GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angsa Teritorial dan Janji Seumur Hidup
Tiga puluh hari telah berlalu. Ini adalah hari terakhir dari tenggat waktu perjanjian putus konyol mereka. Segala hutang pada Siska telah lunas (Gala bahkan harus menggadaikan laptop lamanya). Restu orang tua sudah di tangan. Rival cinta berwujud sadboy TikTok sudah dikalahkan (secara teknis). Tidak ada lagi alasan untuk menunda.
Sore yang cerah di hari ke-30, Gala mengajak Senja piknik di Taman Kota Edelweiss. Taman ini memiliki danau buatan yang luas, dikelilingi pepohonan rindang dan bunga-bunga yang bermekaran. Gala tampil sangat rapi, mengenakan kemeja linen putih dan celana chino. Rambutnya ditata dengan pomade. Namun, gerak-geriknya sangat kaku, mirip robot yang kehabisan pelumas.
Di saku celananya, terdapat kotak beludru merah kecil berisi cincin emas putih bertahtakan berlian kecil—hasil tabungan rahasianya selama setahun terakhir.
Senja, yang duduk di atas tikar piknik mengenakan dress santai bermotif bunga, menatap Gala dengan curiga. "Kamu kenapa sih, Gal? Kok keringatan gitu? Sakit tipes kamu kumat?"
Gala mengusap tengkuknya dengan gugup. "Nggak, Nja. Gue... gue sehat. Udaranya aja yang agak panas." Gala menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa keberanian dan membuang jauh-jauh gengsi yang selama sebulan ini hampir merenggut nyawanya.
Ia perlahan bergeser, menurunkan satu lututnya ke atas tikar, dan menatap Senja dengan kesungguhan yang menggetarkan hati. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan kotak beludru merah itu.
Mata Senja melebar. Mulutnya terbuka sedikit. Wanita tangguh yang biasa mematahkan lengan pria dalam hitungan detik itu kini terpaku tak bisa berkata-kata. Jantungnya berdebar kencang.
"Senja," suara Gala bergetar tipis, tapi sangat mantap. "Sebulan ini, adalah bulan paling bodoh, paling mahal, dan paling mematikan dalam hidupku. Aku gengsi mengakui kalau aku bergantung padamu. Tapi setelah hampir mati ditembak mafia, dibantai bapakmu, dan ditagih utang sama robot berwujud Siska... aku sadar. Aku cuma mau ngelewatin semua kekacauan hidup ini sama kamu. Jadi..."
Gala membuka kotak itu. Cincinnya berkilau terkena cahaya matahari sore.
"...maukah kamu—"
"HWONK! HWOOOOONK!!"
Suara lengkingan parau dan kepakan sayap yang brutal memotong kalimat sakral Gala. Dari arah semak-semak dekat danau, seekor angsa berleher panjang berwarna putih bersih—angsa alpha penguasa teritori taman—menyerbu ke arah mereka dengan kecepatan roket. Unggas agresif itu sepertinya tertarik pada kilauan berlian.
Tanpa ampun, angsa itu mematuk tangan Gala. "AARGH!" teriak Gala terkejut, melepaskan kotak cincin itu.
Kotak itu terlempar ke udara, jatuh tepat ke atas punggung si angsa. Entah bagaimana ceritanya, cincin itu terlepas dari kotaknya dan tersangkut di bulu-bulu pangkal leher angsa tersebut. Menyadari dirinya mendapat "aksesoris" baru, angsa itu berbalik dan berlari kencang menuju danau.
"CINCIN GUE! ITU CICILAN SETAHUN!" jerit Gala panik, wajahnya pucat pasi.
Kesedihan romantis Senja langsung menguap, digantikan oleh insting berburunya. "Beraninya unggas sialan itu ngerusak lamaranku!" Senja melompat bangun, melepas sandalnya, dan berlari sprint mengejar angsa itu. "Sini lo, bebek cacat! Balikin cincinnya!"
Adegan di taman itu berubah menjadi sirkus. Pengunjung taman menyingkir ketakutan melihat seorang wanita cantik mengejar angsa sambil meneriakkan ancaman pembunuhan, disusul oleh seorang pria berkemeja putih yang berlari pincang di belakangnya.
Angsa itu semakin dekat dengan bibir danau. Jika hewan itu menyelam, tamat sudah riwayat cincin Gala.
Namun, di saat krisis memuncak, sesosok bayangan melompat dari dahan pohon trembesi terdekat. Sosok itu mengenakan pakaian olahraga jogging ketat berwarna hitam, dengan kacamata hitam bertengger di wajah datarnya. Siska. Entah kenapa wanita itu selalu ada di tempat dan waktu yang salah (atau benar).
Di udara, Siska membentangkan sebuah jaring ikan nilon berukuran sedang. Dengan pendaratan yang sempurna ala ninja, ia mengurung angsa itu beserta cincinnya tepat di tepi danau. Angsa itu meronta-ronta dan mendesis marah di dalam jaring.
Gala dan Senja tiba dengan napas tersengal-sengal.
Siska berjongkok, menatap angsa itu tanpa ekspresi, lalu menatap Gala. "Layanan ekstraksi properti darurat dari hewan liar tingkat bahaya medium. Tarif tunai: satu juta rupiah. Bisa transfer, QRIS, atau paylater bunga sepuluh persen."
Gala menjambak rambutnya sendiri, hampir menangis karena frustrasi. "IYA! BAYAR PAKAI QRIS! MANA CINCINNYA!"
Setelah proses scan barcode dari ponsel Siska yang entah sejak kapan sudah dipersiapkan, Siska merogoh jaring itu, mengabaikan patukan marah si angsa, dan menarik keluar cincin emas putih tersebut. Ia menyerahkannya ke tangan Gala yang bergetar.
"Terima kasih atas kerja samanya. Selamat bertunangan," ucap Siska datar. Ia lalu mengangkat jaring berisi angsa itu dan berjalan pergi. "Dan kau, unggas, akan kujual ke restoran bebek peking."
Di tepi danau, dengan napas yang masih memburu, kemeja yang berlumuran rumput, dan keringat yang mengalir deras, Gala kembali berlutut di hadapan Senja. Cincin di tangannya kini sedikit kotor oleh lumpur dan bulu angsa, tapi baginya tidak pernah terlihat lebih indah dari ini.
Gala menatap Senja sambil tersenyum pasrah, senyum tulus yang meruntuhkan segala pertahanan hati Senja.
"Oke, kita abaikan unggas setan tadi. Kita ulang," ucap Gala lembut, menggenggam tangan kiri Senja. "Senja... di hari ketiga puluh, detik-detik terakhir dari perjanjian bodoh kita, aku menyerah. Aku mengakui kekalahanku. Aku nggak bisa, dan nggak akan pernah bisa, cari yang lebih baik dari kamu. Maukah kamu menikah sama pria keras kepala ini?"
Senja menatap mata Gala. Mata yang selalu ia rindukan setiap kali pria itu pergi liputan berbahaya. Segala gengsi, amarah, dan ketakutannya menguap tertiup angin sore. Ia tertawa, tawa yang penuh dengan air mata kebahagiaan, memecah keheningan taman yang baru saja pulih dari kerusuhan.
"Iya, Gala. Aku mau," jawab Senja. Ia membiarkan Gala menyematkan cincin yang sedikit kebesaran itu ke jari manisnya. "Tapi janji satu hal."
Gala berdiri, menangkup wajah Senja. "Apa pun itu."
"Jangan pernah bawa Siska ke resepsi pernikahan kita, atau suruh dia jadi penerima tamu. Kita bisa bangkrut bayar freelance-nya."
Gala tertawa lepas, menarik pinggang Senja, dan mendaratkan ciuman hangat di bibir wanita itu. Di bawah langit senja berwarna jingga, dengan latar belakang danau dan suara desis angsa dari kejauhan, mereka mengikat janji yang tak akan pernah diputuskan lagi. Perang satu bulan telah usai, dan mereka berdua keluar sebagai pemenang sejati.
Berikut adalah kelanjutan novel dengan penambahan Bab 7. Di bab ini, sebuah masalah baru muncul di tengah persiapan pernikahan mereka, lengkap dengan karakter baru yang tak kalah absurd.