Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 24
Keesokan harinya, hujan gerimis menyisa kelembapan dingin di halaman kediaman Adrian. Pukul empat sore, sebuah map manila tebal berstempel Confidential sudah tergeletak di atas meja kerja Elian.
Elian membuka lembar demi lembar laporan hasil investigasi intelijen tersebut. Setiap kata yang tertera di sana membuat darah di pembuluh darahnya mendidih perlahan.
Hal pertama yang dia baca adalah berkas pernikahan Dilara dan Kevin yang sudah terjadi selama satu tahun. Pernikahan yang terlihat baik-baik saja di luar dan di depan keluarga Kevin. Namun nyatanya pernikhan mereka tidak seharmonis itu. Kevin masih melakukan tanggungjawabnya sebgaai seorang suami, memberikan nafkah lahir untuk Dilara, namun tidak dengan Nafkah batin karena hatinya masih milik sang mantan bernama Asha yang pergi meninggalkannya tanpa kabar.
Hal kedua. Alasan perpisahan sudah jelas karena kepulangan mantan kekasih Kevin bernama Asha dari luar negeri dengan alasan pergi karena memiliki penyakit parah dan melakukan pengobatan di sana. Alasan sakit itulah yang membuat Kevin kembali menjalin hubungan dengan Asha di belakang Dilara. Dan perceraian itu juga memang adalah tekanan dari Asha dan keluarganya.
Ketiga, Dilara menandatangani surat cerai kemudian di talak di depan Asha. Dilara meninggalkan semua hak nya di rumah itu termasuk perhiasan dan juga beberapa barang berharga yang di berikan Kevin atau mertuanya. Dia tidak mau membawa semua itu karena takut akan di ungkit pada akhir perpisahan mereka. Sehingga dia lebih memilih mencari pekerjaan dengan cepat dan bisa tinggal di sana. Alasannya jelas untuk menghindar dari Kevin dan juga mungkin saja untuk menyembuhkan luka hatinya.
Namun, setelah Dilara pergi dari rumah, Kevin malah terus mencari keberadaan Dilara bahkan menyewa detektif swasta. Entah apa alasan dari Kevin, padahal semua alamat berkas percerain mereka di tujukkan ke rumah teman Dilara, bernama Nisa. Bahkan dia dan Asha juga sedang mempersiapkan pernikahan mereka setelah putusan sidang Verstek minggu ini.
Selain alasan yang dia dapat di atas, ada juga beberapa foto dan video yang terlampir baik secara cetak maupun yang berada di flashdisk.
"Brengsek," umpat Elian pelan. Suaranya serak membahayakan.
Bagaimana bisa seorang pria tega menukar wanita berhati bersih seperti Dilara demi seorang wanita manipulatif yang kembali hanya ketika butuh sandaran? Dan sekarang, setelah Dilara melangkah pergi dengan bermartabat tanpa menuntut apa-apa, pria itu justru melacaknya seperti barang hilang?
DRRRTTTT
DRRRTTTT
Panggilan keras dari di pos sekuriti depan yang terhubung ke intercom meja Elian mendadak berdering. Elian menyambar gagang telepon interkom.
"Pak Elian!" suara Pak Bambang terdengar tegang di ujung garis.
"Di depan ada sebuah mobil tak kami kenali berhenti di depan pintu gerbang utama,"
Mata Elian menyipit tajam. "Siapa yang keluar dari mobil?"
"Seorang pria kemeja biru, Pak. Dia memaksakan diri ingin masuk dan berteriak memanggil nama Mbak Dilara. Anggota saya sedang menahannya di luar gerbang."
"Tahan dia di sana. Jangan biarkan langkah kakinya melewati gerbang satu senti pun. Saya turun sekarang," perintah Elian dingin.
Elian menutup interkom, merapikan kemeja hitamnya, lalu melangkah lebar keluar dari ruangan. Saat melewati koridor utama lantai satu, ia melihat Dilara sedang berada di ruang keluarga, telaten mengajari Elang menyusun balok kayu. Dilara tampak belum menyadari badai yang sedang berdiri di balik pagar rumahnya.
"Dilara," panggil Elian santai, menyembunyikan amarah bergejolak di dadanya.
Dilara mendongak, menyunggingkan senyum hangat. "Iya, Pak Elian?"
"Tetap di dalam bersama Elang. Jangan keluar ke halaman depan sampai saya menyuruhmu," tutur Elian tegas namun penuh perlindungan.
"Ada apa, Pak?" tanya Dilara sedikit bingung melihat raut wajah Elian yang begitu tegang.
"Hanya urusan tamu luar. Tetap di sini."
Di luar gerbang besi menjulang tinggi kediaman Adrian, Kevin berdiri dengan wajah frustrasi. Dua petugas sekuriti bertubuh tegap berdiri membentengi celah gerbang yang terkunci rapat.
"Pak, tolong! Saya cuma mau ketemu Dilara! Saya tahu Dilara bekerja di dalam!" teriak Kevin, matanya merah menyapu halaman luas rumah mewah tersebut.
"Dilara! Ini aku, Kevin! Keluar sebentar, Ra!"
"Tolong sopan, Pak! Ini properti pribadi keluarga Adrian!" tegur Pak Bambang keras, memasang dada.
"Jika Bapak tidak segera pergi, kami akan seret Bapak secara paksa!"
"Saya tidak akan pergi sebelum bicara sama mantan istri saya!" bentak Kevin emosional, mencoba mendorong pagar besi.
KREEEKK...
Pintu samping gerbang terbuka pelan. Langkah kaki mantap memecah ketegangan di area carport.
Elian melangkah keluar. Sosoknya yang tinggi tegap, dibalut kemeja hitam yang tergulung hingga siku dan tatapan mata tajam sekeras baja, mendominasi aura di tempat itu. Pria itu berdiri di belakang barisan sekuriti, menyilangkan kedua tangannya di dada.
Kevin tertegun sejenak menatap pria berwibawa di hadapannya.
"Kamu... kamu pasti pemilik rumah ini?"
Elian menatap Kevin dari atas ke bawah, menilai sosok pria yang telah menghancurkan hati pengasuh keponakannya. Tatapan Elian begitu mengintimidasi hingga membuat Kevin refleks mengambil langkah mundur. Elian bahkan sangat tampan, auranya benar-benar berbeda. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya, membayangkan Dilara tinggal bersama dengan pria tampan seperti itu. Apa mungkin Dilara dan dia? Pikirannya sudah benar-benar buruk.
"Kevin Pratama," sebut Elian parau, suaranya sarat dengan nada ancaman yang kental.
"Untuk apa anda mmebuat keributan di depan rumah saya?" tambah Elian.
"Siapa Anda? Kenapa anda bisa tahu nama saya? Bisakah saya bertemu dengan Dilara? Saya tahu kalau dia bekerja di sini sebagai pengasuh. Ada hal pribadi yang harus saya bicarakan dengan Dilara..."
"Saya tidak membiarkan siapapun yang tingal di rumah ini bertemu dengan tamu asing,"
"Saya bukan tamu asing, saya adalah suami Dilara..."
"Suami atau mantan suami?" tanya Elian dingin.
"Mantan suami yang sudah mengusir dan menjatuhkan talak secara sadar di hadapan wanita lain, bukan?" potong Elian sinis. Suaranya rendah namun bergetar hebat memunculkan keheningan mencekam di sekeliling gerbang.
Kevin mendadak kaku. Bibirnya gemetar hebat, dadanya naik-turun menahan perpaduan antara malu, marah, dan keterkejutan luar biasa. Pria berwibawa di hadapannya ini tidak hanya tahu namanya, tetapi tahu seluk-beluk luka lama yang ia simpan rapat-rapat.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛