Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelap Sebelum Terang
Aroma harum nasi tumpeng kuning yang berhiaskan urap, ayam ingkung, dan sambal goreng ati memenuhi lantai satu ruko Lazuardi Rancang. Sore itu, sebuah syukuran sederhana digelar untuk menandai dibukanya biro arsitektur milik Vino sekaligus menyambut proyek independen pertamanya.
Hadir dalam acara kecil itu Pak Bima bersama dua tukang senior, serta Yunita yang menyempatkan hadir di sela-sela jadwal persiapan koasnya yang makin padat.
"Selamat ya, Vin! Akhirnya usaha ini resmi jalan juga," ujar Yunita seraya menyodorkan bingkisan kado berisi tanaman hias untuk sudut ruangan.
Vino menerima bingkisan itu dengan senyum hangat. "Terima kasih banyak, Yun. Kalau ndak ada dorongan dan bantuanmu kemarin, mungkin studio ini belum bisa berdiri secepat ini."
Pak Bima yang duduk menyilang kaki di atas karpet tertawa renyah. "Ayo Mas Vino, dipotong tumpengnya! Biar proyek rumah tinggal di Mlati besok jalannya lancar ndak ada halangan."
Vino memotong puncak tumpeng kuning tersebut lalu menyerahkan piring pertama kepada Yunita sebagai bentuk penghormatan atas kebaikan sahabatnya. Gelak tawa dan obrolan hangat memenuhi ruangan hingga petang menjelang, mengawali langkah baru Lazuardi Rancang dengan penuh harapan.
Tiga minggu berlalu. Realita dunia bisnis konstruksi mulai menunjukkan sisi kerasnya.
Di tapak proyek rumah tinggal dua lantai milik Pak Gunawan yang berlokasi di kawasan Mlati, Sleman, suasana siang itu terasa lengang. Padahal, sesuai jadwal kurva rencana kerja, tahap pengecoran lantai dua seharusnya sudah rampung lima puluh persen.
Vino berdiri di tengah area tapak proyek yang berdebu. Pria muda itu memegang batang rokok yang menyala di antara jemarinya—sebuah kebiasaan baru yang mulai sering ia lakukan disela-sela berpikir keras sejak memikul tanggung jawab sebagai pemilik studio sendiri. Uap asap tipis berembus dari bibirnya saat ia menatap jam tangan yang menunjukkan pukul dua siang.
Hanya ada dua orang tukang yang bekerja santai di sudut belakang. Pak Santo, mandor lokal yang dipercaya mengawasi proyek tersebut, baru saja muncul dari arah warung makan dengan wajah tanpa dosa.
Vino mematikan rokoknya di atas alas bata, lalu melangkah mendekati Pak Santo dengan raut wajah yang menegang.
"Pak Santo," panggil Vino dengan suara berat namun tertahan. "Ini sudah masuk minggu ketiga. Kenapa progres pembesian dan bekisting lantai dua baru selesai dua puluh persen? Di mana tukang-tukang yang lain?"
Pak Santo terkekeh ringan seraya menggaruk tengkuknya. "Aduh, Mas Vino. Tukang yang lima orang itu tadi pamit ada urusan hajatan di kampungnya. Lagian santai saja toh, Mas. Molor seminggu dua minggu kan hal biasa dalam proyek bangunan."
Mata Vino menyipit. "Hal biasa bagaimana, Pak? Di kontrak kerja dengan Pak Gunawan, batas waktu penyerahan tahap pertama itu minggu depan. Kalau begini caranya, pengerjaan molor total dan kita kena denda pinalti!"
"Ah, Mas Vino ini masih muda kok kaku banget," balas Pak Santo meremehkan. "Kliennya tinggal diberi alasan bahan terlambat kan beres."
Belum sempat Vino membalas, suara pintu mobil beradu keras dari arah luar menyela perdebatan mereka. Pak Gunawan, pemilik proyek yang terkenal disiplin dan tegas, melangkah masuk ke area lokasi dengan raut wajah membara.
"Mas Vino!" panggil Pak Gunawan nyaring. "Apa-apaan ini? Saya memantau dari luar sudah tiga hari ini pengerjaan proyek rumah saya seperti jalan di tempat! Kenapa bahan bangunan cuma menumpuk dan pekerja hampir ndak ada?"
Pak Santo langsung bersembunyi di belakang barisan papan kayu, membiarkan Vino berdiri sendirian menghadapi kemarahan sang klien.
Vino menarik napas panjang, berusaha menjaga profesionalismenya. "Selamat siang, Pak Gunawan. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Memang ada kendala pada koordinasi tenaga kerja hari ini—"
"Saya ndak mau tahu soal kendala intern kalian!" pangkas Pak Gunawan dengan nada tinggi. "Saya bayar Lazuardi Rancang tepat waktu karena janji profesionalisme Mas Vino! Tapi kalau cara kerjanya molor begini karena mandor ndak beres, saya merasa dirugikan! Kalau minggu depan target ndak tercapai, saya batalkan kontrak ini dan saya tuntut ganti rugi keterlambatan!"
Pak Gunawan meninggalkan lokasi proyek dengan langkah gusar, membiarkan keheningan yang menekan jatuh di atas bahu Vino.
Sore harinya di studio, suasana terasa sangat sepi. Vino duduk di kursi kerjanya, menyandarkan punggung seraya memandang langit-langit ruko. Di asbak meja kerjanya, beberapa puntung rokok sudah menumpuk.
Perasaan berkecil hati dan cemas mulai menggerogoti pikirannya. Jika proyek pertama ini batal atau terkena klaim denda besar, reputasi Lazuardi Rancang yang baru seumur jagung akan hancur seketika. Modal operasional studio pun terancam tergerus habis.
Ponsel di mejanya berdering. Nama Bu Lidya tertera di layar. Vino mengusap layar tersebut dan menyapa dengan suara tertekan.
"Halo, Ibu..."
"Halo, Vin," sahut Bu Lidya lembut dari balik telepon. "Suaramu kok kelihatan capek banget? Ada masalah di proyek baru ya?"
Vino menghela napas panjang, lalu menceritakan situasi ketertinggalan jadwal akibat ketidakberesan mandor di lapangan.
Bu Lidya mendengarkan dengan sabar, lalu berkata dengan penuh kesejukan. "Vin, ndak ada jalan sukses yang lurus terus tanpa kerikil. Badai kecil begini itu cara Gusti Allah menguji ketahanan mentalmu. Jangan nyerah, hadapi dengan tenang. Doa Ibu selalu ada buat kamu."
Usai menutup telepon dari ibunya, Vino memberanikan diri menelepon Mas Danang untuk berkonsultasi.
Di ujung telepon, Mas Danang mendengarkan penuturan Vino seraya terkekeh dingin. "Dengar baik-baik, Vin. Dalam dunia usaha, tukang atau mandor yang ndak beres itu hal biasa. Ujian sejati seorang pemilik studio itu bukan saat proyeknya lancar, tapi gimana cara dia mengendalikan krisis saat masalah terjadi."
"Lalu saya harus bagaimana, Mas? Waktu pengerjaannya sangat mepet," tanya Vino.
"Ambil alih kendali penuh," tegas Mas Danang tanpa ragu. "Ganti mandornya malam ini juga. Pakai tim tukangnya Pak Bima. Kamu sendiri harus turun ke lapangan setiap hari buat mengawasi ritme kerjanya. Tunjukkan ke Pak Gunawan kalau kamu bukan cuma arsitek di atas kertas, tapi pemimpin yang bertanggung jawab."
Kata-kata Mas Danang menyengat kesadaran Vino. Keraguan di dadanya seketika luruh, berganti menjadi tekad bulat yang membara.
Keesokan harinya pukul enam pagi, sinar matahari baru saja terbit di langit Mlati.
Pak Gunawan yang sengaja datang lebih awal untuk memeriksa lokasi proyek tertegun di tepi jalan. Di dalam area proyek, belasan pekerja baru di bawah komando Pak Bima sudah sibuk mengangkut semen, merakit besi, dan menyiapkan cetakan beton.
Di tengah-tengah keramaian itu, berdiri Vino. Pria muda itu mengenakan celana jeans berdebu, sepatu boots proyek, dan helm keselamatan kuning. Kemejanya tergulung hingga siku, dan jemarinya memegang lembaran grafik kurva kerja yang baru.
Vino melangkah menghampiri Pak Gunawan yang terpana.
"Selamat pagi, Pak Gunawan," sapa Vino dengan sorot mata yang tajam, matang, dan penuh rasa percaya diri. "Mulai hari ini, manajemen pengerjaan lapangan saya ambil alih sepenuhnya. Mandor lama sudah saya ganti dengan tim Pak Bima. Kami menambah dua shift kerja hingga malam hari tanpa ada tambahan biaya untuk Bapak."
Pak Gunawan menatap Vino dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu mengamati keseriusan para pekerja di belakangnya. Raut kemarahan di wajah pengusaha paruh baya itu perlahan luruh, berganti rasa hormat yang mendalam.
Vino menyulut sebatang rokok, mengembuskan asapnya ke udara pagi seraya menatap kerangka bangunan yang mulai berproses cepat, di bawah terik matahari yang mulai memanas.
btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍