu kata pun yang keluar dari mulut pria itu.
Pria itu tertawa kecil di seberang sana, tawa yang terdengar begitu ceria dan menular.
"Aku akan pulang, Rina. Aku akan pulang ke Indonesia" ucap pria iu memberitahu.
Seketika itu juga, dunia seolah berhenti berputar bagi Rina. Kata-kata itu sederhana, namun dampaknya begitu dahsyat hingga membuat napasnya tertahan sejenak. Matanya membelalak lebar, dan senyum yang tadi tipis kini melebar menjadi senyum bahagia yang begitu tulus, menyinari seluruh wajahnya yang sempat muram. Ia bahkan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, sehingga ia harus bertanya sekali lagi untuk memastikannya.
"Benarkah itu? Kamu tidak sedang bercanda denganku, kan?" tanyanya cepat, suaranya terdengar bergetar karena kegembiraan yang meluap-luap.
"Kamu benar-benar akan pulang?" tanya rina memastikan.
"Benar, Rina. Aku tidak bercanda. Urusanku di sini sudah selesai sepenuhnya, dan aku memutuskan untuk pulang. Aku sudah terlalu lama berada jauh dari tanah air, dan... jauh darimu" jawab pria itu dengan tulus, kata-kata terakhirnya terucap pelan namun begitu jelas, menembus langsung ke hati Rina.
"Aku sudah memesan tiket pesawat, dan dalam waktu tiga hari ke depan, aku akan sudah mendarat di bandara internasional kota kita" ucap pria itu.
Rina merasa seolah ingin melompat kegirangan mendengar hal itu. Segala beban yang sempat membebani pikirannya seketika lenyap, digantikan oleh rasa bahagia yang meluap-luap. Ia meletakkan sendok teh yang tadi dipegangnya kembali ke piring, tak lagi berminat dengan kue kesukaannya itu karena kebahagiaan yang baru saja ia terima jauh lebih manis daripada apa pun di dunia ini.
"Tiga hari..." gumamnya pelan, matanya menerawang jauh seolah sudah bisa melihat sosok pria itu berdiri di hadapannya. "Tiga hari lagi... aku tak sabar menantinya" ucap rina.
"Aku juga, Rina. Sangat tak sabar. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, dan ada satu hal penting yang ingin aku sampaikan secara langsung saat kita bertemu nanti" ucap pria itu dengan nada yang sedikit lebih serius, namun tetap hangat.
"Jaga dirimu baik-baik sampai aku tiba, ya?" Tambah pria itu.
"Iya ya, aku akan menjaga diriku baik-baik..tenang aku sudah dewasa kok..aku akan menantikan kedatanganmu" jawab Rina tulus, hatinya kini terasa penuh kembali, seolah ada sesuatu yang hilang selama ini dan kini akan segera kembali pulang.
Percakapan itu berlanjut sebentar lagi, berisi janji-janji pertemuan dan rencana-rencana yang akan mereka lakukan saat pria itu pulang. Saat panggilan itu akhirnya berakhir, Rina masih memegang ponselnya di dekat dadanya, menatap layar yang kini sudah gelap dengan senyum yang tak kunjung pudar dari wajahnya. Udara pagi yang tadi terasa biasa saja kini terasa begitu menyegarkan, sinar matahari tampak lebih terang, dan bunga-bunga di sekelilingnya tampak lebih indah dari biasanya.
Ia meletakkan ponsel itu perlahan di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi rotan, menatap langit biru yang cerah dengan perasaan yang penuh harapan. Kabar ini datang tepat pada waktunya, seolah menjadi pelipur lara di tengah keretakan keluarga yang mulai terasa semakin dalam.
Di sisi lain, di waktu yang sama, pagi itu juga menyapa rumah kayu kecil tempat Rania dan ibunya tinggal. Sinar matahari pagi menembus celah jendela kayu, menyinari ruangan sederhana yang selalu terasa hangat dan penuh kedamaian. Rania berdiri di depan cermin kecil di sudut kamarnya, merapikan pakaian yang dikenakannya, baju sederhana berwarna putih bersih dan rok panjang yang rapi, pakaian yang sopan dan nyaman untuk bekerja. Rambut hitamnya dikepang rapi ke belakang, memperlihatkan wajah yang pagi ini tampak lebih tenang, meski masih menyisakan jejak kesedihan dari kejauhan masa lalu. Matanya bersinar teguh, mencerminkan semangat untuk menjalani hari dengan usaha sendiri.
Rania meraih tas kain anyaman yang biasa ia gunakan, lalu berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang tengah. Di sana, Mama sedang duduk di kursi rotan sambil melipat kain hasil rajutannya, wajahnya teduh dan tenang seperti biasa. Begitu melihat putrinya yang sudah siap berpakaian rapi, Mama berhenti sejenak dari pekerjaannya, lalu menatapnya dengan senyum lembut yang selalu mampu menenangkan hati siapa pun yang melihatnya.
"Mau berangkat ke pasar lagi ..sayang?" tanya Mama pelan, suaranya lembut namun penuh perhatian.
Rania mengangguk pelan, melangkah mendekat ke arah ibunya.
" Iya, mah..doakan rania "jawabnya dengan nada yang ceria, berusaha menunjukkan bahwa ia sudah kuat dan siap kembali beraktivitas. Ia tidak ingin Mamanya terus mencemaskannya, apalagi setelah semua yang terjadi.
Mama meletakkan kain rajutan itu di atas meja kecil, lalu berdiri perlahan dan mendekati putrinya. Kedua tangannya yang kasar namun hangat meraih tangan Rania, menggenggamnya pelan seolah ingin memberi kekuatan lewat sentuhan itu.
"Hati-hati di jalan ya, Nak. Jangan terlalu lelah, ingat istirahat yang cukup. Dan... jaga kesehatanmu" pesannya lembut, matanya menatap lekat wajah putrinya, seolah ingin memastikan bahwa benar-benar tidak ada lagi yang mengganggu pikirannya.
"Siap, Ma!" Rania tersenyum lebar, sengaja membuat nada bicaranya terdengar ceria agar ibunya benar-benar tidak khawatir lagi. Ia memeluk Mamanya erat sejenak, menghirup aroma wangi sabun dan bunga yang selalu melekat pada wanita itu—aroma rumah, aroma kenyamanan, aroma tempat bernaung yang paling aman di dunia.
"Aku berangkat ya. Nanti sore aku pulang, semoga dagangannya laris hari ini" uapnya penuh semangat.
"Semoga lancar, Sayang. Hati-hati" ucap Mama sambil mengusap punggung putrinya dengan penuh kasih sayang, melepaskan pelukan itu perlahan namun dengan kerelaan yang tulus.
Rania melepaskan pelukannya, lalu melangkah menuju pintu depan. Sebelum keluar, ia menoleh sejenak dan melambaikan tangan ke arah Mamanya yang masih berdiri di tempat, menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang dan doa yang tak pernah putus. "Assalamualaikum, Ma!"ucap rania sebelum melangkah pergi.
"Waalaikumsalam... Semoga perjalananmu lancar dan rezekimu berkah, Nak" jawab Mama lembut, membiarkan putrinya melangkah keluar menuju pagi yang cerah itu.
Langkah kaki Rania terdengar ringan di atas tanah halaman yang dipenuhi tanaman bunga berwarna-warni. Ia membuka pintu kayu itu dan melangkah keluar, menghirup udara pagi yang segar dan bersih, jauh dari hiruk-pikuk kota besar yang penuh dengan kemewahan namun terasa dingin dan asing.
Di sepanjang jalan setapak yang ia lalui, warga desa yang mulai beraktivitas menyapanya dengan ramah, dan Rania pun membalas sapaan itu dengan senyum tulus serta salam yang sopan. Ia merasa bahagia di sini, di tempat yang sederhana namun penuh dengan kehangatan dan ketulusan yang tak pernah ia temukan di mana pun.
Sambil berjalan menuju pasar yang berjarak sekitar sepuluh menit dari rumahnya, pikiran Rania melayang perlahan. Ia sadar bahwa hidupnya mungkin tidak semewah kehidupan di rumah besar itu, namun ia juga sadar bahwa ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga—ketulusan hati, kedamaian, dan kasih sayang Mama yang tak bersyarat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, namun ia tahu satu hal pasti: dengan kerja keras, kesabaran, dan doa, ia akan mampu melewati segala hal. Ia tidak lagi membutuhkan belas kasih orang lain untuk hidup layak, karena ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Dengan langkah yang semakin mantap dan dada yang tegap, Rania terus berjalan menuju pasar, menyapa setiap orang yang ia temui, dan membiarkan pagi yang cerah itu membawa harapan-harapan baru ke dalam hatinya. Di pasar itu, di antara tumpukan sayuran segar dan suara tawar-menawar yang riuh, ia menemukan makna kemandirian yang selama ini ia cari—bahwa harga diri seseorang tidak diukur dari harta atau kedudukan, melainkan dari ketulusan hati dan kerja keras yang jujur.
Bersambung...