Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Rumah besar Wijaya terasa semakin sunyi akhir-akhir ini. Adeline menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar, berbaring di tempat tidur sambil memeluk boneka beruangnya. Gadis kecil itu tidak lagi bermain di halaman belakang atau menggambar di ruang tamu seperti biasanya. Dia hanya diam, menatap langit-langit kamar dengan mata kosong.

Elena sangat khawatir. Putrinya yang dulunya ceria dan penuh senyum, kini berubah menjadi pendiam dan lesu. Adeline jarang makan dan sering terbangun di tengah malam dengan tangisan yang tidak bisa dijelaskan. Elena mencoba bertanya apa yang terjadi, tetapi Adeline hanya menggeleng dan berkata bahwa dia lelah.

Adrian juga merasakan perubahan pada putrinya. Suatu malam, ketika dia masuk ke kamar Adeline untuk mengucapkan selamat malam, dia menemukan gadis kecil itu duduk di sudut tempat tidur sambil menutup telinganya dengan kedua tangan. Matanya tertutup rapat dan tubuhnya bergetar.

"Sayang, ada apa?" tanya Adrian dengan cemas. Dia mendekati putrinya dan mencoba memeluknya, tetapi Adeline justru menjauh.

"Suaranya terlalu keras, Ayah," bisik Adeline dengan suara parau. "Semua orang berteriak di kepalaku. Aku tidak bisa tidur. Aku tidak bisa berpikir. Aku ingin semuanya berhenti."

Adrian merasakan dadanya sesak. Dia menyadari bahwa kemampuannya, anugerah yang selama ini menyelamatkan keluarga mereka, kini menjadi beban yang menghancurkan putrinya dari dalam. Dia memeluk Adeline dengan lembut dan berbisik, "Ayah akan mencari bantuan, Sayang. Ayah tidak akan membiarkanmu menderita sendirian."

Keesokan harinya, Clara Anindita datang ke rumah Wijaya. Psikolog anak yang sudah dihubungi Adrian sejak beberapa bulan lalu, akhirnya tiba dengan tas kerjanya dan senyum ramah. Clara adalah wanita muda berusia tiga puluh tahun dengan rambut pendek dan mata yang penuh kehangatan. Dia sudah berpengalaman menangani anak-anak dengan kepekaan tinggi, meskipun kasus Adeline adalah yang paling unik yang pernah dia temui.

Clara duduk di ruang tamu bersama Adeline. Gadis kecil itu awalnya enggan berbicara, tetapi Clara tidak memaksa. Dia membawa beberapa buku bergambar dan mainan yang menarik perhatian Adeline. Perlahan, Adeline mulai membuka diri dan berbicara dengan Clara tentang apa yang dia rasakan.

"Aku mendengar suara-suara, Bu Clara," kata Adeline dengan suara pelan. "Setiap hari, setiap malam. Suara hati orang-orang di sekitarku. Kadang aku mendengar kebahagiaan, tapi lebih sering aku mendengar kesedihan, ketakutan, dan kebencian. Aku tidak bisa menghentikannya. Aku sudah mencoba menutup telingaku, tapi suara-suara itu tetap datang."

Clara mendengarkan dengan penuh perhatian. "Itu pasti sangat melelahkan, Adeline. Kamu harus mendengar semua perasaan orang lain setiap saat. Tidak ada istirahat sama sekali."

Adeline mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku lelah, Bu. Aku ingin berhenti mendengar. Tapi aku tidak bisa. Kalau aku berhenti mendengar, siapa yang akan melindungi keluargaku? Siapa yang akan tahu kalau ada orang jahat yang ingin menyakiti mereka?"

Clara tersenyum lembut. "Kamu sangat berani, Adeline. Kamu sudah melakukan banyak hal untuk melindungi keluargamu. Tapi kamu juga harus ingat bahwa kamu masih anak kecil. Kamu tidak harus menyelesaikan semua masalah sendirian."

Adeline menatap Clara dengan mata penuh harap. "Apa maksud Bu?"

"Kemampuanmu adalah anugerah, bukan kutukan," jelas Clara dengan lembut. "Tapi seperti semua anugerah, ia perlu dikelola dengan baik. Kamu perlu belajar kapan harus mendengarkan dan kapan harus mengabaikan suara-suara itu. Kamu juga perlu belajar bahwa kamu boleh meminta bantuan. Kamu tidak harus menjadi pahlawan sendirian."

Adeline terdiam, merenungkan kata-kata Clara. Selama ini dia merasa bahwa tanggung jawab melindungi keluarganya ada di pundaknya sendiri. Dia pikir jika dia berhenti mendengar, maka keluarganya akan hancur. Tetapi sekarang, untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa dia tidak harus melakukannya sendirian.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Adeline pelan.

"Pertama, kamu harus belajar melindungi dirimu sendiri," kata Clara. "Kamu bisa mencoba teknik pernapasan untuk menenangkan pikiranmu. Kamu juga bisa belajar memvisualisasikan tembok di sekitarmu untuk memblokir suara-suara yang terlalu keras. Dan yang terpenting, kamu harus berbicara dengan orang tuamu setiap kali kamu merasa kewalahan. Mereka ingin membantumu, Adeline. Mereka hanya perlu tahu apa yang kamu butuhkan."

Adeline menatap Clara dengan mata yang mulai bersinar. "Jadi aku tidak harus mendengar semuanya?"

"Kamu tidak harus mendengar semuanya," jawab Clara dengan tegas. "Kamu boleh memilih. Kamu boleh beristirahat. Kamu boleh meminta tolong. Itu bukan tanda kelemahan, Adeline. Itu adalah tanda kebijaksanaan."

Sore itu, Adeline duduk di pelukan ibunya di ruang keluarga. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, dia merasa sedikit lebih tenang. Clara telah mengajarinya teknik pernapasan sederhana yang bisa dia gunakan ketika suara-suara itu menjadi terlalu keras. Dia juga mengajarinya untuk membayangkan sebuah ruang yang aman di dalam pikirannya, tempat dia bisa bersembunyi ketika dunia terasa terlalu berat.

"Ibu," bisik Adeline pelan. "Aku ingin Ibu tahu bahwa aku sayang Ibu. Dan aku minta maaf karena membuat Ibu khawatir."

Elena memeluk putrinya erat, air mata mengalir di pipinya. "Kamu tidak perlu minta maaf, Sayang. Ibu hanya ingin kamu bahagia. Ibu tidak mau kamu menderita."

Adeline tersenyum kecil. "Aku akan baik-baik saja, Bu. Clara bilang aku bisa belajar mengendalikan kemampuan ini. Aku tidak harus mendengar semuanya setiap saat."

Adrian yang mendengar percakapan itu dari pintu ruang tamu, merasa lega. Dia berjalan mendekati keluarganya dan bergabung dalam pelukan mereka. "Ayah sangat bangga padamu, Sayang. Kamu adalah gadis kecil yang paling kuat yang pernah Ayah kenal."

Nathan yang juga datang menghampiri, ikut memeluk adiknya. "Kamu hebat, Ade. Kakak selalu ada untukmu, apapun yang terjadi."

Malam itu, ketika Adeline berbaring di tempat tidurnya, dia merasakan ketenangan yang sudah lama tidak dia rasakan. Suara-suara hati orang-orang di sekitarnya masih ada, tetapi kali ini dia tidak merasa terbebani. Dia mengambil napas dalam-dalam seperti yang diajarkan Clara dan membayangkan dirinya berada di taman yang indah, jauh dari semua kebisingan.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Adeline tertidur dengan damai. Dia tidak mendengar teriakan ketakutan atau bisikan kebencian. Dia hanya mendengar suara hatinya sendiri, yang berbisik pelan, "Aku akan baik-baik saja. Aku tidak sendirian. Aku punya keluarga yang mencintaiku."

Di luar kamarnya, Adrian dan Elena berdiri bergandengan tangan, menatap putri mereka yang tertidur dengan tenang. "Kita harus selalu ada untuknya," bisik Adrian. "Dia sudah terlalu banyak menanggung beban."

Elena mengangguk, air mata bahagia mengalir di pipinya. "Kita akan selalu ada untuknya. Kita adalah keluarganya. Dan kita tidak akan pernah membiarkannya merasa sendirian lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!