Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Naga

Kontrak Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.

Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.

Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.

Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13 Julukan Pertama

Beberapa hari berlalu, Eliya melanjutkan perjalanan menuju dataran badai untuk mengisi kekosongan mahkota ketiga. Mereka melewati desa lainnya, pegunungan, dan hutan yang lembab. Setelah satu minggu perjalanan, mereka tiba di sebuah kota kecil di perbatasan.

"Hati-hati!" bisik Zharvion, suaranya menggema di dalam pikiran Eliya.

Binatang itu begitu nyaman bertengger di atas pundak Eliya. Tak ada yang tahu bahwa ia adalah naga kuno penjaga bintang sihir yang telah hidup seribu tahun.

Langkah mereka terhenti di depan gerbang kota kecil itu. Aroma tanah basah dan pembusukan menyengat hidung bahkan sebelum kaki mereka menginjak gerbang kayu kota kecil di perbatasan tersebut.

Seminggu perjalanan dari desa sebelumnya itu tidak membawa Eliya ke tempat yang lebih aman. Sebaliknya, wilayah pinggiran tersebut justru menjadi ladang pembantaian baru akibat sisa-sisa sihir kuno yang bocor dari jantung benua.

"Kenapa desa ini terasa aneh? Ada sesuatu yang tidak biasa di sini," gumam Kael menyadari keanehan ketika kaki mereka mulai menapak melewati gerbang kayu.

Ia menatap Eliya yang berjalan di depannya. Gadis itu nampak tenang, meskipun terlihat waspada. Sesuai dugaannya ada bau aneh di kota tersebut.

Langkah kaki Kael terhenti saat jeritan melengking membelah udara pagi yang berkabut di kota kecil itu. Mendadak tubuhnya menegang, kewaspadaannya meningkat. Langkah Eliya ikut berhenti, mematung di tempatnya.

"Penyihir Jurang! Tolong! Siapa pun, tolong kami!" teriak beberapa orang di kejauhan, diikuti jeritan dan tangisan ketakutan dari para wanita dan anak-anak.

Suara itu datang dari arah ladang gandum yang kini berubah menjadi kubangan cokelat pekat. Eliya memicingkan mata, menatap para penduduk yang berlari tunggang-langgang dari kejaran sesuatu yang tidak biasa.

"Monster sihir? Ini pertama kalinya aku bertemu dengan mereka setelah aku bangkit di dalam tubuh gadis ini," gumam Eliya sembari menelisik kekuatan monster yang berbentuk seperti lumpur hidup itu.

"Tolong kami, Penyihir Jurang! Tolong selamat kami!" mohon mereka saat hampir tiba di hadapan Eliya.

"Penyihir Jurang?" gumam Kael pelan.

"Mungkin karena kita muncul dari jurang dibalik bukit itu," sahut Eliya seraya menunjuk bukit di belakang mereka.

Di sana di hadapan mereka, tiga ekor monster lumpur berukuran sebesar kandang ternak sedang menggeliat. Tubuh mereka terbentuk dari tanah liat yang dihidupkan oleh sisa sihir Tanah yang liar dan tidak stabil.

Setiap kali monster-monster itu menghempaskan lengan mereka yang tebal, pagar rumah warga hancur berantakan. Seorang pria tua bermata juling, yang memimpin para warga lain, berlari terseok-seok sambil menggendong seorang anak kecil.

Warga di sini jelas tidak tahu siapa mereka. Mereka tidak mengenal Eliya sebagai putri yang dibuang atau penyihir yang dicap sesat oleh kerajaan. Bagi mereka yang hidup terisolasi, sosok Eliya hanyalah rumor hidup, sesosok orang kuat yang dikabarkan berpetualang dari desa ke desa. Menyelamatkan para penduduk yang kesulitan.

"Kau mau mundur?" bisik Kael, tangannya sudah bersiap menggenggam sihir angin miliknya.

"Mundur? Itu sama sekali bukan gayaku. Apapun yang aku hadapi, aku tidak akan pernah mundur," balas Eliya datar.

Adrenalinnya terpacu, jiwanya tertantang untuk menaklukkan monster lumpur di depan mereka. Mempraktekkan sihir yang baru ia dapatkan.

Kael pun menjadi bersemangat untuk mengalahkan monster itu. Dengan bilah sabit anginnya, dia yakin akan mudah membunuh mereka.

Eliya melangkah maju ke depan, membiarkan jubah hitamnya berkibar ditiup angin perbatasan. Monster-monster lumpur itu menyadari kehadiran mereka. Salah satunya melolong, melempar gumpalan tanah keras seukuran kepala manusia ke arah Eliya.

Gadis itu sama sekali tidak menghindar.

"Cobalah menggabungkan kedua elemen yang kau miliki. Saatnya menguji kemampuanmu," bisik Zharvion memberi arahan.

Dua elemen? Air dan tanah?

Eliya bergumam di dalam hati, menatap kedua mahkota elemen yang berdenyut di pergelangan tangannya. Matanya kembali terangkan, menatap para monster di hadapan.

Konsentrasi Eliya terbagi dua. Ia mengangkat tangan kanannya, memanggil elemen Air dari kelembapan udara dan sumur terdekat. Sementara tangan kirinya menghentak ke bawah, beresonansi dengan elemen Tanah yang sedang mengamuk di bawah kaki mereka.

Ini adalah pertama kalinya ia menggabungkan dua elemen dasar secara masif setelah keluar pertempuran sebelumnya. Sesuai dengan arahan Zharvion.

Air dan Tanah.

Sihir Eliya meresap ke dalam tanah di bawah monster-monster itu. Dalam hitungan detik, struktur tanah yang padat hancur, mencair menjadi rawa hisap yang sangat dalam dan pekat.

Lumpur hidup yang membentuk tubuh monster-monster itu mulai kehilangan bentuk aslinya saat menyatu dengan rawa yang diciptakan Eliya.

Mereka melolong frustrasi, mencoba mencakar udara meraih apa saja untuk bisa lepas, tapi gravitasi rawa menarik mereka ke bawah dengan sangat cepat. Hanya dalam beberapa tarikan napas, ketiga monster itu tenggelam sepenuhnya ke dalam perut bumi, meninggalkan ladang yang kini kembali tenang meski basah kuyup dan berlumpur.

"Tidak buruk." Suara Zharvion kembali mengiang, tapi Eliya tak peduli.

Kael lagi-lagi kalah cepat, sihir Eliya terlalu cepat untuk ukuran anak muda seperti mereka. Ia melongo dengan mata lebar dan mulut terbuka. Gadis itu penuh dengan kejutan yang menakjubkan.

Keheningan pagi berkabut yang mencekam mendadak pecah oleh suara isak tangis. Kepala desa, laki-laki tua bermata juling itu berlutut di atas tanah berlumpur, menatap Eliya dengan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus rasa hormat yang teramat sangat.

"Terima kasih, Dewi ... terima kasih telah menyelamatkan nyawa kami, menyelamatkan kota kami." Tangisnya pecah, membenturkan pelan dahinya ke tanah yang baru saja dibersihkan Eliya dari ancaman.

"Dewi?" Kael yang berdiri di belakang gadis itu mengangkat alisnya tinggi-tinggi, menahan tawa sinis yang hampir menyembur dari mulutnya. Baru beberapa saat lalu, ia terpaku oleh aksi Eliya.

Gadis itu berbalik, mengabaikan tatapan memuja dari sisa-sisa warga desa yang mulai berani keluar dari persembunyian. Ia mengangkat bahu dengan ekspresi acuh tak acuh pada Kael.

"Lebih bagus dari pada sebutan 'sampah', bukan?" katanya menatap sinis pada putra jenius angin yang mengikuti perjalanannya.

****

Malam harinya, Eliya memutuskan untuk bermalam di satu-satunya tavern pengap di kota itu.

(Tavern adalah jenis kedai atau rumah minum tradisional tempat orang berkumpul untuk memesan minuman beralkohol dan makanan ringan. Secara historis, tempat ini juga berfungsi sebagai penginapan atau tempat beristirahat bagi para musafir).

Suasana di dalam sangat bising oleh denting gelas bir dan aroma daging panggang yang agak gosong. Eliya dan Kael duduk di sudut paling gelap, sengaja menarik tudung jubah mereka serendah mungkin. Namun, telinga Eliya yang tajam, menangkap getaran suara dari meja di tengah ruangan.

"Katanya si Penyihir Jurang yang melakukannya tadi pagi," bisik seorang pria paruh baya dengan kapak berburu di sampingnya.

"Benar, aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku! Katanya dia menguasai air dan tanah sekaligus. Penyihir ganda di perbatasan ini? Mustahil, tapi nyata!" sahut yang lain dengan suara bergidik ngeri sekaligus kagum.

Lalu, sebuah kilatan cahaya yang hanya bisa dilihat Eliya seorang mendadak muncul di udara kosong, memperbarui statusnya secara instan.

[REPUTASI bertambah 10]

[BURONAN TINGKAT: E naik menjadi D]

Eliya tersenyum tipis di balik kegelapan tudungnya. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan dia tak sabar untuk mendapatkan semua kekuatan. Kini, ia dianggap menjadi berbahaya.

1
Agus Tina
Baguus
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Agus Tina
Tinggal buka kedok siapa itu Sherina, apa alasan dia meracuni Eliya sehingga kekuatan sihirnya tidak muncul saat usia 17 tahun. siapa yg membantu Sherina
..
Aisy Hilyah: hehehe bener
total 2 replies
Swety
💪💪
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Elin Erliana
imajinasi yg luar biasa
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Yue Li MZy
Membayangkan betapa ngerj nya di dalam sana,Mana suhu lava dan magma ny panas nya sampai membuat tubuh manusia terbakar dan hangus 😲😲
Aisy Hilyah: Bener banget itu
total 1 replies
Yue Li MZy
keserakahan Seraphina akan menyebabkan kehancuran dirinya,dan lord Ignis menyesal pun ga ada gunanya.ayooo Aurel balaskan dendam mu 🤭🤭
Aisy Hilyah: Bener banget
total 1 replies
Agus Tina
🤍🤍🤍
Dwi Setyaningrum
masak kalah lg sih..kalau kalah tamat dong ya ga thor 😁
Aisy Hilyah: ehehehe betul
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
jd deg degan nih..
Aisy Hilyah: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
semangat eliya💪jdlah lbh kuat utk mengalahkan kegelapan
Aisy Hilyah: siap! semangat pasti bisa
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
waduh jgn mati dong msk pemeran utama mati Jadi apa nanti dunia kalau dikuasai dg kegelapan🤔
Aisy Hilyah: ehehe tidak tenang saja
total 1 replies
Agus Tina
Eliya, semoga kali berhasil
Aisy Hilyah: pasti berhasil
total 1 replies
Agus Tina
Jangan lama upnya y thor ...
Aisy Hilyah: bismillah insya Allah diusahakan
total 1 replies
Agus Tina
Bagus Eliya bongkar juga kejahatan mereka yg telah membuangmu juga kejahatan Seraphina yg telh meracunimu dulu
Dwi Setyaningrum
elemennya berarti sdh 7 kan ya🤔apa msh kurang 1🤔
Aisy Hilyah: Baru enam belum tujuh
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
ikut tegang juga..bayangin betapa panasnya lava dan magma gunung bisa melelehkan apa saja apalg ini hanya kulit manusia bisa jd bubur nih😁
Aisy Hilyah: Bener bener banget
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
eliya yg blm punya elemen api ya..🤔
Aisy Hilyah: betul
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
kalau wajahnya sdh ada dimana2 kenapa ga nyamar saja sih jdnya ga kehambat utk menuju pencarian mahkota/elemen lainnya🤔
Aisy Hilyah: iya ya. mereka cuma nutupin pake jubah
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
waow taktik yg cerdas..kerennn..👏👏
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
hadir thor...
Aisy Hilyah: terimakasih sudah hadir kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!