Indonesia
NovelToon NovelToon
Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.

Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.

Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?

Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menemani istri belanja : 17

“Ardan, ini mbak telepon Papi! Jangan ganggu burungnya lek Lawi!” Suci pun ikutan panik, ia mendial nomor tuannya.

Namun larangan adalah perintah bagi balita sudah memegang gala kayu telah dihaluskan dari serabut kasar.

Tidak ada yang berani mencegah, karena dapat dipastikan Ardan akan tantrum lebih dari ini.

“Ayo telbang!” Dia sampai berjinjit demi bisa menjolok bawah kandang dari bahan fiber, begitu berhasil mengenai sangkar, maka Ardan berlari sedikit menjauh, diulang lagi sampai berhasil menjatuhkan kurungan dicantolkan pada ranting pohon Manggis tidak terlalu tinggi.

Bruk!

Tiga kali pukulan, kandang pun terjatuh, kawat pengunci bagian bawah terlepas, dan sangkar terbuka lebar.

Ardan sangat pintar, hafal dimana tempat jatuhnya sangkar dikarenakan terlalu sering melakukan hal itu, jadi dapat menghindari bahaya.

Biji-bijian makanan burung berhamburan, air minum tumpah, dan hewan kecil dengan kicauan merdu berwarna kuning wortel, terbebas dari sangkarnya.

Lek Lawi terlambat menyelamatkan hewan peliharaannya yang lagi-lagi menjadi korban kejahilan Ardan jika dia sedang bosan, maupun merajuk.

“Lek Lele bulungnya belgembila. Lihat itu dia teltawa.’’ jari telunjuknya teracung ke dahan yang mana burung berbulu lembut tengah bernyanyi.

Suara tawa Ardan disambut kicauan burung yang membuatnya kegirangan, melompat-lompat sambil bertepuk tangan.

Pria berkumis mirip sungut ikan Lele, berlutut, meratapi kesialan berulang menerpanya. "Kalau bukan anak juraganku, wes tak pites kamu, Ardan.’’

Mbak Juraida tergopoh-gopoh sambil memegang tabung semprotan sudah diisi air sabun, untuk menangkap burung.

Lek Lawi bergegas memanjat pohon sepelan mungkin agar burung sudah jinak itu tidak terbang lebih tinggi lagi.

Husst! Husst!

“Buluan lali, kamu mau ditangkap!” si kecil nan cerdik menjerit keras sambil melempar batu kecil ke pohon, dan benar saja — burung Kenari terbang ke dahan paling pucuk.

“Ya Rabbi ….” lek Lawi lanjut beristighfar.

“Ardan, ini Papi mau ngomong sama kamu.’’ Suci mengulurkan ponselnya, namun ditepis balita terlanjur merajuk.

“Aku lagi malah, malas ngomong sama Papi.’’ Ardan mendengus, bersedekap tangan.

Suci menekan loudspeaker ponselnya, berdiri sedikit jauh dari toddler, menghindari gerakan spontanitas balita sering tidak terbaca gerakannya.

“Ardan, Papi lagi sibuk makanya telat pulang ke rumah. Gitu selesai urusannya, Papi langsung pulang. Paham, Nak?’’

“Papi tipu-tipu. Aku malah ini loh, ndak mau dengelin!” Kakinya menghentak tanah, diapun berlari masuk ke dalam rumah, enggan mendengarkan alasan pria yang sedang menemani sang istri berbelanja.

Suci melaporkan jika Ardan merajuk, lalu sambungan ponsel pun dimatikan.

***

Saniya tidak jadi mengambil gaun yang panjangnya mencapai tumit, setelah tahu harganya setara dengan satu bulan gaji mengajar jadi guru bahasa isyarat.

Namun, mata Yarash terlanjur memperhatikan wanita yang lebih banyak melihat, tetapi belum ada satupun diambilnya.

Dia pun mendekati Saniya, menyimpan ponsel pada saku celana.

“Itu bagus, Saniya. Warnanya serasi sama kulitmu.” Yarash melepaskan hanger dari besi gantungan baju, mengamati size M, lalu memasukkan gaun berbahan lembut hijau sage.

Tidak cukup satu picis, tangannya menyibak barisan hanger, memilih dengan jeli mana kiranya yang cocok teruntuk wanita berkulit putih bersih jika terpapar sinar matahari cenderung kuning langsat.

“Mas, sudah!” Saniya menarik lengan pria tengah melepaskan dress motif bunga Mawar. “Tas yang aku jinjing ini hampir penuh.”

Sangat lembut diturunkan tangan Saniya, digenggam sebentar baru dilepasnya. “Mumpung kita bisa me time berdua saja. Lagian saya kangen menemani wanita berbelanja. Terakhir kali bersama Tatiana beberapa bulan lalu. Sekarang dia sudah enggan ditemani shopping. Katanya takut dikira jalan sama om-om.”

Spontanitas Saniya tertawa kecil sampai matanya menyipit indah.

‘Bola matanya unik dan sungguh mempesona, terlebih senyum manisnya.’ Ia terburu-buru menunduk, menjaga lisan jangan sampai keceplosan lagi seperti di dalam mobil tadi.

“Ngomong-ngomong, apa Tatiana sudah mendapatkan tamu bulanannya, Mas? Menstruasi?” Saniya mengalah, membiarkan Yarash memasukkan pakaian ke dalam tas transparan.

“Belum. Dua minggu lalu saya bawa dia periksa ke dokter spesialis kandungan.” Yarash mengambil alih tas belanjaan istrinya. Entah sadar ataupun tidak, gerakan tangannya sangat natural menggenggam jemari Saniya, mengajak pindah ke gawangan pakaian tidur.

“Kenapa, Mas? Apa ada masalah atau cuma pemeriksaan biasa?” Saniya memandangi tautan tangan mereka, ia melangkah sedikit di belakang pria mulai melirik banyaknya baju tidur dipajang baik dalam rak maupun manekin.

“Sudah lebih dari dua bulan Tatiana baru bilang kalau dia mendapatkan keputihan. Saya yang khawatir langsung membawanya ke dokter obgyn — ternyata hal yang sangat normal terjadi karena tubuh mulai memproduksi hormon reproduksi aktif,” ungkapnya pelan.

“Kamu Ayah yang baik, dan sangat peduli, Mas,” pujinya tulus sekaligus kagum.

Yarash tersenyum tipis, mulai melihat-lihat pakaian tidur dari brand ternama. “Bukan peduli, tetapi memang sebuah kewajiban. Memiliki anak, ya berarti harus siap dari segala sisi. Tidak cuma melimpahkan kasih sayang, namun juga ikut belajar memahami, menemani tahapan pertumbuhan mereka.”

“Saniya, gaun tidur ini dari serat sutra asli. Coba kamu raba, kainnya sangat lembut, ringan, terasa sejuk di kulit.” Yarash membaca detail keterangan di label gaun warna peach.

Saniya pun meraba permukaan kain licin polos, bagian kerah membentuk huruf V dan berenda hitam. Ketika berniat memeriksa harganya, langsung saja gaun tersebut dijauhkan dari dia.

“Jangan asal masukin, Mas!” suaranya bermakna ganda, dan Saniya jadi pusat perhatian dua karyawan yang sedang berjaga.

“Maksudku harga bajunya,” ia mencicit, meralat kalimat ambigu.

Yarash terkekeh, ada sisi lain dari istri yang dikenalnya sangat tenang cenderung pendiam apabila hanya berduaan saja.

“Harganya gak buat kita miskin, jadi aman.” Diambilnya tiga gaun tidur lain beda warna tetapi hampir sama modelnya.

Wanita yang sudah merasa baikan, efek obat pereda nyeri masih efektif, cuma bisa terdiam, takut bersuara berakhir disalah artikan.

“Pakaian dalam perlu beli juga, gak?” tanya Yarash, berdiri di antara rak underwear wanita.

“Saya tunggu di kasir, atau mau ditemani memilih warna, modelnya ...?”

.

.

Bersambung.

1
bibuk Hannan & Afnan
ndadak tanya ke Mbah google dulu bunga ylang-ylang jebule kenanga toh 😄😄😄😄
bunga kenanga kan pdhl identik dgn berbau mistis
bibuk Hannan & Afnan
Saniya kamu menderita sedari kecil sakit rasanya jd kamu 😭😭😭
bibuk Hannan & Afnan
🤦🤣🤣🤣🤣🤣
maaf 🙏 ya Tatiana aku ketawa diatas sakitmu 😄😄😄 soalnya gak kuat sama polae Ardan
bibuk Hannan & Afnan
tersebut miring maksudnya tersenyum miring mungkin ya thor
Priskha
dasar ibu gendheng, gak hbs pikir aq sm jln pikirannya tuch nenek sihir....
bibuk Hannan & Afnan
ini pasti ulah Tatiana
bibuk Hannan & Afnan
trauma pasca kecelakaan wkt kecil umur 8 th ternyata belum hilang meski sudah 18 tahun silam kejadiannya,
bibuk Hannan & Afnan
si kompor bleduk ini Tatiana
bibuk Hannan & Afnan
😱😱😱 si colo harganya bikin nahan napas 😄😄😄😄
bibuk Hannan & Afnan
aku juga ikutan syok nahan nafas Saniya 😄😄😄😄
bibuk Hannan & Afnan
warna bola matanya mirip artis India Rani Mukherjee ya mas Yash,🤭
bibuk Hannan & Afnan
👍👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Akhir cerita yang mengharukan dan membahagiakan.👍
Baca marathon ceritanya sampe ga terasa sudah akhir bab.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍: Sama² Thor.🤗
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Huss Huuss sana jauh jauh para Hama, jangan ganggu lebahagiaan keluarga Yarash - Saniya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ga apa² Titania yang penting kamu sudah berusaha keras untuk jadi lebih baik dan mendapatkan nilai bagus jadi tetap semangat untuk terus melangkah maju.
Penyesalan emang datangnya di belakang karna kalau duluan pendafyaran.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Baguslah KENA SEMUA para murid² toxic bukan hanya Titania saja yang rugi.👍
bibuk Hannan & Afnan
kecelakaan dr usia 8 th hingga skrg sudah dewasa usia 26 th trauma masih ada tp orang tua abai, duh kebangetan orang tuanya Saniya
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Iyalah datang saja sebagai tamu, bawa kado seadanya, ga usah lagi di pikirkan antara enak ga enak toh itu jauh lebih baik Saniya jadi kamu ga harus ikut beban mereka.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Yarash saingan terbesarmu yang mampu mengalahkan mu merebut perhatian Saniya bukan laki² lain di luar sana tapi si Bodel gemol anakmu sendiri./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
SKAK MATT sampe mampus si Jena./Joyful//Joyful//Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!