Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Keriuhan khas sore hari di toko kue Lumina Bakehouse perlahan meredup seiring matahari yang makin tenggelam di ufuk barat. Di dalam ruang kerjanya yang berdinding kaca, Alana mengoleskan lipstik berwarna merah mawar ke bibirnya yang pucat. Dia menatap lekat pantulan dirinya di cermin meja rias portabel. Bintik-bintik lelah di sekitar matanya tertutup rapi oleh riasan tebal, namun redup di manik matanya sama sekali tak bisa disembunyikan.
"Mbak Alana beneran mau ikut makan malam keluarga?" suara Maya memecah keheningan ruangan. Maya berdiri di dekat pintu membawa segelas air hangat dan kapsul racikan obat lambung. "Mbak baru dua hari keluar dari rumah sakit. Muka Mbak masih pucat banget, lho."
Alana menerima gelas tersebut, lalu menelan obatnya tanpa ragu. Dia mengulas senyum tipis. "Makan malam di rumah Mama mertua itu bukan pilihan, Maya. Itu kewajiban. Kalau aku tidak datang, nanti Mas Gema bilang apa? Mama juga bakal kepikiran."
Maya menghela napas panjang, tatapannya dipenuhi rasa kasihan yang mendalam. "Tapi Mbak jangan paksain diri ya. Pak Gema itu bener-bener nggak tahu diri. Harusnya dia yang antar-jemput Mbak, bukannya biarin Mbak berangkat sendiri begini."
"Aku yang minta berangkat sendiri," potong Alana lembut, namun keteguhan dalam suaranya tak bisa dibantah. "Lagipula, berdiri di atas kaki sendiri jauh lebih aman daripada terus berharap tumpuan dari orang lain yang selalu bikin kita jatuh."
Maya terdiam, menyadari betapa dalam luka yang telah mengubah cara pandang majikan sekaligus sahabatnya itu. Alana yang dulu selalu mengalah dan memaklumi segala sikap dingin suaminya, kini telah berubah menjadi sosok yang terlapisi pelindung baja dingin, formal, dan tak lagi bisa disentuh oleh penolakan.
Setengah jam kemudian, mobil sedan hitam yang dikemudikan Pak Mamat telah membelah jalanan kota yang padat, membawa Alana menuju kediaman megah milik keluarga besar Gema di kawasan perumahan elit.
Rumah bergaya kolonial modern itu sudah tampak riuh saat Alana melangkah masuk. Gelak tawa hangat terdengar dari arah ruang keluarga. Di sana, Mama ibu kandung Gema sedang memangku Tania seraya membacakan buku cerita. Sementara Gema duduk di sofa tunggal dengan kemeja bersih yang tampak segar, mengobrol santai bersama adik perempuannya, Risa.
Kehadiran Alana di ambang pintu seketika menyedot perhatian.
"Bunda!" seru Tania gembira. Bocah kecil itu turun dari pangkuan neneknya dan langsung berlari menghampiri Alana.
Alana berlutut menyamai tinggi badan Tania, merangkulnya erat, lalu berdiri melangkah mendekati sang ibu mertua. Dia mengulurkan tangan, mencium punggung tangan wanita tua itu dengan sikap santun yang amat terlatih.
"Alana, akhirnya kamu datang juga, Nak," panggil Mama dengan senyum hangat, menepuk pelan lengan Alana. Namun, raut wajah wanita tua itu mendadak berubah saat memperhatikan wajah menantunya dari dekat. "Lho... kamu kok kelihatan kurusan dan pucat begini, Alana? Kamu sakit?"
Pertanyaan itu membuat ruang keluarga mendadak hening. Gema, yang tadinya sedang menyesap cangkir tehnya, menghentikan gerakannya seketika. Pandangan matanya tertuju lurus pada Alana, menanti jawaban apa yang akan keluar dari bibir istrinya di depan sang Mama.
Alana mengulas senyum paling sempurna sebuah senyuman hangat yang telah dia latih di depan cermin berulang kali demi menjaga martabatnya.
"Hanya kelelahan sedikit, Ma," jawab Alana tenang dan penuh wibawa. "Beberapa hari ini toko kue sedang penuh pesanan katering untuk acara pernikahan. Jadi Alana agak kurang istirahat."
"Tuh kan, Ma! Risa bilang juga apa," sela Risa, adik Gema, dengan nada ketus yang biasa. Risa menatap Alana dari atas ke bawah dengan pandangan menilai. "Mbak Alana itu beda banget sama almarhumah Mbak Kirana dulu. Dulu almarhumah Mbak Kirana itu keibuan banget, selalu fokus mengurus Mas Gema dan rumah tangga, tidak pernah keluyuran cari kesibukan sendiri. Harusnya Mbak Alana contoh almarhumah kakaknya sendiri, bukannya sibuk sok karier di luar sampai mukanya kusam dan menyusahkan Mas Gema begini."
Kalimat Risa terasa sangat menyengat, membandingkan Alana secara langsung dengan almarhumah kakak kandungnya sendiri sosok yang selama enam tahun ini selalu menjadi bayang-bayang dalam pernikahannya.
Dahulu, jika Risa membandingkannya dengan Mbak Kirana, Alana akan langsung menundukkan kepala, merasa kerdil, meminta maaf karena menganggap dirinya tidak pernah cukup baik, atau melirik ke arah Gema berharap suaminya memberi pembelaan sedikit saja.
Namun malam ini, reaksi Alana sungguh di luar dugaan semua orang.
Alana tidak menunduk sedikit pun. Dia tetap berdiri tegak, menatap Risa dengan senyuman yang sangat sopan namun memancarkan aura dingin yang tak tergoyahkan.
"Terima kasih atas nasihatnya, Risa," tutur Alana halus, suaranya terdengar begitu elegan tanpa ada nada emosi. "Almarhumah Mbak Kirana memang wanita yang luar biasa dan tidak akan pernah tergantikan. Tapi saya adalah Alana, bukan almarhumah. Saya punya cara sendiri untuk menjalani hidup dan tanggung jawab saya. Lagipula, Mas Gema sendiri tidak pernah keberatan dengan kegiatan saya, jadi saya rasa Risa tidak perlu terlalu pusing memikirkannya."
Risa melongo, terkejut mendengar balasan lurus dan menohok dari kakak iparnya yang biasanya selalu diam dan pasrah. Risa menoleh ke arah Gema, berharap kakaknya menegur Alana, namun Gema justru tertegun membisu di sofanya.
Gema menatap Alana dengan rasa bergejolak yang aneh. Jawaban Alana di depan Risa dan mamanya sungguh tertata dan bermartabat, namun di saat yang sama, Gema bisa merasakan betapa tebalnya benteng pertahanan yang membentang di sekitar diri Alana. Wanita itu tidak lagi mencari perlindungan atau pembelaan padanya.
"Sudah, sudah... Risa, kamu ini kalau bicara tidak boleh asal begitu," tegur Mama lembut memecah ketegangan. "Alana itu wanita mandiri dan bertanggung jawab. Toko kuenya sangat sukses dan Mama bangga sama Alana. Ya sudah, ayo kita ke meja makan, makanan sudah siap semua."
Sesi makan malam berlangsung riuh dengan percakapan keluarga. Mama banyak bertanya pada Tania tentang sekolahnya, sementara Risa dan Gema sesekali mendiskusikan bisnis keluarga.
Alana duduk di samping Gema, menjalankan perannya dengan sangat efisien. Dia menyendokkan nasi untuk Mama, mengambilkan lauk untuk Tania, dan bersikap sangat sopan pada siapa pun yang mengajak ngobrol. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, Alana hampir tidak pernah menginisiasi obrolan dengan Gema. Bahkan ketika Gema meminta tolong disodorkan mangkuk sup, Alana menyerahkannya tanpa sedikit pun kontak mata atau sentuhan jemari seperti yang biasa dilakukannya.
Di tengah-tengah makan malam, Mama mendadak teringat sesuatu.
"Oh iya, Gema, Alana..." panggil Mama seraya meletakkan sendoknya. "Bulan depan kan peringatan tahunan meninggalnya almarhumah Kirana... Mama rencananya mau mengadakan pengajian besar di rumah ini. Alana, Mama minta tolong kamu yang pegang urusan konsumsi dan pesanan kue-kuenya ya?"
Permintaan itu seperti sembilu yang menyayat luka lama di dada Alana. Mengingat almarhumah kakaknya selalu membawa ingatan pada bagaimana awal mula pernikahan tanpa cintanya dimulai.
Sebelum Alana sempat menjawab, Gema menyela terlebih dahulu.
"Jangan, Ma," ujar Gema tegas, memotong pembicaraan. "Urusan konsumsi pengajian biar diserahkan ke katering langganan Mama saja. Alana tidak usah diganggu."
Mama mengerutkan kening. "Kenapa, Gema? Dulu waktu acara tahunan juga Alana yang urus dan kuenya selalu dipuji tamu-tamu..."
Gema melirik Alana dari samping. Ada rasa bersalah yang tersembunyi di balik tatapan tegas pria itu. "Alana sedang tidak fit, Ma. Saya tidak mau dia terlalu lelah."
Pengakuan tersembunyi dari Gema bahwa Alana sedang tidak sehat membuat Mama menatap menantunya dengan raut cemas kembali. Risa hanya mendengus pelan, sementara Alana tetap mempertahankan ekspresi datarnya.
Alana menoleh pelan ke arah Gema. Dalam hati, dia tahu bahwa Gema melarangnya bukan murni karena rasa sayang atau khawatir, melainkan karena rasa cemas bahwa Alana akan tumbang lagi dan memicu drama baru.
"Terima kasih atas pengertiannya, Mas Gema," ucap Alana singkat, nada suaranya begitu datar dan tanpa kehangatan, seolah mengucapkan terima kasih kepada seorang rekan bisnis. "Saya ikut keputusan Mas saja."
Gema mengepalkan tangannya di balik meja makan. Rasa dingin dari ucapan Alana bagaikan jarum yang menancap halus di ulu hatinya. Tidak ada binar bahagia di mata Alana saat Gema mencoba 'melindunginya' di depan Mama. Dulu, perhatian sekecil ini dari Gema akan membuat mata Alana berbinar penuh rasa syukur. Kini? Alana meresponsnya seperti sebuah formalitas yang tak berarti.
Setelah acara makan malam selesai dan pamitan, mereka bertiga berjalan menuju area parkir depan kediaman Mama. Malam semakin larut dan angin dingin berembus cukup kencang.
Gema melangkah mendekati Alana yang sedang menggandeng tangan Tania. Pak Mamat sudah bersiap di sebelah mobil sedan hitam milik Alana.
"Alana," panggil Gema berat.
Alana menghentikan langkahnya, memutar badan menatap Gema. "Iya, Mas?"
"Kamu... pulang naik mobil sama saya dan Tania," ujar Gema, menyuarakan perintah yang kali ini terdengar seperti sebuah permohonan terselubung. "Pak Mamat biarkan bawa mobilmu sendirian di belakang. Kita pulang satu mobil."
Alana menatap suaminya sejenak. Dulu, tawaran pulang satu mobil seperti ini adalah impian terbesarnya. Alana pernah menangis hanya karena Gema meninggalkannya di rumah Mama dan menyuruhnya pulang sendiri dengan sopir. Namun malam ini, saat penawaran itu akhirnya datang, hati Alana telah terlanjur mati rasa.
"Tidak perlu merepotkan diri, Mas," jawab Alana sangat tenang. "Tania sudah mengantuk, biar dia ikut di mobil Mas Gema agar bisa tidur nyaman di kursi belakang. Saya akan pulang naik mobil saya sendiri bersama Pak Mamat. Ada beberapa berkas toko yang harus saya periksa di jalan."
Gema membeku di tempatnya. "Alana, saya cuma minta kita pulang bersama..."
"Saya tidak mau mengganggu kenyamanan Mas," potong Alana sehalus mungkin, namun sangat telak. "Lagi pula, jalan menuju rumah kan sama saja. Mas berangkat duluan saja."
Tanpa menunggu balasan dari Gema, Alana membungkuk dan mengecup pipi Tania yang mulai terkantuk-kantuk. "Tania naik mobil sama Ayah ya, Sayang. Bunda di mobil sebelah."
"Iya, Bunda..." cicit Tania lemas.
Alana berdiri, memberikan anggukan sopan yang sangat berjarak pada Gema, lalu melangkah menuju pintu mobilnya sendiri. Pak Mamat membukakan pintu, dan Alana masuk ke dalam sedan hitam itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Mobil sedan hitam itu perlahan bergerak membelah kegelapan malam, meninggalkan Gema yang berdiri mematung di samping mobil mewahnya. Pria itu menatap lampu belakang mobil Alana yang makin menjauh dan menghilang di belokan jalan.
Dada Gema terasa tertekan oleh bobot keheningan yang sangat berat. Angin malam yang berembus tidak sesedikit pun sebanding dengan rasa dingin yang menjalar di dalam sanubarinya. Untuk pertama kalinya, Gema menyadari sebuah kenyataan yang menakutkan Alana tidak sedang marah atau merajuk padanya. Alana telah benar-benar berhenti peduli, dan pintu hati wanita itu kini telah terkunci rapat dari luar.
kabur sekalian kluar pulau, buka hidup baru. Tania Ada bpk nya ngapain di pikirin.
sebenere yg buat sulit itu bukan melupan Tania tp Alana yg bucin ma Gema mkne gk bisa pergi jauh, di siksa taunan mau mau saja. alasan Tania.
kl niat pergi luar pulau naik kapal biar gk di lacak. mobil di jual. trus nnti buka toko lagi tmpat lain. itu br Jos gandos.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅