Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 29
Di sebuah restoran mewah bernuansa privat di kawasan Menteng, Lyra melangkah dengan dagu terangkat tinggi. Gaun desainer ternama yang membalut tubuhnya berkilat diterpa lampu kristal, senada dengan binar matanya yang dipenuhi kepuasan liar.
Di salah satu meja sudut terbaik, Papa Arum, Bambang dan Melan Mamanya sudah menunggu dengan raut wajah cemas campuran penasaran.
"Lyra! Bagaimana?" seru Bambang langsung begitu putrinya mendudukkan diri di kursi bernuansa emas tersebut.
"Keluarga Tanuwijaya tidak curiga sedikit pun, kan? Fitting bajunya lancar?"
Lyra tertawa renyah, sebuah suara tawa yang begitu puas dan penuh rasa kemenangannya. Ia mengibas-kibaskan tangannya yang berhias cincin berlian.
"Lancar sekali, Pa! Malah melebihi ekspektasi kita!" ujar Lyra dengan nada penuh kebanggaan. Ia meraih gelas champagne di atas meja dan menyesapnya sedikit.
"Tadi di kantor Angkasa, si perempuan jalang itu, Senja sempat berani menantangku. Tapi Om Tanuwijaya dan Tante Fransiska langsung datang membela aku!"
Mama Lyra membelalakkan mata gembira. "Benarkah?! Mereka membela kamu di depan wanita itu?"
"Tentu saja!" potong Lyra semangat, matanya berkilat-kilat.
Tante Fransiska bahkan membentak Senja dan menyebutnya wanita tidak jelas! Om Tanuwijaya langsung menekan Angkasa sampai pria kaku itu tidak punya pilihan selain ikut fitting baju pengantin bersamaku hari ini. Pria itu menurut, Pa! Pria yang selama ini ditakuti banyak pengusaha itu akhirnya tunduk di bawah perintah Papanya!"
Bambang menghela napas lega yang teramat panjang, mengusap dadanya seraya tersenyum lebar.
"Syukurlah... Duh, Papa dari pagi tidak tenang memikirkan laporan audit PT Megah Citra Mandiri. Tapi kalau Tanuwijaya dan istrinya sudah berdiri teguh di pihak kita, Angkasa tidak akan mungkin menarik investasinya. Posisi kita aman!"
"Bukan cuma aman, Pa!" tambah Lyra dengan senyum culas.
"Aku sempat membisikkan sesuatu di telinga Senja sebelum pergi. Wajah sok tenangnya itu memang menyebalkan, tapi aku tahu di dalam hatinya dia sedang menjerit kesakitan! Dia pikir hanya karena Angkasa memberinya sedikit perhatian, dia bisa menggeser posisiku? Kasihan sekali, mantan istri Adam yang menyedihkan itu cuma dianggap sampah oleh keluarga Tanuwijaya!"
"Bagus, Lyra. Kamu memang putri Papa yang paling bisa diandalkan," puji Bambang penuh rasa bangga.
"Pernikahanmu dua minggu lagi akan menjadi puncak kejayaan keluarga kita. Dana segar ratusan miliar dari Wijaya Group akan masuk, dan semua masalah audit fiktif itu akan tertutupi selamanya."
Lyra menyandarkan punggungnya di kursi, mengangkat gelas champagne-nya tinggi-tinggi ke udara.
"Untuk penikahan mewahku dan juga dana segar yang akan terus mengalir dari perusahaan Wijaya selagi aku menjadi istri Angkasa! Kita akan tetap menjadi prang kaya dan memegang kendali atas keuangan setelahnya!"
Ketiganya berdenting gelas dengan penuh gelak tawa, menikmati kemenangan semu di atas angin, sama sekali tidak menyadari bahwa jerat tali gantungan yang dipasang oleh Angkasa dan Senja sudah terikat amat kencang di leher mereka. Senja juga bahkan tak pernah berkata jujur dengan status perawan bukan janda juga bukan kepada Angkasa. Dia menganggap Angkasa pasti akan menerimanya, dan tak akan mempermasalahkannya apalagi kalau mereka sudah menikah dan status Angkasa juga duda.
Suara benturan keras dari sepatu stiletto yang dilempar sembarangan menggelegar di lorong masuk apartemen. Jarum jam sudah menunjukkan pukul empat pagi.
Adam yang terbangun dari tidur gelisahnya di sofa, langsung menegakkan tubuh. Badannya pegal-pegal dan matanya merah menyala karena kurang tidur. Begitu melihat sosok wanita yang berjalan sempoyongan membelah kegelapan ruang tengah, dada Adam langsung bergemuruh tegang.
"Arum!" panggil Adam serak seraya bangkit berdiri.
"Kamu dari mana saja jam segini?!"
Langkah Arum terhenti. Bau alkohol menyengat bercampur aroma parfum pria mahal langsung memenuhi udara di antara mereka. Arum menoleh perlahan, rambutnya yang berantakan terurai berantakan di bahunya. Gaun malam ketat yang dikenakannya tampak kusut dan melorot di satu sisi.
"Berisik kamu, Adam!" bentak Arum melengking, sama sekali tak ada lagi kelembutan palsu seperti masa-masa perselingkuhan mereka dulu.
"Numpang tinggal di sini gratisan saja pakai acara menginterogasi pemilik rumah! Mengaca kamu, tidak tahu diri!"
"Aku ini tunanganmu! Calon suamimu!" jerit Adam frustrasi, melangkah maju dan mencengkeram kedua bahu Arum.
"Setiap malam kamu pulang dalam keadaan mabuk parah seperti ini! Dan lihat ini..."
Adam menyibak rambut Arum secara kasar ke belakang. Di bawah temaram lampu remang ruang tengah, terpampang jelas deretan bercak merah kebiruan yang masih sangat baru, tanda percintaan yang bertebaran liar dari leher, tulang selangka, hingga dada atas wanita itu.
Darah Adam mendidih bagai disiram air raksa. Tangan pria itu gemetar hebat.
"Lagi, Arum?! Kamu tidur dengan pria mana lagi semalam, hah?!" bentak Adam dengan mata membelalak penuh amarah dan rasa hina.
"Kamu bilang kamu keluar untuk urusan pekerjaan Papi! Tapi kamu malah menjual dirimu pada pria lain!"
Plak!
Sebuah tamparan telak mendarat keras di pipi Adam. Arum menamparnya tanpa ragu sedikit pun, menggunakan seluruh sisa tenaganya hingga kepala Adam tertoleh ke samping.
"Tutup mulut mu, Adam!" desis Arum penuh kebencian, matanya yang merah menyalang menatap Adam bagai menatap seekor serangga jijik.
"Kamu pikir dari mana uang untuk membayar sewa apartemen ini, membelikanmu makanan, dan menutupi gaya hidup yang biasa aku nikmati?! Dari kamu? Kamu itu cuma pria bangkrut! Staf buangan yang tidak punya masa depan!"
Adam memegang pipinya yang panas membakar, air mata frustrasi dan kehancuran menetes di pipinya.
"Aku mengorbankan segalanya demi kamu, Arum! Aku ceraikan Senja yang tulus memikirkanku, aku dibuang Papaku, aku kehilangan jabatanku... Semuanya demi kamu!"
"Maka kamu memang pria paling bodoh di dunia!" potong Arum sambil tertawa sinis, suara tawanya terdengar amat menyayat hati Adam.
"Siapa yang suruh kamu membuang Senja? Kamu sendiri yang gatal dan tergiur denganku! Sekarang setelah kamu tak punya apa-apa, kamu menuntut kesetiaan dari perempuan seperti aku?"
Arum memajukan wajahnya yang bersimbah sisa makeup, menunjuk dada Adam dengan jarinya yang tajam.
"Dengar baik-baik, Adam. Kemarin lusa rencana pernikahan aku dan Angkasa sudah dipastikan oleh orang tuanya. Sebentar lagi aku jadi nyonya Angkasa Wijaya! Jadi jangan bermimpi bisa mengikatku. Tugasmu di sini cuma satu, tutup mulutmu, layani aku kalau aku butuh, dan tahu diri!"
Arum mendorong tubuh Adam kasar hingga pria itu terjerembap kembali ke atas sofa. Tanpa memedulikan Adam yang terkulai hancur seraya merintih pelan, Arum melangkah meliuk-liuk menuju kamarnya, membanting pintu keras-keras dan menguncinya dari dalam.
Di dalam kegelapan ruang tengah yang dingin, Adam mengepalkan tangannya ke dada yang terasa hancur lebur. Bayangan wajah Senja yang dulu selalu menyambutnya dengan senyuman hangat, kelembutan, dan kesetiaan tanpa syarat kini hadir menghantuinya bagai neraka yang tak kunjung usai. Rasa penyesalan yang terlambat membakar habis sisa harga dirinya sebagai seorang pria.