Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Homicide
Beberapa hari berlalu sejak peristiwa kelam yang merenggut nyawa di sudut istana. Sore itu, Pangeran Yoshi memutuskan untuk melangkahkan kaki keluar menuju taman pribadi miliknya guna mencari ketenangan. Namun, seiring langkahnya menyusuri jalan setapak yang dikelilingi rimbunnya tanaman hias, ia merasakan kejanggalan yang teramat sangat. Udara di sekitar tempat itu terasa berbeda, menyisakan hawa dingin yang menusuk.
Yoshi menghentikan langkahnya, lalu mengedarkan pandangan hingga terpaku pada bangunan sumur tua di bagian belakang taman. Alisnya berkerut saat matanya menangkap siluet sebuah benda kecil yang tampak ganjil di dekat dinding batu sumur.
Dengan rasa penasaran yang bercampur curiga, Yoshi melangkah mendekat. Jantungnya berdegup lebih kencang ketika ia mengenali benda tersebut—sebuah hak sepatu tinggi (heel) yang terasa begitu familier. Ingatannya langsung melayang pada sosok Jesslyn, gadis yang pernah mengenakan sepatu serupa saat terakhir kali menemuinya.
Yoshi tertegun, napasnya seketika tercekat. Tanpa memedulikan keanggunannya sebagai seorang pangeran, ia berlari cepat mendekati bibir sumur, lalu membungkuk dan mengintip ke dalam kegelapan lubang sumur yang kering itu.
Betapa terkejutnya ia saat mendapati sesosok tubuh terkapar kaku di dasar sumur.
"Ya Tuhan... Jesslyn?!" seru Yoshi dengan suara bergetar keras, matanya membelalak tak percaya.
Tanpa berpikir panjang, Yoshi hendak melompat langsung ke dalam sumur untuk menyelamatkan gadis itu. Namun, beberapa pengawal dan pelayan istana yang kebetulan sedang berpatroli di dekat sana segera berlari dan menahan tubuh sang pangeran.
"Yang Mulia! Jangan lakukan itu! Tempat itu terlalu berbahaya!" seru salah seorang pelayan pria dengan panik sambil menarik lengan Yoshi ke belakang.
Yoshi meronta, menatap para pelayan dengan kemarahan dan kepanikan yang meluap-luap. "Lepaskan aku! Cepat carikan tali sekarang juga! Ada seseorang di bawah sana!"
"Baik, Yang Mulia! Kami akan segera mengambilnya!" jawab pelayan tersebut tergopoh-gopoh.
Tidak butuh waktu lama bagi para pelayan untuk membawakan seutas tali tebal. Setelah tali tersebut diikatkan dengan kuat pada struktur pilar sumur, Yoshi tanpa ragu meraihnya dan turun perlahan ke dasar sumur yang gelap dan pengap.
Setibanya di dasar, Yoshi langsung berlutut di samping tubuh yang tak bernyawa itu. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia membalikkan tubuh Jesslyn dan mengangkatnya dengan hati-hati. Yoshi memandangi wajah gadis itu yang kini pucat pasi, lalu pandangannya beralih pada bekas luka yang ada di sana—tanda yang memastikan bahwa itu benar-benar Jesslyn.
Pertahanan sang pangeran runtuh seketika. Yoshi mendekap erat tubuh kaku itu ke dadanya, membenamkan wajahnya di bahu sang gadis, sementara air mata hangat menetes deras membasahi pipinya.
"Jesslyn... apa yang sebenarnya terjadi padamu...?" ratih Yoshi pilu di dalam sunyinya dasar sumur, meratapi takdir kejam yang merenggut nyawa orang yang ia kenal dengan begitu tragis.
Di dalam dasar sumur yang gelap dan pengap, Pangeran Yoshi masih mendekap erat tubuh kaku Jesslyn. Air matanya terus menetes membasahi bahu gadis berambut hijau yang telah tak bernyawa itu. Di tengah kesedihan yang teramat sangat, bayangan masa lalu berkelebat cepat di benaknya, menghadirkan kembali kenangan terakhir saat mereka bercengkerama di taman.
Yoshi teringat jelas setiap kata, senyuman, dan alunan nada yang pernah Jesslyn bagikan kepadanya di tempat ini. Gadis desa asal Fushi yang berbakat dalam bidang musik itu tidak pernah berniat mencari musuh; ia hanya menjalani hari-harinya dengan kebebasan, hingga perhatian yang tak sengaja ia tarik justru memicu kebencian membabi buta dari sang penguasa istana.
"Kenapa..." gumam Yoshi dengan suara bergetar dan parau di hadapan jenazah Jesslyn. "Kau adalah gadis yang begitu baik, Jesslyn. Kau hanya menyebarkan musik dan keindahan di dunia yang kejam ini... kenapa takdir harus merenggut nyawamu dengan cara sekeji ini?"
Pikiran Yoshi lantas melayang pada sosok penguasa muda Kerajaan Hikari yang selama ini dikenal sebagai ratu diktator, manja, dan memegang prinsip mutlak bahwa seluruh dunia harus tunduk pada kehendaknya. Di dalam kepalanya, kepingan-kepingan teka-teki itu terangkai sempurna, menunjuk pada satu nama yang paling dekat dan paling berkuasa untuk melakukan hal keji ini.
"Miyura..." sebut Yoshi penuh kebencian, rahangnya mengeras seiring air mata kemarahan yang ikut bercampur dengan dukanya. "Hanya dia... hanya Ratu Miyura yang memiliki kekuasaan dan alasan untuk melenyapkanmu hanya karena cemburu dan amarah buta."
Yoshi mendekap semakin erat tubuh Jesslyn, meluapkan amarah yang selama ini terpendam di balik status kebangsawanannya. Sebagai seorang bangsawan karismatik dari Kurogane yang awalnya datang tanpa niat politik apa pun, ia mendadak merasa seluruh dunia mewahnya runtuh seketika. Kehilangan orang yang dicintai akibat kekejaman istana membuat Yoshi mengambil sebuah keputusan besar yang akan mengubah jalan hidupnya selamanya.
Dengan tatapan tajam penuh tekad yang membara di tengah kegelapan dasar sumur, Yoshi berbisik lirih tepat di dekat telinga Jesslyn yang telah tiada.
"Dengar, Jesslyn... aku bersumpah demi langit dan bumi," ucap Yoshi dengan nada penuh penekanan, suaranya bergetar namun sarat akan sumpah setia yang mengerikan. "Aku selama ini datang ke negeri ini tanpa niat mencampuri urusan politik lokal. Tapi sekarang... semua itu sudah berakhir."
Yoshi perlahan melepaskan dekapannya, membaringkan tubuh Jesslyn dengan penuh kelembutan di dasar sumur sebelum ia mendongak menatap langit-langit sumur tempat para pelayan memanggil namanya dengan cemas.
"Aku akan menanggalkan status diplomatikku," lanjut Yoshi dengan suara dingin yang penuh amarah membara, berjanji pada dirinya sendiri di atas kematian gadis desa tersebut. "Aku akan keluar dari tempat busuk ini, membuang seluruh gelar bangsawanku, dan memilih berbaris bersama para pemberontak untuk meruntuhkan singgasana Miyura. Aku akan menuntut balas atas kematianmu, Jesslyn."