Indonesia
NovelToon NovelToon
MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Rumahhantu
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Iephe Tyo

Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.

keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Baru beberapa langkah Theo melangkah di koridor lantai atas, sesosok pemuda bertubuh tegap dengan kemeja yang digulung hingga siku berjalan terburu-buru dari arah area komputer. Begitu pandangan mereka beradu, pemuda itu mendadak menghentikan langkahnya.

"Theo!"Panggil Rian.

Mata Rian sahabat kecil Theo yang diajaknya merantau dari Desa Bojasari hingga bekerja di bank ini tmpak berkaca-kaca. Tanpa memedulikan tatapan beberapa rekan kerja di sekitar mereka, Rian langsung melangkah cepat dan memeluk Theo erat-erat, menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu dengan penuh duka.

"Yo... aku turut berduka cita ya, Bro," bisik Rian dengan suara yang sedikit serak. "Maaf banget aku tidak menyampaikan dari kemarin kemarin."

Theo membalas pelukan sahabatnya itu, mengangguk pelan di bahu Rian. "Makasih banyak ya, Yan. Nggak apa-apa, aku paham kamu juga lagi padat kerjanya di sini."

Setelah melepaskan pelukannya, Rian menatap Theo dengan pandangan berkaca-kaca. Sebagai orang desa yang tumbuh besar bersama Theo, Rian tahu betul bagaimana sosok almarhum Pak Harto bagi mereka berdua. Bagi Rian, almarhum bukan sekadar kakek dari sahabatnya, melainkan juga sosok sesepuh desa yang amat ia hormati.

"Aku benar-benar merasa kehilangan, Yo..." ujar Rian lirih, matanya menerawang mengingat masa kecil mereka. "Kakung itu sudah kayak kakekku sendiri. Masih teringat jelas waktu kita kecil dulu sering dimarahi Kakung gara-gara mancing ikan Mbah Sumo, atau waktu Kakung selalu nungguin kita pulang ngaji di teras... Rasanya masih nggak nyangka Kakung sudah dipanggil Gusti Allah."

Theo tersenyum tipis, rasa haru menyusup di dadanya mendengar penuturan jujur dari Rian. "Iya, Yan. Aku ingat betul bagaimana sabarnya Kakung sama tingkah kita berdua yan."

Rian mengusap matanya pelan, lalu pandangannya mengarah pada berkas map di tangan Theo. "Terus... ini kamu baru keluar dari ruangan Mbak Nita, kan? Jadi... kamu beneran mantap mau resign dan balik menetap di Wonosobo, Yo?".

Theo mengangguk mantap, menatap lurus mata Rian. "Iya, Yan. Suratnya sudah di-ACC sama Mbak Nita tadi. Aku sama Tiara sudah mantap buat menetap di Wonosobo."

Rian menarik napas panjang, mendengarkan dengan seksama.

"Kakung meninggalkan amanah yang lumayan besar, Yan," lanjut Theo seraya menepuk pelan pundak sahabatnya. "Selain harus nemenin Uti dan merawat rumah besar, aku juga diberi tanggung jawab buat mengurus semua aset Kakung. Mulai dari perkebunan, persawahan, sampai peternakan sapi dan kambing milik keluarga. Aku harus mulai membiasakan diri dengan gaya hidup yang benar-benar baru di desa."

Theo terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. "Jujur, soal bisnis dan perbankan aku mungkin paham, tapi kalau soal hewan ternak dan pertanian, aku benar-benar harus belajar dari nol lagi. Rencananya dalam waktu dekat aku mau fokus belajar banyak soal pengelolaan peternakan."

Mendengar penuturan jujur Theo, rasa haru dan kagum terpancar jelas di wajah Rian. Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum bangga yang terkembang lebar.

"Luar biasa kamu, Yo. Asli, aku salut banget!" ujar Rian mantap sambil menepuk dada Theo penuh dorongan semangat. "Tidak semua orang berani melepaskan posisi enak di Jakarta demi pulang kampung dan memegang amanah sebesar itu. Tapi aku percaya sama kamu. Dari kecil kamu kan memang paling penurut sama Kakung, dan aku yakin kamu pasti bisa mengelola semua peninggalan Kakung dengan baik."

Rian menepuk pundak Theo, memberikan dukungan penuh sebagai seorang sahabat sejati.

"Aku dukung seratus persen keputusanmu dan Tiara, Yo. Doaku selalu buat kalian berdua. Semoga kehidupan barumu di desa membawa berkah, peternakannya sukses besar, dan yang paling penting... Uti sama Tiara selalu sehat dan bahagia di sana," ucap Rian tulus, matanya berbinar mendoakan.

"Aamiin... Terima kasih banyak ya, Yan," balas Theo hangat. "Ingat ya, kalau kamu ada libur atau cuti, wajib hukumnya buat pulang ke Wonosobo. Rumah selalu terbuka lebar buat kamu."

"Pasti itu! Nanti aku bakal sering-sering main buat nengok Uti sama panen buah di sana!" jawab Rian terkekeh, disambut tawa hangat dari Theo di koridor kantor yang kini terasa semakin berkesan bagi mereka berdua.

.

Sambil berjalan berdampingan menuju area parkir gedung, Theo menatap Rian yang berjalan di sampingnya. Di balik senyum ramah dan pembawaannya yang selalu ceria di kantor, Theo paham betul betapa kuatnya bahu Rian menopang beban hidup yang tidak mudah.

Rian adalah pria seumuran Theo berusia 25 tahun. Sejak kecil di Desa Bojasari, mereka berdua adalah sahabat karib yang hampir tidak pernah bertengkar. Namun, takdir jalan hidup Rian menuntutnya untuk menjadi sosok yang jauh lebih dewasa lebih cepat.

Rian merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dan menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Ayahnya telah berpulang lima tahun lalu akibat sakit keras yang dideritanya. Sejak saat itu, Ibunya di kampung berjuang menyambung hidup dengan berjualan nasi uduk dan aneka jajanan pasar setiap pagi di teras rumah. Penghasilan jualan sang ibu hanya cukup untuk menutup biaya makan sehari-hari di desa.

Oleh karena itu, seluruh biaya hidup keluarga dan pendidikan kedua adiknya sepenuhnya bertumpu pada pundak Rian di Jakarta. Adik pertamanya, Riska, berusia seumuran dengan Kiki—adik kandung Theo—yang saat ini sedang menempuh pendidikan SMA. Sementara si bungsu, Amel, baru berusia sepuluh tahun dan masih duduk di sekolah dasar. Gaji Rian sebagai karyawan bank di ibu kota rutin dikirimkan setiap bulan demi memastikan Riska bisa menyelesaikan sekolahnya dan melanjutkan ke jenjang kuliah dan Amel terus bersekolah dengan layak.

Theo sangat menghormati perjuangan sahabatnya itu. Ia tahu betul, jika bukan karena dorongan dan bantuan Theo yang mengajaknya bekerja di Jakarta dulu, Rian mungkin harus berjuang jauh lebih keras di kampung halaman.

"Oya, Yo," panggil Rian memecah lamunan Theo ketika mereka sampai di depan lift parkiran. "Kamu di Jakarta sampai kapan? Nanti malam ada waktu tidak? Biar aku main ke rumahmu sebelum kamu balik ke Wonosobo."

"Rencananya lusa aku baru balik ke desa, Yan," jawab Theo tersenyum. "Nanti malam main saja ke rumah. Ada Mas Yayan juga di sana, kita bisa ngobrol santai sambil makan malam bareng."

"Sip! Nanti sore selesai shift kantor aku langsung meluncur ke tempatmu," sahut Rian antusias.

Setelah menyelesaikan urusan di kantor dan berpisah dengan Rian, Theo mengendarai SUV hitamnya membelah jalanan Jakarta untuk kembali ke rumah kontrakan. Di tengah perjalanan, ia menyempatkan diri mampir ke sebuah rumah makan dan minimarket untuk membeli beberapa porsi makanan hangat serta minuman segar sebagai santapan siang ini bersama Mas Yayan.

.

.

.

Singkat cerita, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Suasana ibu kota di luar mulai berhias pendar lampu jalanan seiring senja yang perlahan meredup.

Di dalam rumah kontrakan, Theo dan Yayan tampak sedang duduk santai di ruang tamu sambil menikmati kopi dan obrolan ringan. Tiba-tiba, terdengar suara deru mesin sepeda motor yang berhenti tepat di halaman depan, disusul suara ketukan di pintu.

Tok tok tok ....

Klek.

"Assalamu’alaikum! Yo!" seru Rian begitu pintu dibuka.

"Wa'alaikumussalam! Masuk, Yan, masuk!" sambut Theo gembira.

Begitu melangkah ke dalam ruang tamu, mata Rian langsung tertuju pada sosok pria bertubuh tegap yang duduk di sofa. Senyum lebar seketika terbit di wajah Rian.

"Lho! Mas Yayan?!" pekik Rian antusias.

"Oalah, Rian! Ya Allah, makin gagah saja kamu sekarang di kota!" sahut Yayan tak kalah kaget, langsung berdiri dan merangkul Rian dengan akrab.

Berbeda dengan Theo yang dahulu hanya tinggal di Desa Bojasari sampai kelas 1 SMP sebelum akhirnya diboyong orang tuanya pindah ke lain daerah, Rian tumbuh besar dan menghabiskan masa remajanya hingga dewasa di desa tersebut. Tak heran jika Rian dan Yayan sudah sangat akrab sejak lama. Bagi Rian, Yayan adalah sosok kakak senior di kampung yang selalu bisa diandalkan.

"Aduh, Mas Yayan... terakhir ketemu pas kamu bantu syukuran di rumah warga tahun lalu kan?" ujar Rian terkekeh seraya menjabat tangan Yayan erat-erat. "Kapan sampai Jakarta, Mas?"

"Baru kemarin sore sama Theo, Yan. Nih, nganterin juragan barumu yang mau boyongan ke desa," goda Yayan melirik Theo sambil tertawa renyah.

Theo yang melihat keakraban dua orang dari kampung halamannya itu hanya bisa tersenyum hangat. Suasana ruang tamu kontrakan yang tadinya sepi seketika berubah riuh dan hidup oleh obrolan, canda tawa, serta kenangan-kenangan lama Desa Bojasari yang mulai diperbincangkan bertiga.

Sambil menikmati makanan dan minuman hangat yang dibeli Theo, obrolan bertiga di ruang tamu itu mengalir makin akrab. Gelak tawa sesekali pecah saat Rian dan Yayan saling melempar kenangan konyol masa lalu di Desa Bojasari—mulai dari cerita ronda malam, memancing di kali, hingga riuhnya acara dusun setiap musim panen.

Namun, di tengah kehangatan nostalgia itu, raut wajah Theo perlahan berubah membisu. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap cangkir kopi di tangannya yang mulai dingin.

"Jujur ya, Mas Yayan, Rian..." Theo menghela napas panjang, memecah keceriaan ruangan. "Di balik keputusanku buat pulang dan menjaga amanah Kakung... sebenarnya ada rasa ragu yang lumayan besar di hatiku.......

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh... Bakalan ada apa lagi, nih?
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Tita Tata
sumpahhhh penasaran bgt sama kelanjutannya
Tita Tata
pokoknya terus lanjut bacaa
Tita Tata
suara apa itu thorrrrrrr
Tita Tata
lanjut thor ... semakin seruuuu
Tita Tata
jadi Theo pernah se trauma itu yaaa
Tita Tata
aku suka bngt sama tulisan author ini
Tita Tata
apa yang akan terjadi selanjutnya yah
Tita Tata
tegang bgt sumpah
Tita Tata
lanjut thorrrr
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Loh, wafatnya Kakung Theo belom dikasih kabar ke orang tuanya kah??? 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kira-kira Theo bisa "merasakan" kejanggalan di rumah peninggalan Kakeknya gak, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Owalaaah... Jadi makhluk-makhluk yang mengganggu itu kiriman orang lain ternyataaa... Gak bisa dibiarin terus kalo begitu...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh, saya bener-bener jadi inget sama Almarhum Mbah saya pas baca BAB ini, Kak... Emosi memorinya kuat banget... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Jangan-jangan semua makhluk yang ada di rumah Almarhum Kakek Theo itu, sosok penjaga rumah itu kah???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya suka banget nih, ceritanya semakin mendebarkan... 🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Siapa sih, wanita yang menangis itu? Penasaran banget jadinya...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waaah, nostalgia banget pas baca kata "Playstation"... Jadi sama-sama inget masa SMP dulu, mirip kayak Theo... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waduh, ada rahasia apa di balik rumah dan peternakan Almarhum Kakek Theo, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah... Makin seru ceritanya Thor!

Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???

🤨🤨🤨🤨🤨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!