Indonesia
NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Pembantaian di Bawah Hujan

Kawasan Pelabuhan Kargo Utara malam itu telah diubah menjadi benteng pertahanan militer yang mematikan. Di bawah guyuran hujan badai, empat puluh prajurit elit Spetsnaz bayaran dari Kekaisaran Utara bersiaga di sela-sela labirin kontainer. Mereka dipersenjatai dengan senapan serbu taktis berperedam suara, pisau tempur karambit, dan kacamata night-vision. Tidak ada satu pun lalat yang bisa melewati perimeter ini tanpa terdeteksi.

Namun, yang datang malam ini bukanlah seekor lalat. Yang datang adalah sang dewa kematian.

Tepat pada pukul satu dini hari, siluet seorang pria perlahan muncul dari balik kabut hujan di gerbang utama pelabuhan. Arthur Summers melangkah masuk dengan santai. Ia tidak membawa senjata api, tidak memakai rompi anti-peluru, dan hanya mengenakan jas hitam panjangnya yang kini mulai basah kuyup. Langkah kakinya yang berirama konstan memecah genangan air, menciptakan gema pelan yang entah bagaimana berhasil merayapi telinga para penembak jitu yang mengintainya.

Di dalam ruang kendali sementara yang tersembunyi di salah satu kontainer pengawas, Jenderal Volkov menatap layar monitor keamanan dengan senyum meremehkan. Di sudut ruangan, Elena masih terikat di kursi besinya, gemetar kedinginan dan ketakutan.

"Lihatlah mantan suamimu yang bodoh itu, Elena," ejek Volkov sambil menunjuk ke arah layar. "Dia benar-benar datang sendirian. Tanpa pasukan, tanpa senjata. Keberanian yang patut dipuji, tapi ini murni sebuah tindakan bunuh diri."

Volkov menekan tombol komunikator radionya. "Tim Alpha, target sudah memasuki kill-zone. Jangan tembak kepalanya. Lumpuhkan kaki dan tangannya. Aku ingin menginterogasinya hidup-hidup."

Di luar sana, enam orang prajurit Spetsnaz bertubuh raksasa melangkah keluar dari balik bayangan kontainer, menghalangi jalur Arthur. Mereka mengangkat senapan serbu mereka, membidik tepat ke arah persendian sang Jenderal.

Namun, Arthur tidak berhenti melangkah.

Melihat sosok-sosok yang mencoba menghalanginya, pikiran Arthur sejenak kembali ke masa lalunya. Enam tahun lalu, ia adalah seorang pria yang terbuang, sebelum akhirnya ia berjuang dari nol dan dengan kedua tangannya sendiri ia berhasil membangun sebuah organisasi raksasa. Saat ini, ia sejatinya telah memiliki otoritas tertinggi, bersama dengan kekayaan dan status sosialnya yang tak tertandingi. Di dalam organisasinya, kekuatan yang ia miliki setara dengan lima orang raja dan delapan belas orang jenderal yang tunduk padanya secara mutlak.

Ia telah menaklukkan neraka hanya demi sebuah janji; ia pernah berjanji pada wanita yang ia cintai bahwa ia akan bertanggung jawab dan kembali untuk menikahinya secara layak. Namun, balasan yang ia dapatkan adalah pengkhianatan menyakitkan; istrinya justru meninggalkannya dan bersenang-senang di tempat hiburan dengan pria bejat.

Mengingat memori pahit itu, perasaan pria itu sangat hancur. Semua rasa sakit, penyesalan, dan pengkhianatan itu kini mendidih, bertransformasi menjadi murka yang tak tertahankan. Wajah Arthur seketika menjadi sangat gelap seperti seekor binatang buas yang marah, siap untuk menerkam.

"Tembak!" raung komandan regu Spetsnaz.

Pew! Pew! Pew!

Peluru-peluru berperedam membelah hujan, mendesing menuju tubuh Arthur. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat darah para prajurit elit itu membeku.

Arthur menghilang.

Bukan secara harfiah, namun pergerakan sang Jenderal jauh melampaui batas kecepatan persepsi mata manusia. Dalam hitungan milidetik sebelum pelatuk ditarik, Arthur telah memiringkan tubuhnya, meluncur rendah menembus tirai hujan, dan memangkas jarak lima belas meter dalam kedipan mata.

Sebelum komandan regu menyadari apa yang terjadi, Arthur telah berada tepat di bawahnya. Tangan kanan Arthur melesat ke atas, mencengkeram laras senapan serbu itu dan membengkokkannya ke atas dengan kekuatan destruktif yang mengerikan. Saat sang komandan terbelalak, telapak tangan kiri Arthur menghantam dada pria itu dengan teknik pukulan Shattering Palm.

KRAK!

Suara tulang rusuk yang remuk terdengar mengerikan menembus derai hujan. Tubuh komandan itu terpental sejauh lima meter dan menghantam dinding baja kontainer hingga penyok, tewas seketika sebelum tubuhnya menyentuh tanah.

"Dia di sini! Serang!" teriak lima prajurit lainnya, membuang senapan mereka yang kini tidak berguna di jarak sedekat ini dan mencabut pisau tempur bergerigi mereka.

Mereka menerjang secara bersamaan dari segala arah, sebuah formasi tempur mematikan yang dirancang untuk membunuh beruang grizzly. Namun Arthur bukanlah beruang; ia adalah predator puncak dari medan perang Karakum.

Sang Jenderal mulai menari di bawah hujan berdarah.

Prajurit pertama mencoba menusuk lehernya. Arthur menangkisnya dengan punggung tangan, memelintir pergelangan tangan pria itu hingga patah berbunyi krek, lalu menggunakan pisau di tangan prajurit itu sendiri untuk menyayat tenggorokan rekannya yang berada di belakangnya.

Prajurit ketiga menendang lutut Arthur dari titik buta. Namun kaki Arthur sekeras pilar beton. Sang prajurit menjerit saat tulang keringnya sendiri yang retak. Arthur menyambar wajah pria itu dan membanting kepalanya ke tanah dengan tenaga penuh.

Prajurit keempat dan kelima menyerang bersamaan. Arthur melompat ringan, melakukan tendangan memutar ganda di udara yang menghantam pelipis kedua pria raksasa itu secara serentak. Keduanya ambruk ke aspal dengan mata putih, gegar otak berat merenggut kesadaran mereka.

Pertarungan melawan enam prajurit elit itu selesai dalam waktu kurang dari tujuh detik.

Arthur tidak berhenti. Ia terus berjalan santai menuju pusat pelabuhan. Darah menetes dari ujung jari-jarinya, bercampur dengan air hujan, membasahi aspal di bawah sepatunya.

Di dalam ruang kendali, suasana kesombongan Jenderal Volkov telah lenyap tak berbekas. Pria berambut keperakan itu berdiri mematung menatap layar monitor. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai mengucur di pelipisnya.

Di layar, indikator kamera keamanan pelabuhan mulai mati satu per satu dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Kamera Sektor Timur: Hilang Sinyal.

Kamera Sektor Barat: Menampilkan tiga prajurit terlempar melewati udara sebelum mati total.

Kamera Sektor Tengah: Menampilkan siluet bayangan hitam yang berjalan dengan santai melewati tumpukan mayat anak buahnya.

"Mustahil..." gumam Volkov, suaranya bergetar. "Spetsnaz adalah pasukan terbaik di Kekaisaran. Bagaimana mungkin satu orang tanpa senjata bisa membantai mereka seperti domba?!"

Elena, yang juga menatap layar itu, mulai menangis terisak-isak. Namun kali ini, bukan air mata ketakutan terhadap Volkov, melainkan air mata keputusasaan yang lahir dari realita yang menghancurkan hatinya.

Pria di layar itu... dewa kematian yang tengah berjalan santai di bawah hujan sambil mencabut nyawa puluhan tentara bayaran elit... adalah suaminya. Pria yang dulu dengan lembut membawakannya bunga, pria yang dulu rela makan makanan sisa demi membelikannya hadiah ulang tahun.

Elena akhirnya menyadari secara paripurna betapa bodoh, buta, dan hinanya dirinya. Julian Thorne, sang pewaris kampus yang ia banggakan, hanyalah seekor cacing tanah jika dibandingkan dengan naga suci yang pernah ia miliki. Jika saja ia tidak berkhianat, pria berkekuatan dewa itu saat ini akan menggunakan tangannya untuk memeluknya, bukan untuk membantai orang demi membalas dendam masa lalunya.

"Tim Bravo! Tim Charlie! Kepung dia! Gunakan peledak jika perlu!" raung Volkov ke dalam radionya, kepanikannya mulai mengambil alih akal sehatnya. "Bunuh monster itu sekarang juga!"

Namun, dari speaker radionya, tidak ada jawaban dari komandan lapangan. Yang terdengar hanyalah suara gemeretak tulang, jeritan tertahan, dan suara napas seseorang yang sangat tenang.

"Mereka tidak bisa menjawabmu, Volkov," suara bariton Arthur terdengar dari radio komunikasi tersebut, diiringi suara sesuatu yang basah jatuh ke tanah—mungkin tubuh komandan terakhir Volkov. "Tinggal kau dan aku sekarang."

DUAGH!

Sebuah dentuman luar biasa keras tiba-tiba menghantam dinding baja kontainer tempat Volkov dan Elena berada. Dinding baja setebal sepuluh sentimeter itu penyok ke dalam, seolah baru saja dihantam oleh bola meriam.

Volkov melangkah mundur, mencabut pistol kaliber tinggi dari balik jas putihnya. Kedua pengawal bayangannya segera memasang kuda-kuda tempur di depan pintu, memegang pisau tempur ganda.

DUAGH!

Hantaman kedua membuat engsel pintu kontainer itu terlepas.

BRAK!

Pintu baja raksasa itu akhirnya jebol dan terlempar ke dalam, menabrak dinding belakang kontainer dengan suara memekakkan telinga. Angin badai dan tempias air hujan seketika menyapu bagian dalam ruangan.

Di ambang pintu yang hancur, diterangi oleh kilatan petir dari langit yang marah, berdirilah Arthur Summers.

Jas hitam panjangnya basah kuyup, menempel pada postur tubuhnya yang menyerupai dewa perang kuno. Darah segar menetes dari buku-buku jarinya. Tidak ada satu pun luka di wajah tampannya, hanya ada sorot mata membunuh yang sedingin dasar lautan Arktik.

Arthur melangkah masuk dengan tenang, menginjak pecahan logam di bawah sepatunya. Ia tidak melirik sedikit pun ke arah Elena yang menangis histeris memanggil namanya. Tatapan sang Jenderal terkunci sepenuhnya pada Jenderal Volkov.

"Aku sudah bilang padamu di pesta tadi, Volkov," ucap Arthur pelan, suaranya mengiris udara yang membeku di dalam ruangan itu. "Mereka yang membawa pedang ke wilayahku... akan berakhir membusuk di bawah tanah kota ini. Sekarang, berlututlah, dan aku mungkin akan mengizinkanmu mati dengan cepat."

Volkov mengertakkan giginya, harga diri militernya meronta. "Bunuh dia!" perintahnya kepada dua pengawalnya.

Kedua pengawal bayangan itu menerjang maju bak macan tutul, berniat mencabut nyawa sang dewa perang. Namun malam ini, Arthur sedang tidak berminat untuk bermain-main.

1
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
nanonano
tembak aja tadi
Budi Wahyono
ini kalau di wuxiakan
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bikin Arthur bantai keluarga volkov
Budi Wahyono
apakah nanti pengkhianatan terbesar justru datang dari silas ?
nanonano
yah kalah transaksi sama pion kecil
REY ASMODEUS: rahasianya di hack dan kelemahannya ada pada informasi dan kepercayaan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!