Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Puskesmas Tanpa NICU
Pakde Karyo membunyikan klakson sebelum mobil berhenti di pintu Puskesmas.
Dua petugas sudah menunggu dengan kursi roda. Arya turun lebih dulu, lalu memindahkan Laras tanpa membiarkannya berdiri. Ningsih menjelaskan waktu jatuh, perkiraan lama di air, jumlah kontraksi, dan bahwa Laras sempat batuk setelah tertolong.
“Usia kehamilan?” tanya bidan.
“Tujuh bulan lebih,” jawab Arya sambil menyerahkan buku KIA yang dibawa Jarwo beberapa menit kemudian.
Laras dibawa ke ruang pemeriksaan. Pakaian basah diganti, suhu dan kadar oksigen diperiksa, lalu bidan memasang alat untuk mendengar detak jantung janin. Suara cepat itu memenuhi ruangan.
Arya menutup mata sesaat.
“Denyutnya ada dan saat ini baik,” kata bidan. “Tapi kontraksinya harus dipantau. Ada air atau darah keluar dari jalan lahir?”
“Tidak,” jawab Laras.
“Pusing berat? Pandangan kabur? Sulit bernapas?”
“Sedikit pusing, napas sudah lebih baik.”
Dokter jaga memeriksa kondisi umum dan luka luar. Tidak ada cedera kepala yang jelas, tetapi Laras harus diawasi karena sempat tenggelam serta mengalami benturan dan stres.
Kontraksi datang lagi. Arya berdiri di sisi ranjang, membiarkan Laras meremas tangannya.
“Puskesmas ini tidak punya NICU,” dokter berkata setelah kontraksi mereda. “Kalau ketuban pecah, terjadi perdarahan, pembukaan bertambah, kontraksi menetap, atau kondisi bayi menurun, kami rujuk ke rumah sakit kabupaten. Ambulans disiagakan.”
“Berapa lama perjalanan?” tanya Arya.
“Dalam kondisi malam dan jalan basah, bisa lebih dari satu jam.”
Rahang Arya mengeras.
“Untuk sekarang, kami observasi ketat dan memberi penanganan sesuai hasil pemeriksaan,” lanjut dokter. “Jangan berpikir sudah aman hanya karena detak bayi terdengar baik sekali ini.”
Laras ditempatkan di ruang observasi. Arya tidak pernah melepas tangannya. Ketika Rukmini tiba membawa pakaian, beliau mencium kening menantunya lalu menangis diam-diam di luar.
Guntur menelepon. Ia tetap di rumah untuk menjaga dokumen perkara dan menghindari kerumunan yang dapat memperluas kabar, tetapi suaranya terdengar berat.
“Bapak menyusul kalau dibutuhkan.”
“Tetap di rumah, Pak,” kata Laras. “Aku sedang ditangani.”
“Jangan lindungi perkara Bapak dengan mengorbankan dirimu.”
“Bukan begitu. Kalau harus dirujuk, baru Bapak datang bersama Sekar.”
Mereka sepakat. Keputusan itu bukan tanda Guntur tidak peduli, melainkan cara menjaga satu anggota keluarga tetap berpikir jernih di rumah.
Menjelang tengah malam, jarak kontraksi memanjang. Tidak ada perdarahan atau rembesan ketuban. Detak janin tetap dipantau berkala.
Setiap kali petugas datang, Arya menyebut waktu kontraksi dari catatannya. Laras diminta berbaring miring, minum sesuai arahan, dan tidak bangun tanpa bantuan. Ketika ingin ke kamar kecil, Arya memanggil bidan alih-alih mengangkatnya sendiri.
“Saya bisa berjalan,” protes Laras.
“Kamu juga tadi bilang hanya akan pergi lima menit.”
Nada Arya terlalu tegang untuk dibalas dengan candaan. Laras menurut.
Pakde Karyo menunggu di luar sampai dokter memastikan rujukan belum diperlukan. Ia kemudian kembali ke desa untuk mengambil keranjang Melati dan mencari tahu siapa yang pertama tiba di kanal. Semua nama dicatat, tetapi tidak seorang pun diminta mengubah cerita.
“Kita butuh ingatan mereka, bukan jawaban yang ingin kita dengar,” pesan Arya melalui telepon.
Keranjang dan amplop disimpan dalam kantong terpisah. Pakde Karyo juga memotret lokasi dari jalan umum sebelum hujan berikutnya menghapus jejak. Bukti itu belum membuktikan dorongan, tetapi setidaknya mencegah seluruh kejadian berubah menjadi gosip tanpa bentuk.
Di desa, kabar bahwa Melati menyelamatkan Laras sudah menyebar. Bu Sri bahkan mengirim pesan di grup warga agar semua mendoakan putrinya yang masih trauma setelah “aksi berani”. Arya membaca pesan itu sekali, lalu mematikan layar.
“Jangan balas,” kata Laras.
“Saya tahu.”
Namun urat di punggung tangannya menonjol saat ia meletakkan telepon.
Ningsih duduk di kursi dekat pintu, pakaian kotornya belum sempat diganti. “Aku seharusnya tidak meninggalkanmu.”
“Anak itu berdarah.”
“Aku bisa memanggil orang lain.”
“Melati merencanakan momen ketika kamu harus memilih. Kesalahannya milik dia.”
Arya menoleh tajam. “Kamu yakin dia mendorongmu?”
Laras mengangguk. “Tangannya di punggungku. Aku sudah mundur dari tepi.”
“Siapa yang melihat?”
“Tidak ada.”
Mereka bertiga terdiam. Warga hanya menyaksikan Melati turun ke air. Bila Laras menuduh sekarang, perempuan itu akan memakai pakaian basahnya sebagai bukti kebaikan.
“Ada amplop,” kata Ningsih. “Melati bilang dari sekolah.”
“Keranjangnya tertinggal di jalan,” ujar Arya. “Pakde Karyo sudah meminta warga menjaganya tanpa menyentuh.”
“Dan pita biru di pagar,” tambah Laras.
“Belum cukup. Tapi tidak dibuang.”
Arya mengusap wajah. Matanya merah karena air kanal yang mengering di kulit atau karena ia belum berkedip cukup lama.
“Saya tahu dia berbahaya,” katanya. “Saya tetap pergi.”
“Mas tidak mendorongku.”
“Saya seharusnya berada di sana.”
“Kalau Mas terus berada satu langkah dariku, kita tidak punya hidup. Yang salah orang yang memilih menyakiti.”
Arya menunduk, dahinya menyentuh tangan Laras. “Saya hampir kehilangan kalian.”
“Tapi belum.”
Gerakan kecil muncul di bawah selimut. Arya segera meletakkan telapak tangan di perutnya.
“Dia masih di sini,” bisik Laras.
Untuk pertama kalinya malam itu, bahu Arya turun sedikit.
Pagi berikutnya, dokter menyatakan kontraksi telah berhenti tanpa tanda persalinan aktif. Laras belum boleh pulang sampai observasi selesai. Setelah itu ia harus istirahat ketat, menghindari perjalanan sendiri, dan kembali segera bila salah satu tanda bahaya muncul.
Petugas menulis seluruh kejadian di catatan KIA, termasuk jatuh ke air, kontraksi sementara, hasil pemantauan, dan instruksi kembali. Nomor rujukan rumah sakit kabupaten ditempel ulang pada sampul agar tidak dicari saat panik.
Rukmini menghafal tanda bahaya sambil mencatatnya pada kertas terpisah. Ningsih mengatur agar pesanan jahit dihentikan beberapa hari. Sekar memberi kabar ke sekolah bahwa Laras sedang dalam observasi tanpa menyebarkan dugaan tentang Melati.
Untuk sementara, keluarga mereka memilih menjaga tubuh Laras dan fakta kejadian, bukan memenangkan percakapan desa.
“Tes guru tinggal beberapa hari,” kata Laras.
Arya menatapnya tidak percaya.
Dokter mengangkat tangan. “Kalau kondisi tetap stabil dan sekolah memberi kursi serta kesempatan istirahat, duduk mengikuti tes mungkin dapat dipertimbangkan. Tapi keputusan berdasarkan pemeriksaan hari itu. Tidak ada pekerjaan yang lebih penting daripada tanda bahaya.”
Laras mengangguk. Ia tidak berniat mempertaruhkan bayi demi kemenangan. Namun ia juga menolak membiarkan dorongan Melati menentukan jalan hidupnya.
Dari jendela Puskesmas, ia melihat langit pagi yang pucat.
“Aku tidak akan menuduh tanpa bukti,” katanya kepada Arya. “Tapi aku juga tidak akan lupa.”
“Saya akan mencari buktinya.”
Laras menggenggam tangannya. “Kita cari. Dengan kepala dingin.”
Melati mungkin berhasil muncul sebagai penyelamat di mata desa.
Namun Laras dapat menunggu. Bukti akan datang, dan sementara itu ia masih memiliki ujian yang tidak boleh dirampas oleh satu dorongan di tepi air.