Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:40.9k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.

Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Empat

Reatha menundukkan kepala, memandangi ujung sepatunya dengan perasaan campur aduk.

“Tapi, Ma ... aku ini hanya—”

“Kenapa, Raisa?” tanya Mama.

Pertanyaan itu kontan membuat Reatha menelan mentah-mentah kalimat yang hampir meluncur di tenggorokan. Niatnya tadi ingin jujur, bahwa dirinya sama sekali tidak pantas menerima semua kebaikan ini karena ia hanyalah pengantin pengganti.

Bahwa Azka sebenarnya masih terikat dengan Vania, pernikahan mereka cuma di atas kertas, dan perempuan yang berdiri di hadapan mertuanya ini bahkan bukan Raisa yang asli.

Namun, sebelum lidahnya sempat berkhianat, Azka bergerak mendekat. Pria itu berdiri tepat di sisinya, lalu tanpa banyak basa-basi menarik ujung pakaian Reatha pelan. Gadis itu sontak menoleh.

“Azka ...," ucap Reatha.

Alih-alih menatap istrinya, Azka justru melemparkan pandangan lurus ke arah kedua orang tuanya.

“Ma, Raisa mungkin masih segan terima kado dari Mama dan Papa," ucap Azka.,

Reatha mengerjap. “Hah?”

“Sebenarnya aku juga merasa begitu,” lanjut Azka dengan nada sok melas. “Aku takut nanti teman-teman malah ngatain aku suami benalu yang cuma bisa hidup nebeng sama kedua orangtuanya.

Papa langsung terkekeh renyah. Sementara Mama memilih memutar bola matanya malas.

“Peduli amat sama omongan tetangga julid," ucap Mama. Azka terdiam.

Mama melangkah mendekat, lalu menepuk bahu anaknya dengan gemas. “Yang penting kamu buktikan kalau kamu juga pekerja keras. Biarin aja orang mau ngomong apa. Toh, mereka nggak ikut patungan bayar tagihan listrik rumahmu.”

Tanpa sadar, sebuah senyum kecil terbit di bibir Reatha. Mama memang selalu punya cara paling simpel untuk membuat beban hidup , lebih ringan.

“Satu lagi,” sambung Mama penuh nasihat. “Kalau kamu punya kesempatan dapetin sesuatu yang baik, kenapa harus ditolak cuma karena takut omongan orang!" serunya.

Papa mengangguk mantap. “Betul kata Mama. Kalau kita hidup buat dengerin omongan semua orang, sampai kiamat kita nggak bakal maju.”

Papa menatap Azka lurus-lurus. “Kita memang perlu dengerin pendapat orang lain, tapi batasi cuma untuk mereka yang benar-benar peduli dan tulus sama kita," ucapnya selanjutnya.

Azka tersenyum tipis. “Iya, Pa.”

Pandangan Mama beralih sepenuhnya pada Reatha. “Nah, buat kamu juga, jangan pernah merasa nggak pantas, ya. Rumah itu buat kalian berdua, bukan cuma buat Azka.”

Dada Reatha mendadak sesak. Bukan karena sedih, melainkan karena kebahagiaan yang meluap-luap. Kebaikan tulus keluarga ini terasa jauh lebih berat menimpa hatinya ketimbang tumpukan kebohongan yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

“Terima kasih, Ma,” ucap Reatha lirih.

Mama langsung tersenyum lebar. “Nah, gitu dong! Jangan pasang muka tegang kayak mahasiswa mau ujian skripsi.”

Azka terkekeh pelan. “Emangnya Mama tahu muka orang mau ujian skripsi?” tanyanya.

“Tahu lah. Kamu dulu pas sidang juga begitu bentukannya," jawab Mama.

“Mana ada!” balas Azka.

“Yaelah, waktu sidang skripsi kemarin kamu bahkan sempat muntah dua kali di toilet!” seru Mama.

“Ma, plis!” seru Azka salah tingkah.

Papa langsung tertawa ngakak. Reatha pun buru-buru menutup mulutnya, berusaha setengah mati menahan tawa melihat suami dinginnya mati kutu di hadapan sang mama.

Azka memasang wajah paling pasrah di dunia. “Kenapa semua aibku harus dibongkar hari ini sih?”

“Biar Raisa tahu sisi gelap suaminya,” jawab Mama santai tanpa dosa.

“Buat apa?” tanya Azka lagi.

“Biar dia sadar kalau kamu itu cuma manusia biasa yang bisa mules kalau gugup.”

Reatha akhirnya lepas tertawa. Untuk beberapa detik, rasa bersalah yang sejak tadi menghantui hatinya mendadak menguap begitu saja.

Suasana kembali cair saat Mama mengajak mereka berkeliling sudut rumah. “Ini ruang keluarga. Kalau kalian mau leyeh-leyeh kumpul di sini,” terang Mama sambil memimpin jalan ke ruang makan.

“Nah, ini ruang makan, dapurnya nyambung di sebelah sana. Sudah lumayan lengkap, tapi kalau ada barang kurang nanti tinggal comot di toko.”

Begitu Mama membukakan sebuah pintu kamar, langkah Reatha langsung membeku di tempat. Kamar utamanya sangat luas. Dengan balkon yang langsung menghadap ke arah taman belakang.

Azka menyusul berdiri di belakang Reatha. Matanya menyapu sekeliling ruangan “Lumayan," ucapnya.

Mama langsung menoleh tajam. “Lumayan?”

Azka meralat cepat dengan anggukan. “Bagus.”

“Cuma bagus?” tanya Mama.

“Bagus banget, Ma," jawab Azka.

“Nah, gitu dong!” Mama puas.

“Indah banget,” puji Reatha tulus ketika mereka sampai di taman belakang rumah itu.

Mama tersenyum hangat. “Nanti kalau kalian sudah resmi boyongan ke sini, taman ini bisa kalian urus berdua.” Reatha dan Azka hanya mengangguk setuju.

Menjelang sore, Mama melirik jam tangan mewahnya. “Besok kalian sudah bisa langsung boyongan pindah ke sini. Oh ya, daripada kita cuma melongo lihat ruangan kosong, bagaimana kalau sekarang kita cabut belanja peralatan dapur?”

Azka langsung mengernyit ngeri. “Sekarang, Ma? Ini sudah sore.”

“Justru pas. Mall-nya nggak terlalu sumpek," jawab Mama.

Papa tertawa kecil. “Kamu kan tahu sendiri, kalau ide belanja Mama sudah keluar, dunia saja harus ikut.”

Azka hanya bisa pasrah menghela napas. “Baiklah, Ratu," ujarnya.

Setibanya di salah satu pusat perbelanjaan terbesar, prediksi Azka tidak meleset sedikit pun. Begitu menginjakkan kaki di area homeware, Mama berubah wujud menjadi jenderal lapangan yang siap memborong satu toko.

“Raisa, kamu suka piring keramik yang motif ini?” tanya Mama sambil menenteng piring estetik.

Reatha mengangguk sopan. “Bagus, Ma.”

“Bungkus, ambil satu lusin!”

“Eh, jangan, Ma. Itu isinya dua belas lho,” protes Reatha kaget.

“Ya emang harus selusin dong.”

“Tapi kan kita tinggal cuma berdua doang di rumah," balas Reatha.

“Jaga-jaga kalau nanti kalian kasih Mama cucu selusin," ucap Mama santai.

Azka yang sedang asyik mengecek deretan gelas kaca di sebelah sana mendadak tersedak ludahnya sendiri. “Ma astaga!” serunya.

Belum selesai urusan per-piring-an, Mama sudah gesit bermigrasi ke rak gelas. “Kalau gelas ini?” tanyanya.

“Bagus, Ma," jawab Reatha.

“Kalau begitu, ambil," balas Mama. Lalu ia pindah ke rak satu ke rak lain, tempat satu ketempat lainnya.

Puncak kesabaran Azka akhirnya habis. Pria itu memijat pelipisnya yang mendadak pening. “Ma, jujur saja ... kita ini mau pindahan rumah atau mau buka cabang restoran All You Can Eat?”

Mama melirik tajam penuh wibawa. “Kenapa? Kamu keberatan?” tanyanya.

“Bukannya keberatan, tapi—”

“Kalau tidak keberatan, diam dan dorong trolinya!" seru Mama.

Azka langsung kicep. Reatha yang melihat interaksi ibu dan anak itu hanya bisa menutup mulut sambil terkekeh gemas.

Menjelang malam, isi troli belanjaan mereka sudah menggunung tinggi hingga nyaris menutupi pandangan. Rangkaian agenda hari itu ditutup dengan makan malam hangat di salah satu restoran keluarga sebelum akhirnya mobil melaju pulang membelah jalanan kota.

Di dalam mobil, Reatha sambil melirik kantong-kantong belanjaan yang memenuhi bagasi belakang.

Ada sensasi hangat yang merayap di dadanya, menciptakan ruang nyaman yang sulit untuk dideskripsikan. Keluarga Azka memperlakukannya dengan begitu tulus, seolah ia memang bagian dari darah daging mereka sendiri.

Dan justru karena kebaikan itu terlalu besar, rasa bersalah di lubuk hatinya terasa kian menghujam. Ia menatap lurus ke luar jendela mobil yang menampilkan lampu-lampu jalanan kota.

Maafkan aku, Ma ... Aku sebenarnya bukan Raisa.

Tangannya refleks meremas ujung bajunya di atas pangkuan. Namun, begitu kepalanya menoleh ke sebelah kanan, ia mendapati Azka sedang menyetir sambil menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan.

“Kenapa dari tadi melirik terus?” tanya Azka tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

Reatha buru-buru menggeleng kikuk. “Nggak apa-apa kok.”

Azka kembali fokus menyetir. “Besok kita resmi tinggal di rumah baru.”

Reatha membalasnya dengan senyuman kecil yang tulus. “Iya.”

Entah mengapa, untuk kali pertama sejak sandiwara pernikahan palsu ini dimulai, Reatha justru dihantui perasaan takut yang asing, ia takut kebahagiaan sederhana ini mendadak sirna begitu kedoknya terbongkar.

1
Akasia Rembulan
feeling orang tua itu ngga pernah salah Azka..
Nar Sih
cerita yg bagus mama,asyik di bca nya👍🥰
Nar Sih
jls lah reata disana org istri nya
Nar Sih
untung yg kmu nikahi reatha semoga kmu ngk marah bila nanti kbnran dtg
Sri Supriatin
lanjuut Thor 🙏🙏🙏
Radya Arynda
haduh pelakor2,,,mati aja.jijik kalau baca tentang vania,,,pelakor ngak tau malu
Radya Arynda
laki2 goblok,,di budak sama vania dengan dalih balas budi mau aja,,,,tolol...
ken darsihk
Vania kebakaran jenggot mengetahui kedekatan nya Azka dngn Raisa istri nya 🤣🤣🤣
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Ida Nur Hidayati
Vania....Azka dan Raisa suami istri jadi kalau mereka berdekatan itu wajib
Naufal Affiq
gak sadar juga kamu vania,rea itu istrinya,kamu hanya pelakor
Teh Euis Tea
ga mungkin gimana vania Reatha istri sah nya azka gimana sih km, tp sah ga ya pernikahan mereka kan namanya yg di ijab kabul raisa bkn reatha?
Eva Karmita
dasar benalu so berkuasa sadar diri napa kamu itu siapa cuma pelakor yg tidak tahu diri menjual kebaikan kakak mu untuk jadi tameng mu 😏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Suanti
setelah raisa/ reatha prgi baru azka merasa kehilangan bakal menyesal azka 🤭
Eva Karmita
seiring berjalannya waktu kamu akan sadar Azka ... tapi semoga saja bila waktu nya tiba kamu tidak terlambat dan menyesal , wanita yg selama ini menemanimu Tampa menuntut apapun pergi Tampa jejak
Lela Angraini
smga dgn kejadian ini kamu segera sadar dan menyadari perasaanmu sblm waktuny tiba nanti reatha pergi dri kehidupanmu
Lela Angraini
heleeehhh preeettt,,cinta duitny doank kamu itu. pgn lihat kamu di campakkan aku 🤣🤣
ken darsihk
Apa yang akan terjadi yak , setelah satu tahun terlewati
Naufal Affiq
mudah-mudahan kau paham untuk semuanya azka,kau sudah menikah,dan harus menghargai hati istrimu,biar pun dia bukan wanita yang kau cintai,kalau untuk vania itu wanita yang dititip kan kepada mu,hanya untuk di jaga,bukan untuk di nikahi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!