Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:33.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melawan dengan ketenangan

Mendengar kata mantan, kening Azarin mengerut, memiringkan kepalanya sedikit.

"Mantan?"

Charlotte menjentikkan kuku seraya melirik Azarin sinis, tersenyum smirk.

"Jadi kamu belum tau?" Wanita itu menganga kecil, "Yaa.... bisa-bisanya Dean nutupin ini dari perempuan yang katanya calon is-tri." lanjutnya dengan nada sedikit menekan.

Azarin menggeleng lemah, "Tuan Dean memang tidak cerita tentang masa lalunya, tapi aku percaya pria itu bisa menepati kata-katanya."

Charlotte menganga tak percaya, cukup takjub dengan kepercayaan diri Azarin.

"Baru kali ini aku nemu orang rendahan tapi ngga tahu diri." seraya duduk santai di kursi samping yang nganggur, "Daripada kamu malu-maluin mending nyerah aja deh."

Azarin semakin tersulut.

Ia tau betul wanita di depannya sedang merendahkan dirinya.

Sialnya, Azarin bukan tipikal rendah diri jika harga dirinya di injak.

Ia ikuti gerak-gerik Charlotte.

Mulai dari cara berdiri tegak bak wanita berkelas, duduk di kursi depan Charlotte seraya menegakkan dagunya penuh percaya diri.

Satu alis Charlotte naik, "Ngapain kamu duduk? Kamu fikir setara sama aku?"

Azarin tersenyum tipis, menatap Charlotte dengan sorot mata tenang, namun tajam.

Ia letakkan tas jinjing miliknya dengan tenang di atas meja, menaikkan satu kakinya bertumpu pada paha, dengan kedua tangan di letakkan di atasnya bak wanita berkelas.

"Sepertinya kita perlu mengobrol sedikit."

Charlotte memutar bola mata malas, melipat kedua tangan di depan dada.

Azarin tatap wanita di depannya dari atas sampai bawah. Bisa dikira wanita ini lebih muda darinya.

"Anda tadi bilang saya tidak cocok untuk Tuan Dean kan?"

Charlotte tatap Azarin sinis, "Iyalah! Wanita kampung! Kalo aja aku ga putus sama Mas Dean pasti sekarang kami sudah menikah."

"Pfftt!" Azarin tutup mulutnya anggun.

Merasa dirinya di remehkan, Charlotte tentu geram, berdiri cepat seraya menggebrak meja kesal.

"Kamu fikir lucu?! Heh manusia rendah, lebih baik kamu pergi dari sini! Udah bajumu norak banget, mau kondangan apa? Kamu tau ngga kamu malu-maluin Dean dengan pakaian sok sopan seperti itu?!"

Azarin terpaku.

Ia cukup terkejut, apa....karena itu juga dia dihindari disini.

Apa ia juga harus berpakaian seperti mereka. Terlihat wah, tapi kurang bahan.

Apa memang standar istri berkelas itu seperti itu seharusnya?

"Sebelumnya ada beberapa yang harus saya perjelas, nona. Pertama, saya bukan wanita kampungan. Saya lulusan dari Universitas terkenal di kota ini, saya juga pernah bekerja menjadi pendamping model. Dan sekarang saya memiliki usaha warung makan sendiri. Bisa dijelasin kampungannya dimana?"

Charlotte memicing malas, memutar bola mata, "Gausah sok jadi wanita independen deh! Lagian tetep aja kamu ga cocok buat Dean. Emang kamu berasal dari keluarga mana? Pengusaha? Wawancara? Sosialita?"

Hening.

Cukup lama Azarin bersilat dengan isi kepalanya sendiri. Sebelum akhirnya wanita itu tersenyum.

"Saya memang bukan dari keluarga kaya raya. Tapi setidaknya saya yang akan jadi orang tua kaya nantinya."

Charlotte berdecih lagi, "Kek iya-iya aja gayamu itu. Kampung!"

Rahang Azarin mengetat, tidak bisa dipungkiri ia ingin menelan wanita di depannya ini hidup-hidup, namun ia memilih menahannya.

Azarin paksakan bibirnya tersenyum tipis.

Wanita keras kepala seperti dia tidak bisa dibalas dengan kekerasan yang sama.

Azarin sudah khatam menghadapi wanita model seperti ini.

Cukup balas dengan tenang, tapi menohok.

"Perlu nona ketahui, roda itu terus berputar. Seperti yang anda tau, saya—calon istrinya Tuan Dean. Bukankah saya akan menjadi wanita berkelas juga nantinya?"

Charlotte mendelik, menunjuk wajah Azarin cepat, "Kamu mau manfaatin Mas Dean?! Aku aduin kamu yah ke Mas Dean biar kamu diputusin sekarang juga!"

Sayangnya, ancaman Charlotte tidak berarti apa-apa.

Azarin juga tidak terlalu ingin mendapatkan suami yang stratanya tinggi seperti Dean.

Ia bahkan berdo'a semasa dulu agar diberi pria yang setara saja.

Namun mungkin tuhan berkata lain, memberikannya calon yang bisa meningkatkan derajatnya.

Tentu ini rencana tuhan.

Kita tidak tau dan tidak akan pernah bisa menyangkalnya.

Yang bisa kita lakukan hanya menerima dengan ikhlas apa yang sudah Tuhan gariskan.

"Silahkan saja." balas Azarin dengan santai.

Melihat ketenangan Azarin, Charlotte semakin tidak punya celah untuk menyudutkannya.

"Kamu nantangin?!"

"Iya..." balasnya santai, namun menekan, "Aku cukup penasaran ancaman apa yang bakal dilakukan nona bocah sepertimu."

"Kamu—!"

Charlotte melotot, ingin memaki, namun ia tidak punya celah.

Alhasil ia berdiri, pergi dari sana dengan langkah dihentakkan kesal.

Azarin tatap Charlotte dari wanita itu menjauh, hingga menghilang dari balik tembok.

Azarin tarik nafas panjang, menghelanya kuat seraya mengelus dadanya yang berdebar kencang dari tadi.

"Hufttt....untung saja wanita itu cepat pergi. Bikin takut saja." desis Azarin menghela berkali-kali.

Sial.

Hampir saja dia memberikan celah.

Tentu semua keberanian tadi Azarin lakukan agar wanita itu tidak semakin merendahkannya. Aslinya dia juga ketakutan.

Dia baik, tapi dia tidak bisa ditindas.

Tanpa perlu diingatkan juga Azarin sadar ia tidak setara dengan Dean. Hanya saja ia tidak bisa memilih menjadi seperti apa.

Sementara dari balik tembok dengan cahaya remang, seorang berdiri tegap dibalik bayangan, sudut bibirnya tertarik tipis, menyesap segelas minuman di tangannya santai.

"Aku tidak menyangka, wanita yang aku pilih begitu berani."

Yap.

Dia Dean.

Dia mendengarkan semua obrolan Azarin dengan Charlotte sedari awal hingga akhir.

Dean cukup tertegun dengan keberanian Azarin.

Dean tau betul watak Charlotte seperti apa.

Wanita itu akan terus menekan lawannya hingga harga dirinya terinjak-injak.

Sayangnya, ia justru melawan wanita yang sudah begitu khatam dengan karakter seperti Charlotte.

Dean langkahkan kakinya dengan tenang mendekati Azarin.

Wanita itu tampak menatap panorama indah di depan sana seraya mengatur nafas yang masih memburu.

"Sayang."

Azarin refleks berbalik cepat. Menatap Dean kosong dengan nafas yang sengaja di tekan.

"Tu-tuan." Azarin terkekeh kecil, merapikan sedikit rambutnya yang berantakan.

Dean tersenyum tipis, ia dekati calon istrinya pelan, berdiri seraya mencondongkan punggungnya ke bawah, dimana Azarin terduduk dengan tatapan tegang itu.

"Kamu menikmati pestanya?"

Azarin tatap Dean di atasnya lekat, sebelum akhirnya memalingkan wajah gugup, "Tidak."

Dean tertegun, ia duduk dengan tenang di kursi depan Azarin.

"Kenapa? Wajahmu terlihat kusut."

Azarin lirik Dean malas.

Entah mengapa ia jadi kesal dengan Dean selepas dari ucapan Charlotte tadi.

"Charlotte itu siapa?" tanya Azarin ketus, tanpa mau menatapnya.

Kening Dean mengerut, sudut bibirnya tertarik kecil.

"Entah."

Mendengar Dean berbohong Azarin spontan menoleh, menatapnya tajam. Bibirnya memanyun sebal.

"Dia berbohong!"

"Hmphh!" Azarin lagi-lagi memalingkan wajah acuh.

Dean tak sanggup menahan tawanya, ia raih ujung rambut Azarin tenang. Yang langsung di tampik wanita itu.

"Gausah sentuh-sentuh! Rambutku mahal!"

Dean menganga kecil, tertawa setelahnya. Menutup wajahnya dengan tangan.

"Astaga....menggemaskan sekali."

Ia tarik kursinya mendekat pada Azarin. Sementara wanita itu terus memalingkan wajah acuh.

"Kenapa? Kamu cemburu?"

1
Maria Magdalena
itu tante menor tante jalang mia tante murahan yg maunya harta doang 😁 tante mata duitan.
Cicih Sophiana
betul itu rumah di jakarta gak semurah di kampung Nay...
Cicih Sophiana
selama 7 tahun Dean setia menanti yg belum pasti bertemu kembali...
Cicih Sophiana
Azarin bagus 👍... ayo keluarin semua unek unek yg ada di hati mu sekarang... biar Fajar tau gimana sakit hati nya kamu.. waktu itu setelah melahirkan sendiri tanpa perhatian suami...
Cicih Sophiana
gimana Fajar nyesel kan...
dulu aja mau di buang ke panti...
sekarang nangis nengis
Cicih Sophiana
thor banyak typo nya nih...maaf yah
Dynhz: maaf atas ketidak nyamanan ya yah, pdhl dah ku revisi, mungkin ada kesalahan 😄🙏🏻
total 1 replies
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Cicih Sophiana
Mia🤣🤣🤣🤣🤣 pinter dan lucu 👍😍
Cicih Sophiana
semoga aja mama nya Dean orang baik... mau nerima Azarin dan Mia anak nya
Cicih Sophiana
thor tolong bilang ke Azarin memanggil Dean nya jgn tuan terus... 😆
Cicih Sophiana
jgn cemburu sama wanita seperti itu Azarin... yg ada kamu panas panisin dia
Cicih Sophiana
Dean kok gitu sih.. bukan nya di kenalin klo Azarin calon nya dia... ini malah sibuk dgn yg lain
Cicih Sophiana
ih Azarin knp sih masih mikirin Fajar... laki laki seperti itu gak pantas kamu pikirin...
Azarin knp masih panggil tuan sih sama Dean
Cicih Sophiana
Azarin kok panggil tuan terus gak Dean larang...
Cicih Sophiana
Fajar akhirnya kamu dapat karma nya... punya istri berani memukul suami... baru tau aq ada yah yg seperti si Fani
Cicih Sophiana
jalanin aja dulu Azarin jgn berpikir yg macam macam... sifat orang kan berbeda beda
Cicih Sophiana
waduh klo Mia berkontar jadi ketawa 😆😆 udah menol jeyek puya ya Mia 🤣🤣🤣
Cicih Sophiana
wih senang nya Mia punya papa yg baik dan ganteng jg kaya... semoga Dean tulus menyayangi Mia...
Cicih Sophiana
semoga berjodoh ya Azarin...
Cicih Sophiana
semangat Naya 💪💪💪 yah...
klo Azarin bandel cubit aja jantung nya 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!