Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.
Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.
"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
# Flashback On#
Beberapa menit sebelum The Phoenix Collection mengudara...
Area backstage (belakang panggung) Jakarta Fashion Week lebih mirip seperti medan perang yang dikendalikan oleh kepanikan yang terstruktur.
Aroma hairspray, uap dari setrika pakaian, dan parfum mahal berbaur menjadi satu di udara yang terasa panas. Puluhan penata rias, penata rambut, dan kru panggung berlarian ke sana kemari sambil meneriakkan instruksi.
Di sudut-sudut ruangan, para model internasional bersiap dalam balutan jubah sutra, menunggu giliran mereka untuk mengenakan mahakarya Clara.
Di tengah kekacauan yang memekakkan telinga itu, Ketty berdiri tegak layaknya seorang jenderal bintang lima. Headset menempel di telinganya, sementara tangannya sibuk membolak-balik papan klip berisi daftar urutan runway.
"Kencangkan korset gaun nomor tujuh! Jangan biarkan ada lipatan sedikit pun di bagian pinggang!" teriak Ketty kepada dua orang asisten penjahit.
"Dan pastikan pencahayaan untuk sesi ketiga diatur ke warm white! Aku mau sulaman kristal Swarovskinya menyala saat terkena lampu sorot!"
Di sudut ruangan yang terpisahkan oleh sekat portabel, Clara duduk diam di depan cermin rias yang dikelilingi lampu bohlam terang benderang. Dadanya naik-turun dengan cepat. Jantungnya bergemuruh hebat hingga rasanya nyaris melompat keluar dari kerongkongan.
Ia bukan lagi sekadar desainer yang akan mengintip dari balik tirai. Malam ini, ia adalah penutup acara. Model utama. Wajah dari The Phoenix Collection.
"Tarik napas panjang, Ma. Tahan tiga detik, lalu hembuskan," sebuah suara kecil yang tenang membuyarkan lamunan Clara.
Ken berdiri di samping kursi rias Clara, menatap layar tablet-nya dengan dahi berkerut serius. "Berdasarkan pemindaian sensor dari jam tangan yang Mama pakai, detak jantung Mama mencapai 115 beats per minute. Tingkat kortisol Mama meningkat tajam. Ini reaksi kecemasan yang wajar sebelum tampil di depan publik."
Key muncul dari balik tubuh kakaknya, menyodorkan segelas air putih hangat dengan sedotan agar tidak merusak lipstik merah marun Clara.
"Minum dulu, Mama. Jangan sampai Mama pingsan karena dehidrasi sebelum pakai gaunnya. Semua gaun yang lain sudah siap, tinggal menunggu giliran Mama saja."
Clara tersenyum gemetar, menerima minuman itu dan menyesapnya sedikit.
"Terima kasih, Sayang. Mama hanya... merasa ini semua terlalu besar. Bagaimana kalau Mama tersandung? Bagaimana kalau Mama merusak seluruh koleksi ini di detik terakhir?"
"Itu tidak akan terjadi," potong sebuah suara berat dan berwibawa dari ambang sekat.
Hiruk-pikuk kru di sekitar Clara mendadak hening. Mereka secara otomatis menyingkir dan menunduk hormat saat Alexio Van Der Berg melangkah masuk.
Pria itu mengenakan setelan jas tuxedo hitam legam buatan penjahit Savile Row, memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat udara di sekitarnya terasa tunduk.
Alexio berjalan menghampiri Clara, memberi isyarat kepada penata rias untuk mundur sejenak. Ia berlutut dengan satu kaki di samping kursi Clara, menatap lurus ke dalam iris cokelat istrinya yang memancarkan ketakutan.
"Dengarkan aku, Clara," ucap Alexio dengan suara rendah yang sangat menenangkan, mengusap punggung tangan istrinya yang sedingin es.
"Di luar sana, ada ribuan pasang mata yang menunggu untuk menghakimimu. Tapi kau tidak perlu menatap mereka. Saat kau melangkah keluar dari tirai itu, tataplah mataku. Hanya mataku. Mengerti?"
Clara menelan ludah, mengangguk pelan. Keyakinan mutlak di mata Alexio perlahan menular padanya, membangun dinding keberanian di dalam dadanya.
"Waktu persiapan habis! Standby di posisi masing-masing!" seru Stage Manager melalui pengeras suara. "Acara dimulai dalam tiga menit!"
Alexio berdiri, mengecup puncak kepala Clara dengan lembut. "Aku dan anak-anak akan menunggumu di barisan depan, Ratuku."
Begitu Alexio dan si kembar meninggalkan backstage, Ketty langsung menarik Clara untuk mengenakan gaun utamanya. Proses pemakaian gaun itu membutuhkan bantuan tiga orang asisten. Gaun couture berwarna putih keperakan itu memeluk lekuk tubuh Clara dengan sempurna. Sulaman benang emas murni yang rumit membentang dari pinggang hingga ke punggung, membentuk kepakan sayap burung phoenix yang seolah hidup dan menyala.
Saat Clara berdiri tegak dengan tiara berlian tipis menyemat di sanggul elegannya, seluruh kru di backstage terdiam. Mereka menatap Clara dengan mulut setengah terbuka.
"Sempurna," bisik Ketty dengan mata berkaca-kaca. "Kau benar-benar terlihat seperti dewi, Ra."
Gendang telinga Clara mulai menangkap dentuman bass dari musik orkestra megah yang diputar di Grand Ballroom. Sorakan kagum penonton terdengar samar-samar setiap kali model demi model melangkah keluar dari balik tirai.
Waktu terasa berjalan sangat lambat, namun sekaligus terlalu cepat. Satu per satu gaun karyanya dipamerkan kepada dunia. Hingga akhirnya, musik mendadak berubah ritme. Nada-nada upbeat menghilang, digantikan oleh gesekan biola tunggal yang dramatis dan menggetarkan jiwa.
Lampu di seluruh gedung dipadamkan secara serentak. Kegelapan menyelimuti ruangan.
"Ini giliranmu, Nyonya Clara," bisik Stage Manager, menepuk bahu Clara pelan. "Tiga... dua... satu... Jalan!"
# Flashback off #
Begitu Clara melangkah kembali melewati batas tirai hitam backstage, kakinya langsung terasa lemas. Adrenalin yang sejak tadi menopangnya perlahan surut, menyisakan kelegaan yang luar biasa besar.
"Ya Tuhan, Ra! Kau luar biasa!" teriak Ketty histeris sambil berlari menghampiri Clara, langsung memeluk sahabatnya itu erat-erat hingga air mata harunya tumpah ruah merusak riasannya sendiri.
"Kau melihat reaksi para kritikus dari Paris dan Milan tadi?! Mereka berdiri, Ra! Desainmu menjadi legenda malam ini!"
Clara membalas pelukan Ketty dengan senyum lebar penuh rasa syukur.
"Terima kasih, Ket... Terima kasih karena tidak pernah meninggalkanku berjuang sendirian."
Sebelum percakapan itu berlanjut, derap langkah kaki kecil terdengar terburu-buru. Ken dan Key menyusup di antara kerumunan staf, langsung menghambur memeluk pinggang Clara.
"Analisis performa runway Mama: sempurna tak terbantahkan," puji Ken dengan nada serius dan formal yang kontras dengan pipi chubby-nya, lalu membetulkan letak kacamatanya meski matanya sendiri terlihat sedikit berkaca-kaca karena bangga.
"Indeks kepercayaan diri visual Mama mencetak angka 99,8 persen. The Phoenix Collection resmi mendominasi tren global nomor satu."
Key mengangguk antusias, matanya berbinar-binar.
"Tante Celine yang cacat loyalitas itu pasti sedang mengalami krisis eksistensial di kamar hotelnya di Paris karena sadar dia baru saja membuang rasio peluang seumur hidupnya!"
Tepat saat Clara tertawa renyah mendengar celotehan cerdas anak-anaknya, kerumunan staf di belakang mereka perlahan membuka jalan dengan takzim. Keheningan hormat menyebar saat Alexio Van Der Berg melangkah masuk ke backstage, mengunci pandangannya hanya pada satu sosok.
Sang Ratu miliknya.
Bersambung...
semoga cepat hamil lg agar keluarga Alexio semakin ramai 💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰🥰
semangat up thourr,, slalu setia menunggu 💪💪💪🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥