Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.
Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.
Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.
Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07. Aku Mencarimu
Raina membuka tas tangannya dan mengeluarkan sebuah amplop hitam. Ia meletakkannya di tengah kursi. "Pertama, kita akan memastikan semua orang tahu siapa kalian."
Sean memandang amplop itu dengan mata berbinar. "Kedua?"
"Kita akan memastikan Papah kalian tidak bisa berpura-pura tidak mengenal kalian."
Shia tersenyum. "Ketiga?"
Raina menatap kedua anaknya bergantian."Ketiga, kita akan membuat keluarga besar Papah kalian menyadari bahwa selama delapan tahun mereka telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga."
Sean tersenyum lebar. "Aku suka rencana ini."
Shia mengangkat tangannya seperti murid di kelas. "Kalau aku?"
"Kamu juga punya tugas."
"Apa?"
"Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri."
Shia berkedip. "Kenapa?"
"Karena tidak ada seorang pun yang akan sanggup menolak pesona wajah cantik dan menggemaskanmu."
Shia langsung tersenyum malu. Sean menggelengkan kepala. "Mamah pilih kasih."
"Kamu juga tampan. Ketampanan yang diwariskan Papahmu ini yang akan menjadi senjata ampuh untuk membungkam mulut mereka nantinya."
"Benar juga."
Raina tertawa, namun tawa itu tidak berlangsung lama. Ia kembali melihat keluar jendela. Gedung hotel mewah mulai terlihat di kejauhan. Di sanalah pria yang pernah menjadi bagian dari hidupnya sedang bersiap mengucapkan janji pernikahan kepada wanita lain.
Tanpa mengetahui bahwa mantan istrinya telah kembali. Tanpa mengetahui bahwa dua anaknya sedang duduk di dalam mobil yang menuju ke tempat yang sama. Dan tanpa mengetahui bahwa hari pernikahannya akan berubah menjadi hari paling kacau dalam hidupnya.
Raina menggenggam tangannya sendiri. Delapan tahun lalu, ia pergi dari negara ini sebagai seorang wanita yang kalah. Hari ini, ia kembali sebagai seorang ibu. Dan ia tidak datang untuk merebut kembali cinta yang telah hilang.Ia datang untuk menuntut tempat yang seharusnya menjadi milik kedua anaknya.
"Sean."
"Ya, Mah?"
"Shia."
"Ya?"
Raina menatap kedua anaknya. "Siap membuat Ayah kalian terkejut?"
Sean mengangkat kedua alisnya. "Tentu saja sangat siap."
Shia mengepalkan tangan mungilnya. "Siap!"
Raina tersenyum. "Bagus."
Mobil berhenti tepat di depan lobi hotel. Di balik pintu kaca, puluhan tamu dengan pakaian mewah berlalu-lalang. Bunga-bunga putih menghiasi setiap sudut. Karpet merah terbentang menuju ballroom. Sebuah pernikahan sempurna… setidaknya sampai mereka datang.
Raina membuka pintu mobil. Ia turun lebih dulu, sedangkan Sean dan Shia menyusul di belakangnya. Ketiganya berdiri di depan hotel dengan tatapan penuh keyakinan. Raina merapikan mantel panjangnya.
Kemudian ia menatap kedua anaknya. "Permainan dimulai."
Sean menyeringai, Shia tersenyum manis. Dan untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, Raina melangkahkan kakinya kembali menuju kehidupan yang pernah ia tinggalkan. Kali ini, ia tidak akan pergi tanpa membawa kemenangan.
...****************...
Pintu besar di ujung ruangan terbuka. Namun sebelum Laura muncul, terdengar suara langkah kaki dari arah belakang. Tidak tergesa, tidak pula ragu. Satu langkah… Dua langkah. Hingga kemudian suara seorang perempuan terdengar.
“Tuan Cassion, apa kau masih mengingatku?”
Seketika seluruh ruangan terdiam. Sion mengerutkan kening, merasakan suara yang tidak asing ditelinganya. Suara yang sering ia rindukan selama beberapa tahun ini dan yang hampir membuatnya menjadi gila hanya untuk mencari dan menemukannya.
“Suara itu...” gumam Sion. “Tidak mungkin….”
Ia perlahan menoleh. Dan dunia seolah berhenti bergerak. Seorang perempuan berdiri di ambang pintu. Rambutnya lebih panjang daripada yang ia ingat. Wajahnya terlihat lebih dewasa. Ada ketenangan aneh di matanya yang dahulu tidak pernah Sion kenal. Tetapi tidak ada yang berubah dari tatapan itu. Sion mengenalinya, bahkan setelah delapan tahun.
“Raina...” Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya.
Beberapa orang mulai berbisik. Laura yang baru saja hendak berjalan menuju altar ikut berhenti. Tatapannya beralih kepada perempuan asing yang membuat wajah calon suaminya berubah pucat.
Namun bukan keberadaan Raina yang membuat seluruh ruangan benar-benar kacau, melainkan dua anak kecil yang berdiri di sampingnya. Sepasang anak kembar, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Usia mereka kira-kira tujuh tahun.
Keduanya memiliki wajah yang membuat Sion seketika kehilangan napas. Anak laki-laki itu memiliki sorot mata yang sangat mirip dengannya, begitu pula anak perempuan di sebelahnya. Keduanya berjalan masuk sambil menggenggam tangan Raina.
Lalu anak laki-laki itu mendongak. “Papah?”
Satu kata… hanya satu kata, namun rasanya seperti petir yang menyambar tepat di tengah ruangan. Sion membeku, Wajah Laura memucat dan para tamu mulai berbisik lebih keras. Semua orang di dalam aula pernikahan itu jelas sangat terkejut dengan kemunculan Raina dan sepasang anak kembar di sampingnya.
“Papah?”
“Dia memanggil Tuan Cassion... Papah?”
“Anak siapa itu?”
“Bukankah mereka terlihat seperti anak kembar?”
Sion bahkan tidak mendengar semuanya. Matanya hanya tertuju kepada dua anak itu.
“Raina...” suaranya bergetar. “Apa maksud semua ini?”
Raina tidak menjawab. Anak perempuan itu justru melangkah maju. Ia menatap Sion dengan mata polos, lalu tersenyum kecil. “Papah akhirnya akhirnya bisa bertemu dengan kami.”
Jantung Sion serasa berhenti. Delapan tahun…. Delapan tahun ia mencari keberadaan Raina, tapi ia tidak menemukan satu pun jejak tentang kepergiannya. Dan sekarang perempuan itu datang kembali membawa dua anak. Anak-anak yang memanggilnya Papah.
Sion menatap Raina dengan napas memburu. “Anak-anak ini...”
Raina hanya diam. Jujur saja, ia merasa sangat puas menikmati keterkejutan Sion saat ini. Pria yang sebelumnya hanya memiliki ekspresi dingin bak gunung es. Rupanya bisa menunjukkan sisinya yang lain, karena ulahnya.
“Siapa mereka?” tanya Sion penuh penekanan.
Jika dulu Raina akan langsung merasa takut dengan tekanan yang Sion berikan, kini ia malah tidak gentar sama sekali. Tatapan Raina beralih kepada kedua anak itu. Kemudian kembali kepada Sion. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang menyerupai kesedihan di wajahnya.
“Kau benar-benar tidak mengenali mereka?” Pertanyaan itu membuat Sion tidak mampu menjawab.
Raina tersenyum tipis. “Wajar.” Ia menggenggam tangan kedua anak itu lebih erat. “Mereka bahkan belum pernah mengenalmu. Tapi setidaknya kau bisa mengenali wajah mereka yang sangat mirip denganmu, bukan?”
Suasana berubah semakin gaduh. Perkataan Raina sudah cukup bagi semua orang untuk mengerti maksudnya. Sepasang anak kembar itu memang sangat mirip dengan Sion, baik cara menatap maupun sikapnya.
Menyadari pernikahannya sudah dalam bahaya. Laura menatap Sion dengan air mata yang mulai menggenang. “Sion...”
Sion tidak menoleh. Ia mengabaikan calon istrinya begitu saja, sebab yang terpenting saat ini adalah jawaban dari mantan istrinya itu. Tentang kebenaran sepasang anak kembar itu dan juga alasannya menghilang begitu saja tanpa jejak. Bahkan dirinya yang merupakan ketua klan mafia yang paling ditakuti tidak mendapatkan satupun petunjuk keberadaan Raina selama delapan tahun ini.
“Raina, jawab aku.”
“Delapan tahun lalu kau mencari keberadaanku.” Bukannya menjawab, Raina malah kembali melontarkan pertanyaan.
“Ya, Aku mencarimu ke mana-mana.”
“Aku tahu.”
“Kau tahu?”
Bersambung….