Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Apakah kamu mengenalnya?" tanya Sasi lirih. Matanya yang sembap menatap tajam ke arah Adrian, mencari kejujuran di balik raut wajah suaminya yang mendadak berubah pucat pasi.
"I-iya," bisik Adrian, tenggorokannya mendadak terasa kering. Napasnya terengah saat membayangkan nama itu berputar di kepalanya.
Sasi menghela napas panjang yang parau. Dengan suara bergetar dan tatapan menerawang ke langit-langit kamar, Sasi menceritakan secara jujur bagaimana ia pertama kali mengenal Hendrik tiga bulan lalu.
Kala itu, Sasi sedang berada di titik terendah dalam hidupnya, berjuang sendirian memenuhi kebutuhan hidup setelah kehilangan pekerjaan lamanya.
Hendrik muncul seperti sosok "penolong" yang ramah, hangat, dan sangat perhatian.
Pria itu kerap datang ke tempat Sasi mencari kerja, menawarkan bantuan tanpa pamit, membelikan makanan, hingga mendengarkan keluh kesahnya dengan raut empati yang sempurna.
Sikap manis dan kedewasaan palsu Hendrik berhasil mengikis benteng pertahanan Sasi, membuat wanita polos itu percaya bahwa Hendrik adalah pria baik-baik yang dikirim Tuhan untuk membantunya—sebelum akhirnya topeng iblis pria itu terbuka di malam kelam yang menghancurkan seluruh masa depannya.
Mendengar cerita Sasi, dada Adrian makin bergemuruh hebat.
Penyesalan, rasa cemas, dan kenangan masa lalu beradu liar di pikirannya.
Dengan suara berat, Adrian mengungkapkan fakta mengejutkan yang ia ketahui dari mulut Fitria sebelum mereka menikah dulu.
Bahwa Hendrik bukanlah orang asing—pria jahanam bernama Hendrik Prasetyo itu adalah mantan kekasih Fitria yang pernah menjalin hubungan asmara cukup lama di masa lalu.
Mata Sasi membelalak sempurna. Udara di sekitar mereka mendadak terasa membeku.
Potongan-potongan teka-teki jahat yang selama ini membayangi hidupnya seketika menyatu di dalam benak Sasi, membentuk kenyataan mengerikan yang memunculkan prasangka terburuknya.
"Apa, semua ini ulah istrimu?" bisik Sasi dengan nada bergetar hebat, air matanya kembali meluncur deras.
"Apa, Fitria yang merencanakan semuanya untuk menjebakku melalui Hendrik?!"
Adrian shock berat. Rasa terkejut yang luar biasa menghantam kesadarannya hingga ia menggelengkan kepalanya secara refleks.
Tubuhnya kaku, menolak keras mempercayai bahwa Fitria—istri pertamanya yang selama ini terlihat lembut, anggun, dan tampak sebagai pihak yang paling dikasihani dalam pernikahan poligami ini—sanggup melakukan kejahatan sekeji dan senoda itu.
"Tidak mungkin, Sasi." Adrian berdalih dengan suara bergetar, mencoba meyakinkan Sasi dan dirinya sendiri bahwa tuduhan itu terlalu liar.
"Fitria tidak sejahat itu. Jangan menuduhnya sembarangan hanya karena emosi."
Adrian memegang tepi ranjang, menatap Sasi dengan pandangan memohon agar wanita itu menarik ucapannya.
"Dia yang memintaku agar menikahimu, Sasi. Dia sendiri yang memohon padaku untuk menjadikanku istrimu karena dia tidak mempunyai rahim dan ingin kita punya keturunan. Tidak mungkin Fitria tega merencanakan hal sekejam itu padamu!"
Mendengar pembelaan Adrian yang begitu keras untuk Fitria, tawa sumbang yang parau mendadak keluar dari bibir Sasi.
Tawa yang penuh dengan kepahitan, rasa mual, dan keputusasaan yang meluap.
"Kamu benar-benar buta, Adrian." bisik Sasi dengan tatapan tajam yang menghunus tepat ke bola mata suaminya.
"Kamu lebih memilih mempercayai kebohongan manismu sendiri daripada melihat kenyataan di depan matamu."
Sasi memiringkan kepalanya sedikit, membiarkan air mata dinginnya mengalir tanpa disapu.
"Pikirkan baik-baik memakai otak sehatmu," lanjut Sasi, suaranya naik satu nada, sarat akan tekanan logika yang mematikan.
"Bagaimana bisa seorang wanita yang sangat mencintaimu, yang begitu posesif dan membenciku setengah mati, tiba-tiba dengan ikhlas menyerahkan suaminya untuk menikahi wanita asing? Dan kenapa harus aku? Kenapa di antara jutaan wanita di dunia ini, Hendrik—mantan kekasih Fitria—yang datang merenggut kesucianku, lalu secara 'kebetulan' Fitria muncul sebagai penyelamat yang menyuruhmu bertanggung jawab?!"
Setiap kata yang keluar dari mulut Sasi bagai hantaman palu godam yang menghantam dada Adrian.
Pria itu membeku di tempatnya. Bibirnya terkunci rapat, tak mampu membalas sepatah kata pun.
Keraguan mulai merayap liar di benak Adrian, mengikis benteng keyakinannya pada Fitria sedikit demi sedikit.
Bayangan wajah Fitria yang penuh dendam tadi pagi, gesper kulit yang diserahkannya untuk memukul Sasi, serta senyuman puasnya saat
Sasi menjerit kesakitan dan semuanya berputar bagai mimpi buruk di kepala Adrian.
"Keluar," suara Sasi mendadak berubah dingin dan datar, memutus keheningan mencekam di antara mereka.
"Sasi—"
"Keluar dari kamarku, Adrian!" jerit Sasi histeris, menyenggol nampan obat hingga berdentang kencang di atas meja nakas.
Mangkuk dan piring kecil beradu bising, memicu kepanikan baru.
Sasi menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, meringkuk dan gemetar hebat di balik kain tebal itu sambil menangis meraung-raung.
"Pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi! Pergi!!" histeria Sasi makin tak terkendali, membuat indikator detak jantung di samping ranjang berbunyi makin cepat dan berisik.
Melihat kondisi Sasi yang kembali memburuk, Adrian surut dua langkah dengan napas memburu dan dada yang teremas hancur.
Dengan jemari menggigil dan kepalan tangan penuh keraguan yang membakar dada, Adrian akhirnya memutar tubuhnya, melangkah gontai keluar dari kamar perawatan dan menutup pintu rapat-rapat—meninggalkan Sasi dalam isolasi rasa sakitnya, sementara kepalanya sendiri dipenuhi kecurigaan mematikan terhadap wanita yang selama ini ia sebut sebagai istri pertamanya.
Dengan kaki berbalut perban dan benak yang dipenuhi amukan keraguan, Adrian memutuskan untuk pulang.
Langkah kakinya terasa begitu berat, bukan hanya karena rasa perih di telapak kakinya yang merembeskan darah, melainkan karena pikiran jahat yang mulai merayapi kesadarannya.
Sesampainya di rumah, pintu utama menyambutnya dengan keheningan yang mencekam.
Fitria yang sudah menunggu di ruang tengah langsung berjalan cepat menghampiri Adrian.
Wajah cantiknya terlipat penuh kebohongan, berpura-pura cemas namun matanya tak bisa menyembunyikan kilatan kegelisahan.
"Mas! Kamu baru pulang? Bagaimana dengan wanita itu?" cecar Fitria seraya berkacak pinggang.
"Mana dia? Jangan bilang kamu meninggalkannya di rumah sakit mahal! Dia itu cuma berpura-pura sakit, Mas! Sengaja bikin drama supaya kamu merasa bersalah dan mengabaikanku!"
Adrian mengabaikan celotehan itu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia melangkah kaku menuju ruang makan dan mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kayu tebal.
Dengan tangan gemetar, ia meraih gelas kaca, menumpahkan air dingin dari teko, lalu menenggak air putih di hadapannya sampai kandas.
Fitria menyusulnya ke ruang makan, merasa diabaikan.
"Mas! Kamu dengar aku tidak sih?!"
Adrian meletakkan gelasnya ke atas meja dengan dentuman pelan.
Ia menyandarkan punggungnya, lalu menatap Fitria lurus-lurus.
Tatapan Adrian begitu dingin, menembus manik mata istri pertamanya tanpa ampun.
"Fit, apakah kamu masih menemui Hendrik, mantan kekasihmu dulu?" tanya Adrian datar, suaranya mengayun rendah namun sarat akan intimidasi mematikan.
Fitria langsung diam mematung saat mendengar perkataan dari suaminya.
Seluruh tubuhnya mendadak kaku. Udara di sekitarnya seolah mengkristal dalam sekejap.
"H-Hendrik?" bisik Fitria gagap. Raut wajahnya berubah drastis—kelopak matanya melebar, dan warna merah di pipinya surut digantikan warna pucat pasi yang mengerikan.
"A-aku sudah lama tidak tahu keberadaannya, Mas," lanjut Fitria dengan suara bergetar, mencoba membasahi bibirnya yang mendadak kering.
"Memang, ada apa? Kenapa tiba-tiba menanyakan pria itu?"
Adrian mencecar Fitria mengenai hubungannya dengan Hendrik Prasetyo di masa lalu.
Ia menanyakan setiap detail kecil, memperhatikan bagaimana bola mata Fitria bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan, jemarinya meremas pinggiran pakaiannya, serta gestur tubuhnya yang defensif.
Reaksi panik dan perubahan mimik wajah Fitria yang seketika pucat makin memvalidasi kecurigaan Adrian bahwa ada rahasia besar dan busuk yang disembunyikan darinya.
"Cukup, Mas! Kenapa kamu malah mencurigaiku gara-gara wanita gatal itu?!" jerit Fitria mencoba menutupi kepanikannya, lalu berbalik cepat dan melangkah setengah berlari menuju kamarnya.
BRAM!
Fitria membanting pintu kamar utama dan menguncinya dari dalam.
Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun dihantam gelombang ketakutan yang luar biasa.
Posisinya kini benar-benar terancam. Kecurigaan Adrian sudah mengarah tepat ke sasaran utama.
Dengan jemari yang gemetar hebat karena panik, Fitria merogoh bagian bawah tumpukan pakaian di dalam lemarinya, mengambil sebuah ponsel rahasia bertipe lama. Ia dengan cepat memutar nomor yang paling ia hafal.
"Halo! Hendrik?!" bisik Fitria histeris saat panggilan terhubung.
"Adrian mulai curiga! Dia menanyakan namamu! Ini semua gara-gara cewek sialan itu!!"
Dari seberang telepon, suara berat Hendrik terdengar tenang namun dingin.
"Lalu, kamu mau apa?"
" Selesaikan pekerjaanmu sekarang juga!" mendesak Hendrik dengan napas tersengal.
"Musnahkan Sasi malam ini di rumah sakit sebelum Adrian membongkar seluruh skenario busuk kita! Kalau aku hancur, kamu juga akan kupastikan mendekam di penjara, Hendrik!!"
Hendrik menutup ponselnya dan segera menuju ke rumah sakit.
Suara langkah kaki teratur terdengar menggelegar lembut di lorong VIP yang sepi.
Hendrik melangkah mantap menuju ruang perawatan Sasi.
Pria itu memakai jas putih dokter lengkap dengan stetoskop yang melingkar di lehernya, serta masker medis tebal yang menutupi separuh wajahnya.
Ia mendorong pintu kamar Sasi tanpa suara, lalu memutarnya hingga terkunci pelan.
Di atas ranjang, Sasi sedang memejamkan matanya, tertidur lelap akibat pengaruh obat penenang dan rasa lelah yang menggerogoti fisiknya.
Suara teratur dari mesin monitor detak jantung menjadi satu-satunya irama di dalam ruangan tersebut.
Hendrik memutar matanya dingin di balik masker. Ia melangkah perlahan mengikis jarak, berdiri tepat di samping kepala Sasi. Kilatan dendam dan kegelapan menyala tajam di manik matanya.
Tanpa peringatan, Hendrik menjulurkan kedua tangannya yang kekar dan langsung mencekik leher Sasi dengan sekuat tenaga!
"Ugh!! Aaghh!!"
Sasi seketika tersentak bangun! Matanya membelalak sempurna dihantam rasa sakit dan pasokan udara yang terputus mendadak.
Wajahnya yang pucat dengan cepat berubah membiru saat cengkeraman jari-jari berotot itu mengunci saluran pernapasan dan menekan tenggorokannya ke kasur.
"Mati kamu, Sasi." bisik Hendrik kejam tepat di depan wajah Sasi.
Dalam kepanikan dan sisa kekuatan fisiknya yang sekarat, Sasi menggapai-gapai udara secara liar.
Tangan kerempengnya bergerak secara refleks menyapu meja nakas di samping ranjang.
Jemarinya secara tidak sengaja menekan bel darurat panggilan medis secara bertubi-tubi!
TIIIIT! TIIIIT! TIIIIT!
Suara sirine panggilan darurat berdengung nyaring di stasiun perawat luar.
Tepat di saat yang sama, Dokter Maya yang sedang melintas di koridor depan mendengar sirine darurat dari kamar Sasi.
Tanpa membuang waktu, Dokter Maya mendorong pintu ruang perawatan dengan keras.
"Sasi?!"
Mata Dokter Maya membelalak mendapati seorang pria berjas dokter sedang menindih dan mencekik pasiennya!
"TOLONG!! ADA PENJAHAT! TOLONG!!" jerit Dokter Maya sekencang-kencangnya memecah keheningan koridor.
Hendrik yang terkejut melihat kedatangan Dokter Maya langsung melepas cengkeramannya.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Hendrik menghempaskan tubuh Dokter Maya hingga tersungkur, lalu melompat berlari keluar kamar dan kabur menerobos lorong rumah sakit.
"Uhuk! Uhuk!!"
Sasi mengatur nafasnya di atas ranjang, memegangi lehernya yang memar merah seraya batuk-batuk hebat menghirup oksigen.
Dokter Maya langsung menghampiri Sasi, memeriksa keadaannya dan memastikan saluran pernapasan wanita itu tidak rusak parah.
"Sasi! Bertahanlah, Sasi!" ucap Dokter Maya panik.
Dengan tangan yang masih gemetar hebat oleh amarah dan kepanikan, Dokter Maya merogoh saku jasnya, mengambil ponsel, dan menyentuh panggilan cepat menuju nomor Adrian.
Sementara itu di rumah, Adrian masih duduk membisu di ruang makan.
Tatapannya kosong menatap gelas air putih yang sudah kosong, tenggelam dalam samudera keraguan yang mengikis jiwanya.
Tiba-tiba, ponselnya di atas meja berdering dan bergetar hebat. Nama Dokter Maya tertera di layar.
Adrian langsung menyambar ponsel itu dan menggeser tombol hijau.
"Halo, Dok—"
"Adrian, cepat ke rumah sakit sekarang juga!!" teriak suara Dokter Maya dari seberang telepon dengan nada histeris dan napas memburu.
"Ada seseorang yang menyamar dan baru saja berusaha membunuh Sasi!!" ucap Dokter Maya.