Benih Jenius Sang Miliarder
Cahaya keemasan dari lampu kristal raksasa yang menggantung angkuh di langit-langit Hotel Royal Bellevue terasa menyilaukan, seolah mengejek penderitaan yang tengah merayap di tubuh Clara.
Di sepanjang koridor berkarpet tebal salah satu penginapan paling bergengsi di Jenewa, Swiss itu, langkah seorang wanita muda tampak terhuyung-huyung, berat menyeret kakinya yang terasa seperti kepingan timah.
Wajah cantiknya pias tak berdarah. Keringat dingin mengucur membasahi pelipisnya.
Ia adalah Clara Jasmine, gadis berusia dua puluh tahun yang dikenal publik sebagai putri angkat keluarga Smith, sebuah dinasti bisnis yang menduduki posisi ke-100 dalam deretan konglomerat teratas negara itu.
Namun, publik tidak pernah tahu bahwa di balik kemewahan dan nama besar Smith, kehidupan Clara jauh dari kata bahagia. Di kediaman megah itu, ia tak lebih dari properti usang; orang asing yang kerap direndahkan dan hanya dikeluarkan dari sarangnya saat sedang dimanfaatkan.
Termasuk malam ini.
Semuanya berawal dari sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya satu jam yang lalu dari ibu angkatnya: "Clara, Mommy minta tolong kamu temui dulu anak klien Daddy yang baru tiba dari luar negeri. Mommy, Daddy, dan Kak Sofia masih ada urusan lain. Setelah menyusul, kita akan makan malam bersama di sana."
Sebagai putri angkat yang berusaha mencari validasi dan kasih sayang, Clara mengiyakan tanpa sedikit pun rasa curiga. Ia tiba lebih awal sesuai permintaan.
Namun, saat melangkah masuk ke ruangan privat VVIP yang ditentukan, atmosfer di sana terasa lengang dan hampa. Berusaha menekan firasat buruknya, Clara membatin bahwa tamu yang ditunggunya mungkin belum turun dari kamar.
Tak lama berselang, seorang pelayan berseragam rapi masuk mendorong troli. “Ini kiriman khusus dari Tuan Alfonso untuk Nona,” ucap pelayan itu sopan seraya meletakkan segelas jus, sebelum menunduk dan berlalu pergi.
Clara tersenyum lega, mengira itu adalah tanda keramahan dari rekan bisnis ayahnya. Tanpa ragu, dahaganya membuat ia meminum jus segar itu hingga tandas.
Namun, itu adalah awal dari nerakanya.
Hanya dalam hitungan menit, rasa nyaman dari minuman dingin itu menguap tak bersisa. Kepalanya mendadak berputar hebat bak dihantam godam, sementara sekujur tubuhnya terasa terbakar oleh gejolak panas asing yang abnormal.
“Kenapa … tiba-tiba panas sekali?” gumamnya parau. Jemari kecilnya yang mulai gemetar bergerak mengibas udara di depan wajahnya yang kini bersemu semerah mawar.
Belum sempat ia menguasai kewarasannya yang kian menipis, pintu ruangan terbuka lebar.
Seorang pria paruh baya bertubuh tambun melangkah masuk dengan gaya santai. Senyum serakah dan menjijikkan terukir di bibirnya saat matanya yang rakus menelusuri lekuk tubuh Clara dari ujung kepala hingga kaki.
“Maaf membuatmu menunggu lama, Nona cantik. Jangan buang waktu lagi, ayo kita langsung ke kamar saja,” ucapnya serak, mengedipkan mata dengan sorot penuh nafsu yang tak ditutupi.
Clara terkesiap, mundur bergegas hingga punggungnya nyaris menabrak meja. Dahinya berkerut waspada. Sensasi terbakar di nadinya kian merayap cepat, mengikis akal sehatnya secara brutal.
“Maaf, Tuan. Anda pasti salah orang. Saya di sini menunggu kedatangan Tuan Alfonso, anak dari klien Daddy saya.”
Pria tambun itu meledak dalam tawa yang serak dan menggema di ruangan sunyi itu. “Ha ha ha! Kamu sungguh polos, Manis. Akulah Alfonso yang kamu tunggu! Dan dengar baik-baik: Ibumu dan kakakmu sendiri yang telah menyerahkanmu padaku. Malam ini, kau sudah dibeli untuk menjadi milikku!”
Darah Clara serasa ditarik paksa dari ujung kakinya. Jantungnya berpacu liar, diiringi rasa sakit luar biasa yang menusuk ulu hati, jauh melebihi panasnya obat di tubuhnya. Ia tahu keluarga angkatnya dingin dan tak acuh, tetapi ia tak pernah membayangkan mereka bisa sekeji ini. Menjualnya layaknya barang murahan!
“Tidak mungkin … itu mustahil! Anda pasti salah paham!” bantah Clara dengan suara bergetar, mati-matian mempertahankan kewarasannya yang mulai kabur.
"Sial! Kenapa aku sebodoh ini? Ayo, Clara, cepat berpikir sebelum kamu benar-benar jadi korban pria menjijikkan ini!" jerit batinnya panik.
“Tenang saja, Gadis Manis. Aku takkan menyakitimu asalkan kamu menurut,” gumam Alfonso menjilat bibirnya, melangkah memangkas jarak. Tangan gemuknya terulur, berniat menyentuh pipi Clara yang memerah.
BUGK!
Adrenalin dan insting bertahan hidup mengambil alih. Dengan sisa tenaga yang masih bisa ia kumpulkan, Clara mengayunkan kakinya sekuat tenaga, menendang keras tepat di titik vital pria hidung belang tersebut.
“Awwgh!!”
Alfonso menjerit tertahan, wajahnya seketika memucat. Tubuhnya membungkuk parah, kedua tangannya memegangi bagian bawah tubuhnya yang berdenyut nyeri luar biasa.
"Rasakan itu, dasar tua bangka mesum!" desis Clara tajam, matanya menyalang penuh amarah.
Tak membuang satu detik pun, Clara berbalik dan berlari sekuat tenaga menerobos keluar dari ruangan. Napasnya tersengal, ia menyeret kakinya yang kian terasa berat seolah tertanam di lantai akibat pengaruh obat perangsang dosis tinggi yang mulai bekerja brutal memompa darahnya.
“Bocah jalang sialan! Awas kamu, ya!” pekik Alfonso murka dari dalam ruangan, suaranya teredam rasa sakit.
"Apa yang kalian lihat, bodoh?! Cepat tangkap gadis itu! Seret dia ke kamarku sekarang juga!"
teriaknya pada dua pengawal berbadan kekar yang baru saja tiba di ambang pintu.
“Siap, Bos!”
Kedua pengawal itu langsung merangsek maju, melesat mengejar bayangan Clara yang baru saja menghilang di tikungan koridor.
****
****
Di sisi lain gedung yang sama, kekacauan yang tak kalah mematikan sedang terjadi.
Alexio Van Der Berg melangkah menyusuri lorong VVIP dengan rahang mengetat keras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Pria yang dikenal sebagai penguasa mutlak lingkaran organisasi bawah tanah sekaligus pembisnis berdarah dingin ini berjalan dengan wajah memerah padam.
Napasnya memburu kasar. Sorot mata abu-abunya yang biasanya sedingin es kutub, kini menyiratkan rasa sakit dan panas yang membakar dari dalam pembuluh darahnya.
“Sial … aku kecolongan!” desisnya penuh kemarahan tertahan.
Tangan kekarnya menyibakkan kancing jas mahalnya dengan kasar, merobek kancing kemeja putihnya di bagian atas demi mencari pasokan udara yang rasanya kian menipis.
Dengan jemari yang bergetar menahan gairah mematikan, ia meraih ponselnya untuk memanggil asisten kepercayaannya, Reno.
Namun, layar layar ponselnya hanya menampilkan ikon silang tanpa sinyal. Seseorang telah memblokir sinyal di area ini. Panggilannya gagal total.
“Sialan! Kenapa sinyal mendadak hilang?! Reno, kau di mana?!” geram Alexio tertahan. Kepalanya berdenyut nyeri, pertahanan akal sehat dan kendali dirinya benar-benar berada di ambang batas. Ia mempercepat langkah kakinya yang panjang menuju kamar suite pribadinya.
“Xio! Ternyata kamu ada di sini!”
Sebuah suara wanita yang sengaja dibuat menggoda mendadak terdengar dari arah belakang.
Alexio menghentikan langkahnya, berbalik perlahan dengan tatapan membunuh. Di sana, berjarak beberapa langkah, berdiri Jessie, mantan tunangannya.
Wanita itu mengenakan gaun merah berpotongan sangat rendah, memamerkan lekuk tubuhnya tanpa malu.
“Jessie …” gumam Alexio dengan nada suara yang membekukan udara di sekitarnya.
Mengabaikan peringatan mematikan dari pria itu, Jessie tersenyum penuh kemenangan lalu berjalan mendekat. Ia berusaha melingkarkan tangannya yang berhias kuku merah menyala ke lengan kekar Alexio.
“Aku sangat merindukanmu, tahu? Sudah lama kita tidak bertemu.”
Alexio mendengus sinis, penuh rasa jijik. Ia menepis kasar tangan wanita itu tanpa ragu sedikit pun.
“Hubungan kita sudah usai. Jaga jarakmu dan pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran untuk membunuhmu!” usirnya tanpa ampun sebelum berbalik kembali pergi.
Jessie tak tinggal diam. Ia sudah merencanakan malam ini dengan matang, bersekongkol dengan musuh Alexio untuk menjebak pria ini ke dalam ranjangnya demi mengikat takdir mereka kembali.
“Xio! Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja! Obat itu sudah bekerja, kan? Biarkan aku membantumu melepas rasa panas itu!” seru Jessie tanpa malu, mempercepat langkah mengejarnya dari belakang.
Alexio mengabaikannya total. Ia mengerahkan seluruh sisa daya tahan dan arogansinya untuk tetap berjalan tegak, menyembunyikan fakta bahwa dadanya kian bergemuruh hebat dan pandangannya mulai mengabur.
Namun, takdir memiliki rencana yang jauh lebih gila malam itu.
Tepat saat Alexio membelok di ujung tikungan lorong yang remang, sebuah tangan kecil dan gemetar mendadak mencengkeram pergelangan tangannya yang kokoh.
Sebelum Alexio sempat menepis atau bereaksi, sisa tenaga terakhir dari pemilik tangan kecil itu menarik tubuh besarnya dengan paksa, menyeret sang tiran masuk ke dalam sebuah kamar gelap di sisi lorong, dan detik berikutnya...
Klik!
Pintu otomatis itu terkunci rapat dari dalam. Alexio lenyap seketika, menghilang seolah ditelan udara.
Jessie yang baru saja memutari tikungan terbelalak panik. Napasnya tersengal melihat lorong panjang yang mendadak kosong melompong.
“Sialan! Ke mana dia menghilang?!” geram Jessie kesal, menghentakkan kaki dengan hak tingginya sambil memindai koridor yang tak lagi menyisakan jejak sang penguasa.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Wahhh, Karya Baru Ade, ada lg, Sukses Slalu y ❤️🤗😘
2026-08-23
1
V3
waalaikumsalam ,,, spt nya seru. aku cb baca yaa kak 🤗
2026-08-22
1
Bu Kus
wah kayanya seru dan bagus nih lanjut
2026-08-20
1