Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi
Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.
Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.
Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.
Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.
Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.
Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.
Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.
Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.
Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.
Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.
Sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG SINGA PUTIH
Aura hitam memenuhi tubuhku.
Aku melihat ke sekeliling.
Para Orc mulai mengepungku dari segala arah.
Aku mengangkat pedangku, lalu menghantamkan ujungnya ke tanah.
DUAAAAAR!
Gelombang energi hitam langsung menyebar ke segala arah.
Para Orc terlempar ke mana-mana.
Ada yang menghantam tembok, ada pula yang terlempar dan tertusuk pecahan kayu.
Beberapa Orc masih mampu berdiri.
Aku melihat sekeliling.
Banyak mayat Orc berserakan di tanah.
Lumayan.
Aku mulai menyimpan seluruh mayat tersebut ke dalam penyimpanan dimensi.
Mayat-mayat itu akan menjadi pasukan baru bagiku.
Aku kemudian menggunakan mayat tersebut untuk memanggil ratusan skeleton.
WUUUSSSHH!
Tanah di sekitar mulai bergerak.
Satu per satu skeleton bangkit dari dalam tanah dengan membawa pedang, tombak, dan perisai.
Mereka juga mengenakan zirah mithril.
Begitu seluruh skeleton selesai dibangkitkan, mereka langsung menyerang para Orc tanpa perlu menunggu perintah dariku.
Aku kembali menggenggam pedangku.
Kemudian aku ikut menerjang.
SLASH!
Aku menyerang para Orc tanpa ampun.
Di sisi lain, Doka, Hayabusa, dan pasukan mereka mulai memasuki bagian dalam Benteng Kelima.
Pembantaian terjadi di berbagai sudut benteng.
Sihir es Doka melesat ke mana-mana.
FWOOSH!
Tubuh para Orc membeku.
KRAKKK!
Es yang menyelimuti mereka pecah bersama tubuh mereka.
Sementara itu, Hayabusa terus bergerak cepat di antara para Orc.
Satu demi satu musuh tumbang di hadapannya.
Hayabusa kemudian memasuki bagian dalam kastil dan membantai para Orc yang tersisa.
Namun, beberapa Orc terlihat melarikan diri menuju bagian bawah tanah.
Hayabusa mengejar mereka.
Ketika sampai di ruang bawah tanah, ia terdiam.
Di sana terdapat banyak manusia yang dirantai dan disiksa.
Mereka diperlakukan seperti binatang.
Hayabusa mengepalkan tangannya.
Jadi, mereka masih hidup...
Berapa banyak manusia yang sudah diperlakukan seperti ini oleh para Orc?
Amarah mulai muncul di dalam dirinya.
Tanpa belas kasihan, Hayabusa menghabisi para Orc yang berada di ruang bawah tanah.
Setelah pembantaian selesai, sepuluh ninja lainnya menyusul.
Hayabusa langsung memberikan perintah.
"Buka seluruh sel penjara. Pastikan para manusia yang masih hidup mendapatkan pertolongan."
Ia kemudian menatap bawahannya.
"Untuk sementara, tetap berjaga di sini."
"Baik!"
Hayabusa kemudian kembali naik ke permukaan.
Ketika sampai di atas, ia melihat Doka sedang bertarung.
Keempat tangan Doka bergerak secara bersamaan.
SLASH!
CRASH!
BOOM!
Setiap serangan menghantam para Orc tanpa ampun.
Doka terus bergerak maju sambil membantai musuh.
Sementara itu, pasukan mulai mengamankan posisi di bagian belakang benteng.
Setelah memastikan wilayah tersebut aman, Hayabusa dan Doka bergerak menuju gerbang depan.
Namun, ketika mereka tiba...
Mereka hanya melihat satu hal.
Pembantaian besar-besaran yang dilakukan oleh tuannya bersama Huloo, pasukan pohon, dan para skeleton.
Hayabusa hanya terdiam.
Doka juga memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
Sepertinya Tuan sudah menyelesaikan bagian ini lebih dulu.
Setelah Benteng Kelima berhasil ditaklukkan, aku dan yang lainnya mulai memeriksa seluruh wilayah.
Aku kemudian memberikan perintah kepada Hayabusa.
"Periksa seluruh bagian Benteng Kelima. Jika masih ada Orc yang selamat dan mereka terbukti sebagai musuh, segera habisi."
Hayabusa menundukkan kepala.
"Baik, Tuan."
Ia kemudian pergi untuk memeriksa keamanan seluruh benteng.
Aku menghampiri Doka.
"Doka, apakah ada masalah dalam penaklukan hari ini?"
Doka menggeleng.
"Semuanya berjalan lancar, Tuan."
Namun, ia kemudian menambahkan,
"Meski begitu, pasukan Orc kali ini jauh lebih kuat daripada yang sebelumnya. Bahkan, zirah yang mereka gunakan cukup bagus."
Aku mengangguk.
"Benar. Zirah mereka memang luar biasa. Mereka terlihat seperti pasukan Orc yang terlatih."
Aku kemudian memberikan perintah.
"Kalau begitu, kumpulkan seluruh mayat."
Doka mengangguk.
"Baik, Tuan."
Doka bersama pasukan skeleton mulai mengumpulkan mayat-mayat Orc yang berserakan di seluruh benteng.
Jumlahnya pasti cukup banyak.
Setelah Benteng Kelima berhasil ditaklukkan, aku mengirim utusan untuk memberitahu Josep dan Serof agar segera datang ke benteng.
Aku meminta mereka mengurus pembangunan kembali Benteng Kelima sekaligus menjaga wilayah tersebut.
Setelah memberikan semua perintah yang diperlukan, aku akhirnya kembali ke tubuh utamaku.
Aku membuka hologram sistem dan melihat clone-ku yang berada di Benteng Kelima.
Clone-ku sedang menyimpan seluruh mayat Orc ke dalam penyimpanan dimensi.
Aku kemudian melihat waktu.
Ternyata sudah hampir pagi.
Aku mengalihkan pandangan.
Selena sedang berdiri di balkon.
Aku menghampirinya.
"Selena, apa yang sedang kau perhatikan?"
Selena menatap langit malam.
"Udara malam ini terasa sangat dingin, Tuan."
Ia kemudian menatap jauh ke arah ibu kota.
"Entah kenapa aku merasa akan terjadi sesuatu yang besar di ibu kota."
Aku mengerutkan kening.
Mungkin Selena benar.
Aku kemudian masuk kembali ke kamar.
Aku mulai merasakan tubuhku.
Tubuh ini...
Aku merasa tubuhku jauh lebih ringan.
Rasanya bahkan seperti bukan tubuh manusia lagi.
Aku membuka pakaian dan berdiri di depan kaca besar.
Aku terdiam ketika melihat perubahan pada tubuhku.
Sebuah tato berbentuk naga besar terlihat melingkar dari lenganku hingga ke bagian dada.
Otot-otot tubuhku juga terlihat jauh lebih kuat dan padat dibandingkan sebelumnya.
Aliran mana di dalam tubuhku terasa sangat lancar.
Bahkan pernapasanku terasa begitu sempurna.
Jadi, ini hasil evolusi menjadi naga...
Beberapa menit kemudian, aku kembali teringat perkataan Selena tentang sesuatu yang buruk akan terjadi.
Aku melirik ke arah balkon.
Selena masih berdiri di sana.
Kalau memang akan terjadi sesuatu di ibu kota...
Lebih baik aku memanggil seorang pahlawan untuk mengawal Kaisar.
Aku mulai membayangkan sosok seorang kesatria yang kuat dan terhormat.
Seseorang yang mampu melindungi Kaisar dari berbagai ancaman.
Kemudian...
Aura hitam mulai keluar dari tubuhku.
WUUUSSSHH!
Aku mulai melakukan summon.
Sebuah gerbang hitam muncul di hadapanku.
TOK...
TOK...
Suara langkah kaki terdengar dari balik gerbang.
Disusul suara dentingan zirah.
CLANG... CLANG...
Aku memperhatikan gerbang tersebut.
Seorang pria keluar dari dalamnya.
Ia mengenakan zirah putih full-body yang menutupi seluruh tubuhnya.
Sebuah pedang besar dan kapak besar tersimpan di punggungnya.
Tubuhnya terlihat ideal dan kekar.
Jubah putih panjang berkibar di belakang tubuhnya.
Dari penampilannya saja, ia sudah terlihat seperti seorang jenderal kesatria yang sangat kuat.
Pria itu berjalan mendekat.
Kemudian berlutut di hadapanku.
"Hormat, Yang Mulia. Senang dapat melayani Anda."
Ia menundukkan kepala.
"Namaku Gilion, Sang Singa Putih."
Aku memandangnya beberapa saat.
"Bangunlah."
Gilion berdiri.
Aku kemudian memeriksa statusnya.
[STATUS]
Nama: Gilion
Gelar: Sang Singa Putih
Usia: 47 Tahun
Rank: S
Level: 100
Skill: Strategi, Fighter & Tank, Rahasia
Aku memperhatikan statusnya.
Skill yang sangat bagus.
Aku kemudian memberikan perintah.
"Gilion, aku ingin kau menjaga seorang Kaisar."
Gilion langsung berdiri tegak.
"Aku ingin kau melindunginya seperti kau melindungiku dari segala ancaman."
Aku menatapnya dengan serius.
"Jika ada seseorang yang berani mengancam Kaisar, pastikan dia mati dengan cepat."
Aku kemudian menambahkan,
"Dan jangan lupa kumpulkan mayat mereka. Berikan semuanya kepadaku."
Gilion menundukkan kepala.
"Baik, Yang Mulia."
Beberapa jam kemudian, pagi akhirnya tiba.
Aku, Selena, dan Gilion pergi menemui Kaisar.
Aku juga memberikan sepuluh pasukan elit Rank B kepada Gilion.
Kini Gilion dan sepuluh pasukan elit tersebut berjalan bersamaku.
Sesampainya di hadapan Kaisar, aku memberikan salam.
"Selamat pagi, Yang Mulia. Sesuai janji, aku mengirim seseorang untuk mengawal Anda secara pribadi."
Kaisar menatapku.
Kemudian tatapannya berpindah kepada Selena dan Gilion.
"Apakah kesatria putih itu yang akan mengawalku?"
Aku menoleh kepada Gilion.
"Benar, Yang Mulia. Namanya Gilion. Dia adalah Sang Singa Putih, salah satu jenderal terkuat yang kumiliki."
Gilion langsung menundukkan kepala kepada Kaisar.
Kaisar memperhatikannya dengan saksama.
Ia dapat merasakan aura kekuatan yang dipancarkan Gilion.
Kekuatan orang ini...
Kekuatannya bahkan berada jauh di atas sebagian besar prajurit yang kumiliki.
Bahkan para kesatria Kekaisaran pun masih berada jauh di bawahnya.
Kaisar kemudian mengalihkan pandangan kepada Selena.
Ia kembali terkejut.
Dan wanita itu...
Auranya bahkan lebih kuat daripada kesatria ini.
Kaisar kemudian menatapku dengan tajam.
Seberapa besar kekuatan yang sebenarnya disembunyikan Baron Iyan di belakangnya?
Namun, ia tidak mengatakannya.
Akhirnya, Kaisar menerima Gilion dan mengizinkan Gilion bersama sepuluh pasukan elitnya untuk menjadi pengawal pribadinya.
Aku tersenyum dalam hati.
Selama aku memiliki seseorang yang memiliki tujuan yang sama denganku, semuanya akan jauh lebih baik.
Apalagi orang itu adalah Kaisar sendiri.
Kemudian Kaisar menanyakan rencana mengenai para jenderal yang akan kukirim ke wilayah barat.
"Bagaimana dengan para jenderal yang akan kau kirim untuk membantu perang di wilayah barat?"
Aku menjawab,
"Sepuluh pasukan elit yang berada di bawah kepemimpinan Gilion memiliki kekuatan yang setara dengan para jenderal."
Kaisar sedikit terkejut.
Aku kemudian menjelaskan,
"Mereka adalah pasukan Rank B, tetapi kekuatan mereka setara dengan Rank S milik Kekaisaran."
Kaisar tampak semakin terkejut.
Sepertinya ia baru menyadari betapa kuatnya pasukan yang kumiliki.
Namun, sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, aku langsung menjelaskan,
"Gilion dan sepuluh pasukan tersebut akan tetap berada di sisi Yang Mulia."
Aku berhenti sejenak.
"Untuk membantu Silvia dan Jonatan, aku akan mengirim pasukan baru lainnya."
Kaisar hanya tersenyum kecil.
"Baiklah. Kau boleh melakukan apa pun yang menurutmu perlu."
Aku mengangguk.
"Terima kasih, Yang Mulia."
Akhirnya, aku pergi bersama Selena dan meninggalkan Gilion bersama Kaisar.
Ketika sampai di tempat peristirahatan, aku langsung membentangkan tubuh di atas kasur.
Huff... akhirnya bisa tidur.
Aku bahkan tidak sempat memikirkan hal lain.
Aku langsung memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian, Selena ikut berbaring di sampingku.
Aku meliriknya sebentar.
Dia seperti biasa...
Aku kemudian menutup mata kembali.
Dan akhirnya, aku tertidur.