⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐
Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.
Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 30: Malam pertama
Malam pun tiba. Sesuai dengan aturan tradisi kekaisaran pada malam pernikahan ganda, Putra Mahkota diwajibkan menghabiskan malam pertama di Paviliun Putri Mahkota Utama untuk mengesahkan kepemimpinan kediaman.
Sementara di Paviliun Anggrek Merah, tempat kediaman Selir Agung Lin Wanru, suasana justru diwarnai kekacauan kecil. Lin Wanru membanting cangkir porselen ke lantai sambil menangis histeris di hadapan para pelayannya.
"Mengapa Putra Mahkota harus ke Paviliun Barat lebih dulu?! Hari ini adalah hari bahagiaku juga!" jerit Lin Wanru dengan wajah yang penuh dendam.
"Nona... tolong tahan diri Anda," cemas pelayan kepercayaannya. "Ibu Suri dan Kaisar masih berada di istana utama. Jika Anda membuat keributan, posisi Anda sebagai Selir Agung bisa terancam."
Lin Wanru mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Gadis sialan itu... dia berpikir dia bisa menguasai Istana Timur hanya karena mahkota itu? Kita lihat saja besok pagi saat penyerahan Segel Keuangan!"
Sementara itu, di Paviliun Phoenix Agung milik Shen Yue.
Ruangan itu dihiasi lilin-lilin merah yang menyala terang. Shen Yue telah melepas mahkota emasnya yang berat dan kini duduk santai di meja mahoni sambil membaca dokumen wilayah pertahanan perbatasan yang dikirimkan secara rahasia oleh Pangeran Ketiga, Zhao Feng.
Klek.
Tiba-tiba pintu kamar terdorong dan terbuka. Zhao Xiao melangkah masuk dengan sisa pengaruh alkohol dari perjamuan. Ia menatap Shen Yue yang tidak sedikit pun menunjukkan wajah gugup atau penantian layaknya seorang pengantin baru.
"Kau tidak menyambut suamimu?" tanya Zhao Xiao dingin sambil melangkah mendekat.
Shen Yue menaruh gulungan kertas di tangannya, lalu berdiri dengan tenang. "Yang Mulia Putra Mahkota telah tiba. Hamba menyambut Anda."
Zhao Xiao berdiri di hadapan Shen Yue, dan memandangi wanita di depannya dengan perasaan campur aduk antara rasa marah, penasaran, dan kekaguman yang terlarang.
"Shen Yue," ujar Zhao Xiao sambil mengepalkan tangannya. "Aku mematuhi aturan kekaisaran untuk datang ke sini malam ini. Tapi aku ingin memperjelas posisi kita. Istana Timur adalah milikku. Kau boleh mengurus urusan rumah tangga, tetapi jangan pernah mencampuri keputusanku atau mengusik Wanru."
Shen Yue menatap Zhao Xiao dengan pandangan yang membuat Putra Mahkota itu merasa telanjang secara mental.
"Yang Mulia," jawab Shen Yue dengan suara merdu namun sangat berwibawa. "Hamba tidak tertarik mengusik wanita Anda selama dia tau batasan hukum. Namun, jika Nona Lin mencoba merusak aturan istana, menggelembungkan anggaran, atau bermain intrik yang merugikan Istana Timur... hamba akan menindaknya sesuai Hukum Kekaisaran tanpa memandang siapa yang melindunginya."
Zhao Xiao mengerutkan keningnya dengan tajam. "Kau mengancamku?!"
"Hamba tidak mengancam, hamba menegakkan titah Kaisar," potong Shen Yue. "Kaisar memberikan hak pengelolaan Istana Timur kepada Putri Mahkota Utama. Jika Yang Mulia ingin beristirahat, tempat tidur telah disiapkan. Namun jika Anda ingin pergi ke Paviliun Anggrek Merah... pintu terbuka lebar untuk Anda."
Zhao Xiao terpaku di tempatnya. Belum pernah ada seorang wanita pun di dunia ini yang berani berbicara serasional dan setegas ini padanya, apalagi menawarkan suaminya untuk pergi ke tempat wanita lain pada malam pernikahan mereka!
Zhao Xiao mendengus dingin, dan mencoba menutupi kegusaran hatinya. "Kau benar-benar wanita yang dingin dan tidak memiliki perasaan, Shen Yue."
Zhao Xiao kemudian membalikkan badannya dan melangkah menuju sofa kayu di ruang depan, ia menolak untuk tidur di ranjang yang sama namun juga tidak pergi ke tempat Lin Wanru demi menjaga kehormatan hukum istana.
Shen Yue melihat punggung Zhao Xiao yang menjauh dengan senyuman tipis penuh kemenangan. Ia lalu memadamkan lilin utama di mejanya dan kembali berbaring dengan santai.
"Malam pertama telah berlalu," batin Shen Yue dalam kegelapan. "Dan besok pagi... pertempuran memperebutkan kekuasaan mutlak atas Istana Timur akan dimulai secara resmi."
Bersambung...