Indonesia
NovelToon NovelToon
Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

SINOPSIS

Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!

Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Meja Baru, Bos Posesif, dan Pelelangan Waktu Makan Siang

Keesokan paginya, Aura datang ke Sayap Utara dengan semangat empat lima. Semalam ia tidur nyenyak di asrama khusus staf tingkat atas yang kasurnya terbuat dari bulu angsa asli. Tidak ada lagi Nyonya Marie, tidak ada lagi bau kapur barus. Hidupnya mulai kembali ke jalur yang benar: jalur kapitalisme.

Namun, langkahnya terhenti saat ia tiba di ruang staf analis. Meja kerja kayunya yang baru kemarin ia tempati... hilang. Bersih tanpa sisa.

"Lucas! Pak Kacamata!" teriak Aura, berkacak pinggang di tengah ruangan. "Di mana meja gue?! Lo jual ke pasar loak ya buat nutupin kerugian lo main saham gorengan minggu lalu?!"

Lucas muncul dari balik pintu ganda berukir naga dengan wajah lelah, memegang setumpuk dokumen.

"Jaga suaramu, Elara. Dan aku tidak pernah bermain saham gorengan," desis Lucas, membetulkan letak kacamatanya. "Mejamu tidak hilang. Mejamu dipindahkan."

"Dipindahkan ke mana? Ke gudang? Gue baru kerja sehari masa udah di-PHK sepihak? Mana surat peringatannya? Mana pesangon gue?!"

"Astaga, bukan di-PHK! Mejamu dipindahkan ke dalam... ke dalam ruang kerja pribadi Yang Mulia Pangeran Caden."

Aura terdiam. Ia mengerjapkan matanya dua kali. "Hah? Ke dalam ruangan Bos? Ruangan yang VIP, kedap suara, dan isinya barang-barang yang harganya setara APBN negara itu?"

"Benar."

"Tunggu, tunggu," Aura menyipitkan matanya, menatap Lucas dengan curiga. "Ini pasti taktik micromanagement kan? Bos mau mengawasi kerja gue 24/7 biar gue nggak main Minesweeper di komputer hologram? Gila, posesif amat jadi atasan! Gue ini asisten, bukan tahanan kota!"

Lucas memijat pangkal hidungnya. "Pikirkan apa pun yang kau mau. Yang Mulia sendiri yang memerintahkannya tadi malam. Masuklah, beliau sudah menunggumu."

Aura mendengus kasar, lalu mendorong pintu ganda itu.

Benar saja. Di dalam ruangan raksasa itu, tidak jauh dari meja kerja raksasa milik Caden, kini terdapat sebuah meja kerja berbahan kaca kristal yang elegan, lengkap dengan kursi ergonomis kelas atas.

Di kursi kebesarannya, Caden duduk santai membaca tablet transparan. Ia mengenakan kemeja marun gelap yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang terbentuk sempurna. Pria ini, bahkan saat sedang bernapas saja, memancarkan pesona antagonis yang mematikan.

"Pagi, Bos yang kekayaannya tak tertandingi," sapa Aura lantang, langsung menjatuhkan diri di kursi barunya. Ia memutar-mutar kursi itu dengan riang. "Empuk banget! Tapi ngomong-ngomong, apa maksud pemindahan aset meja ini? Bos nggak percaya sama kinerja gue sampai harus diawasi jarak dekat begini?"

Caden menurunkan tabletnya. Mata peraknya menatap Aura lekat-lekat, menyusuri setelan kerja barunya yang membuat gadis itu terlihat profesional namun tetap menyimpan aura liar yang tak bisa dijinakkan.

"Aku memindahkanmu ke sini bukan untuk mengawasi kinerjamu," jawab Caden dengan suara bariton yang berat dan tenang. "Aku memindahkanmu karena udara di luar terlalu kotor. Terlalu banyak... hama yang berani mendekatimu."

Aura mengerutkan kening. "Hama? Nyamuk maksud Bos? Di istana ini ada nyamuk demam berdarah?"

Caden terkekeh pelan, sebuah suara yang menggetarkan dada. "Sesuatu yang mirip dengan itu. Hama berambut pirang yang suka memberikan bunga murahan pada pelayan."

"Oh! Maksud Bos si Pangeran Arthur?" Aura tertawa terbahak-bahak sambil menyalakan komputer hologramnya. "Bos tenang aja. Level hama kayak dia nggak bakal mempan gigit gue. Dia cuma cowok modal tampang dan privilege kerajaan, tapi otaknya nol soal investasi. Kemarin aja dia mau beli cewek pakai alasan utang budi. Cih, rasio untung-ruginya nggak logis!"

Caden menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap gadis di depannya dengan ketertarikan yang semakin tidak masuk akal. Di saat semua wanita di kekaisaran memuja Arthur sebagai dewa ketampanan dan kebaikan, gadis ini justru menganggapnya sebagai hama tidak berharga.

"Jadi," suara Caden merendah, terdengar lebih intim, "bagaimana dengan rasio untung-rugiku di matamu, Elara?"

Aura menghentikan ketikannya. Ia menoleh, menatap Caden dari ujung rambut hingga ujung sepatu mahalnya. Otaknya berputar cepat bagai kalkulator.

"Bos? Bos itu blue-chip stock. Saham unggulan kelas atas," jawab Aura tanpa ragu, matanya berbinar tulus. "Modalnya kuat, asetnya melimpah, cash flow-nya gila-gilaan, dan yang paling penting, Bos berani ambil risiko demi return yang maksimal. Kalau Bos ini perusahaan, gue bakal all-in investasikan seluruh harta gue ke saham Bos!"

Caden tertegun. Jantungnya berdesir aneh. Itu adalah analogi paling materialistis, paling tidak romantis, dan paling barbar yang pernah ia dengar dari seorang wanita. Namun, entah mengapa, di telinga Caden, itu terdengar lebih manis dari seribu puisi cinta.

"Gue bakal all-in investasikan seluruh harta gue ke saham Bos." Kalimat itu menggema di kepala sang Antagonis.

"Kau benar-benar gadis yang gila," gumam Caden, senyum miring tercetak di bibirnya. "Bekerjalah. Jika portofoliomu hari ini hijau, aku akan membawamu ke brankas pribadiku di lantai bawah."

Mata Aura seketika membulat sempurna. "Brankas pribadi? Yang isinya batangan emas murni berton-ton itu?! Seriusan, Bos?!"

"Aku tidak pernah main-main dengan hartaku."

"SIAP, LAKSANAKAN! SAYA AKAN BUAT GRAFIK HARI INI HIJAU SAMPAI MENEMBUS PLAFON!" seru Aura bersemangat, jari-jarinya mulai mengetik dengan kecepatan cahaya di atas keyboard hologram.

Beberapa jam berlalu dengan damai, hanya diisi oleh suara ketikan dan gumaman Aura yang sedang berhitung. Namun, kedamaian itu hancur saat pintu ruangan Caden tiba-tiba didobrak terbuka tanpa ketukan.

"Caden! Apa maksud semua ini?!"

Pangeran Arthur melangkah masuk dengan wajah memerah menahan marah. Jubah putih kebesarannya berkibar. Di belakangnya, Lucas tampak panik karena gagal menahan sang putra mahkota.

Aura mendongak dari layarnya, mendecak sebal. "Duh, hama pirangnya masuk beneran. Bos, belum bayar tagihan anti-serangga bulan ini, ya?"

Caden bahkan tidak beranjak dari kursinya. Ia menatap Arthur dengan pandangan sedingin gletser. "Apa kau lupa cara mengetuk pintu, Arthur? Ini ruang Departemen Keuangan, bukan taman bermainmu."

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Caden!" Arthur menunjuk ke arah Aura. "Kenapa kau membawa gadis ini masuk ke ruangan pribadimu?! Apa yang kau rencanakan? Kau mau memanfaatkannya untuk menghancurkan reputasiku, kan?!"

"Menghancurkan reputasimu?" Caden tertawa meremehkan. "Reputasimu sudah hancur sejak kau sibuk memetik bunga di taman sementara rakyatmu kelaparan karena kau gagal mengurus subsidi pertanian. Gadis ini ada di sini karena dia seratus kali lebih berguna daripadamu."

Arthur mengatupkan rahangnya. Ia menatap Aura, yang saat ini sedang asyik meminum es kopi boba (yang dipesan khusus lewat Lucas) sambil menonton pertengkaran mereka layaknya menonton serial drama Netflix.

"Nona Elara!" panggil Arthur, mencoba melembutkan suaranya. "Aku tahu kau pasti diancam olehnya. Keluar dari ruangan ini. Jangan mau bekerja untuk pria kejam yang berhati es seperti dia. Mari ikut denganku, kita bicarakan hal ini sambil makan siang. Aku... aku menyukai caramu bicara yang jujur kemarin."

Aura tersedak kopinya. "Uhuk! Uhuk! Apaan? Makan siang?"

Arthur mengangguk, menatapnya dengan tatapan memelas yang biasanya ampuh meluluhkan hati wanita. "Ya. Hanya kita berdua. Di restoran gantung ibukota. Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Kau wanita yang sangat... berbeda."

Alis Caden menukik tajam. Hawa di ruangan itu mendadak turun hingga ke titik beku. Aura pembunuh memancar pekat dari tubuh sang antagonis.

"Dia tidak akan pergi ke mana-mana denganmu, Arthur," desis Caden, suaranya sangat rendah. "Dia asistenku. Waktunya adalah milikku."

"Kau tidak punya hak mengatur kebebasannya! Dia bukan budakmu!" balas Arthur menantang.

Aura mengusap mulutnya dengan tisu, lalu memukul mejanya keras-keras. "Woy! Woy! Bisa diam sebentar nggak sih?!"

Kedua pangeran itu langsung menoleh ke arahnya.

Aura berdiri, menatap keduanya bergantian dengan tatapan tajam ala manajer sales. Ia mengeluarkan smartphone canggih dari sakunya, membuka aplikasi kalkulator.

"Dengar ya, Yang Mulia Pangeran Arthur," Aura menekan-nekan layar kalkulatornya dengan cepat. "Waktu makan siang saya itu dari jam dua belas sampai jam satu. Di jam itu, kalau saya trading saham jangka pendek, saya bisa menghasilkan return sekitar dua ribu koin emas. Anda ngajak saya makan siang, berarti saya harus membuang potensi cuan dua ribu koin emas. Pertanyaannya: apakah Anda mau membayar 'biaya kompensasi waktu' saya sebesar dua ribu emas itu?"

Arthur ternganga lebar. "B-biaya kompensasi? Kau meminta bayaran untuk makan siang bersamaku?! Wanita lain rela membayar ratusan emas hanya untuk duduk di dekatku!"

"Nah, berarti Anda target pasarnya salah!" sungut Aura. "Gue bukan 'wanita lain'. Di mata gue, waktu adalah uang! Anda nggak mau bayar? Ya udah, sana cari wanita lain yang mau dibayar pakai senyum doang. Tolak!"

Wajah Arthur berubah menjadi merah padam. Harga dirinya sebagai tokoh utama pria yang tampan paripurna benar-benar diinjak-injak, dirobek, lalu dibuang ke tong sampah oleh Elara.

Di seberang ruangan, tawa Caden meledak. Tawa yang jarang sekali ia keluarkan, tawa yang benar-benar lepas karena merasa sangat terhibur.

"Kau dengar itu, Arthur? Waktunya terlalu mahal untuk pangeran miskin sepertimu." Caden berdiri dari kursinya, berjalan mendekati meja Aura. Ia mengeluarkan Kartu Debit Imperial Black dari saku jasnya dan melemparkannya ke atas meja Aura.

Trak!

"Aku beli waktu makan siangmu," kata Caden mutlak, menatap Aura dengan mata peraknya yang berkilat posesif. "Sepuluh ribu koin emas. Kita makan di dalam brankas pribadiku sambil menghitung batangan emas murni. Setuju, Gadis Serakah?"

Mata Aura langsung berbentuk lambang dolar ($). Ia menyambar kartu hitam itu dan menciumnya berkali-kali.

"Duh, Bos! Kalau begini caranya, waktu makan malam, waktu sarapan, sampai waktu lembur gue juga rela dibeli! Siap meluncur ke brankas, Bosku yang paripurna!" Aura membungkuk hormat dengan gaya sangat berlebihan.

Caden menyeringai, menatap Arthur yang masih berdiri mematung karena shock berat. "Lucas, seret hama pirang ini keluar. Kami mau makan siang."

1
Nathalia
hama pirang gak tuh🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!