Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 — MURID PENGKHIANAT
Gua Es Abadi diliputi kesunyian yang mencekam selama tiga hari berturut-turut sejak Cermin Nirwana pecah di Lembah Kabut Hitam.
Lu Chen terbaring lemah dengan demam tinggi yang membara. Tubuhnya dipenuhi oleh guratan-guratan retakan hitam yang menyala akibat persentase Darah Iblis di dalam dirinya yang telah mencapai angka lima puluh persen. Tanpa mengenal lelah, Shen Yue berjaga siang dan malam tanpa tidur sedetik pun, dengan telaten menyuapkan air hangat dan rempah penyembuh ke mulut putranya.
[Panel: Status Lu Chen] DARAH IBLIS: 50% DARAH DEWA: 1% DARAH MANUSIA: 49% KONDISI: KRITIS
"Ibu... aku bermimpi buruk," bisik Lu Chen dengan suara terbata-bata di sela igauannya. "Ada seorang wanita... dia berkata bahwa aku adalah noda..."
Shen Yue terdiam seribu bahasa. Tangannya yang memegang mangkuk obat tampak bergetar hebat. "Ssst... itu hanya mimpi. Cepatlah istirahat."
KRASAK!
Suara gesekan sepatu di atas salju terdengar dari luar mulut gua.
Shen Yue langsung berdiri dengan gerakan secepat kilat. Pedang hukumnya terhunus keluar, memancarkan pendaran cahaya biru yang dingin dan mematikan.
"Siapa di sana?" suaranya menggelegar dingin, penuh kewaspadaan.
Jawaban yang keluar dari balik kegelapan malam terdengar begitu tenang namun menusuk hati: "Guru... muridmu yang paling setia telah datang."
Pintu es gua didobrak paksa dari luar.
Seorang wanita melangkah masuk dengan anggun; ia mengenakan jubah putih bersih, rambut peraknya tergerai panjang, dan sepasang matanya memancarkan kekosongan tanpa emosi. Di punggungnya terselip tiga batang pedang tajam, dan di dadanya tersemat lambang kebesaran Sekte Pedang Salju.
[Panel Darurat] NAMA: XUE LING STATUS: MURID PENGKHIANAT SHEN YUE LEVEL: TAHAP JIWA BARU ANCAMAN: TINGGI
"Xue Ling," desis Shen Yue. "Kau ternyata masih hidup."
Wanita bernama Xue Ling itu tersenyum tipis, namun matanya sama sekali tidak menyiratkan kehangatan. "Semua ini berkat ajaran Guru. Sayang sekali... kini sang Guru yang agung justru turun derajat menjadi buronan paling dicari di tiga alam."
Pandangan Xue Ling beralih menatap Lu Chen yang terbaring lemah di atas batu es. "Dan apa ini? Anak haram hasil hubungan Guru dengan bangsa iblis?"
DUAR!
Belum sempat kalimat itu selesai sepenuhnya, Shen Yue sudah melesat maju dalam jarak nol koma satu detik. Ujung pedang birunya menempel tepat di leher sang murid pengkhianat.
"Jaga mulutmu," ancam Shen Yue dengan suara rendah penuh amarah tertahan.
Xue Ling sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Ia justru tertawa kecil. "Kenapa Guru marah besar? Bukankah dulu Guru sendiri yang mengajariku bahwa Hukum Langit berada di atas segalanya? Tapi sekarang, Guru sendiri yang melanggar hukum mutlak itu demi melindungi seekor iblis kecil?"
Lu Chen yang mendengar percakapan itu berusaha keras memaksakan diri untuk bangun. Gejolak darah iblis di dalam tubuhnya mendadak membara hebat setiap kali ia menatap wanita berambut perak tersebut.
"Jangan..." rintih Lu Chen lemah. "Ibu... jangan bunuh dia..."
Shen Yue melirik putranya sejenak sebelum menatap tajam kembali ke depan. "Dia adalah muridku di masa lalu. Aku yang melatihnya dari nol. Maka aku juga yang harus mengakhiri jalannya."
Xue Ling perlahan menarik mundur lehernya dari bilah pedang sang guru, lalu mencabut tiga pedang dari punggungnya. "Kalau begitu... izinkan muridmu ini menagih seluruh hutang pelajaran dari Guru."
Pertempuran dahsyat langsung pecah di dalam gua sempit itu.
Xue Ling melancarkan jurus pamungkasnya: Jurus Pedang Salju: Sembilan Puluh Sembilan Tebasan.
Meskipun dalam kondisi terluka parah akibat sisa sambaran petir istana, Shen Yue tetaplah sesosok dewa tingkat tinggi. Ia menangkis setiap tebasan maut itu dengan ketenangan luar biasa. DUAR! DUAR! DUAR!
Kendati demikian, setiap kali ia mengerahkan tenaga dalam untuk menangkis, luka bakar di punggungnya kembali robek menganga. Darah segar menetes membasahi lantai es.
"Guru sudah melemah!" seru Xue Ling penuh kemenangan. "Serahkan anak itu sekarang juga, maka Istana Langit mungkin akan mengampuni nyawa Guru!"
"Bermimpilah," jawab Shen Yue dingin.
Di tempatnya berbaring, dada Lu Chen terasa terbakar oleh amarah dan keputusasaan. Rajah di tubuhnya berdenyut liar.
[Panel: Peringatan] DARAH IBLIS: 50% -> 60% RISIKO: KESURUPAN TOTAL
"IBU, JANGAN!" teriak Lu Chen histeris.
Ia mengerahkan seluruh sisa tenaganya, melompat menerjang untuk berdiri tepat di depan Shen Yue. Teblasan pedang salju Xue Ling yang mematikan mendarat telak di bahu kirinya.
SRET!
Darah segar menyemburkan warna yang aneh—campuran antara merah gelap, hitam legam, dan pendaran emas.
Xue Ling terbelalak kaget melihat warna darah itu dan sontak melompat mundur. "Darah macam apa itu..."
Lu Chen perlahan menegakkan tubuhnya. Sebelah matanya telah berubah sepenuhnya menjadi merah darah vertikal, membangkitkan aura iblis yang mengerikan.
"Aku... bukan noda..." suara Lu Chen bergempa, terdengar berlapis ganda. "Aku adalah anak Ibu."
BOOM!
Ia menghantamkan tinjunya ke lantai es gua. Gelombang kejut tenaga dalam meledak dahsyat, menghancurkan seluruh pilar es di dalam gua menjadi serpihan debu.
Xue Ling terpental jauh ke belakang akibat hantaman tersebut. "Mustahil... kekuatan apa ini..."
Tepat di saat situasi semakin genting, pendaran cahaya keemasan tiba-tiba turun dari langit merobek atap gua.
Sepuluh orang Penegak Hukum Langit berzirah emas melayang turun mengepung area tersebut, dipimpin langsung oleh sang Dewa Eksekusi.
"Xue Ling, kau gagal menjalankan tugas," seru Dewa Eksekusi dingin. "Biar kami yang membereskan sisa pengkhianat ini."
Xue Ling menggigit bibir bawahnya. Ia melirik ke arah Shen Yue, dan untuk sepersekian detik, ada keraguan yang terpancar jelas di dalam matanya. Namun ia segera menundukkan kepala. "Baik... tangkap mereka."
Pertempuran tiga kubu kembali tak terhindarkan. Namun kali ini, kondisi fisik Shen Yue telah mencapai batas akhirnya.
Melihat situasi yang tidak mungkin dimenangkan, Shen Yue langsung membopong tubuh Lu Chen yang mulai kehilangan kesadaran. "Kita harus pergi dari sini!"
"Guru!" teriak Xue Ling histeris dari kejauhan. "Kenapa Guru terus melindungi monster itu!"
Shen Yue tidak memedulikan teriakan muridnya. Ia merobek dimensi ruang menggunakan sisa tenaga dalam pedangnya, lalu melompat masuk ke dalam portal bersama putranya.
Beberapa saat kemudian, di tengah lebatnya pepohonan Hutan Gelap.
Portal ruang terbuka, dan Shen Yue langsung jatuh tersungkur sambil memuntahkan seteguk darah segar ke atas tanah.
"Ibu!" Lu Chen merangkak mendekat dengan panik, memegangi tubuh ibunya.
Shen Yue memegang kedua pipi putranya dengan tangan yang dingin. "Dengarkan aku... Xue Ling... dia dulu adalah anak didik terbaikku. Aku gagal mendidiknya menjadi manusia yang benar..."
"Bu, kumohon jangan berbicara dulu," air mata Lu Chen menetes membasahi tangan ibunya.
Shen Yue tersenyum lemah. "Racun Langit di dalam tubuhku... kambuh karena aku terlalu banyak mengerahkan tenaga dalam tadi. Aku... aku butuh sebuah Pil Penekan."
Ia terbatuk pelan. "Di dalam perbendaharaan Sekte Pedang Salju... tersimpan satu pil semacam itu."
Lu Chen menghapus darah di sudut bibir ibunya. "Kalau begitu, kita ambil sekarang."
Shen Yue menggeleng lemah. "Itu bunuh diri. Xue Ling menjaga tempat itu dengan ketat."
Lu Chen perlahan bangkit berdiri. Persentase Darah Iblis yang mencapai enam puluh persen membuat tekadnya mendominasi rasa takut.
[Panel: Keputusan] MISI BARU: MENYUSUP KE SEKTE PEDANG SALJU TARGET: PIL PENEKAN RACUN LANGIT MUSUH UTAMA: XUE LING
"Kalau begitu, biarkan aku pergi sendiri," kata Lu Chen mantap. "Ibu tunggu di sini."
"Tidak boleh!" Shen Yue mencengkeram erat pergelangan tangan putranya. "Kau masih dikuasai setengah jiwa iblis!"
Lu Chen menatap mata ibunya dengan penuh keyakinan. "Ibu sendiri yang mengajarkan padaku... bahwa untuk melindungi orang yang paling berharga di dunia ini, seseorang harus rela mengotori tangannya."
Ia membungkuk dan mencium kening ibunya lembut. "Tunggu aku kembali."
Dari kejauhan di balik pekatnya pepohonan hutan, suara langkah kaki dan gema suara Xue Ling tiba-tiba terdengar mendekat: "GURU... AKU TAHU KALIAN BERSEMBUNYI DI SINI..."