Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Cerai Suami, Di Nikahi Tuan Muda

Di Cerai Suami, Di Nikahi Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.

Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.

namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dilara 4

Siang harinya, sebelum resmi menempati kamar barunya di rumah Bu Melani, Dilara menyempatkan diri bertemu dengan Nisa, sahabat dekatnya sejak bangku kuliah. Mereka berjanji bertemu di sebuah kaf.

Di samping meja mereka, berdiri dua koper besar dan beberapa kardus berisi barang-barang pribadi Dilara yang sempat ia kemasi dengan terburu-buru pagi tadi.

Nisa menatap tumpukan koper itu, lalu beralih menatap Dilara yang sedang menyesap teh hangatnya. Dahi Nisa berkerut bingung.

"Ra, ini maksudnya apa?" tanya Nisa heran, menunjuk barang-barang di sebelah mereka. "Kamu mau liburan? Atau... mau ikut Kevin dinas keluar kota? Kenapa barangmu banyak banget sampai bawa kardus segala?"

Dilara meletakkan cangkirnya dengan perlahan. Ia menatap Nisa dengan senyum tipis yang amat tenang, senyum yang justru membuat perasaan Nisa mendadak tidak enak.

"Sa, aku mau minta tolong," ujar Dilara lembut.

"Boleh aku titip barang-barangku ini di rumahmu untuk sementara? Sampai aku dapat tempat yang benar-benar pas nanti."

Nisa makin mengernyit. "Titip? Kenapa harus titip di rumahku, Ra? Rumah kamu dan Kevin kan luas banget. Kenapa barang-barangmu malah dibawa keluar?"

Dilara menghela napas pendek. Ia merapikan ujung hijab kremnya, lalu menatap lurus mata sahabatnya itu.

"Aku dan Mas Kevin akan bercerai, Sa," ucap Dilara tanpa keraguan sedikit pun dalam suaranya.

Nisa membeku. Cangkir kopi yang hampir diangkatnya terhenti di udara, lalu dijatuhkannya kembali ke atas meja hingga menimbulkan denting nyaring.

"Kamu... kamu bercanda kan, Ra?" suara Nisa meninggi, matanya membelalak tak percaya.

"Bercerai?! Ra, kamu itu mencintai Kevin setengah mati! Satu tahun ini kamu berjuang mati-matian buat bikin dia luluh, dan sekarang kamu bilang mau cerai? Siapa yang minta?!"

"Mas Kevin yang minta tadi malam," jawab Dilara dingin namun jujur.

"Dan aku menyetujuinya."

"Pria itu benar-benar sinting!" Nisa menggebrak meja pelan, wajahnya memerah menahan amarah yang meledak.

"Apa alasannya?! Kurang apa kamu selama ini, Ra? Kamu melayani dia seperti raja, kamu sabar menghadapi dinginnya dia, kamu..."

"Asha kembali, Nisa," potong Dilara pelan.

Kalimat pendek itu seketika membungkam amarah Nisa. Tenggorokan Nisa mendadak menyempit. Ia kenal betul siapa Asha dan bagaimana rumitnya masa lalu Kevin dengan wanita itu.

"Asha... mantan pacarnya?" bisik Nisa ragu.

Dilara mengangguk kecil. "Dua minggu ini Asha rajin mengirimkan foto-foto kebersamaan mereka padaku. Dan tadi malam, Mas Kevin sendiri yang bilang ingin mengurus berkas perceraian kami. Semalam Mas Kevin bercerita kalau alasan Asha meninggalkannya karena dia sakit dan berobat ke luar negri,"

"Alasan basi! Lalu kamu diam saja?!" suara Nisa bergetar, kini dipenuhi rasa prihatin dan iba yang mendalam. "Kamu tidak menamparnya? Kamu tidak memarahi wanita itu? Kenapa kamu malah mengalah dan keluar dari rumah itu begitu saja, Dilara?!"

Dilara tersenyum, sebuah senyuman yang menyembunyikan luka yang amat dalam, namun juga memancarkan ketegaran yang luar biasa.

"Untuk apa aku mempertahankan pria yang hatinya tidak pernah ada untukku, Sa?" bisik Dilara pelan, matanya berkaca-kaca namun tidak ada air mata yang jatuh.

"Satu tahun aku menurunkan harga diriku hanya untuk secuil kasih sayang dari Mas Kevin. Tapi ternyata, tempatku memang bukan di sana. Masa lalunya selalu jadi pemenang."

Nisa meraih jemari Dilara yang dingin di atas meja, meremasnya erat-erat.

"Tapi kamu mau tinggal di mana sekarang, Ra? Kembali ke panti aku yakin kamu gak akan ke sana. Kamu mau kos? Kamu punya uang? Kalau tidak ada, pakai uangku..."

"Aku sudah dapat pekerjaan, Sa," potong Dilara lega. "Pagi tadi aku ikutan wawancara dan langsung diterima jadi babysitter mengasuh balita di perumahan elit dekat sini. Gajinya sangat besar dan aku dapat fasilitas kamar tinggal di sana."

"Jadi babysitter?!" Nisa membelalak, dadanya sesak mendengar keputusan sahabatnya.

"Ra, kamu itu lulusan Sarjana Ekonomi cumlaude! Kenapa harus jadi pengasuh anak?"

"Karena aku butuh kepastian tempat tinggal dan pekerjaan halal detik ini juga, Sa," jawab Dilara mantap.

"Aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri tanpa bayang-bayang harta Mas Kevin. Dia menawarkan rumah itu, namun aku tolak. Aku ingin menyembuhkan lukaku dengan caraku."

Nisa menatap Dilara lama. Amarahnya perlahan luluh, berganti dengan rasa kagum dan haru. Ia menggenggam kedua tangan Dilara lebih erat.

"Baiklah..." lirih Nisa dengan mata memerah. "Titipkan barang-barangmu sebanyak apa pun di rumahku, Ra. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu kapan saja. Tapi janji padaku... kamu harus bahagia setelah ini. Dan kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin, kamu tidak sendirian.."

Dilara mengangguk pelan, menyapu sudut matanya yang sedikit basah. "Terima kasih banyak ya, Sa. Terima kasih sudah mau jadi temanku."

Sore harinya, Dilara kembali ke rumah untuk mengemas sisa barang-barangnya sebelum resmi berpindah ke rumah Bu Melani besok pagi. Namun, begitu langkah kakinya menapak masuk, pendengarannya disambut oleh suara denting alat masak dan aroma tumisan dari arah dapur, disusul suara kekeh feminin yang terasa begitu asing.

Dilara menghentikan langkah di ruang tengah. Di sana, di balik meja bar dapur, tampak Asha bergaun merah tanpa lengan sedang sibuk memotong bahan makanan. Sementara Kevin berdiri beberapa langkah di jauhnya dengan raut wajah yang amat tegang dan serba salah.

"Asha, aku sudah bilang berkali-kali, kamu tidak perlu repot-repot seperti ini. Lebih baik kamu pulang sekarang," ujar Kevin dengan suara tertahan, menolak halus apron yang disodorkan Asha.

"Aduh Kev, kamu ini kenapa sih?" potong Asha manja, mengabaikan penolakan itu.

"Aku kan cuma mau masakin kamu makan malam. Kamu pasti capek, lagipula sebentar lagi kamu kan bakal bebas dari..."

Kalimat Asha terhenti saat manik matanya menangkap sosok Dilara yang berdiri di ruang tengah, Kevin yang menyadari arah tatap Asha ikut menoleh. Seketika, raut wajah pria itu berubah pucat pasi.

"Dilara..." bisik Kevin parau. Ia langsung menjauh dari area dapur, melangkah cepat menghampiri istrinya.

Asha menyilangkan tangan di dada, melemparkan senyum tipis yang sarat akan nada kemenangan.

"Oh, halo Dilara. Maaf ya, aku datang tiba-tiba. Aku cuma kasihan melihat Kevin yang kelihatan lelah, jadi aku inisiatif mau masakin dia. Kamu nggak marah kan?"

Dilara menatap pemandangan itu. Satu tahun ia berjuang di dapur tersebut, mengabaikan rasa lelahnya demi menyajikan makanan hangat untuk suami yang tak pernah menganggapnya ada. Kini, Asha bahkan sudah bertindak seolah dialah pemilik rumah ini.

Namun, tidak ada ledakan emosi di wajah Dilara. Ia hanya menghela napas pendek dan menatap mereka berdua dengan raut datar.

"Tidak apa-apa, Mbak Asha. Silakan dilanjutkan," jawab Dilara pelan. Ia beralih menatap Kevin.

"Mas, aku masuk ke kamar dulu untuk membereskan sisa barang-barangku."

"Dilara, tunggu!" Kevin menahan lengan kemeja Dilara, matanya menyiratkan kepanikan yang luar biasa.

"Ini bukan kemauanku. Aku tidak pernah meminta Asha datang atau memasak di sini. Tolong dengarkan aku..."

"Mas Kevin," potong Dilara halus sembari melepaskan pegangan tangan Kevin dari lengannya.

"Kamu tidak perlu merasa bersalah atau menjelaskan apa pun padaku. Permisi, aku mau ke kamar."

Tanpa menunggu balasan lagi, Dilara melangkah menuju kamar utama, meninggalkan area dapur.

Kevin mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa malu, bersalah, dan amarah membakar dadanya sekaligus. Ia memutar tubuhnya dan menatap Asha dengan tatapan paling tajam yang pernah wanita itu lihat.

"Pulang, Asha," bentak Kevin dengan suara berat dan penuh penekanan.

Asha terperanjat, matanya membelalak tak percaya. "Kev? Kamu membentakku cuma gara-gara wanita itu? Kalian kan mau cerai!"

"Aku bilang PULANG!" tegas Kevin tanpa kompromi.

"Kita bicara lagi nanti... Tolong, saat ini Dilara masih istriku, makanya aku melarang kamu datang ke sini dulu... Aku pesankan taxi..."

Asha menghentakkan kakinya kesal, menyambar tas mewahnya dari atas meja bar, lalu pergi meninggalkan rumah dengan pintu yang dibanting keras.

Keheningan melingkupi rumah besar itu. Kevin berjalan perlahan menuju depan kamar utama. Pintu kamar terbuka sedikit. Di dalam, ia melihat Dilara sedang melipat sisa pakaiannya satu per satu dengan tenang, memasukkannya ke dalam koper tanpa sedikit pun derai air mata.

Ketenangan Dilara di tengah kehancuran ini justru membuat dada Kevin terasa makin hampa dan sesak, menyadari bahwa ia telah benar-benar kehilangan wanita yang pernah mencintainya tulus.

1
𝐃ITA💋𝐀𝐍𝐍𝐈𝐕⑤🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
ditunggu kelanjutan nya kak❣️
𝐃ITA💋𝐀𝐍𝐍𝐈𝐕⑤🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
udah aku kasi 10 ☕☕☕ ya kak😎
Rarik Srihastuty
batalin aja dah Kevin, kamu menduda aja.mungjin suatu saat km dapat jodoh lain dari author. daripada nikah sama asha makan hati, lebih baik kamu larut dalam penyesalan dan memperbaiki diri menjadi lebih baik
nely_48
ak loh curiga klau Asha lg hamidun, makanya maksa kevin untuk cpet² menikahinya, trs soal mahar yg fantastis itu adalah langkah aman untuk nguras habis harta kevin
nely_48
jantungan ga tuh s kevin pas baca daftar mahar yg d minta ibu nya Asha,,, lagian calon ibu mertua searogan itu main bentak n nekan kevin,, tah kev km mikir lah d situ,, ortu kandung km az menyayangi km dgn tulus n ga pernah berkata kasar apalagi nada tinggi loh,,, gila az kevin mau masuk k keluarga toxic
Ambu Rinddiany Thea
belum apa2 udh d teror kaya ma depkolektor s kevin mah , apalagi ntar udh nikah amsiong ga tuh
Lee Mba Young
semoga ortu Kevin lbih Tegas lagi. cabut saja semua fasilitas kl mau nikah megah suruh usaha sendiri tanpa bantuan ortu nya. yakin Asha masih mau 🤣.
Oma Gavin
semoga ortu nya Kevin menolak punya menantu asha dan pernikahan batal cabut semua fasilitas dan jabatan di perusahaan aku jamin asha kabor setelah tau kevin kere
Fitria Syafei
rasaiin kau Kevin mentok kesana kemari . pilih ntuh si ratu lebah Asha yg lebih menarik dari Dilara 😏 KK cantik kereen 😍 terimakasih 😍
Talnis Marsy
Kevin ....KLO kamu sampai nurutin Asha..otak kamu kemakan ayam bearti....
ryuka
kevin kevin.. kamu bodoh bgt sih klo masih mau lanjutt
Oma Gavin
rasakan kamu kevin cuma diporotin asha saja sama keluarga nya semoga ortu mu menolak mentah" dan pernikahan batal terbongkar manipulasi asha tentang sakitnya
Mundri Astuti
oi Kevin blegug...dah liat kan babang tamvan elian...calonnya dilara tuh kerennn kan 😄.

nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛
nely_48
turuti az sih kev apa yg d inginkan Asha, kan semua jg keinginan mu mau bahagia bersama Asha mu itu
nely_48
thank's elian km udh melindungi n membela dilara d depan mata kevin
Fitria Syafei
hadeh Kevin..Kevin...ngaca..deh terlambat tauu dan kemana ajee baru nyadar kalau Dirara jauh berbeda dari nenek sihir ntuh 😏 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Masha 235
harusnya jgn adik prempuan Thor...saudara prempuan gt,itu bisa merujuk adik/KK prempuan..
𝐃ITA💋𝐀𝐍𝐍𝐈𝐕⑤🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Udah aku kopi manis ☕ kak.. 😎
❥␠⃝ ͭ🍁Amalia💋❣️
nama nya kebalik balik kak
Ambu Rinddiany Thea
aneh pikiran s kevin mah nyasar kamana karep , tau klo liat s elian ganteng membahanaaaaa hahhahaha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!