Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Kau sudah bangun?" tanya Dokter Raka saat memasuki ruangan Keira.
Keira hanya diam, menatap kosong ke depan. Ia mendengar pertanyaan itu, namun tak menjawab.
"Apakah ada yang sakit? Katakan di mana yang sakit, biar saya periksa," tanya Dokter itu lagi dengan lembut.
Keira hanya menggeleng pelan. Tenggorokannya terasa sangat kering dan perih. Ia menoleh ke samping, melihat botol minum di meja kecil di samping tempat tidur. Dengan susah payah, ia berusaha meraihnya. Dokter Raka segera membantunya duduk dan memberikan minum.
"Kau sudah koma selama seminggu," kata Dokter itu pelan.
"Se... seminggu?" suara Keira serak dan lemah.
"Iya. Tubuhmu masih sangat lemah. Jangan banyak bergerak dulu."
Setelah itu Dokter Raka menanyakan perihal keluarga Keira.
"Keluarga?" tanya Keira pelan, matanya menatap kosong ke arah Dokter Raka.
"Maksudmu, ada keluargamu yang datang menjenguk?" Dokter itu memahami maksud pertanyaan itu.
Keira mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Belum ada yang datang," jawab Dokter Raka dengan jujur namun lembut. Sebenarnya ia bisa saja berbohong dengan mengatakan bahwa keluarganya akan segera datang namun ia merasa itu justru akan menyakiti hati anak itu lebih dalam.
Keira berhak tahu kenyataan bahwa hanya ayahnya yang datang sebentar, lalu pergi tanpa ada satu pun anggota keluarga lain yang menjenguk.
'Kenapa hanya Papa yang datang? Kenapa Mama, Kak Arya, Kak Segar tidak ada satu pun yang tahu aku di sini?' Pertanyaan itu terus berputar di kepala Keira, namun ia hanya diam.
"Begitu ya..." gumamnya pelan, menatap ke luar jendela.
"Bolehkah aku sendirian dulu?" tanyanya lagi, suaranya terdengar lemah dan putus asa. Ia bukan ingin mengusir dokter itu, ia hanya tidak sanggup menahan rasa sakit di dadanya jika terus berbicara.
Dokter Raka mengangguk paham. "Baiklah. Istirahatlah dulu." Ia berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar, ia memastikan tidak ada benda tajam di sekitar tempat tidur.
Selama menjadi dokter, ia sering melihat anak-anak yang merasa sendirian melakukan hal-hal yang berbahaya karena keputusasaan. Hatinya terasa berat melihat Keira yang begitu muda sudah harus merasakan kesepian yang begitu dalam.
Begitu pintu tertutup, air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah. Keira menangis sejadi-jadinya, tubuhnya terguncang isak tangis. Ia memukul dadanya pelan, berharap rasa sakit di hatinya bisa sedikit berkurang.
Menangis memang tidak bisa mengubah apa pun, namun setidaknya membuatnya merasa sedikit lebih lega.
'Kenapa tidak ada satu pun dari mereka yang mau menjengukku? Kenapa aku selalu menjadi bayangan di belakang Keyna? Sampai kapan aku harus menunggu untuk dicintai?'
***
"Jangan terus bersedih. Paman di sini, ayo kita main tebak-tebakan," ujar Dokter Raka dengan nada ceria saat masuk ke ruangan keesokan harinya. Ia melihat wajah Keira yang masih murung sejak dua hari lalu, anak itu selalu tampak muram dan tak pernah tersenyum.
"Apa?" jawab Keira pelan, suaranya masih serak karena menangis.
"Ayo, tebak huruf apa yang paling dingin?" tanya Dokter Raka sambil tersenyum lebar.
Keira mencoba berpikir sejenak, lalu menggeleng pasrah. "Aku menyerah."
"Jawabannya huruf B! Karena di tengah-tengah AC hahaha!" Dokter Raka tertawa sendiri, namun melihat Keira yang hanya diam tanpa ekspresi, tawanya perlahan menghilang.
"Lucu kan?" tanyanya ragu.
"Biarpun begitu, tetap tidak lucu," jawab Keira datar, lalu kembali makan makanan yang disajikan di meja tanpa menoleh.
"Yah, ternyata bercandaku gagal," Dokter Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sebenarnya aku belum menikah lho, masih muda. Belum punya anak sama sekali," ucapnya tanpa sadar.
"Karena itu jangan sok jadi orang tua," jawab Keira singkat, namun kata-katanya begitu tulus.
"Hei, aku itu tidak kalah tampan lho. Dibanding Lee Min Ho pun aku masih lebih ganteng," protes Dokter Raka, lalu mengeluh soal nasibnya yang masih jomblo bertahun-tahun.
"Kasihan sekali," kata Keira pelan, namun kali ini ada senyum tipis di bibirnya. Ia menepuk bahu dokter itu pelan. "Tapi tidak apa-apa, walau jomblo, kau tetap orang baik."
"Kau ini bisa saja ya," Dokter Raka tertawa, kali ini tawa yang tulus.
***
Beberapa hari kemudian, kondisi Keira perlahan membaik. Dokter sudah mengizinkannya pulang.
"Keira pulang," ucapnya pelan saat berpamitan, berusaha tidak terlalu berisik agar tidak mengganggu kebahagiaan keluarga yang sedang berkumpul di ruangan sebelah.
Begitu sampai di rumah, Keyna langsung berlari menyambutnya dan memeluk erat saudaranya itu. "Keira!!"
"Maaf, Keira... maafkan aku. Waktu itu aku tidak sempat membantumu," kata Keyna dengan wajah bersalah, menunjuk kedua tangannya yang masih terlihat memar, bukti bahwa ia juga berusaha keras, namun tubuhnya tidak mampu.
Keira hanya tersenyum tipis. "Tidak apa-apa."
"Kenapa jawabannya begitu singkat? Kau marah ya? Maafkan aku... tolong maafkan aku," mohon Keyna dengan cemas.
"Aku tidak marah. Aku hanya butuh istirahat," jawab Keira pelan, lalu berjalan menuju tangga menuju kamarnya.
"Tunggu! Biar aku temani," Keyna berusaha mengikutinya.
"Tidak perlu," tolak Keira pelan, namun tegas. Langkah kakinya tidak berhenti, terus berjalan meninggalkan Keyna di bawah.
Di balik pintu kamarnya yang tertutup, Keira bersandar pada dinding, menutup matanya rapat.
'Aku tidak marah... aku hanya sudah terbiasa tidak diharapkan.'