Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Lakukan Mulai Sekarang
Darah Kanaya seketika berdesir hebat. Seluruh sendinya terasa membeku. Tak mampu berbuat apa-apa dan hanya bergeming ketika Yudha mulai melakukan sentuhan fisik padanya. Gelenyar aneh mulai ia rasakan ketika kecupan hangat Yudha mendarat di pundaknya.
"Yud ..." Kanaya menggigit bibir bawahnya . sembari memejamkan mata. Ada sensasi asing yang baru pertama kali dirasakan olehnya. Dulu sewaktu kuliah, ia memang pernah menjalin asmara dengan seorang pria. Namun, tak pernah melakukan sentuhan fisik seperti saat ini, hingga membuat jantungnya berdebar makin kencang.
Bukannya menyurut, Yudha justru kian gencar melakukan sentuhan fisik di tubuh Kanaya. Kecupannya di pundak Kanaya makin dalam, seakan menuntut lebih atas haknya sebagai suami Kanaya.
Ketegangannya kian merayap saat jemari Yudha menyelusup ke balik piyama yang dipakai Kanaya.
"Yudha!" hardik Kanaya sembari menepis kasar tangan pria itu yang menyusuri kulitnya.
"Hmph ..." Lekukkan tipis terbentuk di sudut bibir Yudha. "Nikmati aja! Jangan banyak protes!" Dengan sekali gerakan cepat, Yudha sudah berhasil menjatuhkan Kanaya di tempat tidur dan mengunci pergerakan istrinya itu.
"Kamu mau apa, Yud?" Kanaya makin panik, berusaha berontak dari dekapan tubuh Yudha yang mengungkungnya.
"Aku hanya ingin kita merasakan bagaimana indahnya menjadi pasangan suami istri." Bibir Yudha bergerak menyapu wajah cantik istrinya.
Kanaya bukannya tak mengerti apa maksud kata-kata Yudha tadi. Namun, saat ini ia belum siap melakukannya.
"Yud, jangan sekarang!" Kanaya menahan tangan Yudha yang mulai melucuti satu persatu kancing piyama yang ia pakai.
Yudha menatap Kanaya. Sorot matanya terlihat gelap, seperti sedang menahan sesuatu yang sulit ia sembunyikan.
"Kapan? Nanti malam? Oke, deal!" Yudha mengambil keputusan sepihak. Karena kini waktu mendekati Adzan shubuh, ia pun akhirnya membebaskan Kanaya. Tapi, ia akan menuntutnya malam nanti.
Yudha menjauhkan tubuhnya dari Kanaya lalu turun dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu kamar.
"Yud, mau ke mana?" Kanaya khawatir Yudha marah karena penolakannya.
Yudha melirik pada Kanaya. Sudut bibirnya membentuk seringai tipis. "Mau mengeluarkan sesuatu yang bikin pusing," ucapnya seraya menarik handle pintu. "Kamu mau bantu keluarin?" tanyanya menggoda Kanaya.
Bola mata Kanaya membeliak. Sekejap kemudian ia memalingkan wajahnya, merasa malu sendiri mendengar ucapan Yudha tadi.
"Hahaha ..." Yudha terrawa lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar setelah berhasil membuat Kanaya salah tingkah.
***
Kanaya sengaja menunda membereskan dapur setelah mereka makan malam. Sengaja menghindari Yudha yang akan menuntut sesuatu darinya, Kanaya ingin menyibukkan diri di dapur selepas Isya tadi.
Dia berharap Yudha melupakan niatnya itu, syukur-syukur Yudha sudah terlelap. Jujur saja, ia merasa grogi harus melakukan hubungan intim dengan Yudha, mungkin berbeda jika suaminya adalah Yogi, karena pernikahan dengan Yogi sudah direncanakan sebelumnya dan dia sudah mempersiapkan diri untuk menerima dan melayani Yogi sebagai suaminya. Namun, skenario Tuhan ternyata berbeda. Siapa sangka justru saat ini adik Yogi yang seatap dengannya.
"Lama banget, sih? Ngapain aja?" Suara Yudha dari pintu dapur terdengar. Matanya memicing melihat Kanaya yang duduk di kursi makan dan sibuk dengan ponselnya. Sementara perabotan bekas makan mereka masih menumpuk di wastafel, padahal saat meninggalkan kamar setelah sholat Isya tadi, istrinya itu berpamitan ingin mencuci piring dan membereskan dapur.
"Oh, iya ... Aku mau cuci piring." Kanaya memasukkan ponselnya ke saku piyama dan bergegas menuju wastafel. Tadi ia sempat curhat pada kedua sahabatnya soal tuntutan Yudha yang menginginkan mereka berhubungan intim. Di luar dugaan, Hesti dan Nunik justru mendukung tindakan Yudha.
"Dari tadi belum cuci piring? Memangnya ngapain aja, sih?" Yudha berjalan menghampiri istrinya hingga kini berdiri tetap di belakang Kanaya yang mulai mencuci piring. Bahkan dadanya sengaja ia rapatkan di punggung Kanaya.
Nafas Kanaya tertahan ketika Yudha kembali melakukan sentuhan fisik padanya,
"Yud, kamu tunggu di kamar aja! Aku mau cuci piring dulu." Gugup karena Yudha ada di dekatnya, Kanaya merasa tak nyaman dan meminta suaminya itu meninggalkannya sendirian di dapur.
"Aku mau temani kamu di dapur. Kasian kamu sendiri di dapur, barangkali ada yang ganggu. Kamu lihat di depan sana 'kan masih kosong. "Yudha menunjuk ke luar jendela tepat dekat Kanaya mencuci piring. "Lampunya kadang suka nyala padam sendiri," bisik Yudha sengaja menakuti Kanaya.
Sontak Kanaya menoleh ke arah yang ditunjuk Yudha, bersama dengan gerakan tubuhnya yang secara reflek bergerak ke belakang, hingga membuat tubuhnya makin merapat dengan tubuh Yudha.
"Jangan takut, ada aku di sini yang menemani. Cup ..." Sebuah kecupan singkat di tengkuk Kanaya mengakhiri ucapkan Yudha.
"Kamu ngerjain aku, ya!" Kanaya mendelik dengan wajah memberengut, menduga jika ucapan suaminya hanya keisengan semata untuk mengerjainya agar ketakutan.
Secara tak terduga, lampu di rumah belakang tiba-tiba padam, membuat Kanaya ketakutan. Sontak ia memutar tubuhnya ingin meninggalkan dapur. Namun, tubuh Yudha saat ini menghalangi langkahnya dan membuat dirinya jatuh dalam pelukan Yudha.
"Wah, kamu udah nggak sabar, nih? Belum selesai cuci piring udah pengennya di peluk aja," ledek Yudha lagi.
"Awas! Aku mau ke kamar!" Kanaya memukul tubuh Yudha, meminta Yudha menyingkir dari hadapannya.
"Iya, iya aku akan bawa kamu ke kamar." Sedetik kemudian, tubuh Kanaya berada di antara lengan kokoh Yudha.
"Aakhh! Yudha, turunkan aku!" Kanaya memekik dan berontak minta Yudha menurunkannya.
"Nanti aku turunkan kamu di tempat tidur." Yudha mengulum senyuman penuh maksud terselubung.
"Lepasin aku, Yud! Aku mau cuci piring."
"Tenang aja, aku bantu kamu lepasin baju kamu, kok. Semuanya aku lepas tanpa sisa." Yudha terkekeh dengan memainkan alisnya turun naik tanpa menghentikan langkahnya menuju kamar di lantai dua.
Braakk
Pintu kamar ditendang Yudha agar terbuka. Dia lalu merebahkan tubuh Kanaya di tempat tidur dan mengungkungnya, tak memperdulikan tubuh Kanaya yang menegang dan semburat merah yang mewarnai wajah cantik Kanaya.
"Aku bilang ingin punya banyak anak. Jadi, kita harus mulai melakukannya dari sekarang." Yudha memangkas jarak, mendekatkan bibirnya ke bibir Kanaya. Perlahan mengecupnya dengan lembut hingga makin lama semakin dalam pagutannya pada bibir Kanaya.
Kanaya hanya bisa pasrah, walau sangat kaku meladeni hasrat Yudha yang menggebu. Dia tak punya cara untuk mempertahankan kesuciannya lagi. Walau menikah karena mendadak dan terpaksa, Yudha memang berhak atas tubuhnya.
Akhirnya pengantin baru itu benar-benar merasakan malam pertama mereka sebagai suami istri yang sempat tertunda beberapa hari. Memadu kasih bagai sepasang kekasih yang saling mencintai. Tak memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Mereka hanya ingin menikmati surga dunia yang halal mereka lakukan karena sudah sah secara hukum dan agama.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
apa harus melihat perbedaan usia di saat menikah ya
mau Naya lebih tua dari Yudha apa hak kamu,,toh mereka serasi ko,,
julid amat loh
seolah olah Kanaya yang salah padahal pihak keluarga Yogi dan Yudha yang bikin masalah.
besoknya anggap angin lalu. siapa tau jodoh sebenarnya udah deket
terima nasib aja ayy,positif thinking aja kalau Yudha bukan jodohmu. jangan coba2 buat nikung ya,..