Di dunia yang bicara dengan peluru dan darah, satu-satunya bahasa yang benar-benar dipahami Xavier Callahan adalah keheningan seorang gadis.
Xavier adalah penguasa kartel paling ditakuti di Texas—dingin, kejam, tak tersentuh. Tapi di hadapan Luna, gadis bisu-tuli yang bicara lewat isyarat tangan, sang raja yang tak pernah tunduk pada siapa pun rela belajar tiga bahasa isyarat hanya agar bisa berbisik ke telinga yang masih bisa mendengarnya. Bagi dunia, Luna hanyalah "gadis cacat" yang lemah dan mudah diinjak. Bagi Xavier, ia adalah satu-satunya alasan jantungnya masih berdetak.
Namun cinta di kerajaan mafia tak pernah gratis.
Ketika sebuah pengkhianatan berdarah mengoyak keluarga Callahan dan tangan-tangan tak terlihat mulai menggerakkan bidak untuk menghancurkan semua yang Xavier cintai, Luna dipaksa memilih: tetap menjadi gadis rapuh yang selalu dilindungi, atau bangkit sebagai perempuan yang berani berkata "tidak"—bahkan kepada lelaki yang memujanya.
Dari peternakan gelap di Texas, salju Sankt Peterburg, hingga takhta berdarah keluarga mafia Italia, sebuah rahasia keluarga yang terkubur bertahun-tahun perlahan terungkap—rahasia tentang bayi yang hilang, darah yang dicuri, dan cinta yang menolak mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferrer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih Sebuah Badai
Peralihan dari musim dingin Sankt Peterburg yang menggigit ke panas Texas yang menyesakkan terasa seperti benturan realitas bagi Yakov Borodin. Mengenakan setelan abu-abu tua yang dijahit khusus, ia menyusuri koridor-koridor tanpa cela di salah satu pusat fertilisasi dan genetika paling canggih di negara bagian itu.
Sehari sebelumnya, dengan langkah pelan dan hati yang masih berkeping-keping, Flora telah menginjakkan kaki di laboratorium yang sama. Ditemani ibunya, Ania, gadis muda itu berusaha melindungi satu-satunya percik harapan yang tersisa baginya untuk masa depan. Seluruh materi genetiknya diambil dan disimpan di bank laboratorium: sel telur sehat milik gadis sembilan belas tahun dengan ciri-ciri menonjol, mata biru pekat dan rambut sehitam malam. Bagi Flora, sel telur itu adalah janji yang ia simpan diam-diam; bagi klinik, itu hanyalah catatan bernilai genetik tinggi.
Keesokan paginya, Yakov menghadiri pertemuan di ruang pribadi direktur medis pusat itu. Sang ahli bedah sekaligus psikiater asal Rusia itu mengisi formulir-formulir panjang dengan tuntutan yang teliti.
"Saya sudah sangat jelas, Dokter." Yakov berkata, suaranya berat dan nadanya tak bisa ditawar, sambil menopangkan kedua lengan di atas meja. "Saya tidak mau sembarang donor. Saya mau seseorang dengan ciri-ciri yang menonjol, kesehatan sempurna, dan tanpa riwayat penyakit genetik. Donor berambut hitam dan bermata biru, itu kriterianya."
Dokter itu mengamati layar komputernya, jelas berkeringat dingin di bawah tatapan sedingin es dari lelaki Rusia itu.
"Tuan Borodin... kami punya masalah dengan katalog publik kami yang aktif," jelas sang dokter, sedikit tergagap. "Donor terdaftar yang benar-benar cocok, berambut hitam, bermata biru, golongan darah sesuai, dan dengan tingkat kemurnian genetik seperti yang Anda minta... tidak ada satu pun yang tersedia dalam sistem bulan ini. Yang sedikit memenuhi syarat pun akan memakan waktu hampir setahun dalam daftar tunggu."
Yakov mengerutkan kening, dan aura berbahaya seorang Borodin memenuhi ruangan itu.
"Saya datang jauh-jauh dari Rusia bukan untuk menunggu setahun, Dokter. Selesaikan."
Terbiasa berurusan dengan klien miliarder dan tokoh berpengaruh dari dunia bawah, dokter itu tahu ia tak boleh kehilangan kontrak bernilai jutaan itu. Dalam tindakan penuh ketamakan dan keputusasaan, ia mengakses basis data rahasia berisi materi yang baru saja disimpan. Di layar, profil genetik anonim milik Flora Callahan menyala menonjol.
Rambut hitam, mata biru, cadangan ovarium sangat baik.
Tidak akan ada yang tahu,* pikir sang dokter, yakin bahwa rahasia itu takkan pernah keluar dari dinding-dinding laboratorium tersebut. Keluarga Callahan tidak akan pernah perlu memeriksa arsip ini, dan orang Rusia itu akan kembali ke Sankt Peterburg.*
Tanpa izin keluarga Callahan dan tanpa sepengetahuan Yakov, dokter itu menyetujui penggunaan sel telur Flora untuk bayi tabung dengan sperma Yakov Borodin.
Beberapa jam kemudian, di lantai pelayanan untuk ibu pengganti, Yakov bertemu perempuan yang dipilih agensi untuk mengandung anaknya.
Namanya Brenda, berusia dua puluh dua tahun, dan memasang senyum terlatih yang tak sampai ke matanya. Cukup semenit percakapan bagi Yakov, dengan bekal ilmu psikiaternya, untuk menebak persis siapa perempuan itu: seorang wanita muda, sangat ambisius, dan digerakkan semata-mata oleh uang. Ia tak peduli pada bayi itu maupun etika prosesnya; ia memandang rahimnya sekadar sebagai tiket menuju kekayaan.
"Kontraknya cukup jelas, Tuan Borodin," kata Brenda, menyilangkan kaki dan membetulkan gaunnya yang ketat. "Begitu bayinya lahir dan tes DNA sudah dipastikan, seluruh nilai uangnya masuk ke rekening saya, lalu saya lenyap. Tanpa drama, tanpa ikatan."
Yakov menatapnya beberapa detik. Ambisi berlebihan perempuan itu sangat menganggunya, tetapi untuk tujuan praktisnya, memiliki anak tanpa ikatan emosional dengan ibu kandungnya, ini tampak seperti pilihan yang tepat.
"Bagus." Yakov berkata dingin, menandatangani kontrak. "Lakukan prosedurnya. Kalau kau memenuhi bagianmu, kau akan dapat setiap sennya. Kalau kau coba memeras, tidak akan ada tempat di dunia ini yang bisa kau jadikan persembunyian."
Setelah ancaman itu diucapkan dan seluruh berkas rampung, prosedur transfer embrio dilaksanakan menjelang sore.
Tanpa Yakov ketahui, perempuan ambisius yang baru saja ia sewa kini mengandung dalam rahimnya perpaduan darahnya sendiri dengan darah Flora Callahan, sebuah benih yang tumbuh dari penipuan senyap di Texas, yang kelak akan menghadirkan badai dahsyat bagi kedua keluarga.
Satu Bulan Kemudian
Sebulan telah berlalu sejak perjalanan Yakov Petrov Borodin ke Texas. Di Sankt Peterburg, konfirmasi hasil pemeriksaan akhirnya masuk ke surel pribadinya: positif. Prosedur bayi tabung itu berhasil, dan embrio berkembang sempurna dalam rahim sang ibu pengganti.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sebuah senyum tulus menerangi wajah dingin Yakov. Dunia sang ahli bedah dan psikiater yang kelabu, sunyi, dan sepi itu seakan mendapat tujuan baru. Ia akan menjadi ayah. Sekadar membayangkan menggendong sang pewaris itu di lengannya, buah darahnya sendiri dan, tanpa ia ketahui, darah gadis muda Flora Callahan, sudah menghangatkan jiwa wakil komandan Vory v Zakone itu.
Namun, takdir tak pernah membekukan waktu bagi siapa pun.
Di Kediaman Vitale, di Roma, sore itu berjalan tenang sampai dering nyaring telepon di ruang kerja Tommaso memecah keheningan rumah.
Tommaso mengangkatnya dengan ketenangan khas seorang Don, tetapi suara adik lelakinya, Eros Wisbech, pemimpin Cosa Nostra Amerika, di ujung sambungan sana, seketika membuat tubuhnya menegang. Nada suara Eros adalah nada seorang ayah yang hancur dan nyaris kehilangan akal.
"Tommaso..." suara Eros datang berat oleh gemetar yang kasar. "Ada tragedi menimpa Melina."
Tommaso bangkit dari kursinya seketika, tatapannya berubah suram dan waspada.
"Ada apa dengan keponakanku, Eros? Bicara!"
Eros menarik napas dalam, berusaha menahan keputusasaannya.
"Dia tidak baik-baik saja sejak penembakan di kampusnya beberapa hari lalu... Kehilangan sahabatnya menghancurkan dirinya dari dalam. Semalam, ingin merasa bebas untuk pertama kalinya, Melina pergi ke klub malam. Tapi tempat itu klub ilegal... Tommaso, mereka memberinya minuman merah muda yang sudah dibubuhi obat. Itu perangsang seksual dengan dosis sangat tinggi. Dia kehilangan kendali atas dirinya."
Tangan Tommaso mencengkeram gagang telepon begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Apa yang mereka lakukan pada keponakanku, Eros?!" suara sang patriark menggema tegas di seluruh ruang kerja.
"Dia berhubungan badan dengan seorang lelaki yang juga meminum minuman biru dengan zat yang sama..." Eros melanjutkan, suaranya terputus oleh air mata yang ditahan. "Hasil pemeriksaan memastikan adanya perangsang itu. Tapi kami tidak tahu siapa lelaki itu, Tommaso! Tak lama setelahnya, klub itu terbakar karena listrik padam, dan tempat itu jadi abu. Kami tidak punya rekaman kamera, tidak punya nama, tidak punya apa-apa! Putriku hancur berkeping-keping..."
Pintu ruang kerja terbuka dan Julia masuk, terkejut oleh perubahan nada suara suaminya, diikuti Matteo dan Luna yang datang tepat di belakangnya. Melihat wajah Tommaso yang berubah drastis, keluarga itu tahu sesuatu yang serius telah terjadi.
"Eros, dengar baik-baik apa yang akan kukatakan," ujar Tommaso, suaranya tajam dan sarat wibawa yang tak tergoyahkan. "Melina tidak sendirian dalam hal ini. Dia darah dari darah kita! Kami akan memberi semua dukungan yang dibutuhkan dari sini, dan kalau kau butuh aku datang ke Amerika sekarang juga, aku naik jet dan berangkat!"
Tommaso meletakkan gagang telepon dan menatap istri serta anak-anaknya, menjelaskan dengan singkat kebiadaban yang dialami keponakannya.
Julia menutup mulut, air matanya langsung tumpah.
"Ya Tuhan... Melina yang malang! Semuda itu, harus mengalami mimpi buruk seperti itu..."
Luna merasakan dadanya panas oleh belas kasihan pada sepupunya. Ia mendekati ayahnya, mata hijaunya berkilat oleh tekad.
"Ayah, Melina harus tahu kita ada di pihaknya, apa pun yang terjadi," kata Luna, suaranya mantap. "Jangan sampai dia merasa bersalah atau sendirian. Dia korban!"
Matteo melangkah maju, menegakkan tubuhnya dengan amarah senyap yang sama seperti ayahnya.
"Kalau Om Eros atau kita berhasil tahu siapa dalang di balik klub itu atau siapa yang menaruh obat itu di gelasnya... bajingan itu tidak akan punya tempat untuk bersembunyi."
"Tidak akan," tegas Tommaso, memeluk istri dan putrinya dengan lengan sekuat baja. "Jarak tidak mengubah apa pun. Melina punya dukungan penuh dari seluruh keluarga Vitale dan Wisbech. Tak seorang pun akan melepaskan tangannya."
Xavier
Flora
Luna
Yakov