Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.6 Pengakuan Emily
"Papa, aku mau tidur sama Tante Luna malam ini," ucap Emily pada Leon saat mereka sudah berada di dalam rumah mewah sang mafia itu.
Leon menatap Luna, dia juga tidak menyangka kalau Emily merasa sangat nyaman bersama Luna.
"Tidak apa-apa Tuan kalau di ijinkan aku akan menemani Emily tidur malam ini dan besok pagi aku harus pulang untuk bekerja lagi," ucap Luna pada Leon yang berdiri di hadapannya itu. Leon menatap Luna tanpa berkata apa-apa dan menganggukan kepalanya.
Leon keluar dari kamar Emily, sementara itu Luna membersihkan tubuh Emily dan mengganti baju Emily yang mulai kemaren malam tidak pernah ganti itu.
Terdengar pintu kamar Emily di ketuk oleh seseorang dari luar "Permisi non," ucap Bibik dari luar kamar.
Luna berjalan kearah pintu kamar itu dan membukanya "Non Luna dan non Emily sudah di tunggu tuan untuk makan malam di meja makan," ucap bibik itu pada Luna.
"Baik Bik, aku dan Emily akan segera ke sana," ucap Luna dengan sopan pada Bibik senior itu.
Bibik itu pergi meninggalkan kamar Emily sementara Luna berjalan menghampiri Emily yang sedang duduk di bibir tempat tidur "Emily...kata Bibik tadi papanya Emily sudah menunggu kita untuk makan malam, ayo kita ke sana," ucap Luna dengan lembut pada Emily.
"Iya Tante Luna," Emily turun dari ranjang dan berdiri di samping Luna, Luna mengandeng lengan Emily berjalan keluar dari kamar menuju ke ruang meja makan.
Setiba di ruang meja makan terlihat Leon sudah duduk di sana menunggu kedatangan mereka berdua "Silahkan duduk," ucap Leon pada Luna dan Luna pun akhirnya duduk di hadapan Leon sedangkan Emily duduk di samping Luna.
"Emily mau makan apa?" tanya Luna dengan lembut pada gadis kecil itu.
"Aku mau makan sama sop daging Tante Luna," jawab Emily.
"Tunggu ya, Tante Luna ambilkan dulu," kemudian Luna mengambil piring yang ada di hadapan Emily lalu mengisinya dengan nasi dan sop daging permintaan Emily tadi.
"Ini, ayo makan," Luna meletakkan piring yang sudah berisi nasi dan sop daging itu di hadapan Emily.
Leon memperhatikan Luna yang begitu perhatian pada Emily putri semata wayangnya itu. Dan setelah makan malam selesai Luna dan Emily kembali ke kamar nya.
...----------------...
Matahari pagi menyusup malu-malu dari balik tirai kamar Emily. Luna baru saja selesai merawat luka di kaki Emily, Bau antiseptik yang menusuk hidung tidak mengurangi kehangatan di sudut ruangan itu. Di atas tempat tidur berukuran sedang, Emily kecil duduk bersandar pada tumpukan bantal lembut. Jemari mungilnya menggenggam erat jemari Luna, seolah takut jika ia berkedip sedikit saja, sosok wanita di hadapannya itu akan lenyap.
"Tante Luna... jangan pergi, ya?" bisik Emily lirih. Suaranya masih agak serak, namun matanya yang bulat menatap Luna penuh permohonan.
Luna terdiam sesaat tapi dia memang harus pergi pagi ini untuk kembali bekerja dan meninggalkan Emily kembali pada keluarganya lagi, tapi Luna juga tidak tega melihat raut wajah Emily yang memohon padanya itu dan akhirnya Luna pun berusaha untuk menenangkan Emily kecil.
Luna mengulas senyum paling hangat yang ia miliki. Dengan lembut, ia mengusap rambut keriting Emily yang halus. "Tante tidak ke mana-mana, Sayang. Tante di sini, menunggui Emily sampai sembuh."
"Janji?" Emily mengacungkan jari kelingking mungilnya.
Janji," balas Luna, melingkarkan jari kelingkingnya pada milik Emily. Rasa hangat menjalar di dada Luna. Setelah sekian lama hidup dalam kehampaan dan siksaan di rumah orang tua angkatnya, rasa dibutuhkan oleh seorang anak kecil seperti ini membuat hatinya bergetar.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Langkah kaki yang mantap dan berat menggema di lantai marmer. Leon masuk dengan setelan jas hitamnya yang rapi. Wajahnya yang tegas dan tampan tampak tenang, namun tatapan matanya yang tajam langsung tertuju pada dua sosok di atas ranjang. Di belakangnya, seorang pria berjas abu-abu yang merupakan asisten pribadinya, mendampingi dengan tenang.
"Bagaimana keadaannya?" suara berat Leon memecah keheningan.
Luna refleks hendak berdiri untuk memberi penghormatan, namun cengkeraman tangan Emily mendadak mengencang.
"Papa..." panggil Emily pelan. Ada sedikit jarak dalam nadanya, sangat berbeda dibanding saat ia berbicara dengan Luna.
Leon mendekati ranjang, menatap putrinya dengan tatapan yang sedikit melunak, satu-satunya momen di mana aura dingin sang pimpinan mafia sedikit meredup. "Emily, Papa sudah menyuruh pengasuh baru untuk merawat kamu."
Leon memberi isyarat pada seorang wanita paruh baya berseragam rapi yang berdiri di luar pintu untuk masuk. "Ini Ibu Sarah. Dia akan merawatmu di rumah," ucap Leon pada Emily.
Begitu wanita asing itu melangkah mendekat, tubuh Emily mendadak tegang. Raut wajahnya berubah drastis, dipenuhi ketakutan yang mendalam. Ia langsung memeluk pinggang Luna erat-erat dan menyembunyikan wajahnya di perut Luna.
"Enggak mau! Emily enggak mau!" jerit kecil Emily mulai terisak. "Papa jahat! Emily enggak mau sama orang asing!"
"Emily, bersikap sopan," tegur Leon dengan nada datar namun tegas. "Dia pengasuh yang berpengalaman."
"Enggak mau, Papa! Mereka semua jahat!" tangis Emily pecah. Bahunya naik turun menahan napas yang tersendat. "Waktu ada penjahat yang mau bawa Emily, enggak ada yang nolongin Emily! Cuma Tante Luna yang peluk Emily! Cuma Tante Luna yang hilangin rasa takut Emily!"
Kata-kata anak berusia lima tahun itu menghantam ruangan seperti dentuman keras. Pengasuh baru itu tertegun dan mundur beberapa langkah, sementara asisten Leon menunduk tak berani bersuara
Emily mendongak, menatap Leon dengan mata berair yang merah. "Kalau Tante Luna pergi, Emily juga mau pergi! Emily mau sama Tante Luna saja! Tante Luna wangi, lembut... Emily merasa aman kalau ada Tante Luna..."
Luna menggigit bibir bawahnya, menahan rasa haru sekaligus canggung. Ia merangkul tubuh mungil Emily, berusaha menenangkan detak jantung anak itu yang berpacu cepat. "Ssstt... Sayang, tenang ya... Tante di sini..."
Leon berdiri mematung. Matanya yang sehitam malam menatap lekat-lekat pada Luna dan Emily. Sejak kepergian istrinya, Emily menjadi anak yang tertutup, dingin, dan jarang sekali berbicara panjang lebar. Namun di hadapan wanita sederhana yang baru dikenalinya semalam ini, putrinya bersikap begitu terbuka dan protektif.
Ada sesuatu pada diri Luna kelembutan yang tak berpura-pura dan aura menenangkan yang berhasil meruntuhkan dinding pertahanan tinggi di hati Emily.
Leon menghela napas panjang. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah jam tangan bersepuh emas, lalu melirik angkanya dingin.
"Keluar," perintah Leon pendek pada pengasuh baru dan asistennya
Pengasuh baru dan asisten Leon itupun langsung keluar meninggalkan kamar Emily.
Setelah pintu tertutup rapat, Leon melangkah mendekati Luna. Jarak mereka kini hanya terpaut satu meter. Aura dominan dari pria itu membuat Luna menahan napasnya sejenak.
"Kau mendengarnya sendiri, bukan?" ujar Leon, tatapan matanya menusuk tepat ke iris mata Luna. "Putriku tidak menginginkan orang lain selain dirimu."
Luna menelan ludah. "Tuan... saya hanya seorang kurir makanan. Saya tidak punya keahlian khusus untuk menjadi pengasuh anak seorang..." Luna menghentikan kalimatnya, tidak berani menyebut kata mafia.
Leon menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan Luna, melipat tangannya di dada. "Sesuai pembicaraan kita semalam, aku punya penawaran yang tidak akan bisa kau tolak. Penawaran yang akan membebaskanmu sepenuhnya dari orang tua angkatmu yang jahat itu."
Emily perlahan meredakan tangisnya, namun tetap memeluk lengan Luna erat-erat. Luna menatap pria perkasa di depannya, menyadari bahwa hidupnya baru saja berbelok ke arah yang sangat berbahaya sekaligus menjadi satu-satunya jalan keluar dari neraka.
Pesan dari Susan juga kembali terngiang-ngiang di telinganya, kalau dia harus berhati-hati jika masih berhubungan dengan Leon.
Luna harus berpikir dengan keras untuk mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya.