Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.
Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Yang Datang Terlambat Dan Ancaman Yang Belum Berakhir
Bab 29
Hari hari setelah kepergian Ayah berlalu bagaikan mimpi buruk yang tak kunjung usai. Seluruh rumah yang dulu penuh tawa dan kehangatan kini berubah menjadi tempat yang sunyi dan penuh kesedihan yang mendalam. Setiap sudut rumah seolah olah masih menyisakan bayang bayang sosok Ayah yang dulu selalu berdiri tegak penuh kasih sayang melindungi kami semua. Namun kini tempat itu kosong melompong hanya menyisakan kenangan yang menyakitkan dan rasa penyesalan yang terus menghantui hati kami setiap detiknya. Ibu jatuh sakit dan tidak berdaya sejak hari itu. Ia terus menyendiri di dalam kamar tidur yang dulu ditempati bersama Ayah menatap ke arah pintu seolah olah setiap saat ia berharap Ayah akan kembali masuk melangkah dengan senyum yang lembut seperti biasa. Namun pintu itu tetap tertutup dan tidak ada lagi suara langkah kaki yang akrab itu terdengar masuk ke dalam ruangan.
Ketiga kakakku tampak berubah menjadi pria pria yang jauh lebih dewasa dan teguh dalam waktu yang sangat singkat. Tidak ada lagi tawa yang terdengar dari bibir mereka. Wajah mereka selalu tampak serius dan penuh beban berat yang dipikul di pundaknya. Namun di balik ketegasan itu aku melihat mata mereka yang sering kali berkaca kaca menahan air mata agar tidak jatuh di hadapan kami. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk tetap berdiri tegak menjadi tiang penyangga bagi rumah yang kini terasa rapuh dan miring setelah kehilangan pemimpinnya. Setiap pagi mereka berangkat menyelesaikan segala urusan yang ditinggalkan Ayah dengan wajah yang penuh lelah namun tidak pernah sekalipun mereka mengeluh atau meninggalkan kami sendirian.
Rasa penyesalan itu terasa semakin menyakitkan saat kami menerima kabar bahwa pihak berwenang berhasil menangkap banyak orang yang ikut menyerang rumah kami malam itu namun pemimpin kelompok itu dan Vanessa kembali berhasil melarikan diri menghilang tanpa jejak. Mereka kabur tepat sebelum pintu rumah dikelilingi sepenuhnya membawa serta rasa bersalah dan darah yang menodai tangan mereka. Kabar itu membuat hati kami semakin hancur berkeping keping. Bukan karena mereka berhasil melarikan diri melainkan karena Ayah berkorban nyawanya namun orang yang bersalah itu masih bebas berlari di luar sana tanpa pernah sekalipun merasa bersalah atau menyesal atas perbuatannya yang kejam itu.
Namun yang paling menyakitkan bagiku adalah tatapan mata ketiga kakakku dan Ibu setiap kali mereka menatapku. Di dalam tatapan itu tidak lagi ada rasa benci atau keraguan seperti dulu. Kini yang terlihat hanyalah rasa bersalah yang mendalam rasa sayang yang berlipat ganda dan rasa takut kehilangan yang tak terlukiskan dengan kata kata. Setiap kali mereka menatapku seolah olah mereka sedang berkata di dalam hati maafkan kami Maya. Maafkan kami karena pernah tidak mempercayaimu. Maafkan kami karena pernah menyakitimu dan membiarkanmu menderita sendirian. Andai saja kami mendengarkanmu sejak awal andai saja kami tidak membiarkan gadis itu masuk ke dalam hati kami Ayah pasti masih ada di sini bersama kami saat ini. Andai saja kami tidak pernah membiarkanmu menderita sendirian mungkin semuanya tidak akan berakhir sepedih ini.
Mereka tidak pernah mengucapkan kata kata itu secara terang terangan namun aku bisa membacanya dengan jelas di setiap sorot mata mereka di setiap perhatian berlebih yang mereka berikan kepadaku dan di setiap pelukan hangat yang mereka berikan seolah olah takut jika melepaskanku sedikit saja aku akan ikut menghilang seperti Ayah. Penyesalan itu terasa begitu berat menekan dada mereka dan setiap kali melihatnya hatiku ikut terasa perih dan sakit sekali. Aku ingin berkata kepada mereka aku tidak pernah menyimpan dendam kepada kalian. Aku sudah memaafkan kalian sejak lama sekali. Namun kenapa kebenaran baru bisa diakui saat harganya sudah menjadi begitu mahal? Kenapa kasih sayang baru kembali utuh saat waktu tidak lagi menyisakan kesempatan untuk memperbaikinya?
Suatu sore saat hujan turun kembali seperti malam itu aku duduk sendirian di beranda rumah menatap ke arah gerbang yang dulu terbuka lebar bagi orang yang akhirnya menghancurkan kebahagiaan kami. Di sampingku Kakak Arka datang membawa secangkir teh hangat lalu duduk di sampingku dalam diam cukup lama. Angin bertiup lembut membawa bau tanah basah yang mengingatkanku pada segala hal yang terjadi malam itu. Akhirnya Kakak Arka memecah keheningan dengan suara yang berat dan serak seolah olah ada sesuatu yang menahan suaranya agar tidak keluar. Maya kakakku berkata pelan dan penuh penyesalan kau adalah anak yang paling tulus dan paling baik hati di antara kami semua. Dulu kami buta dan tuli. Kami membiarkan kebohongan masuk dan mengusir kebenaran pergi dari rumah ini. Maafkan kami adikku. Maafkan kami karena telah menyakitimu dan tidak melindungimu sebagaimana mestinya. Maafkan kami karena terlambat menyadari betapa berharganya dirimu bagi kami semua.
Air mataku jatuh perlahan membasahi pipi mendengar kata kata itu. Aku menoleh menatap Kakak Arka yang tampak menahan isak tangis dengan gigi yang terkatup rapat dan mata yang memerah menahan air mata agar tidak jatuh. Aku meraih tangannya yang terasa dingin dan menggenggamnya erat lalu berkata dengan suara yang bergetar namun tenang Kakak aku sudah memaafkan kalian sejak lama sekali. Aku tidak pernah menyimpan rasa benci kepada kalian. Aku tahu kalian hanyalah tertipu seperti orang lain yang pernah tertipu. Yang membuatku sedih bukan karena kalian tidak mempercayaiku dulu. Yang membuatku sedih adalah karena kebenaran baru datang saat Ayah harus pergi meninggalkan kita. Andai saja kita bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya. Namun waktu tidak pernah mau kembali walau sedetik pun.
Kakak Dika dan Kakak Rizky datang mendekat saat mendengar percakapan kami. Mereka berlutut di depanku menatapku dengan mata yang penuh air mata dan penyesalan yang tak terlukiskan. Mereka meminta maaf berulang kali dengan tulus dan sungguh sungguh. Mereka berjanji tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun menyakitiku tidak akan pernah lagi membiarkan aku merasa kesepian dan tidak akan pernah lagi membiarkan kebencian atau kebohongan masuk memisahkan kita. Kami berpelukan bersama di tengah rintik hujan yang turun perlahan seolah olah langit ikut menangis bersama kami menyaksikan persatuan yang kembali utuh namun dengan harga yang tak ternilai harganya.
Namun di tengah kesedihan dan penyesalan itu kami tidak lupa bahwa bahaya belum benar benar hilang. Pemimpin kelompok itu dan Vanessa masih buron dan masih bebas berjalan di luar sana. Kami tahu bahwa selama mereka masih hidup ancaman belum berakhir. Jika mereka berani kembali menyerang kami tidak akan selemah dulu. Kali ini kami sudah tahu siapa musuh kami dan kami sudah siap menghadapi apa pun yang datang. Namun di dalam hatiku aku sering merasa cemas dan gelisah. Aku tidak takut untuk diriku sendiri. Aku takut mereka akan kembali datang dan menyakiti orang orang yang kini baru saja menyadari betapa berartinya kehadiranku di tengah tengah keluarga ini. Aku takut pengorbanan Ayah menjadi sia sia jika kami semua ikut binas bersama sama.
Beberapa hari kemudian datang kabar bahwa pemimpin kelompok itu tertembak dan tewas saat pihak berwenang mengejarnya hingga ke perbatasan hutan yang jauh di pinggir kota. Mendengar kabar itu kami merasa lega namun kelegaan itu terasa hambar karena Ayah tidak bisa kembali lagi ke pelukan kami. Namun kabar itu juga membawa berita yang membuat jantungku berdegup kencang kembali. Vanessa tidak ikut bersamanya. Ia melarikan diri sendiri sebelum pihak berwenang berhasil mengepung tempat persembunyian mereka. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi dan tidak ada yang tahu apa yang sedang ia rencanakan sendirian. Ia sendirian tanpa orang yang melindunginya namun ia juga menjadi semakin berbahaya karena orang yang terdesak dan penuh dendam sering kali melakukan hal hal yang tidak terpikirkan oleh orang biasa.
Kami segera memperketat pengawasan kembali di sekeliling rumah. Tidak ada yang pergi sendirian dan setiap pintu serta jendela selalu dikunci rapat setiap saat. Namun hari hari berlalu dan tidak ada kabar apa pun dari Vanessa. Ia seolah olah menghilang dari muka bumi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Waktu terus berjalan dan perlahan lahan kesedihan mulai sedikit demi sedikit berubah menjadi kekuatan untuk bangkit kembali. Ibu perlahan mulai sanggup berdiri dari tempat tidurnya meskipun wajahnya masih tampak pucat dan matanya masih selalu basah oleh air mata. Kami berusaha sekuat tenaga untuk saling menguatkan dan melanjutkan hidup dengan harapan bahwa Ayah sedang melihat kami dari tempat yang jauh dan ingin melihat kami tetap berdiri tegak dengan penuh keberanian dan harapan.
Namun di dalam hatiku aku selalu merasa bahwa ketenangan ini hanyalah kedamaian semu yang disiapkan sebelum badai terbesar datang menghantam. Aku sering terbangun di tengah malam karena merasa ada sepasang mata yang menatapku dari balik kegelapan jendela kamarku. Aku sering mendengar suara langkah kaki pelan yang berhenti tepat di depan pintu kamarku lalu pergi kembali tanpa suara. Setiap kali aku bertanya kepada penjaga rumah apakah ada orang yang datang atau lewat di malam hari mereka selalu menggelengkan kepala dan berkata tidak ada siapa pun Nona Maya. Mungkin hanya perasaanmu saja karena kau terlalu lelah dan banyak pikiran. Namun aku tahu betul perasaanku sendiri. Itu bukan sekadar perasaan. Vanessa masih ada di sini. Ia belum pergi jauh. Ia sedang menunggu waktu yang paling tepat untuk datang kembali menyelesaikan apa yang belum selesai di antara kami berdua.
Malam itu aku duduk di meja belajarku menatap keluar ke arah halaman belakang yang gelap dan sunyi. Bulan bersinar remang remang menerangi tanah basah bekas hujan yang turun sejak sore tadi. Aku menuliskan di dalam buku catatanku bahwa penyesalan keluarga memang datang terlambat namun kasih sayang mereka kini tulus dan utuh. Aku menuliskan bahwa musuh terbesar sudah tewas namun bahaya yang paling mendesak masih bersembunyi di dalam kegelapan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Dan aku menuliskan di halaman terakhir buku catatanku itu bahwa apa pun yang akan terjadi selanjutnya aku sudah siap menghadapinya. Aku tidak akan lari dan tidak akan bersembunyi di belakang orang lain. Jika memang harus ada yang berkorban maka biarlah aku yang menanggungnya asalkan orang orang yang kucintai tetap selamat dan hidup tenang.
Aku menutup buku catatanku lalu menyimpannya di laci meja dengan hati yang tenang dan teguh. Aku berdiri dan berjalan menuju jendela kamarku menatap ke arah gelapnya malam dengan kepala tegak dan hati yang lapang. Datanglah kapan pun kau siap Vanessa. Aku tidak takut padamu. Aku sudah siap menghadapi segala konsekuensi dari apa yang telah kau lakukan. Namun ketahuilah bahwa kali ini aku tidak sendirian. Dan kali ini aku tidak akan membiarkanmu menyakiti siapa pun lagi. Malam itu angin bertiup kencang sekali lagi seolah olah membawa pesan dari kejauhan bahwa pertemuan terakhir antara kami berdua sudah semakin dekat dan tidak bisa lagi dihindari oleh siapa pun.
Bersambung....