Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 24 - Istriku
Ashlyn mulai benar-benar tenggelam dalam pelajarannya. Di atas meja, beberapa lembar kertas telah dipenuhi coretan warna-warni yang menurut Ashlyn adalah gambar bunga, rumah, dan sesuatu yang ia sebut sebagai keluarga.
Psikiater dan dokter yang mendampinginya tidak terburu-buru mengoreksi. Mereka membiarkan Ashlyn menikmati proses tersebut, sesekali memberikan pertanyaan sederhana untuk melihat bagaimana gadis itu memahami sesuatu.
Ethan sendiri tetap berada di sana selama beberapa waktu. Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari Ashlyn. Ia memperhatikan bagaimana gadis itu memegang pensil, bagaimana ia mencoba mengikuti garis yang diberikan, bahkan bagaimana wajahnya berubah serius hanya karena ingin membuat sebuah lingkaran dengan sempurna.
"Ashlyn," panggil Ethan akhirnya.
"Iya, suamiku?"
"Kalau sudah selesai, tunjukkan kepadaku."
Ashlyn langsung tersenyum. "Suamiku mau lihat?"
"Iya."
"Baik!" Semangat Ashlyn kembali muncul, Ia bahkan membungkukkan tubuh lebih dekat ke meja dan mulai menggambar dengan lebih serius.
Melihat itu, Ethan akhirnya berdiri. Ia masih memiliki beberapa laporan yang harus diperiksa dan sejumlah pekerjaan lain yang tidak mungkin terus ditinggalkan. Sebelum keluar, ia sempat menoleh kepada dokter dan psikiater.
"Kalau ada sesuatu yang penting, segera beri tahu aku."
"Tentu, Jenderal."
Ethan mengangguk, lalu berjalan meninggalkan ruangan.
Namun baru beberapa langkah melewati koridor, seorang pelayan yang sejak tadi menunggu di ujung lorong segera menghampirinya. Begitu melihat Jenderal Ethan, pelayan tersebut langsung berhenti dan menundukkan kepala dengan sikap hormat.
"Jenderal."
Ethan menghentikan langkah. "Ada apa?"
Pelayan itu tampak sedikit gugup. Ia sebenarnya ragu apakah persoalan ini perlu disampaikan langsung kepada Ethan atau tidak. Namun karena menyangkut tamu yang sudah cukup lama menunggu di ruang tengah, ia merasa tidak seharusnya menyembunyikan keadaan tersebut.
"Nona Nadine masih menunggu di ruang tengah, Jenderal."
Ethan mengerutkan kening tipis, "Nadine?"
"Benar, Jenderal."
Ethan baru teringat bahwa Nadine memang datang pagi ini. Ia bahkan sempat mendengar laporan mengenai kedatangannya, tetapi karena sedang mendampingi Ashlyn, ia sama sekali tidak memperhatikannya lagi.
"Sudah berapa lama?"
"Kurang lebih satu jam ini, Jenderal." Pelayan itu kemudian ragu-ragu sebelum kembali membuka suara. "Dan ada satu hal lagi yang perlu saya laporkan."
"Katakan."
Pelayan itu menarik napas pelan. "Tadi Nona Nadine sempat bertemu dengan Nona Ashlyn di halaman."
Tatapan Ethan langsung berubah. "Mereka bertemu?"
"Benar, Jenderal."
"Apa yang terjadi?"
Pelayan tersebut menundukkan kepala lebih dalam. "Nona Nadine bertanya kepada kami mengenai siapa Nona Ashlyn. Setelah itu Nona Ashlyn sendiri yang mengatakan bahwa dirinya adalah istri Jenderal."
Ethan diam, tiba-tiba ingin tersenyum kecil saat mendengar hal tersebut. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana kepolosan Ashlyn menjawab pertanyaan tersebut tanpa sedikit pun menyadari bahwa pengakuannya mungkin akan menimbulkan masalah.
Pelayan itu melanjutkan dengan suara semakin hati-hati.
"Setelah itu Nona Nadine beberapa kali menanyakan kepada kami apakah benar Nona Ashlyn adalah istri Jenderal."
Ethan masih diam.
"Saya minta maaf, Jenderal," ucap pelayan itu kemudian, lalu menundukkan kepala semakin dalam. "Saya tidak bermaksud lancang atau mencampuri urusan pribadi Jenderal. Saya hanya merasa sebaiknya Jenderal mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi."
Ethan menatap pelayan itu beberapa saat. "Kamu tidak perlu meminta maaf."
Pelayan tersebut perlahan mengangkat wajah.
"Aku memang perlu mengetahui apa yang terjadi di rumah ini," lanjut Ethan tenang.
"Baik, Jenderal."
Ethan kemudian kembali melangkah. Namun kali ini arahnya bukan menuju ruang kerja, Ia menuju ruang tengah dimana Nadine berada.
Semakin dekat dengan ruangan tersebut, suara langkah kaki Ethan terdengar semakin jelas. Beberapa pelayan yang berada di sepanjang koridor langsung menyingkir dan menundukkan kepala.
Sementara di ruang tengah, Nadine masih duduk dengan punggung tegak. Meski sudah menunggu cukup lama, ia tetap berusaha mempertahankan sikap tenangnya. Tangannya berada di atas pangkuan, sementara matanya sesekali mengarah ke lorong yang menjadi akses menuju ruangan tersebut.
Ketika akhirnya mendengar suara langkah kaki, Nadine langsung mengangkat wajah. Dan detik berikutnya, Ethan muncul dari balik koridor.
Nadine seketika tersenyum.
Akhirnya.
Setelah menunggu selama ini, Ethan datang juga menemuinya.
Nadine segera berdiri dan merapikan gaunnya. "Ethan."
Ethan berhenti beberapa langkah di hadapannya. Tatapannya tetap tenang seperti biasa, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di sana. Ia tahu betul Nadine datang bukan sekadar untuk berkunjung.
Dan setelah mendengar bahwa Nadine sudah bertemu Ashlyn serta berulang kali mempertanyakan status gadis itu, Ethan juga tahu bahwa pembicaraan mereka tidak akan sesederhana yang Nadine harapkan.
"Kenapa kamu datang?" tanya Ethan datar.
Nadine sempat terdiam. Nada suara itu masih sama, dingin, tenang, dan sulit dibaca. Namun Nadine tetap tersenyum.
"Aku datang karena ingin berbicara denganmu."
"Kalau begitu bicaralah."
Nadine menatap Ethan beberapa saat. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, tetapi satu hal terus menguasai pikirannya sejak tadi.
Tentang wanita yang berlari di taman.
Tentang gadis yang memanggil Ethan suami.
Tentang pengakuan bahwa dirinya adalah istri Jenderal Ethan Harold.
"Siapa sebenarnya Ashlyn?" tanya Nadine perlahan.
Tatapan Ethan langsung menjadi lebih dalam.
Sementara Nadine menahan napas, menunggu jawaban yang sejak tadi ingin didengarnya langsung dari mulut pria itu.
"Bukankah kamu sudah mendengarnya langsung dari Ashlyn, dia adalah istriku," jawab Ethan.
Rasakan ya permainan baru saja dimulai ... ini masih awal untuk selanjutnya pasti akan lebih mengejutkan lagi ...
kira kira begitulah yang dirasakan Ethan pada Ashlyn saat perubahan itu ada pada Ashlyn....
aslyn ga kenal anda yah
jadi jangan coba2 mendekati aslyn