Indonesia
NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Terdesak

Udara di dalam ruang keluarga utama kediaman keluarga Thorne terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan berlapis marmer itu mendadak menipis. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi memantulkan cahaya kemerahan dari perapian menyala, menyinari ketegangan luar biasa di antara tiga orang manusia yang terjebak dalam pusaran emosi masing-masing.

Victor berdiri tegak dengan postur tubuh kaku, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana bahan berpotongan sempurna. Wajahnya sedingin es, mencerminkan ketidakpedulian mutlak pada badai yang sedang berkecamuk di hadapannya. Di seberangnya, Nyonya Valen Thorne berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah. Wanita paruh baya itu mencengkeram erat sandaran sofa beludru hijau zamrud, matanya menatap tajam putra tunggalnya dengan kilat kemurkaan yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Dan di sudut ruangan, duduk dengan senyuman kemenangan yang tertahan di balik cangkir porselennya, Annelise menyaksikan pertunjukan itu layaknya seorang penonton bangsawan di kursi kehormatan teater opera.

"Berani sekali kau, Victor!" suara Valen memecah kesunyian, bergetar hebat karena amarah yang tak lagi sanggup ia bendung. "Setelah semua fasilitas, nama besar, dan kehormatan yang keluarga ini berikan kepadamu, kau justru mempermalukan kami dengan memelihara seorang wanita rendahan di sebuah penthouse tersembunyi?!"

Victor tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan, menghembuskannya dengan angkuh, lalu melirik sekilas ke arah Annelise yang pura-pura menunduk sedih. Victor tahu persis siapa dalang di balik kemarahan sang ibu hari ini.

"Aku tidak sedang memelihara siapa pun, Mami," jawab Victor dengan suara bariton yang rendah, tenang, namun penuh penekanan dingin. "Freya tinggal di sana atas persetujuanku. Dan hidupku adalah urusanku sendiri, bukan konsumsi publik atau bahan gosip keluarga."

"Ini adalah masalah keluarga Thorne!" bentak Valen, suaranya menggema memantul di dinding-dinding ruangan yang dihiasi lukisan minyak era klasik. "Kau adalah penerus tunggal imperium bisnis kita! Seluruh dewan direksi, seluruh relasi elit Amsterdam, dan garis keturunan kita bertaruh pada masa depanmu. Dan kau memilih mempertaruhkan semuanya demi seorang mahasiswi miskin yang hanya mengincar hartamu?!"

Mendengar tuduhan itu, rahang Victor mengeras tajam. Kilatan kemarahan akhirnya lolos dari mata birunya. "Jangan pernah menyamakan Freya dengan wanita-wanita haus harta yang Mami kenal di dalam lingkaran sosial Mami! Dia tidak meminta apapun dariku!"

Annelise yang merasa posisinya harus diperkuat, mengangkat wajahnya dengan ekspresi paling rapuh yang bisa ia tampilkan. Ia meletakkan cangkirnya perlahan ke atas meja, lalu berdiri menghampiri Valen, menyentuh lengan wanita tua itu dengan lembut.

"Bibi Valen, tenangkan diri Bibi... Jangan sampai kesehatan Bibi memburuk karena hal ini," ucap Annelise dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut penuh kepedulian. Ia kemudian menoleh ke arah Victor, memasang ekspresi penuh luka. "Victor, kumohon... Sadarlah. Apa yang kau lakukan ini salah. Aku hanya tidak ingin kau menyesal di kemudian hari karena membuang masa depanmu demi gadis seperti dia."

Victor menatap Annelise dengan tatapan yang mampu membekukan darah siapapun di ruangan itu. Senyum sinis terukir tipis di sudut bibirnya. "Kau tidak perlu berpura-pura menjadi malaikat penolong di sini, Annelise. Aku tahu betul apa permainan busukmu."

Valen menepis tangan Annelise pelan, lalu maju beberapa langkah mendekati putranya. Wanita itu menatap Victor dengan tatapan kecewa bercampur amarah yang mendalam. Selama puluhan tahun hidup berdampingan, Valen selalu memegang kendali penuh atas hidup Victor, dan penolakan mentah-mentah kali ini adalah sebuah pukulan telak baginya.

"Cukup, Victor!" sergah Valen dengan suara final yang tidak bisa dibantah. "Aku sudah mendengarkan cukup banyak alasan omong kosong darimu. Sebagai ibumu, dan sebagai kepala kehormatan keluarga Thorne, aku tidak akan tinggal diam membiarkan skandal murahan ini menghancurkan reputasi kita."

Victor menyipitkan matanya. "Apa maksud Mami?"

"Hari ini juga, aku mengambil alih situasi ini," tegas Valen, dagunya terangkat tinggi. "Aku sudah menghubungi orang tua Annelise. Minggu depan, kita akan mengadakan jamuan makan malam keluarga besar di kediaman ini. Keluarga Thorne dan keluarga Van Der Bilt akan duduk bersama."

Annelise yang mendengar hal itu nyaris tidak bisa menyembunyikan binar kebahagiaan di matanya. Rencananya berjalan seratus persen sesuai jalur.

"Makan malam keluarga?" Victor mendengkus dingin. "Jangan buang-buang waktu Mami dan keluarga Van Der Bilt. Aku tidak akan datang."

"Kau harus datang!" Valen menaikkan nada suaranya, mencengkeram tongkat hias di sampingnya dengan erat. "Dan di malam jamuan itu, kita akan mengumumkan pertunangan resmi antara kau dan Annelise! Keputusanku sudah bulat, Victor. Tidak ada ruang untuk membantah!"

Suasana di ruangan itu mendadak membeku. Annelise menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum kemenangan yang mengembang lebar di bibirnya. Perangkap besar telah dipasang, dan menurut Valen, tidak ada jalan keluar bagi Victor untuk melepaskan diri.

Namun, Victor justru tertawa kecil—sebuah tawa hambar yang terdengar mengerikan. Ia melangkah mendekati pintu keluar, menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh ke belakang menatap sang ibu dan Annelise bergantian dengan tatapan setajam pisau bedah.

"Mami boleh merencanakan jamuan makan malam itu sesuka Mami," ucap Victor dengan suara dingin yang mencengkeram sukma. "Mami boleh mengundang seluruh petinggi kota Amsterdam, dan Mami boleh mendudukkan Annelise di kursi kehormatan. Tapi ingat satu hal... aku tidak akan pernah memberikan apa yang Mami inginkan."

Tanpa menunggu balasan dari sang ibu, Victor memutar tubuhnya dan melangkah keluar ruangan, membanting pintu utama rumah besar itu hingga suaranya bergemuruh ke seluruh penjuru rumah, meninggalkan Valen yang tertegun marah dan Annelise yang mendadak merasa cemas di balik senyum kemenangannya.

Hari yang dinanti-nantikan pun tiba. Langit Amsterdam tertutup awan mendung kelabu, seolah merefleksikan ketegangan yang menyelimuti halaman luas kediaman utama keluarga Thorne. Puluhan mobil mewah berderet rapi di pelataran parkir. Para pengawal berjas hitam berjaga di setiap sudut koridor, memastikan keamanan acara tertutup antara dua keluarga elit tersebut berjalan tanpa cela.

Di ruang makan utama, meja panjang berbalut taplak linen putih bermotif sulaman emas tampak berkilau diterpa cahaya lampu kristal. Berbagai hidangan mahal tertata rapi di atas piring perak murni. Di ujung meja, Nyonya Valen duduk dengan anggun mengenakan gaun malam beludru hitam berhias bros berlian tua, menyambut Tuan dan Nyonya Van Der Bilt yang duduk di sebelah kanannya.

Sementara itu, Annelise duduk tepat di kursi sebelah kiri—kursi yang seharusnya menjadi tempat kehormatan bagi nyonya rumah atau pasangan sang pewaris. Annelise tampak luar biasa memukau dalam balutan dress malam emerald green berpotongan off-shoulder, rambut pirangnya ditata ke atas dengan gaya klasik bangsawan Eropa.

"Victor benar-benar anak yang sibuk, Valen," ucap Tuan Van Der Bilt sambil menyesap anggur merah mahalnya dengan santai. "Hingga hidangan pembuka habis disajikan, batang hidungnya bahkan belum kelihatan."

Valen tersenyum kaku, berusaha menutupi rasa malu yang mulai merayap di dadanya. Ia melirik arloji berlian di pergelangan tangannya. Sudah lewat dari waktu yang ditentukan. Ponsel Victor pun tidak bisa dihubungi sejak tadi sore.

"Ah, kau tahu sendiri bagaimana kesibukan direktur utama Thorne Enterprises, Edward," jawab Valen beralasan dengan suara tertahan. "Victor pasti sedang dalam perjalanan. Dia tidak mungkin melewatkan acara penting keluarga ini."

Tepat pada detik itu, pintu kayu mahoni besar di ujung ruang makan terbuka lebar.

Semua pasang mata di meja makan serentak menoleh. Sosok Victor Thorne melangkah masuk dengan langkah tenang namun pasti. Pria itu mengenakan jas tuxedo hitam pas badan, dasi kupu-kupu yang sedikit longgar, serta sorot mata dingin yang langsung mencairkan kehangatan ruangan dalam sekejap.

"Maaf aku terlambat," ucap Victor datar, suaranya menggema di ruangan yang sunyi. Tanpa menunggu dipersilakan, ia langsung berjalan ke kursi utamanya di ujung meja yang lain, tepat berhadapan langsung dengan posisi duduk Annelise.

Valen menghela napas lega bercampur kesal. "Akhirnya kau datang juga, Victor. Duduklah. Acara inti makan malam ini akan segera kita mulai setelah hidangan utama disajikan."

Victor menarik kursinya sendiri, duduk dengan postur santai namun penuh wibawa. Ia melirik sekilas ke arah piring di hadapannya, lalu mengangkat wajahnya menatap satu persatu orang di meja itu—mulai dari kedua orang tua Annelise, ibunya sendiri, hingga berhenti pada Annelise yang kini menatapnya dengan binar penuh harap.

"Sebelum hidangan utama disajikan, Mami," suara Victor memecah keheningan dengan nada yang begitu tenang, namun sukses membuat seluruh orang di meja itu menegang. "Kurang elok rasanya jika kita membicarakan sesuatu yang besar di atas asumsi yang keliru. Terutama mengenai masa depan yang tidak pernah ada."

Valen mengerutkan keningnya, firasat buruk tiba-tiba menghantam dadanya. "Victor, jaga ucapanmu di hadapan tamu kehormatan."

Victor tidak mengindahkan peringatan ibunya. Ia menautkan kedua tangannya di atas meja, menatap lurus ke arah Tuan dan Nyonya Van Der Bilt dengan ekspresi tanpa beban.

"Aku sangat menghormati keluarga Van Der Bilt," Victor memulai dengan nada sopan namun menusuk. "Kerjasama bisnis dan hubungan baik di antara keluarga kita telah terjalin selama bertahun-tahun dengan sangat baik. Dan karena itulah, aku merasa berhak untuk bersikap jujur malam ini agar tidak ada waktu yang terbuang sia-sia bagi siapapun di ruangan ini."

Annelise mulai merasa ada yang tidak beres. Senyuman di wajahnya memudar perlahan, digantikan oleh rasa cemas yang mencengkeram tenggorokannya. Ia menggelengkan kepala pelan ke arah Victor, seolah memohon agar pria itu menghentikan kata-katanya.

Namun Victor mengabaikannya sepenuhnya.

"Mengenai desakan Mami tentang perjodohan, atau rencana pengumuman pertunangan yang mungkin sedang disiapkan di kepala kalian..." Victor melirik sekilas ke arah ibunya yang kini mengepalkan tangan di atas meja. "...aku ingin menegaskan satu hal secara tersirat maupun tersurat."

Suasana di ruang makan itu menjadi begitu senyap hingga suara api yang berderak di perapian terdengar sangat nyaring.

"Tidak ada masa depan di antara aku dan Annelise," lanjut Victor dengan suara tegas, dingin, dan mutlak. "Hari ini, esok, maupun selamanya, hati dan hidupku tidak pernah berada di jalur yang sama dengan wanita dari keluarga Van Der Bilt."

Brak!

Valen menggebrak meja makan dengan keras, membuat gelas-gelas kristal berdenting nyaring. Wajah wanita tua itu pucat pasi karena kemarahan yang meluap hingga ke ubun-ubun.

"Victor Thorne! Berani sekali kau mempermalukan keluarga kita di depan tamu terhormat?!" bentak Valen dengan suara parau penuh amarah.

Nyonya Van Der Bilt tampak terkejut, wajahnya memerah menahan malu atas penghinaan terbuka yang baru saja dilontarkan oleh Victor terhadap putri mereka. Sementara Annelise—wanita yang sejak awal merancang seluruh intrik licik ini—menunduk dalam-dalam. Air mata kekecewaan dan rasa malu yang luar biasa tumpah membasahi pipinya. Seluruh rencana besar yang ia bangun runtuh berkeping-keping dalam hitungan detik.

Victor berdiri dari kursinya dengan tenang, merapikan jasnya sekilas tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.

"Aku datang memenuhi undangan makan malam Mami hanya untuk memperjelas batas garis hidupku," ucap Victor dingin seraya menatap sang ibu untuk terakhir kalinya malam itu. "Silakan lanjutkan makan malam kalian dengan keluarga Van Der Bilt. Aku memiliki urusan yang jauh lebih penting untuk diselesaikan."

Tanpa menunggu persetujuan siapapun, Victor berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan megah tersebut. Meninggalkan gema kemarahan Valen, isak tangis tertahan Annelise, dan sebuah pernyataan mutlak yang memastikan bahwa perang terbuka antara Victor, keluarganya, dan Annelise kini telah resmi dimulai tanpa ada jalan untuk kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!