Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.
Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 - Kapur dan Keju
Suasana kampus pada minggu pertama perkuliahan setelah libur semester tampak cukup ramai. Koridor fakultas dipenuhi mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kelas, sementara beberapa mahasiswa baru terlihat duduk santai di taman, menikmati hari-hari awal mereka di bangku kuliah.
Kinan melangkah tergesa menuju ruang dosen tak lama setelah keluar dari kelasnya. Ia berencana menemui dosen pembimbingnya untuk mendiskusikan rencana skripsi yang ingin ia mulai lebih awal, meskipun semester tujuh ini bertepatan dengan agenda praktik mengajar penuh di sebuah sekolah menengah atas.
Setibanya di depan ruangan, Kinan mengetuk pintu dengan agak ragu.
"Permisi, Bu," ucap Kinan sambil menjulurkan kepala, tetapi sosok yang dicari tidak ada di sana.
Salah seorang dosen yang duduk tak jauh dari pintu menoleh. "Iya?"
"Maaf, Bu. Bu Tari di mana, ya?" tanya Kinan sembari meremas tali tasnya pelan. "Saya sudah ada janji dengan beliau."
"Coba kamu tunggu sebentar. Mungkin orangnya sedang-"
Sebelum dosen itu menyelesaikan kalimatnya, orang yang dicari Kinan muncul dari balik punggungnya. Bu Tari langsung melangkah masuk menuju mejanya, lalu duduk sembari mempersilahkan Kinan untuk duduk.
"Sudah lama menunggunya, Kinan? Ibu tadi dari kamar mandi sebentar."
Kinan tersenyum canggung sembari menarik kursi di depan meja dosen pembimbingnya. "Ah, tidak, Bu. Saya juga baru saja sampai," jawab Kinan.
"Bagaimana? Kamu jadi untuk mulai mengerjakan skripsi semester ini?" tanya Bu Tari sambil membetulkan posisi kacamatanya.
"Ja-jadi, Bu."
Kinan mengeluarkan draf proposal skripsi dari dalam tasnya, lalu meletakkannya dengan sopan di atas meja untuk diperiksa.
Bu Tari mengambil berkas tersebut, kemudian memeriksa halaman demi halaman dengan saksama.
"Menurut Ibu, judul yang kamu ajukan sudah bagus. Ibu terima," ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari lembar kertas.
"Untuk pendekatannya pun Ibu rasa sudah mulai mengerucut dan jelas. Tapi, untuk bagian latar belakang tolong kamu revisi lagi, ya. Penulisannya masih kaku dan terlalu deskriptif," lanjutnya sembari memberi tanda coretan dengan pena merah di beberapa bagian.
"Ba-baik, Bu. Dimengerti."
Kinan mengangguk cepat sambil mencatat poin-poin penting di buku kecilnya. Meski merasa tertohok dengan kritikan serta masukan itu, ia sangat paham bahwa itulah yang ia butuhkan dalam proses panjang penyusunan skripsi.
Tak lama kemudian, Bu Tari menutup proposal skripsi tersebut dan mengembalikannya kepada Kinan. "Ibu rasa itu saja revisi dari ibu untuk saat ini."
Kinan menerima proposalnya kembali. "Baik, Bu. Terima kasih banyak," jawab Kinan santun, lalu memasukkan kembali berkasnya ke dalam tas.
"Kalau untuk jadwal bimbingannya, Ibu berkenan di hari apa serta jam berapa, ya?"
Bu Tari terdiam sejenak, menatap kalender di mejanya sebelum membalas, "Kamu bisanya kapan saja, Kinan?"
Kinan menarik napas panjang, raut wajahnya tampak mengisyaratkan sedikit cemas. "Saya hari Senin sampai Jumat praktik mengajar dan lanjut bekerja sampai malam, Bu. Saya hanya libur kerja di hari Rabu. Jadi, jika di perbolehkan, saya ingin bimbingan di hari Rabu atau Sabtu pagi, Bu," jelas Kinan.
"Hari-hari itu Ibu kadang bisa, kadang tidak. Nanti kalau misal Ibu sedang tidak bisa di kedua hari itu, Ibu sarankan untuk bimbingan secara daring saja."
"Baik, Bu. Akan selalu saya usahakan kapan pun Ibu berkenan."
"Kalau begitu, nanti kamu hubungi Ibu saat kalau mau bimbingan."
Kinan mengangguk kecil, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Tiba-tiba, Bu tari memajukan tubuhnya, menopang kedua lengan di atas meja, lalu menatap Kinan lebih dalam dari sebelumnya. "Tapi, apa kamu benar-benar sudah yakin mau mengerjakan skripsi dari sekarang? Ibu cuma ingin memastikan lagi."
"Iya, Bu. Yakin."
"Terlebih lagi, di semester ini kamu juga harus praktik mengajar di sekolah. Lalu bagaimana dengan kerja sampinganmu? Waktumu bakal padat dan tersita untuk keduanya."
Kinan menegakkan punggungnya, berusaha menunjukkan keseriusannya. "Saya sudah yakin dengan keputusan saya, Bu. Soal waktu dan tenaga, semuanya sudah saya perhitungkan matang-matang."
"Baiklah kalau kamu sudah paham dengan segala konsekuensinya," tutur sang dosen sambil memberikan senyuman tipis. "Tapi ingat, mengajar di sekolah itu bukanlah perkara yang gampang. Capeknya bukan cuma fisik, tapi juga mental. Jangan sampai kamu kewalahan dan akhirnya malah semuanya jadi kacau."
"Baik, Bu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin," jawab Kinan tenang namun sarat tekad. Ia berdiri dari kursinya lalu merapikan tas. "Kalau begitu, saya permisi dulu. Terima kasih banyak, Bu."
Bu Tari hanya mengangguk pelan. Sebenarnya, ia sudah cukup lama memperhatikan Kinan sebagai salah satu mahasiswa yang menonjol bahkan sejak semester awal. Bukan hanya dari segi nilai akademik, melainkan juga soal kedisiplinan dan kedewasaan sikapnya.
Meski ia tahu bahwa jalan yang diambil Kinan tidak akan mudah, ada satu keyakinan dalam hati Bu Tari bahwa mahasiswanya itu pasti akan mampu untuk melewati semuanya dengan baik.
Tak terasa, waktu berjalan cepat hingga hari mulai beranjak petang. Langit sore di luar jendela Alleria cake shop masih menyisakan nuansa senja yang cerah. Jam dinding menunjukkan pukul setengah lima lewat, dan suasana di dalam tak terlalu ramai.
Kinan berdiri termenung menatap layar monitor di balik meja kasir. Tatapannya kosong, tenggelam dalam pusaran pikirannya sendiri; tentang langkah awal skripsi, praktik mengajar yang akan segera dimulai, serta tuntutan tubuhnya untuk beradaptasi dengan ritme baru yang makin padat.
Suasana di lantai satu perlahan melengang seiring beberapa pelanggan yang beranjak pergi. Kinan masih saja terjebak dalam lamunan, bahkan tak menyadari kehadiran seseorang yang kini sudah berdiri tepat di depan meja kasir.
"Pesan dua rainbow cake. Takeaway," ucap cowok itu singkat sambil mengeluarkan lembaran uang dari dompetnya.
Kinan tetap tak bergeming, jiwanya masih melayang entah di mana.
"Ha-halo?" Cowok itu sedikit mengerutkan dahi, menyadari bahwa fokus pegawai di depannya sedang berkelana.
Tersentak, Kinan segera mengerjapkan mata, lalu dengan gugup menepuk pipinya sendiri untuk mengumpulkan kesadaran. Begitu tatapannya beradu dengan mata pelanggan di depannya, Kinan buru-buru menunduk salah tingkah.
"Ah... iya, Kak. Maaf! Bisa diulangi pesanannya?" tanya Kinan gugup.
"Dua rainbow cake. Takeaway. Sama tambah satu brownies cokelat ukuran sedang," ulang Nathan dengan nada datar, kali ini dengan artikulasi sedikit lebih jelas dan pelan.
Tangan Kinan sedikit gemetaran saat menyentuh layar monitor kasir. "Apakah cherry-nya di-"
"Gak perlu diganti," potong Nathan cepat sebelum Kinan menyelesaikan pertanyaannya.
Kinan terdiam sejenak, berusaha menenangkan detak jantungnya yang mendadak tak karuan. "Ahh, baik. Mohon ditunggu sebentar, ya, Kak."
Kinan segera menyerahkan nota pesanan itu ke bagian dapur. Sambil menunggu, sesekali ia mencuri pandang ke arah Nathan yang kini duduk di kursi yang tak jauh dari meja kasir. Rasa penasaran masih menyelimuti benak Kinan sejak saat itu. Sosok Nathan terasa seperti gangguan kecil yang menyusup ke dalam pikirannya dengan cara yang tak ia pahami.
Tak berselang lama, pesanan itu pun siap.
"Kak Nathan." panggil Kinan sedikit nyaring, memecah lamunan cowok yang sedari tadi terus menatap keluar jendela.
Nathan beranjak dari kursinya lalu melangkah menghampiri meja kasir. Kinan mengulurkan kotak berisi kue itu sembari tersenyum tipis yang agak dipaksakan.
"Terima kasih," ucap Nathan singkat.
"Te-terima kasih kembali, Kak," jawab Kinan pelan.
Nathan berjalan keluar tanpa menoleh sedikit pun. Kinan masih mematung, menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup dengan tatapan kosong, seolah sebagian jiwanya terseret bersama cowok itu. Hingga tiba-tiba...
"Hayooo!!" Suara riang dibarengi sentuhan ringan di pundak berhasil membuat Kinan tersentak kaget.
Kinan menoleh cepat dengan napasnya tertahan. "Astaga, Anya!"
Anya terkikik geli, kedua tangannya berusaha menutupi tawa yang begitu heboh. "Ampun deh. Ekspresimu barusan kayak orang yang lagi kepergok selingkuh aja."
Kinan mengerucutkan bibir, separuh jengkel karena digoda. "Gak lucu, ya."
"Tapi serius deh, tadi kamu ngeliatinnya sampe keluar pintu lho, sampe bengong gitu. Apakah ini tandanya..." Anya menyandarkan diri santai di meja kasir, memasang ekspresi penasaran setengah menggoda.
"Gak!" bantah Kinan cepat, memotong kalimat Anya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Gak usah mikir aneh-aneh. Aku cuman lagi banyak pikiran aja, bukan karena hal seperti kamu pikirin."
Alis Anya terangkat tinggi. "O-oke... Tapi kayaknya pikiranmu jadi nambah satu lagi deh," celetuk Anya sembari tertawa makin pecah.
Kinan hanya menanggapinya dengan senyum datar, memilih untuk tidak memberikan pembelaan lebih lanjut. Tawa Anya perlahan mereda saat denting bel pintu terdengar, menandakan pelanggan baru telah tiba.
Sejenak kemudian, mereka kembali larut dalam rutinitas kerja, seolah semua obrolan tentang Nathan tadi menguap begitu saja.
Sementara itu, senja belum sepenuhnya tenggelam saat Nathan berdiri di depan pintu rumah Riska sambil menenteng kotak berisi kue. Ia sudah beberapa kali mengetuk pintu, namun tak ada jawaban sama sekali dari dalam.
Hingga tak berselang lama, terdengar derap langkah kaki terburu-buru dari arah luar pagar.
"Haduh, kamu itu ya. Bisa gak sih sehari aja gak keluyuran keluar rumah sore-sore," omel seseorang dengan nada kesal pada seekor kucing berbulu tebal yang didekapnya erat-erat agar tak kabur lagi.
Nathan melempar senyum tipis menatap cewek itu. "Arnold kabur lagi, Kak?"
"Eh, Nath? Kirain siapa," ujar Riska seraya menoleh, sedikit terkejut melihat Nathan berdiri di teras rumahnya. "Bukan. Ini Charlie. Kalo Arnold yang ada tompelnya di pipi!"
Riska segera membuka pintu dan melepaskan kucingnya ke dalam rumah sebelum menutupnya kembali. "Nyariin aku, Nath? Ada apa?"
"Iya, Kak Ris," jawab Nathan sambil menyodorkan kotak kue dengan senyum ramah. "Aku kesini cuman mau ngasih ini. Sebagai tanda terima kasihku aja karena selama ini Kak Riska udah banyak bantu dan peduli."
Riska sekilas melirik kotak kue itu, lalu tatapannya kembali tertuju pada Nathan. "Ih... so sweet banget kamu, Nath. Terima kasih, lho!"
"Sama-sama, Kak Ris."
"Ayo masuk dulu," tawar Riska
"Lain kali aja deh, Kak. Bentar lagi juga udah gelap," tolak Nathan halus sembari bergegas memutar langkah untuk bersiap pulang.
"Oke deh. terima kasih lagi untuk kuenya, ya!"
Nathan tak menjawab lagi dan hanya mengacungkan jempol seraya berjalan menuju motor.
Terkadang, hal-hal yang tulus tak membutuhkan banyak kata. Cukup dengan satu kotak kue penuh warna-warni yang menggoda, disertai canda tawa di ujung senja.
Malam semakin larut mendekati jam tutup cake shop. Suasana kini tinggal menyisakan satu meja panjang rombongan keluarga dan satu meja di sudut jendela lantai satu. Seluruh pegawai kini hanya perlu menunggu sembari melakukan bersih-bersih area cake shop.
Anya melangkah menghampiri Kinan yang masih berdiri mematung di belakang meja kasir dengan tatapan melamun.
"Eh, Kin. Liat tuh," bisik Anya sambil melirik ke meja di sudut yang diisi oleh sepasang cewek dan cowok.
"Napa, emang?" tanya Kinan. Ia tak mengerti maksud Anya karena yang ia lihat hanya seorang cowok yang sedang menyuapkan potongan kue ke arah ceweknya.
"Romantis banget. Jadi iri deh aku," gumam Anya dengan nada gemas.
Kinan hanya melirik sekilas ke arah Anya, lalu mengalihkan pandangan karena kehilangan hasrat untuk membahas topik semacam itu. Namun, Anya justru semakin antusias dan tampak memiliki topik pembahasan baru yang masih berkaitannya dengan pemandangan di depan mereka.
"Oh iya, Kin. Kamu punya pacar gak, sih? Atau gebetan gitu? Atau mungkin sebatas temen tapi mesra mungkin?"
Kali ini Kinan menatap Anya lebih tajam dari sebelumnya. "Gak ada," jawabnya tegas sebelum kembali mengalihkan pandangan ke arah meja pelanggan.
"Masa sih? Kok aku gak percaya, ya. Harusnya orang kayak kamu gampang sih buat nyari cowok spek apa aja. Atau..."
Kinan kembali melirik, sementara senyum jail tampak terpampang jelas di wajah Anya.
"Atau kamu nunggu pria sempurna yang akan datang layaknya pangeran, terus ngungkapin seluruh cintanya yang sebesar dunia padamu?"
"Gak. Gak ada cowok. Gak ada cinta-cintaan," tanggap Kinan dengan nada yang cukup serius.
"Kan enak daripada ngejomblo terus, Kin! Bisa jalan bareng, makan bareng, nonton bareng, dibeliin hadiah. Pokoknya seru deh," ujar Anya dengan mata berbinar.
"Menurutmu begituan seru?"
"Seru dong! Apalagi kalo bisa anter jemput naik mobil atau motor juga gak apa sih," sahut Anya, tampak terkesima dengan kata-katanya sendiri.
Kinan termenung mendengar semua celotehan Anya. Baginya, temannya yang satu ini adalah tipikal cewek yang sangat gampang bergaul dengan siapapun, entah sesama cewek atau cowok. Kadang Anya juga sering suka bercanda berlebihan, ngomong apapun yang terlintas di kepalanya, serta sangat up-to-date dengan tren anak muda jaman sekarang. Ditambah lagi, Anya hidup merantau jauh dari rumah dan orang tuanya, yang membuat gaya hidup mereka sangat kontras.
Mungkin itulah alasan mengapa Kinan sering tak mengerti isi kepala Anya, karena cara mereka memandang hidup memang hampir sepenuhnya berbeda.