Xiao Yi pernah menjadi pembunuh yang ditakuti dunia. Namun sebuah konspirasi merenggut nyawanya.
Ketika membuka mata kembali, ia justru terbangun di Benua Yanlong, dalam tubuh seorang tuan muda lemah yang baru saja dikhianati tunangannya dan dibunuh sepupunya sendiri.
Semua orang menganggapnya sampah.
Mereka tidak tahu bahwa Xiao Yi yang dahulu telah mati.
Kini, di tubuh itu hidup seorang petarung yang terbiasa berjalan di antara darah dan kematian. Lebih mengejutkan lagi, Pedang Bingluan yang ikut menyebabkan kematiannya muncul kembali sebagai Jiwa Bela Diri misterius.
Dengan kehidupan kedua dan kekuatan yang seharusnya tidak dimilikinya, Xiao Yi hanya memiliki satu jawaban bagi mereka yang ingin menginjaknya lagi:
Jika dunia ini menghormati yang kuat, maka ia akan berdiri di puncaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Berani Menantangku, Bersiaplah Tumbang
Darah di sudut bibir Xiao Yi belum mengering.
Beberapa meter di hadapannya, Xiao Ruokang berdiri melindungi adiknya.
Suasana arena yang sebelumnya dipenuhi sorakan kini berubah mencekam.
Tidak seorang pun menyangka pertandingan antara Xiao Yi dan Xiao Ruohan akan berakhir dengan kemunculan orang lain.
Terlebih lagi, orang itu adalah Xiao Ruokang.
"Kakak..."
Suara lemah terdengar dari belakangnya.
Xiao Ruohan berusaha mengangkat kepala. Wajahnya telah membengkak, pakaiannya penuh darah, dan napasnya tersengal.
"Balaskan dendamku..."
Tangannya menunjuk Xiao Yi dengan gemetar.
"Hancurkan dia."
Setelah mengucapkan kalimat terakhir, kesadarannya benar-benar lenyap.
"Ruohan!"
Xiao Ruokang segera berjongkok.
Setelah memastikan adiknya masih bernapas, wajahnya semakin gelap.
Beberapa anggota klan bergegas membawa Xiao Ruohan turun dari arena.
Barulah Xiao Ruokang kembali menghadap Xiao Yi.
"Aku akan membuatmu membayar semuanya."
Niat membunuh dalam suaranya tidak disembunyikan sedikit pun.
Xiao Yi menyeka darah di bibir menggunakan punggung tangannya.
"Pukulanmu tadi juga belum kubalas."
Kerumunan langsung gaduh.
Bukannya gentar setelah menerima satu pukulan, Xiao Yi justru menantang balik.
"Anak ini..."
"Dia benar-benar tidak takut."
"Tapi lawannya Xiao Ruokang!"
Nama itu memiliki bobot berbeda di Kota Ziyun.
Xiao Ruokang merupakan putra sulung Tetua Kelima sekaligus kakak Xiao Ruohan.
Bertahun-tahun sebelumnya, ia meninggalkan Klan Xiao dan bergabung dengan Sekte Api Mendalam.
Bakatnya bahkan dianggap melampaui Xiao Ruohan.
Kini, di usia awal dua puluhan, Xiao Ruokang telah menjadi salah satu dari enam murid utama Sekte Api Mendalam.
Namun bukan status tersebut yang paling membuat orang gentar.
Melainkan kultivasinya.
"Kalau kabar yang kudengar benar..."
Seorang anggota klan menelan ludah.
"Xiao Ruokang sudah menembus Alam Pengumpulan Qi."
Ucapan itu langsung membuat suasana berubah.
Alam Pengumpulan Qi!
Alam besar setelah Alam Penempaan Tubuh.
Pada Alam Penempaan Tubuh, seorang kultivator memperkuat tubuh, tulang, meridian, dan membangun fondasi.
Setelah memasuki Alam Pengumpulan Qi, semuanya berubah.
Qi mulai dikumpulkan dan diperkuat di dalam dantian.
Baik kekuatan, kecepatan, maupun daya ledak serangan akan mengalami peningkatan besar.
Itulah sebabnya menembus batas dua alam tersebut bukan perkara sederhana.
Dan sekarang...
Xiao Yi yang berada di Alam Penempaan Tubuh Tingkat Sembilan sedang berhadapan dengan Xiao Ruokang yang telah mencapai Alam Pengumpulan Qi Tingkat Pertama.
Di kursi para tetua, Xiao Zhong berdiri.
"Xiao Ruokang."
Nada suaranya dingin.
"Kau sudah menjadi murid Sekte Api Mendalam. Atas dasar apa kau mencampuri pertandingan internal Klan Xiao?"
Xiao Ruokang menoleh.
"Tetua Ketiga terlalu serius."
Ia berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung.
"Aku memang murid Sekte Api Mendalam, tetapi darah Klan Xiao masih mengalir dalam tubuhku."
Kemudian ia melirik Xiao Yi.
"Aku mendengar calon Patriark Muda kita tiba-tiba menjadi seorang jenius."
Sudut bibirnya terangkat.
"Sebagai keturunan Klan Xiao, apa salahnya aku mengujinya?"
Xiao Zhong mencibir.
"Menyerang dari belakang kau sebut menguji?"
Ekspresi Xiao Ruokang sedikit berubah.
Namun sebelum ia menjawab, Tetua Kelima sudah berdiri.
"Ruokang memang bertindak sedikit terburu-buru."
Ia kemudian memandang seluruh anggota klan.
"Tapi dia sudah lama tidak kembali. Kali ini ia hanya ingin melihat perkembangan generasi muda klan kita."
Xiao Zhong langsung memahami semuanya.
Tiga hari!
Tidak heran Tetua Kelima sengaja meminta pertandingan ditunda tiga hari.
Ternyata ia sedang menunggu Xiao Ruokang pulang.
Jika Xiao Ruohan mampu mengalahkan Xiao Yi, semuanya selesai.
Namun jika Xiao Ruohan kalah...
Xiao Ruokang menjadi kartu cadangan.
"Tidak tahu malu," gumam Xiao Zhong.
Ia menoleh kepada Xiao Yi.
"Yi'er, kau tidak perlu menerima tantangannya."
"Dia bukan lagi murid inti Klan Xiao. Pertandinganmu melawan Xiao Ruohan sudah selesai."
Tetua Kelima segera menyela.
"Tetua Ketiga, kenapa terburu-buru?"
Kemudian ia sengaja meninggikan suaranya.
"Posisi Patriark Muda bukan sekadar gelar."
"Orang yang memegangnya harus mampu membuat seluruh generasi muda mengakuinya."
Tatapannya beralih kepada Xiao Yi.
"Namun jika Xiao Yi merasa takut, tentu saja dia boleh menolak."
Provokasi murahan.
Tetapi sangat efektif di hadapan seluruh klan.
Xiao Zhong hendak membantah.
Namun Xiao Yi mengangkat tangan.
"Paman Xiao Zhong."
Xiao Zhong terdiam.
Xiao Yi menatapnya dan tersenyum tipis.
"Percayalah padaku."
Kemudian ia berbalik.
Tatapannya jatuh pada Xiao Ruokang.
"Aku menerima tantanganmu."
Kerumunan kembali gempar.
"Yi'er!"
Xiao Zhong mengerutkan kening.
Tetapi Xiao Yi sudah melangkah menuju tengah arena.
"Karena dia sendiri yang datang mengantarkan wajahnya..."
Sudut bibir Xiao Yi terangkat.
"...tidak sopan kalau aku tidak memukulnya."
Beberapa anggota klan hampir tersedak.
Wajah Xiao Ruokang seketika menghitam.
"Mulutmu memang tajam."
Ia melangkah maju.
"Tapi aku penasaran apakah tulangmu juga sekeras itu."
Wasit memandang para tetua.
Setelah Tetua Kedua memberikan anggukan kecil, ia akhirnya berkata,
"Pertandingan diperbolehkan."
"Tetapi aturan tetap sama."
"Hanya menentukan kemenangan dan kekalahan. Dilarang mengambil nyawa."
Xiao Ruokang tertawa kecil.
"Tenang saja."
Ia menatap Xiao Yi.
"Aku tidak akan membunuhnya."
Senyumnya perlahan menjadi dingin.
"Paling-paling... aku akan membuatnya tidak bisa berkultivasi lagi."
Niat membunuh muncul di mata Xiao Zhong.
Sebaliknya, Xiao Yi tetap tenang.
"Kebetulan."
"Aku juga sedang memikirkan hal yang sama."
Wasit mundur beberapa langkah.
"Mulai!"
Namun anehnya...
Tak seorang pun bergerak.
Xiao Ruokang berdiri dengan tangan di belakang tubuh.
"Silakan."
Ia mengangkat dagu.
"Aku akan memberimu kesempatan menyerang lebih dahulu."
Xiao Yi tidak bergerak.
Xiao Ruokang mencibir.
"Kenapa?"
"Takut?"
Xiao Yi menggeleng.
“Tidak.”
Kemudian ia mengangkat dua jari.
“Dua puluh tarikan napas.”
Xiao Ruokang mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
“Kalau dalam dua puluh tarikan napas aku belum membuatmu terkapar...”
Xiao Yi tersenyum tipis.
“...anggap aku kalah.”
Hening.
Sesaat kemudian—
Gempar!
"Apa?!"
"Dua puluh tarikan napas?"
"Dia menantang praktisi Alam Pengumpulan Qi!"
"Xiao Yi terlalu percaya diri!"
Bahkan Tetua Kedua yang sejak tadi mengagumi Xiao Yi mengernyit.
Melawan seseorang satu alam besar di atas dirinya sudah sangat berbahaya.
Namun Xiao Yi malah memberikan batas satu menit.
"Hahaha!"
Xiao Ruokang tertawa keras.
"Bagus!"
Qi di dalam dantiannya meledak.
Boom!
Gelombang tekanan menyebar.
Debu di atas arena langsung tersapu.
"Kalau begitu akan kutunjukkan betapa besarnya perbedaan Alam Penempaan Tubuh dengan Alam Pengumpulan Qi!"
Xiao Yi tetap berdiri.
Tenang.
Sangat tenang.
Lalu ia menarik napas.
Selama ini, Lima Bentuk Xingyi merupakan salah satu senjata terbesarnya.
Bentuk Harimau mengutamakan keganasan.
Bentuk Macan Tutul mengutamakan ledakan kecepatan.
Bentuk Ular mengutamakan kelincahan.
Sedangkan Bentuk Naga...
Berbeda.
Xiao Yi perlahan mengepalkan kedua tangannya.
Qi di dalam tubuh mulai bergerak.
Meridian-meridiannya bergetar.
Teknik ini bukan sekadar gerakan menyerang.
Ia menggunakan kekuatan tubuh untuk membuka jalur meridian secara paksa dan meningkatkan kemampuan tempur dalam waktu singkat.
Dalam kehidupan sebelumnya, Xiao Yi hampir tidak pernah menggunakannya kecuali menghadapi musuh berbahaya.
Dan sekarang...
Ia akhirnya memiliki kesempatan menggunakannya kembali.
Xingyiquan—Bentuk Naga!
Boom!
Aura Xiao Yi tiba-tiba berubah.
Rambut dan pakaiannya berkibar.
Qi di tubuhnya mengalir seperti arus deras.
Tetua Kedua langsung berdiri.
"Apa?!"
Meskipun kultivasi Xiao Yi masih berada di Alam Penempaan Tubuh Tingkat Sembilan...
Tekanan yang dipancarkannya melonjak drastis.
Wajah Xiao Ruokang berubah.
"Teknik macam apa itu?"
Xiao Yi mengangkat kepala.
"Katamu aku boleh menyerang dulu."
Kakinya menekan lantai.
Kraaak!
Permukaan batu retak.
"Jangan menyesal."
Wus!
Ia menghilang.
Pupil Xiao Ruokang menyusut.
"Cepat sekali!"
Bahkan sebagai praktisi Alam Pengumpulan Qi Tingkat Pertama, matanya kesulitan mengikuti gerakan Xiao Yi.
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Pukulan pertama."
BAM!
Tinju menghantam punggung Xiao Ruokang.
"Puih!"
Darah menyembur.
Tubuhnya terhuyung maju.
Belum sempat berbalik—
Bam!
Sebuah tendangan menghantam pinggang.
Xiao Ruokang terangkat ke udara.
Kerumunan terdiam.
Mata mereka membelalak.
Yang sedang terlempar itu...
praktisi Alam Pengumpulan Qi!
Wus!
Xiao Yi kembali menghilang.
Ia muncul tepat di samping Xiao Ruokang yang masih berada di udara.
"Kau tadi memukulku sekali."
Tinju Xiao Yi ditarik.
"Ini balasannya."
BOOM!
Tinju menghantam dada.
Xiao Ruokang jatuh seperti meteor.
BRAK!
Arena bergetar.
Sebuah lubang terbentuk.
Debu mengepul tinggi.
Namun Xiao Yi tidak berhenti.
Ia menerobos masuk.
Bang!
Bang!
Bang!
Suara pukulan terdengar berturut-turut.
Kerumunan tidak mampu melihat jelas karena tertutup debu.
Namun mereka tidak perlu melihat untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Ketika debu perlahan turun...
Semua orang terdiam.
Xiao Ruokang terbaring di dalam lubang.
Wajahnya penuh darah.
Sementara Xiao Yi berdiri di atasnya.
Kesombongan yang beberapa saat lalu memenuhi wajah Xiao Ruokang telah hilang.
"Tidak mungkin..."
Ia terengah-engah.
"Aku sudah memasuki Alam Pengumpulan Qi..."
Xiao Yi mengepalkan tangan.
"Memasuki alam yang lebih tinggi tidak otomatis membuatmu pandai bertarung."
Bang!
Pukulan kembali jatuh.
Xiao Ruokang mengerang.
"Ayah!"
Akhirnya...
pria yang sejak tadi begitu sombong itu berteriak meminta pertolongan.
"Tolong aku!"
Tetua Kelima bangkit dengan wajah pucat.
"HENTIKAN!"
Namun Xiao Zhong justru tersenyum.
"Tetua Kelima."
Ia menunjuk arena.
"Bukankah putramu tadi mengatakan Xiao Yi tidak pantas membuatnya bertindak?"
Wajah Tetua Kelima berkedut.
Xiao Zhong melanjutkan dengan santai,
"Lagipula..."
“Belum genap dua puluh tarikan napas.”
Di arena, Xiao Yi kembali mengepalkan tangan.
Tatapannya jatuh kepada Xiao Ruokang.
"Katamu ingin menghancurkanku?"
Xiao Ruokang menatap tinju tersebut dengan ketakutan.
Sementara Xiao Yi tersenyum dingin.
"Sekarang..."
"...siapa sebenarnya yang sedang dihancurkan?"
......................
Bersambung...
Tolong baca juga karyaku yang tidak kalah serunya : PENGUASA DEWA NAGA