perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surga yang kucari
Aku tidak bekerja. Aku hanya seorang Ibu rumah tangga biasa. Suamiku berkerja sebagai pegawai negri di kantor dinas pendidikan.
Setelah menikah, kami langsung memutuskan untuk hidup mandiri. Jauh dari orang tua masing-masing. Kami membeli sebuah rumah yang minimalis di komplek perumahan dengan mencicil setiap bulannya.
Dulu di awal menikah, Mas Rama sangat memanjakanku, melayaniku dengan sepenuh hati. Semua pekerjaan rumah di kerjakan Mas Rama seorang diri. Dari beres-beres, menyapu, mengepel, mencuci, hingga memasak. Semua benar-benar di lakukannya sendirian.
Sedangkan aku hanya diminta untuk merawat diri dan melayani nya saja. Namun, lama kelamaan aku merasa tidak enak hati. Aku merasa tidak tega melihat suamiku yang sudah bekerja di luar rumah mencari nafkah, sampai rumah masih harus melakukan perkerjaan lainnya.
Suatu hari aku teringat pesan yang di sampaikan Ibu mertua kepadaku.
"Jasmine, jika seorang wanita sudah menikah dan ingin mencari surga, caranya sangat mudah. Kamu hanya cukup patuh pada suamimu, nurut apa kata suamimu, jangan pernah sekalipun membantah apalagi melawannya. Kamu harus bisa memanjakan suamimu supaya ia betah berada dirumah. Maka balasan untukmu adalah surga."
Begitulah pesan Ibu mertuaku saat usia pernikahan ku masih berusia beberapa minggu.
Semenjak saat itu aku mulai mencerna semua ucapan Ibu mertuaku. Aku mencoba patuh kepada Mas Rama. Jika ia sedang marah, aku hanya diam, mendengarkan dan mengiyakan semua yang Mas Rama inginkan atau katakan.
Jika aku salah, aku langsung meminta maaf. Tidak pernah sekalipun aku membantahnya. Dan jika mas Rama menyalahkanku, aku tidak pernah berkomentar atau pun membela diri. Karena aku ingin mencari surga.
Aku selalu teringat pesan Ibu mertuaku. Aku mencoba mengambil alih semua pekerjaan rumah yang di kerjakan Mas Rama. Tapi Mas Rama sempat menolak. Ia mengatakan jika tugas seorang istri hanyalah patuh dan melayani suaminya. Dan nantinya juga merawat anak-anak nya jika kami sudah memiliki anak.
Mas Rama pernah berkata kepadaku.
"Yang, tugas seorang istri itu hanya melayani suami dan merawat anak-anaknya. Sedangkan tugas seorang suami adalah mencari nafkah dan juga mengerjakan pekerjaan rumah. Aku harus ridho supaya aku lancar dalam mencari rejeki. Dan kamu cukup doakan suamimu ini sehat dan banyak rejeki." Kata Mas Rama saat itu. Saat kami belum memiliki anak.
Namun suatu hari aku pernah berdebat dengan Mas Rama, karena aku merasa menjadi seorang istri yang durhaka. Membiarkan suami bekerja keras mencari nafkah dan juga harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga setiap hari.
Aku terus memaksa Mas Rama supaya ia mau mengalah dan menyerahkan semua pekerjaan rumah kepadaku. Dan aku hanya ingin Mas Rama fokus mencari nafkah.
Pada akhirnya Mas Rama menyetujui permintaanku. Namun dengan syarat, aku harus bisa merawat diriku dan melayaninya dengan sepenuh hati.
Aku pun langsung menyetujui persyaratannya. Dengan kesepakatan itu, aku mulai melaksanakan tugasku sebagai seorang istri. Aku berusaha menjadi sosok istri yang terbaik untuk suamiku. Segala sesuatu yang di butuhkan Mas Rama, aku berusaha menyiapkannya. Aku juga belajar memahami kebutuhannya sebelum diminta. Dengan kata lain, aku memanjakannya.
Dengan semua yang aku lakukan, perlakuan dan pelayananku, Mas Rama merasa puas. Karena tanpa diminta aku selalu mengerti dan langsung memenuhinya. Mas Rama tidak pernah lagi menyentuh pekerjaan rumah. Ia hanya fokus bekerja. Dan dengan berjalannya waktu, Mas Rama mulai berubah. Sekarang Mas Rama menjadi manja.
Aku merasa tidak keberatan. Karena dulu sebelum punya anak pekerjaanku hanya fokus dirumah dan melayani Mas Rama. Bahkan aku juga memiliki waktu untuk tetap merawat diri supaya Mas Rama selalu senang melihatku dan betah berada dirumah.
Hingga sampai anak pertama kami lahir, Aldi. Mas Rama kembali membantuku melakukan pekerjaan rumah. Karena ia tidak ingin aku sampai kelelahan.
Setelah sekitar 40 hari pasca melahirkan, lama-lama aku merasa tidak tega lagi melihat Mas Rama. Aku meminta Mas Rama untuk kembali fokus mencari nafkah saja. Aku meminta semua pekerjaan rumah di kembalikan kepadaku. Awalnya Mas Rama menolak, tapi aku terus memaksanya. Hingga pada akhirnya ia mengalah. Dan Mas Rama kembali fokus menjadi kepala rumah tangga yang bertugas mencari nafkah untuk keluarga.
Selama ini tidak pernah sekalipun aku mengeluh. Aku ikhlas menjalaninya demi surga yang ku cari. Setiap hari selalu ku panjatkan doa demi keselamatan dan kebahagiaan keluarga kecilku.
................
Aku menjalankan motorku perlahan. Tepat pukul 07.45 , Aku sudah tiba di depan gerbang sekolah Aldi. Aku menurunkan Aira terlebih dahulu. Kemudian aku mengambil bekal milik Aldi di jok motor. Aku menyerahkan kan kepada Aldi , ia tersenyum manis menerima bekal tersebut.
"Abang sekolah yang rajin, ya? Bekalnya jangan lupa di habiskan. Dan ingat jangan jajan sembarangan." Ucapku sambil memasangkan tas ransel di punggungnya.
"iya, Ma. Nanti jangan telat jemput Abang, ya Mah.?" kata Aldi.
"Siap, sayang. Kalau nanti Mama belum datang. Abang tunggu Mama di gazebo, ya. Jangan kemana-mana dan jangan pernah mau di ajak orang yang gak Abang kenal. Mengerti?"
"Siap, Mama. Abang mengerti. Kalau gitu Abang masuk dulu, ya mah. Dadah adik." Ucap Aldi sambil berlari kecil masuk ke gerbang sekolah.
"Dadah Abang." Aira melambaikan tangan ke arah Abangnya.
Setelah Aldi menghilang dari pandangan. Aku pun menaikkan Aira ke atas motor lagi. Namun, tiba-tiba ponsel ku bergetar, segera aku mengambilnya dari dalam tas kecilku. Kemudian aku menatap layar ponselku , disitu tertulis nama "Suamiku" memanggil. Segera aku menekan tombol untuk menjawabnya.
"Assalamualaikum, Mas. Ada apa?" Tanya ku.
"Yang , tolong antarkan berkas ku yang ketinggalan di atas meja ruang tamu sekarang. Aku tidak bisa mengambilnya sendiri karena akan memakan waktu. Berkas itu sangat penting karena sebentar lagi akan ada meeting. kamu antarkan sekarang juga, jam 8 rapat sudah akan dimulai." Kata Mas Rama meminta tolong.
"Baik, Mas. Aku akan pulang dan segera mengantarnya ke kantor Mas Rama. Assalamualaikum." Ucapku.
Telepon langsung ditutup. Tanpa membalas salamku terlebih dahulu. Aku menghelas napas panjang.
Tak perlu waktu lama, segera ku stater motorku menuju rumah untuk mengambil berkas milik Mas Rama.
Aku sedikit mempercepat laju motorku, karena jarak dari rumah menuju tempat kerja Mas Rama lumayan jauh.
Setibanya dirunah, Aku langsung mengambil kunci yang di letakkan Mas Rama di pot, kemudian segera membuka pintu rumah. Aku berjalan sedikit cepat. Aira sengaja aku tinggal, di teras rumah, karena aku hanya masuk sebentar mengambil berkas di meja ruang tamu.
Setelah mendapatkan berkas yang diminta Mas Rama. Aku pun langsung tancap gas menuju tempat Mas Rama. Bersykur karena sepanjang jalan sudah mulai sepi, karena waktu juga sudah mulai siang. Aku berharap bisa tepat waktu sampai disana. Supaya Mas Rama tidak marah.
...****************...
Terimakasih sudah membaca..
Jangan lupa follow, yaa 😘