Indonesia
NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN CINTA

BERMAIN API DENGAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Obsesi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.

Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.

Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.

Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERMAIN API DENGAN CINTA Bab 31: Sandiwara di Atas Bara Api

BERMAIN API DENGAN CINTA

Bab 31: Sandiwara di Atas Bara Api

Pecahan kebenaran yang baru saja meledak di dalam kepala Cinta menyisakan sensasi hantam yang luar biasa dahsyat. Namun, alih-alih berteriak histeris, mendorong tubuh tegap di hadapannya, atau menuntut penjelasan atas kebohongan gila ini, jiwa manipulatif Cinta yang sedingin es justru mengambil alih kesadarannya dalam hitungan detik.

Rasa syok yang sempat membuat matanya terbelalak kini perlahan meredup, digantikan oleh binar mata jeli yang berkilat penuh intrik licik. Sebuah seringai kemenangan yang teramat tipis terukir di sudut hatinya.

Jadi, kamu ingin bermain peran denganku, Tuan Maxim yang terhormat? batin Cinta bersorak kejam di balik rahangnya yang mengatup rapi. Kamu sengaja menyamar menjadi Ethan, membiarkanku mengira aku yang memegang kendali atas dirimu, hanya untuk menertawakan kebodohanku dari atas takhta CEO-mu? Baik. Mari kita lihat siapa yang akan terbakar paling parah di dalam permainan api ini.

Dendam membara akibat tamparan Valen siang tadi dan kejengkelannya pada sikap munafik Maxim di kantor kini melebur menjadi satu energi nekat yang berbahaya. Cinta memutuskan untuk tidak membongkar kartu as ini malam ini. Mengetahui rahasia terbesar sang penguasa bisnis tanpa pria itu sadari adalah senjata paling mematikan yang pernah dia miliki. Dia akan mengikuti permainan gila ini. Dia akan menjadi 'Vera' yang haus akan pelampiasan bagi 'Ethan', lalu menantikan dengan sabar kehancuran harga diri Maxim esok pagi saat pria itu tersadar dari blunder fatalnya.

Tubuh Cinta yang tadinya sekaku es mendadak melunak secara drastis di dalam cengkeraman kekar Maxim. Kedua telapak tangan lentiknya yang semula tertahan kaku di dada sang CEO, kini bergerak sensual naik ke atas, merengkuh leher kokoh Maxim dengan cengkeraman yang posesif.

Cinta mendongak, menantang langsung sepasang manik mata hitam Maxim yang masih buram oleh kabut gairah bawah sadar. Dengan senyuman nakal yang dipenuhi provokasi sensual yang mematikan, Cinta sengaja memajukan wajahnya.

"Kalau begitu... tunggu apa lagi, Ethan?" bisik Cinta dengan nada suara 'Vera' yang teramat manja dan mendayu tepat di depan bibir pria itu. "Puaskan aku malam ini, seperti yang biasa kamu lakukan."

Tanpa menunggu balasan kata, Cinta menjadi pihak yang pertama kali meluncurkan serangan. Dia menyergap ranum bibir Maxim, membalas ciuman menuntut pria itu dengan intensitas yang jauh lebih agresif dan membara dari biasanya. Lumatan bibir Cinta malam ini terasa begitu panas, mengunci sisa-sisa kewarasan Maxim yang memang sudah berada di titik nadir.

Maxim menggeram rendah, suara kepuasan erotis yang berat dan serak bergema di dalam tenggorokannya. Stimulus dari balasan ciuman Cinta yang begitu tiba-tiba murni menghancurkan sekat logika terakhir di kepalanya. Tangan kekar Maxim mencengkeram pinggang Cinta semakin erat, mengangkat tubuh ramping wanita itu tanpa kesulitan sedikit pun dan menghempaskannya dengan lembut di atas ranjang King Size yang empuk.

Di bawah temaram lampu kuning kamar penthouse VVIP yang intim, malam itu berubah menjadi medan pertempuran gairah yang teramat pekat. Maxim—yang masih sepenuhnya mengira dirinya berada di bawah identitas Ethan karena pengaruh alkohol kafe dan amarah posesif yang mengaburkan batas realitas—menyerahkan seluruh kendali tubuhnya untuk memuja wanita di bawah kungkungannya. Dia mencium, menyentuh, dan menuntut kepemilikan mutlak atas tubuh Cinta seolah esok hari tidak akan pernah datang.

Namun, di setiap desahan napas yang Cinta loloskan, di setiap sentuhan kulit mereka yang membakar saraf, dan di balik mata jelinya yang sesekali terpejam menikmati sensasi panas tersebut, otak cerdas Cinta tetap bekerja dengan sangat dingin. Setiap kali Maxim membisikkan kata "Vera" atau panggilan manja di telinganya, Cinta justru semakin mempererat dekapannya sembari menghitung mundur waktu menuju pagi.

Nikmati kemenangan semu ini selagi kamu bisa, Tuan Maxim, batin Cinta penuh intrik di sela-sela pergulatan panas mereka. Lampiaskan seluruh obsesimu malam ini. Karena besok pagi, aku sendiri yang akan berdiri di depan mejamu untuk melihat bagaimana caramu mempertanggungjawabkan kata 'Kakak Cantik' ini di depan sekretaris pribadimu.

Malam yang panjang pun bergulir, menenggelamkan kedua orang yang saling memanipulasi itu ke dalam pusaran dosa yang paling dalam di atas ranjang Hotel Grand Kencana.

Keesokan harinya, semburat cahaya fajar perlahan menembus celah-celah gorden sutra tebal kamar VVIP, menyinari interior ruangan yang berantakan dengan pakaian kerja yang terserak di atas lantai marmer. Suara desau AC yang dingin menjadi satu-satunya latar belakang keheningan pagi yang mencekam.

Cinta sudah terbangun sejak satu jam yang lalu. Efek anggur semalam sudah sepenuhnya hilang dari kepalanya, menyisakan ketajaman berpikir yang mutlak. Dia duduk bersandar di kepala ranjang dengan selimut beludru putih yang menutupi dada polosnya. Tatapan matanya yang sedingin es terarah lurus pada sosok pria bertubuh kekar yang masih tertidur pulas di sampingnya—Tuan Maxim, tanpa topeng, tanpa setelan jas mahal, hanya seorang pria yang tampak tak berdaya di bawah pengaruh kelelahan gairah semalam.

Cinta menyunggingkan senyuman miring yang penuh dengan kekejaman psikologis. Dia bangkit dari ranjang dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak mengusik tidur sang bos. Dengan anggun, dia memungut kemeja putih gadingnya yang robek, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi mewah untuk membersihkan diri dan menyusun taktik perang berikutnya. Hari ini, dia tidak akan melarikan diri seperti yang dia lakukan dua malam lalu. Dia akan menghadapi sang serigala tepat di sarangnya.

Tepat pukul tujuh pagi, kelopak mata Maxim bergerak perlahan. Rasa pening yang samar akibat sisa emosi pekat semalam langsung menyerang pelipisnya. Pria berusia dua puluh enam tahun itu melenguh rendah, meraba sisi ranjang di sebelahnya yang terasa kosong dan sudah mendingin.

Maxim membuka sepasang mata hitamnya. Pandangan pertamanya langsung tertuju pada langit-langit kamar penthouse VVIP Hotel Grand Kencana.

Dalam hitungan detik, seluruh memori tentang kejadian semalam berputar kembali di dalam otaknya bagai siaran ulang yang mengerikan. Mulai dari laporan darurat pengawal di kafe, aksi pendobrakan pintu, gendongan bridal style, hingga ciuman rakus di dalam mobil Rolls-Royce.

Dan kemudian... ingatan tentang detik-detik saat mereka melangkah masuk ke dalam kamar ini menghantam kesadaran Maxim dengan daya hantam yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak seketika.

“Apakah kamu merindukanku... Ethan?”

“Aku merindukanmu setengah mati, Kakak Cantik...”

“Maka lupakan bajingan itu malam ini. Aku akan memuaskanmu sampai subuh menjelang, Vera...”

Deg!

Seluruh darah di dalam tubuh Maxim rasanya surut seketika ke dasar bumi. Wajah tampannya berubah pucat pasi, sekaku pualam yang dihantam badai. Sepasang matanya melebar sempurna dengan urat-urat leher yang menegang kencang saat kesadaran logisnya sebagai CEO Kencana Property Group kembali pulih seratus persen.

Sialan! Apa yang sudah kulakukan?! batin Maxim berteriak frustrasi, tangannya bergerak kasar menyugar rambut hitamnya yang berantakan.

Dia baru saja menyadari kebodohan terbesarnya. Dia telah terjebak ke dalam umpan kata yang dilemparkan oleh Cinta semalam. Sifat gila kendali dan rasa cemburunya yang buta telah membuatnya lupa daratan hingga dengan sukarela membongkar identitas samarannya sebagai Ethan di depan wanita manipulatif itu—tanpa menggunakan topengnya!

Maxim bangkit berdiri dari ranjang dengan sentakan kasar, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar dengan napas yang memburu pendek penuh kepanikan yang belum pernah terjadi sepanjang hidupnya. Kamar itu kosong. Tidak ada tanda-tangan keberadaan Cinta di sana.

Apakah dia sudah pergi? Apakah dia melarikan diri lagi dan membawa rahasia ini untuk menghancurkanku? pikir Maxim dengan rahang yang mengatup rapat menahan kecemasan yang luar biasa pekat.

Namun, tepat saat Maxim hendak menyambar ponsel pribadinya di atas meja nakas, suara ketukan pintu kamar mandi yang terbuka perlahan memotong gerakannya.

Sesosok wanita cantik melangkah keluar dari sana. Cinta berdiri tegap di ambang pintu dengan balutan jubah mandi (bathrobe) putih milik hotel. Rambut hitam panjangnya yang masih sedikit basah dibiarkan tergerai indah di bahunya. Wajah cantiknya tampak begitu segar, bersih dari sisa riasan semalam, namun sepasang mata jelinya menatap lurus ke arah Maxim dengan kilat tatapan yang teramat sangat tenang, dingin, dan dipenuhi oleh kepuasan kemenangan psikologis yang mutlak.

Cinta menyandarkan tubuh rampingnya di bingkai pintu kamar mandi, menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu menyunggingkan sebuah senyuman miring yang penuh ejekan tajam langsung ke arah wajah pucat sang CEO.

"Selamat pagi, Tuan Maxim yang terhormat..." ucap Cinta dengan nada suara yang sengaja ditekan seprofesional mungkin—nada suara sekretaris kantor, namun memiliki intonasi manja 'Vera' yang samar di ujung kalimatnya.

Cinta melangkah lambat mendekati posisi Maxim yang masih mematung di tepi ranjang tanpa busana atas, menatap pria itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang merendahkan harga diri sang penguasa.

"Atau... apakah saya harus menyapa Anda dengan nama Ethan, pria bertopeng yang semalam memohon-mohon memanggil saya dengan sebutan Kakak Cantik?" cecar Cinta dengan bisikan sedingin es yang seketika meruntuhkan seluruh wibawa kepemimpinan Maxim malam itu.

1
Lea
bagus GK ngebosenin ceritanya
Lea
lanjut
Lea
bagus..lanjut
Meysha Talitha Putri
bagus
Park ha: makasih 😍🙏🙏
total 1 replies
Fauzianurul 08
cepat² up yaaa
Park ha: 🤭🤭 aku usahain 2 bab sehari kak... gimnaa pendapat ceritanya? kalau berkenan kasih pendapat...
total 1 replies
the virtuso
izin mampir
Park ha: makasih udah mampir🙏🙏😍
total 1 replies
Abid Din
kak CPT update
Park ha: ok siap...tbw jangan lupa like kasih ulasan kritik saran... makasih😍🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim hadiah lanjut banyak thor
falea sezi
lanjutt
Park ha
moga suka wkkwkwk
falea sezi
nyimakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!