Indonesia
NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 Lintas Kota dan Sisi Yang Tersembunyi

Rabu pukul enam pagi, kabut tipis warna biru keabuan masih menyelimuti langit Jakarta Selatan, menggantung rendah di antara pepohonan dan atap-atap rumah. Sementara udara pagi yang lembap membawa sisa dingin dari hujan semalam. Sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di depan gang kecil kediaman Liora.

Liora yang telah siap beberapa menit yang lalu berdiri menunggu, mengangkat wajahnya. Kemeja kasual berwarna krem membungkus tubuh mungilnya dengan rapi, dipadukan dengan celana panjang straight-leg pants gelap dan ransel sederhana yang menggantung di punggungnya. Rambutnya ditata sederhana, sementara kacamata barunya bertengger manis di pangkal hidungnya.

Ia yang semula mengira akan dijemput oleh pengemudi kantor berkedip heran saat kaca mobil terbuka, kedua alisnya spontan terangkat.

Bukan Pak Narev.

Di balik kemudi justru terlihat sosok Ravian. Pria itu tampak begitu berbeda pagi ini. Tanpa jas formal yang selama ini melekat pada sosoknya, ia hanya mengenakan rajut abu-abu gelap dengan lengan yang ditarik naik sebatas siku. Penampilan sederhana itu justru membuatnya terlihat lebih muda.

Dan, entah mengapa, di mata Liora itu jauh lebih menawan.

"Masuk, Miss Arwen. Kita harus menghindari kemacetan tol," Suara Ravian tetap datar seperti biasa, tetapi sorot matanya menyapu penampilan Liora dengan pendar hangat yang tersembunyi.

"Pak Evander? Bapak menyetir sendiri?" tanya Liora ragu sembari membuka pintu penumpang di depan dan duduk di samping Ravian.

Ravian menolah sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian pada jalan. "Narev sedang mengurus berkas pameran di Bandung sejak kemarin. Lagipula, ini perjalanan dinas resmi untuk konferensi teknologi," sahut Ravian seraya memindahkan tuas transmisi dan melajukan mobilnya membelah jalanan pagi.

"Oh." Liora mengangguk kecil.

Mobil pun bergerak meninggalkan gang sempit itu, memasuki jalan utama yang perlahan mulai dipenuhi kendaraan.

Beberapa menit pertama berlalu dalam keheningan.

Suasana di dalam mobil awalnya dipenuhi keheningan yang canggung. Hanya alunan musik jazz lembut dari pemutar audio yang mengisi udara. Liora sesekali melirik ke luar jendela, berusaha mengabaikan kesadaran bahwa jarak antara dirinya dan Ravian pagi itu terasa jauh lebih dekat daripada biasaya.

Biasanya, ada meja kerja. Ada ruang kelas. Ada dokumen dan rapat yang menjadi pembatas di antara mereka.

Tetapi pagi ini, hanya ada sebuah konsol tengah yang memisahkan dua orang yang sama-sama terlalu sadar akan keberadaan satu sama lain.

Liora akhirnya mengalihkan pandangan ke pangkuannya. Namun, suara Ravian tiba-tiba memecah keheningan.

"Bagaimana progres draf proposal skripsimu?" tanya Ravian, matanya tetap fokus pada jalanan di depannya.

Liora menoleh, sedikit terkejut. "Sangat baik, Pak. Pembimbing saya menyetujui metode analisis yang kemarin sempat Bapak koreksi di kelas."

Ravian mengangguk pelan. "Bagus." Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Senyum yang tulus.

Senyum yang hampir tidak pernah Liora lihat ketika pria itu sedang berada di ruang rapat atau berdiri di hadapan ratusan mahasiswa.

"Jangan biarkan tugas magang menurunkan standar akademismu."

Liora tersenyum kecil. "Saya akan berusaha, Pak."

"Jangan hanya berusaha." Ravian melirik Liora sekilas. "Pastikan."

Liora terkekeh pelan. "Baik, Pak."

Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, suasana di dalam mobil terasa lebih ringan.

***

Perjalanan menuju Bandung berlangsung hampir sepanjang pagi.

Ketika kendaraan memasuki Tol Purbaleunyi, gedung-gedung tinggi Jakarta Selatan perlahan menghilang dari pandangan. Berganti dengan hamparan perbukitan hijau, pepohonan yang tumbuh liar di sepanjang jalan, serta langit yang mulai berubah cerah.

Liora menurunkan sedikit kaca jendela. Angin pagi menyusup masuk, membawa aroma tanah dan dedaunan basah. Ia menatap pemandangan di luar ruangan dengan mata berbinar.

Ravian sempat meliriknya.

"Kamu jarang keluar kota?"

"Untuk urusan kerja atau kuliah, iya. Tapi kalau sekedar jalan-jalan..." Liora tersenyum malu. "Jarang."

"Kenapa?"

Liora mengangkat bahu. "Belum punya banyak kesempatan."

Ravian diam sejenak. Ada sesuatu dalam jawaban sederhana itu yang membuatnya menatap jalan di depan dengan ekspresi lebih dalam.

Barangkali selama ini ia terlalu sibuk mengejar waktu hingga lupa bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk sekedar berhenti dan menikmati perjalanan.

"Kalau begitu," katanya akhirnya, "anggap perjalanan ini bagian dari pengalaman akademismu."

Liora menoleh. "Begitu?"

"Ya, " senyum tipis muncul lagi di wajah Ravian.

"Anggap saja bonus dari saya karena kamu menjadi asisten yang terlalu rajin."

Liora tertawa kecil.

Tanpa mereka sadari, jarak yang selama ini dibangun oleh status dan batas profesional perlahan mulai kehilangan bentuknya.

***

Siang harinya di Bandung, agenda pameran dan konferensi teknologi berjalan sangat padat sejak siang.

Liora menjalankan tugasnya sebagai asisten dengan sangat cekatan, mencatat poin-poin penting dalam setiap sesi, memastikan dokumen kerja sama tersusun rapi, memeriksa jadwal pertemuan, hingga mendampingi Ravian ketika bertemu para investor asing.

Pada salah satu sesi diskusi, seorang investor asing dari Singapura melontarkan pertanyaan teknis yang cukup rumit mengenai pengembangan sistem kecerdasan buatan milik Evander Corp.

Liora yang berdiri beberapa langkah di belakang Ravian sempat ragu. Namun ketika Ravian menoleh kepadanya, memberi isyarat agar ia menjawab, dengan tenang Liora menjelaskan. Tidak terburu-buru. Tidak berlebihan. Setiap jawabannya disampaikan dengan struktur yang jelas dan pemahaman yang matang.

Investor asing tersebut akhirnya mengangguk puas. "Impressive."

Liora hanya tersenyum sopan. Namun dari sudut matanya, ia menangkap tatapan Ravian.

Ada kebanggaan di sana. Bukan sekadar tatapan seorang atasan kepada asistennya.

Setidaknya itu yang dirasakan Liora. Dan perasaan itu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

***

Pukul tujuh malam, agenda konferensi resmi berakhir. Gerimis turun perlahan membungkus udara dingin khas Bandung ketika Ravian mengajak Liora menyantap makan malam di sebuah kafe berarsitektur klasik di kawasan Dago Atas yang relatif sepi.

Di sudut meja kayu dekat perapian buatan, dua cangkir cokelat panas beruap mengepul pelan di atas meja. Untuk beberapa saat mereka hanya menikmati keheningan. Sampai akhirnya Ravian bersuara.

"Terima kasih untuk kerja kerasmu hari ini, Liora."

Liora mengangkat wajahnya.

"Kamu menangani para investor dengan sangat luar biasa," puji Ravian hangat, untuk pertama kalinya menyebut nama panggilannya secara langsung tanpa embel-embel formal.

Liora terdiam sesaat. Entah mengapa satu kata sederhana itu terasa lebih intim daripada seharusnya.

Ia merapikan posisi kacamata barunya untuk menyembunyikan wajah yang mulai menghangat. "Saya banyak belajar dari cara Bapak memimpin rapat tadi."

Ravian menyandarkan punggungnya. "Jangan terlalu banyak belajar dari saya."

Liora tersenyum. "Kenapa?"

"Karena saya tidak selalu menjadi contoh yang baik."

Nada suaranya terdengar ringan, tetapi ada sesuatu yang tersembunyi di balik kalimat itu. Ia menatap cangkir cokelat di tangannya sebelum pandangannya menerawang ke luar jendela kaca yang dibasahi titik-titik air hujan. Wajahnya yang biasanya kaku dan tak tersentuh kini memancarkan rasa lelah yang sangat manusiawi.

"Orang-orang hanya melihat Evander Corp sebagai raksasa teknologi," suaranya rendah. "Mereka melihat perusahaan besar. Melihat angka. Melihat keberhasilan."

Ravian tersenyum hambar. "Mereka tidak tahu bahwa lima tahun lalu, perusahaan itu hampir runtuh."

Liora tidak menyela. Ia hanya mendengarkan.

"Saat Ayah saya mendadak terserang stroke, semuanya berubah dalam waktu yang sangat singkat. Direksi mulai saling berebut kekuasan. Orang-orang yang sebelumnya tersenyum di depan saya mulai menunjukkan wajah sebenarnya."

Liora terpaku, mendengarkan dengan seksama. Ini adalah pertama kalinya Ravian membuka sisi rentan dalam hidupnya.

"Saya masih terlalu muda untuk memahami bagaimana dunia bisnis bekerja. Tapi saya tidak punya pilihan. Saya terpaksa melepas impian saya untuk menjadi akademisi penuh dan mengambil alih kemudi perusahaan di usia yang sangat muda," lanjut Ravian, menatap Liora lurus.

"Dua topeng yang saya kenakan setiap hari..." Ravian menarik napas pelan. "Bukan untuk bergaya, Liora. Itu adalah perlindungan diri agar saya bisa menjaga warisan keluarga sekaligus tetap menghidupi passion saya di dunia pendidikan."

Hening.

Dada Liora bergemuruh hebat. Rasa empati dan kagum yang mendalam mendadak memenuhi hatinya. Selama ini ia mengira Ravian adalah pria yang tidak membutuhkan siapa pun. Ternyata ia hanya seseorang yang terlalu lama dipaksa untuk terlihat kuat

Perlahan, tanpa terlalu banyak berpikir, ia memberanikan diri mengulurkan tangannya di atas meja, menyentuh pelan jemari Ravian yang terasa dingin.

Ravian terdiam. Tatapannya turun pada tangan kecil yang kini menyentuhnya.

"Bapak sudah melakukannya dengan sangat hebat," bisik Liora tulus, mata cokelatnya memancarkan kehangatan yang mendalam. "Bapak berhasil menjaga keduanya."

Ravian mengangkat wajahnya.

Mata mereka kembali bertamu. Tak ada lagi atasan dan bawahan. Tak ada profesor dan mahasiswi. Tak ada CEO dan asistennya. Hanya dua manusia yang untuk pertama kalinya saling melihat tanpa lapisan apa pun.

Ravian perlahan membalikkan telapak tangannya, menggenggam jemari mungil Liora dengan erat namun lembut. Tatapan mata mereka mengunci satu sama lain di tengah hangatnya ruangan dan dinginnya hujan Bandung malam itu. Dinding pembatas di antara mereka kini benar-benar telah luluh pasrah.

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!