Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan itu
Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa.
Mira kembali sibuk dengan sekolah. Ia tetap membantu Ibu Sinta mengantarkan Shasa pulang dan sesekali membantu ibunya berjualan jika sedang tidak mendapatkan pekerjaan di pasar.
Sabtu malam, Mira baru saja selesai mengerjakan PR IPA. Anak itu terlihat begitu bersemangat ketika mengerjakan tugas tersebut, apalagi pelajaran tentang organ tubuh manusia.
Keinginannya untuk menjadi seorang dokter semakin kuat. Tak ayal, setiap kali mendapatkan tugas dari guru, Mira selalu berusaha mengerjakannya dengan baik.
Setelah selesai, Mira mengambil kalender yang tertempel di dinding.
Sudah satu minggu sejak ia menandai tanggal tersebut.
Besok.
Hari yang sejak beberapa hari terakhir begitu ia nantikan.
Mira kemudian mendekati ibunya yang sedang sibuk menata dagangan untuk persiapan esok pagi.
“Bu,” panggil Mira pelan.
“Iya, Nak?” sahut Rina.
“Besok hari libur Mira mau bantuin Ibu lagi, ya. Biar dagangan Ibu cepat habis,” ujar anak itu penuh semangat.
Seketika tangan Rina berhenti bergerak. Senyum perlahan mengembang di wajahnya.
“Sayang, lebih baik kamu bermain saja dengan teman-temanmu.”
“Enggak mau, Bu. Sekalian Mira mau temenin Kak Shasa bertemu ibunya di taman raya.”
“Oh, jadi besok kamu sekalian antar Shasa?” tanya Rina.
“Iya, Bu. Makanya izinin Mira ikut Ibu jualan.”
Rina menghela napas pelan.
Ia tahu anaknya memang tidak pernah betah jika hanya duduk diam. Selalu saja ada sesuatu yang ingin dilakukan. Namun ia juga tidak ingin membuat putrinya kecewa.
“Ya sudah. Besok kamu boleh datang ke taman raya.”
Mata Mira langsung berbinar.
“Yeay!”
Ia bahkan sampai melompat kecil.
“Kalau begitu Mira mau tidur dulu. Mira enggak sabar menunggu besok!”
Rina hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya.
Padahal yang ingin bertemu dengan ibunya adalah Shasa.
Namun entah kenapa, Mira justru terlihat jauh lebih bersemangat.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan paginya, mentari mulai bersinar di balik pepohonan.
Di rumah kecil itu, Rina dan Mira sudah sibuk menyiapkan dagangan.
Beberapa makanan ringan, minuman, serta jepitan rambut ditata dengan rapi.
“Bu, sudah selesai. Ibu berangkat dulu saja, nanti Mira nyusul sama Kak Shasa.”
“Iya, Nak. Hati-hati naik sepedanya. Jangan terlalu kencang.”
“Iya, Bu.”
Rina kemudian mengayuh sepeda ontelnya menuju taman raya. Tidak ada sedikit pun perasaan aneh di dalam hatinya. Ia hanya berpikir tentang dagangan yang harus dijual hari itu.
Sesampainya di taman raya, Rina segera memilih tempat yang cukup ramai. Ia menggelar karpet kecil kemudian menata dagangannya satu per satu.
Tak lama kemudian beberapa pengunjung mulai berdatangan. Rina tersenyum kepada setiap orang yang melewati dagangannya.
Sementara itu, beberapa menit kemudian terdengar suara sepeda dari arah jalan. Mira akhirnya datang. Wajahnya terlihat sedikit memerah karena kelelahan. Anak itu mengayuh sepeda sambil membonceng Shasa.
Begitu melihat putrinya, Rina langsung tersenyum. Namun senyum itu perlahan berubah menjadi rasa sesak ketika melihat Mira turun dari sepeda dengan napas terengah-engah.
“Kenapa tidak pelan-pelan, Nak?”
Mira mengusap keringat di dahinya. “Enggak apa-apa, Bu. Mira kuat.”
Shasa ikut turun. “Maaf, Bu Rina. Saya malah merepotkan Mira.”
“Enggak apa-apa, Nak.”
Rina tersenyum kepada Shasa. “Kamu tunggu saja di sini. Sebentar lagi Ibu kamu datang.”
“Iya, Bu.”
Mira kemudian melihat dagangan ibunya.
“Bu, Mira jualan dulu, ya.”
Rina mengangguk. “Iya, tapi jangan terlalu jauh.”
“Iya!”
Mira segera mengambil wadah jualannya yang biasa ia gunakan untuk berkeliling. Ia menggantungkan wadah tersebut di bagian depan tubuhnya, lalu mulai berjalan menyusuri taman.
“Cangcimen... cangcimen...”
Suara polosnya terdengar menawarkan dagangan.
Beberapa pengunjung membeli. Mira tersenyum setiap kali ada yang mengambil makanan dari wadahnya.
Hari itu ia benar-benar ingin membantu ibunya. Di sisi lain taman, sebuah mobil hitam perlahan memasuki area parkir. Mobil itu terlihat jauh lebih mewah dibandingkan kendaraan lain yang berada di sekitar taman.
Mobil berhenti tidak jauh dari tempat Rina berjualan. Pintu depan terbuka. Seorang wanita turun terlebih dahulu.
Rina yang sedang melayani pembeli tidak terlalu memperhatikan.
Wanita itu kemudian membuka pintu belakang. Seorang gadis kecil keluar.
Usianya mungkin tidak jauh dari Mira. Gadis itu mengenakan pakaian yang terlihat jauh lebih bagus. Rambutnya tertata rapi. Di tangannya terdapat sebuah tas kecil.
Ia berdiri sambil memperhatikan keadaan sekitar. Mungkin karena penasaran melihat suasana taman raya yang cukup ramai, gadis itu berjalan beberapa langkah menjauh dari mobil.
Sementara itu Mira yang sedang berkeliling tidak menyadari keberadaannya. Tangannya sibuk memegang beberapa bungkus dagangan.
“Cangcimen... siapa yang mau?”
Mira berjalan mundur beberapa langkah ketika menawarkan dagangannya kepada seorang pengunjung. Namun pada saat yang sama—
Bruk!
Tubuh kecil Mira bertabrakan dengan seseorang. Beberapa bungkus cangcimen yang ada di tangannya langsung jatuh ke tanah.
Mira terkejut. “Aduh!”
Gadis di hadapannya juga mundur beberapa langkah. Tapi bukannya meminta maaf, gadis itu justru menatap Mira dengan wajah kesal.
“Kamu kalau jalan lihat-lihat dong!”
Mira terdiam. Ia kemudian melihat dagangannya yang berserakan.
“Tapi... Kakak yang nabrak Mira.”
“Aku?” Gadis itu menunjuk dirinya sendiri.
“Iya.”
“Kamu yang jalan mundur!”
Mira mengerutkan kening. “Tapi Mira enggak lihat Kakak.”
“Nah, berarti salah kamu!”
Mira sedikit bingung. Beberapa orang mulai menoleh ke arah mereka. Mira kemudian berjongkok untuk mengambil dagangannya yang jatuh.
Namun gadis itu masih berdiri di tempat.
“Kamu harus ganti ini.”
Mira menatapnya. “Ganti apa?”
“Makananku yang kamu jatuhkan.”
Mira melihat tidak ada satu pun makanan milik gadis itu yang jatuh.
“Kan enggak ada makanan Kakak yang jatuh, masak aku suruh ganti."
Gadis itu menunjuk salah satu bungkus yang berada di tanah. “Itu!”
“Itu punya Mira.”
“Pokoknya kamu harus tanggung jawab!”
Mira mulai merasa kesal. Ia berdiri sambil memegang kembali dagangannya.
“Tapi Kakak yang nabrak Mira.”
“Enggak!”
Mira menghela napas kecil. Entah kenapa gadis itu mengingatkannya kepada anak-anak di sekolah yang selalu menyalahkannya. Namun sebelum Mira kembali berkata-kata, terdengar suara seorang wanita dari arah mobil.
“Sayang!”
Gadis kecil itu langsung menoleh. “Iya, Mama!”
Mira ikut menoleh. Untuk sesaat pandangan mereka bertemu dengan wanita yang baru saja memanggil gadis tersebut.
“Sayang, sini.”
Anak itu hendak berjalan menghampiri ibunya. Namun sebelum sempat melangkah, terdengar suara pintu mobil terbuka.
Seorang pria keluar dari dalamnya. “Kenapa?”
Suaranya membuat wanita itu menoleh. “Tidak apa-apa,” jawabnya. “Tadi dia tidak sengaja bertabrakan dengan anak ini.”
Pria itu mengarahkan pandangan kepada Mira. Anak itu masih berdiri di dekat dagangannya yang berserakan. Tangannya sibuk mengumpulkan satu per satu bungkus cangcimen yang jatuh.
Mira sama sekali tidak memperhatikan pria tersebut. Ia hanya ingin segera membereskan dagangannya agar tidak semakin banyak orang yang melihat.
“Sudah, jangan ribut di sini,” ujar pria itu.
Gadis kecil tadi tampak hendak membantah, tetapi akhirnya menurut. “Ma.”
Wanita itu menggandeng tangan putrinya. "Sudah jangan berdebat dengan anak yang tidak selevel dengan kita."
Sementara pria tersebut masih berdiri beberapa langkah dari mereka. Entah mengapa, pandangannya kembali tertuju kepada Mira.
Ada sesuatu dari anak itu yang membuatnya memperhatikan lebih lama dari seharusnya lalu ia segera mengalihkan pandangan.
“Sudah, kita masuk saja.”
Ketiganya kemudian berjalan meninggalkan tempat itu. Mira tidak tahu siapa mereka. Baginya, kejadian itu hanyalah sebuah insiden kecil yang sebentar lagi akan dilupakan. Ia kembali memungut dagangannya.
Tak jauh dari sana, Rina masih sibuk melayani pembeli dan sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Hari itu tetap berjalan seperti biasa.
Tidak ada yang tahu bahwa pertemuan singkat di taman raya tersebut kelak akan membawa mereka kepada sebuah kenyataan yang selama bertahun-tahun tersembunyi.
Bersambung
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡