Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETENANGAN DI KERAJAAN SOLARIA
Sinar matahari pagi yang hangat menembus kaca-kaca patri berukir indah di dinding aula utama istana. Cahaya keemasan melintasi lantai marmer yang mengilap, membangunkan Alan dari tidur lelapnya di atas sofa empuk.
Alan menggeliat pelan, merenggangkan kedua tangannya sambil mengusap mata. Tak ada bunyi alaram ponsel yang bising, tak ada bayangan menakutkan dari tagihan sewa apartemen, dan yang paling penting tak ada rasa lelah usai bekerja paruh waktu hingga larut malam.
"Pagi yang tenang..." gumam Alan dengan suara serak khas bangun tidur.
Begitu ia menegakkan posisi duduknya, mata Alan membelalak. Di atas meja kristal panjang tepat di depan takhta megahnya, sudah tersaji berbagai hidangan sarapan yang sangat mewah. Daging panggang beraroma gurih dengan bumbu karamel, roti gandum hangat yang lembut, buah-buahan segar yang belum pernah ia lihat di bumi, hingga segelas jus berwarna emas yang mengepulkan aroma manis.
"Tunggu... ini semua dari mana?" tanyanya terheran-heran.
[Selamat pagi, Tuan,] suara feminin yang jernih mendadak menyapa dari samping bahunya. Layar transparan berwarna biru muda melayang halus, menampilkan riak gelombang cahaya yang lembut. [Setiap kebutuhan nutrisi dan keinginan dasar Anda akan diproses secara otomatis oleh Domain Absolut. Karena kesadaran bawah sadar Anda menginginkan sarapan yang lezat saat bangun, wilayah ini memanifestasikannya untuk Anda.]
Alan tersenyum lebar. Ia mengambil sepotong roti dan menggigitnya. Rasa manis dan gurih langsung meledak di lidahnya, jauh lebih nikmat daripada makanan bintang lima mana pun.
"Luar biasa..." kata Alan sambil mengunyah dengan nikmat. "Aku bisa terbiasa dengan hidup seperti ini."
Sembari menikmati sarapannya di atas takhta tunggal, Alan mengamati layar biru yang terus mengapung di dekatnya. Setiap kali bicara, ia merasa canggung jika harus terus-menerus memanggil sosok di baliknya dengan sebutan 'Sistem'.
"Hei," panggil Alan usai meminum jus masnya. "Rasanya aneh kalau aku terus memanggilmu 'Sistem'. Kamu punya kesadaran sendiri, bisa berpikir, dan menemaniku di tempat sepi ini. Kamu mau punya nama?"
Antarmuka transparan itu berkedip pelan, menunjukkan reaksi terkejut dari algoritma kesadarannya.
[Sebuah nama... untuk saya, Tuan? Saya hanyalah entitas pendamping yang terlahir dari kekuatan Domain Absolut Anda. Saya tidak memerlukan nama resmi.]
"Aku nggak peduli," potong Alan santai seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran takhta. "Di sini cuma ada aku dan kamu. Aku nggak mau menganggapmu cuma sekadar alat atau program komputer. Kamu itu rekanku di dunia baru ini."
Hening sejenak. Gelombang cahaya pada layar biru itu bergetar lebih cepat, seolah-olah Sistem sedang mengalami emosi yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
[Rekan... ?]
"Yup. Jadi, gimana kalau nama kamu Melodina?" Alan menatap layar itu dengan senyum tulus. "Suaramu tenang dan lembut seperti nada musik yang menenangkan. Cocok kan?"
Layar biru itu memancarkan cahaya keemasan yang hangat untuk beberapa saat. Suara Sistem yang kini adalah Melodina—terdengar jauh lebih emosional dan bernuansa lembut daripada sebelumnya.
[Melodina... Nama yang sangat indah. Terima kasih banyak, Tuan Alan. Saya... saya sangat bahagia menerima nama ini. Mulai saat ini, saya, Melodina, akan mendampingi Anda sebagai rekan sejati dalam mengelola wilayah ini.]
Alan tertawa pelan. "Sama-sama, Melodina. Nah, karena sarapanku sudah selesai, bisakah kamu antar aku keliling tempat ini? Aku mau lihat seberapa luas 'rumah' baruku."
[Dengan senang hati, Tuan. Mari saya pandu.]
Perjalanan eksplorasi dimulai dari kompleks bagunan dalam istana. Didampingi Melodina yang melayang di sampingnya, Alan melangkah menyusuri lorong-lorong megah berlapis emas dan marmer putih.
Fasilitas pertama yang mereka kunjungi adalah Arena Pelatihan Utama. Tempat itu adalah sebuah lapangan indoor raksasa dengan langit-langit berenam tingkat yang dilapisi kubah pelindung sihir. Di dalamnya terdapat deretan senjata dari berbagai jenis—pedang, tombak, busur, hingga tongkat sihir yang memancarkan energi magis murni. Ada pula boneka-boneka latih dari batu legendaris yang sanggup menahan serangan tingkat menghancurkan bumi.
"Tempat ini lengkap banget," puji Alan sambil mengelus gagang sebuah pedang perak berukir rumit. "Tapi ya... aku kan nggak berniat bertarung lawan siapa pun."
[Fasilitas ini tercipta secara otomatis untuk mengakomodasi potensi penuh dari Domain Absolut Anda, Tuan Alan,] jelas Melodina. [Jika suatu saat Anda ingin menguji kemampuan sihir atau fisik, tempat ini tidak akan hancur oleh kekuatan Anda.]
Selanjutnya, Melodina memandu Alan menuju Perpustakaan Agung Kerajaan.
Saat pintu kayu jati berukir emas setinggi sepuluh meter terbuka, Alan dibuat melongo. Di hadapannya terbentang ruangan raksasa tanpa batas yang dipenuhi rak-rak buku menjulang hingga menembus awan buatan di langit-langit. Jutaan gulungan kertas dan buku tebal berlapis kulit berjejer rapi.
"Semua buku ini... isinya apa?" tanya Alan penasaran.
[Perpustakaan ini memuat seluruh sejarah, bahasa, formula sihir, peta geografi, hingga pengetahuan rahasia dari dunia ini,] jawab Melodina penuh kebanggaan. [Seluruh informasi tentang dunia luar yang terdeteksi oleh radar Domain Absolut akan diarsipkan secara otomatis di sini.]
"Baguslah," senyum Alan merekah. "Kalau lagi bosan, aku bisa membaca novel atau buku sejarah dunia ini sambil bersantai."
Selain perpustakaan dan arena latihan, Alan juga menemukan pemandian air panas alami di dalam istana yang dikelilingi taman bunga aromaterapi, dapur kerajaan bernuansa modern-fantasi, hingga ratusan kamar tidur mewah yang siap huni. Segalanya dibangun dengan sempurna tanpa cela.
Namun, di balik semua kemewahan itu, kesan hampa kembali terasa. Setiap kali Alan melangkah di koridor yang luas, hanya ada suara langkahan kakinya sendiri yang memantul di dinding-dinding batu.
Setelah puas berkeliling selama beberapa jam, Alan kembali ke aula utama dan duduk santai di balkon istana yang menghadap langsung ke arah pemandangan Hutan Larangan. Udara segar berembus pelan, mempermainkan rambut hitamnya.
"Tempat ini benar-benar luar biasa, Melodina," ujar Alan sambil memandang hamparan pepohonan ungu keemasan di bawah sana. "Tapi terlalu besar kalau cuma disebut 'rumah'."
[Mengenai hal itu, Tuan Alan...] Melodina memajukan layarnya sedikit lebih dekat. [Ada satu hal penting yang perlu kita tetapkan untuk kelangsungan wilayah ini.]
"Apa itu?"
[Sebuah nama untuk wilayah kekuasaan Anda. Struktur bangunan ini, dinding pertahanannya, dan luas tanah yang dipayungi oleh Domain Absolut telah memenuhi syarat mutlak untuk diakui sebagai sebuah Kerajaan. Sebuah Kerajaan membutuhkan identitas yang sah agar fondasi sihirnya terkunci secara sempurna.]
Alan memangku dagunya dengan tangan kanan, memikirkan kata-kata Melodina. "Nama kerajaan, ya? Hmm... aku nggak mau nama yang terlalu rumit atau terdengar jahat."
Ia menengadah menatap megahnya bangunan benteng putih berlapis emas yang memantulkan sinar matahari dengan begitu indah. Istana ini memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan suci di tengah gelap dan lebatnya hutan monster.
Sebuah nama tiba-tiba terlintas di kepala Alan. Nama yang terkesan anggun, megah, namun membawa kesan hangat yang menenangkan.
"Solaria," ucap Alan pelan.
Melodina merespons dengan kilatan cahaya biru-emas yang lembut. [Solaria... ?]
"Ya. Kerajaan Solaria," Alan tersenyum mantap. "Seperti cahaya matahari yang menyinari kegelapan. Tempat ini akan jadi wilayah kedamaian mutlak bagi kita."
WUSHHH!
Saat nama itu diucapkan secara resmi oleh Alan sebagai penguasa tunggal, seluruh istana bergetar pelan. Sebuah gelombang sihir tak terlihat menjalar dari takhta utama melintasi setiap sudut dinding benteng, mengunci identitas wilayah tersebut. Lambang matahari bersinar dengan pilar-pilar emas terukir secara otomatis di gerbang depan benteng.
[Resonansi identitas berhasil,] suara Melodina bergema penuh keagungan. [Wilayah ini secara resmi telah terdaftar di dalam Sistem sebagai Kerajaan Solaria. Penguasa Mutlak: Tuan Alan.]
Alan menghela napas puas, menyandarkan tubuhnya ke kursi balkon dengan senyuman lebar.
"Kerajaan Solaria... kedengarannya keren juga," gumam Alan santai. "Nah, sekarang kerajaannya sudah ada nama. Waktunya kembali tidur siang."
Namun, tepat saat Alan hendak memejamkan mata untuk menikmati ketenangan barunya, dari kejauhan Hutan Larangan, sebuah getaran aneh yang berasal dari luar batas Domain Absolut mulai merayap mendekat.