Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.
Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.
Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota yang Dingin
Fajar menyingsing di atas Ibu Kota Kekaisaran Han, namun langit pagi itu tidak berwarna biru cerah. Kabut tipis berwarna kelabu menggantung di antara atap-atap pagoda, sementara sisa-sisa bau gosong dari pertempuran malam hari masih melekat di udara. Di sepanjang jalan utama kota, puluhan ribu penduduk keluar dari rumah mereka dengan perasaan campur aduk antara takut dan penasaran. Di setiap tiang dan gerbang, panji-panji naga emas lama telah diturunkan, digantikan oleh panji kain putih bersih bersulam bunga magnolia merah darah—simbol dari faksi Shen Xianle.
Di dalam Istana Belakang, suasana Paviliun Kencana tampak sibuk. Belasan dayang tua yang dibesarkan di bawah asuhan mendiang Selir Lin bergerak dengan langkah tergesa-gesa namun tanpa suara. Mereka sedang mempersiapkan upacara penobatan yang akan berlangsung beberapa jam lagi.
Xianle berdiri tegak di depan sebuah cermin perunggu raksasa. Tubuhnya kini tidak lagi dibalut zirah besi yang berat, melainkan jubah kebesaran kekaisaran yang baru. Jubah itu terbuat dari sutra hitam legam sepekat malam, dengan sulaman benang emas berbentuk burung foniks yang sedang mengepakkan sayapnya di antara hamparan bunga magnolia. Warna hitam sengaja dipilih untuk menggantikan warna kuning cerah dinasti lama, menandakan bahwa pemerintahan baru ini lahir dari kegelapan dan kepedihan.
"Nona... Anda tampak sangat anggun," bisik Xiaoyu yang berdiri di belakangnya, menyematkan sebuah mahkota emas putih berbentuk ranting magnolia pada sanggul tinggi Xianle. Rumbai-rumbai giok dari mahkota itu menjuntai di sisi wajah porselennya, mengeluarkan bunyi gemerincing halus setiap kali ia bergerak.
Xianle menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Gadis rapuh yang setahun lalu menangis di Paviliun Anggrek kini telah sepenuhnya lenyap. Di dalam cermin itu, hanya ada seorang wanita dengan tatapan mata yang sedingin es dan bibir yang terkatup rapat, siap memikul beban sebuah kekaisaran.
"Anggun tidak akan bisa menghentikan ujung pedang musuh, Xiaoyu," ucap Xianle datar, suaranya pelan namun berwibawa. "Apakah Long Junwei sudah berada di tempatnya?"
"Yang Mulia Pangeran Bayangan sudah memimpin barisan pengawal di depan Aula Agung, Nona. Jenderal Lu dan Jenderal Zhao juga telah menempatkan seluruh kavaleri Barak Barat di setiap sudut alun-alun istana demi mencegah pergerakan sisa-faksi Perdana Menteri," jawab Xiaoyu sambil membungkuk rendah.
Xianle mengangguk sedikit, lalu berbalik dan melangkah keluar dari paviliun. Jubah hitamnya yang panjang menyapu lantai marmer, menciptakan siluet yang megah sekaligus mengintimidasi bagi setiap pelayan yang berpapasan dengannya.
Saat pintu kayu raksasa Aula Agung dibuka, ribuan pasang mata serentak tertuju ke arah koridor utama. Di dalam aula yang luas itu, ratusan pejabat sipil dan militer telah berbaris rapi di sisi kiri dan kanan. Suara tabuhan gendang besar kekaisaran berdentum konstan, beresonansi dengan detak jantung setiap orang yang hadir.
Xianle berjalan dengan langkah kaki yang konstan dan anggun melewati karpet merah yang terbentang lurus menuju singgasana naga. Di setiap lima langkah ia berjalan, para pejabat di sisinya akan berlutut dan menundukkan kepala mereka hingga menyentuh lantai.
"Hidup Maharani Shen Xianle! Semoga Dinasti Magnolia Baru berjaya selama puluhan ribu tahun!" seru mereka serentak, suara mereka menggema memenuhi langit-langit aula yang tinggi.
Di dekat undakan singgasana, Long Junwei berdiri tegak dengan jubah hitam bersulam naga perak. Pedang kunonya tersampir di pinggang, memancarkan aura dominasi yang seolah-olah menegaskan bahwa dialah pelindung mutlak di balik takhta ini. Ketika Xianle sampai di hadapannya, sepasang mata elang Junwei menatap lurus ke arahnya, memancarkan kilat kekaguman yang tidak bisa disembunyikan.
Junwei mengulurkan tangan kanannya, menyambut jemari pucat Xianle dan membantunya menaiki anak tangga marmer giok satu demi satu hingga mereka sampai di puncak tertinggi.
Xianle membalikkan tubuhnya, menatap hamparan lautan manusia yang kini bersujud di bawah kakinya. Dengan gerakan yang penuh wibawa, ia duduk di atas kursi naga emas. Duduk di atas tempat tertinggi ini, ia merasakan sensasi dingin yang menjalar dari permukaan emas murni kursi tersebut. Mahkota di kepalanya terasa sangat berat, mengingatkannya bahwa kekuasaan mutlak selalu berjalan berdampingan dengan kesepian dan bahaya yang konstan.
"Bangkitlah," perintah Xianle, suaranya yang menggunakan kekuatan internal terdengar jernih di setiap sudut aula.
Ratusan pejabat itu berdiri kembali dengan sikap yang sangat hormat. Namun, sebelum upacara penobatan resmi dapat dilanjutkan dengan pembacaan dekret baru, sebuah keributan mendadak terdengar dari arah luar gerbang Aula Agung.
Brak!
Pintu aula kembali terbuka, dan seorang prajurit kavaleri perbatasan masuk dengan tubuh yang dipenuhi debu dan peluh keringat. Prajurit itu berlari tergesa-gesa ke tengah aula, lalu menjatuhkan dirinya berlutut dengan napas yang tersengal-sengal.
"L-Lapor... Melapor kepada Yang Mulia Maharani, berita darurat dari perbatasan utara!" seru prajurit itu dengan suara bergetar hebat, memecah ketenangan upacara penobatan.
Jenderal Lu langsung melangkah maju, wajah veteran pengalamannya mengeras. "Katakan! Apa yang terjadi di utara?!"
"Kekaisaran Zhao... Kekaisaran Zhao di utara telah memanfaatkan kekosongan kekuasaan di ibu kota kita! Mereka telah mengerahkan seratus ribu pasukan kavaleri besi dan saat ini telah berhasil menembus benteng pertahanan pertama di Kota perbatasan Yan! Mereka bergerak menuju ibu kota dengan kecepatan penuh!"
Blar!
Laporan itu bagaikan petir di siang bolong yang meruntuhkan ketenangan Aula Agung. Bisik-bisik panik seketika meledak di antara para menteri sipil. Wajah-wajah mereka yang semula dipenuhi senyum kepatuhan kini berubah menjadi pucat pasi karena ketakutan akan invasi asing.
"Seratus ribu kavaleri besi Kekaisaran Zhao?!" Jenderal Zhao menelan ludah dengan susah payah. "Benteng Yan jatuh hanya dalam waktu satu malam? Ini tidak mungkin... kecuali jika ada seseorang di dalam istana kita yang sengaja membocorkan peta pertahanan perbatasan kepada mereka sebelum kudeta ini terjadi!"
Xianle mencengkeram lengan kursi naga dengan erat. Matanya berkilat tajam menatap prajurit pembawa pesan tersebut. Peta pertahanan perbatasan utara adalah rahasia militer tertinggi yang hanya dipegang oleh dua orang di dinasti lama: Kaisar Han dan... Perdana Menteri Shen.
"Perdana Menteri Shen..." desis Xianle di dalam hatinya. Pria tua itu sengaja menjual negaranya sendiri kepada musuh asing sebagai kartu as terakhirnya untuk menghancurkan Xianle jika rencananya gagal.
Xianle melirik ke arah Long Junwei yang berdiri di sampingnya. Pangeran Bayangan itu tampak tenang, namun genggaman tangannya pada gagang pedang kunonya kian mengeras, menandakan bahwa situasi ini berada di luar prediksi jaringan informasinya.
"Xianle," bisik Junwei dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh wanita itu. "Pasukan Barak Barat kita baru saja mengalami kelelahan setelah pertempuran malam tadi, dan jumlah mereka hanya empat puluh ribu. Menghadapi seratus ribu kavaleri besi Zhao di medan terbuka adalah tindakan bunuh diri."
Di bawah tatapan ratusan pasang mata pejabat yang kini menatapnya dengan penuh kepanikan dan keraguan, Xianle tahu bahwa ini adalah ujian pertama bagi takhtanya yang baru. Jika ia menunjukkan kelemahan sedikit saja malam ini, Dinasti Magnolia Baru akan runtuh bahkan sebelum sempat melewati hari pertamanya.
Xianle perlahan berdiri dari kursi naga emasnya. Jubah burung foniks hitamnya berkibar, memancarkan aura keberanian yang mutlak. Ia menarik pedang panjangnya dari sarungnya, lalu menghentakkan ujung pedang itu ke lantai marmer dengan bunyi denting yang keras.
"Tenang!" seru Xianle, seketika membungkam seluruh kepanikan di dalam aula. "Kekaisaran Zhao mengira mereka bisa menginjak-injak tanah Han karena mengira kita sedang melemah. Mereka salah! Hari ini, aku sendiri yang akan memimpin pasukan kavaleri Barak Barat menuju perbatasan utara!"
Xianle menatap para jenderal veterannya satu per satu. "Jenderal Lu, Jenderal Zhao! Siapkan pasukan dalam waktu dua jam! Kita tidak akan menunggu mereka di ibu kota, kita akan menjemput kematian mereka di Lembah Serigala!"
"Hamba menerima perintah!" seru para jenderal dengan semangat bertarung yang kembali tersulut oleh keberanian pemimpin baru mereka.
Matahari kini telah naik lebih tinggi, menyinari mahkota emas putih di kepala Shen Xianle yang berkilau tajam di tengah badai perang yang baru saja dimulai.