Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Menyebalkan

Rania masih menatap wanita di hadapannya beberapa detik.

Kemudian sebuah senyum tipis muncul di bibirnya.

"Wow... surprise," gumam Rania. Ia mengulurkan tangannya dengan tenang "Semoga hubungan kalian selalu dipenuhi kebahagiaan."

Mona sedikit terkejut.

Ia sempat mengira Rania akan menunjukkan rasa cemburu. Namun, tidak ada kesedihan di wajah wanita itu.

Hanya keterkejutan.

Mona menarik kembali tangannya dan tersenyum tipis. "Terima kasih."

Setelah itu, Mona melirik Brian sekilas sebelum berjalan meninggalkan ruangan.

Klik! Pintu utama kembali tertutup.

Kini hanya tersisa Rania dan Brian.

Beberapa saat kemudian, pria yang tadi memeriksa kaki Brian berdiri.

"Sesi terapi hari ini cukup sampai di sini. Kita akan melanjutkannya tiga hari lagi Tuan."

Brian mengangguk. "Baik."

Pria itu kemudian berpamitan dan meninggalkan ruangan.

Rio ikut keluar setelah memastikan seluruh berkas yang diperlukan sudah tersedia.

Klik! Pintu kembali tertutup.

Keheningan pun menyelimuti ruangan.

Rania meletakkan map miliknya di atas meja.

Di sisi lain, Brian pun meletakkan sebuah map merah di atas meja.

Pria itu kemudian perlahan menurunkan kakinya dari sofa. Gerakannya masih terlihat kaku.

Rania sempat hendak melangkah untuk membantunya. Namun ia segera menghentikan niatnya.

Brian melihat gerakan itu.

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Lihat dirimu."

Rania menoleh.

"Padahal kau yang membuatku sampai seperti ini," ucap Brian tenang. "Tapi sekarang kau bahkan begitu enggan membantuku."

Rania menghela napas. "Aku datang ke sini untuk membicarakan bisnis, bukan mengenang masa lalu."

Brian mengangguk pelan. "Baiklah." Ia kemudian menatap Rania. "Lalu, kenapa kau tidak bertanya."

"Tentang apa?" tanya Rania.

"Tentang bagaimana aku bisa mengenal Mona," ucap Brian.

Rania mengangkat alis. "Untuk apa aku bertanya tentang sesuatu yang tidak berhubungan dengan urusan bisnis?"

Brian menundukkan wajahnya sebentar. "Ah..." gumamnya. "Kau benar."

Rania kembali membuka berkasnya.

Namun suara Brian terdengar lagi. "Istriku semakin menarik."

Rania langsung mengangkat wajah.

Brian tersenyum tipis sambil mendorong map merah ke arahnya. "Aku menyukai perubahan sikapmu, Sayang."

"Kau menyebalkan." Rania menarik map itu. "Apa ini?"

"Buka." Titah Brian.

Rania membuka map tersebut. Matanya bergerak membaca beberapa lembar dokumen di dalamnya.

Hanya dalam beberapa detik, ekspresinya berubah. "Ini..." Ia menatap Brian. "Rumah ini milikku?"

Brian mengangguk. "Dari Kakek?"

Rania memandang sekeliling ruangan. Baru sekarang ia menyadari bahwa rumah itu memang jauh lebih besar dari pada yang ia bayangkan.

"Terimalah," ucap Brian.

Rania terdiam. Namun alih-alih menjawab, ia justru bertanya, "bagaimana keadaan Kakek sekarang?"

Brian mengangkat bahunya. "Seperti biasa. Keras kepala."

"Brian." Nada suara Rania berubah serius. "Aku bertanya dengan sungguh-sungguh."

"Aku juga menjawab apa adanya," timpal Brian.

Rania mendengus pelan dan membuang wajahnya.

Brian tersenyum. "Lagi pula, kenapa kau bertanya kepadaku? Daffa pasti sudah tahu."

Rania menggeleng. "Dia tidak pernah memberitahuku sedikit pun tentang keadaan Kakek Barra."

Senyum Brian menghilang sejenak. " Lalu kenapa Daffa mengizinkanmu menerima investasiku?"

Rania langsung menatapnya. "Kau sudah melewati batas." Ia menutup berkas yang sedang dibacanya. "Kita sedang membicarakan bisnis."

Brian bersandar santai. "Baiklah." Beberapa detik kemudian, ia berkata lagi, "kalau begitu, lupakan saja."

Rania mengerutkan kening.

"Sejujurnya, aku memang tidak mengadakan pertemuan ini untuk membahas bisnis." Jelas Brian.

Rania terdiam.

Brian menunjuk dokumen rumah tersebut. "Aku hanya ingin memberitahumu tentang rumah ini."

Rania menatapnya tidak percaya. "Jadi kau membuat jadwal pertemuan bisnis hanya untuk memberiku rumah?"

Brian mengangguk santai. "Kurang lebih begitu."

"Aku tidak bisa menerima ini." Rania langsung mendorong map tersebut kembali. "Satu perusahaan saja sudah cukup untukku."

"Kau ingin menolak?" Tanya Brian.

"Ya."

Brian menatap map itu. Kemudian ia mengangkat wajah. "Tapi aku tidak mau," ucap Brian.

Rania mengerutkan kening. "Maksudmu?"

Brian berdiri. Ia berjalan perlahan mendekati Rania. "Rumah ini Kakek bangun untuk keluarga kecil kita."

Langkahnya berhenti di hadapan Rania. "Kau, aku..." Tatapan Brian turun sebentar ke perut Rania. "Dan anak kita."

Rania refleks menyentuh perutnya. Untuk beberapa detik, ia tidak mampu mengatakan apa-apa. Kemudian ia mengangkat wajah. "Kau memanfaatkan hubungan kerja sama bisnis kita, Brian."

Brian tersenyum tipis. "Kalau aku tidak membuat jadwal pertemuan bisnis hari ini, aku yakin kau tidak akan datang."

Rania membuang wajahnya. "Kalau begitu, waktu pertemuan kita sudah habis." Ia berdiri.

Namun Brian ikut bergerak. Rania memperhatikan langkah pria itu.

Tanpa tongkat.

Brian berjalan tertatih. Sesekali tangannya menyentuh pahanya untuk menjaga keseimbangan.

Rania tanpa sadar memperhatikannya. Ada rasa khawatir yang muncul di dalam dadanya.

Namun segera ia tekan.

"Rania." Brian tiba-tiba berdiri di hadapannya.

Tangannya menahan bahu Rania dan membuat wanita itu kembali duduk. "Sekarang rumah ini adalah rumahmu."

Rania menatapnya tajam.

"Dan malam ini..." Brian mengambil tongkat hitamnya. "Aku akan menumpang menginap di sini satu malam."

Mata Rania membesar. "Kau gila?" Ia kembali berdiri.

Namun Brian segera menahan bahunya. "Kenapa kau begitu agresif?"

Rania menepis tangannya. "Karena kau selalu membuat keputusan sepihak!"

Brian justru tersenyum.

"Aku hanya mengatakan akan menginap, untuk membahas presentasi PT. Herbalife."

Rania menatapnya curiga.

Brian sedikit mencondongkan tubuh. "Atau..." senyum nakal muncul di wajahnya, "kau sedang memikirkan hal lain tentang hubungan kita?"

Rania langsung membeku.

Brian mengangkat tangannya dan menyentuh dagu Rania.

Namun Rania segera menepisnya. "Jangan mempermainkanku, Brian."

Brian terdiam sesaat. Kemudian sebuah senyum tipis muncul. "Ini menyenangkan."

Rania melotot.

Brian mengambil tongkat hitamnya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berjalan meninggalkan ruangan.

Rania hanya mampu menatap punggung lebar pria itu.

Langkah Brian masih belum sempurna. Namun entah kenapa, pemandangan itu justru membuat dada Rania terasa sesak.

Ia menggenggam ujung map di tangannya. "Rania..." Ia menarik napas panjang. "Kau bisa memanfaatkan Brian."

Tatapannya jatuh pada dokumen PT. Herbalife. "Demi membuat perusahaan ini berkembang, aku harus berkorban sedikit."

Rania mengangguk pada dirinya sendiri. "Tidak apa-apa." Ia kembali mengembuskan napas. "Dia hanya sedikit menindasmu tadi."

Rania mengepalkan tangannya. "Kau bisa menghadapi Brian."

Namun Rania tidak menyadari satu hal.

Dari balik pintu yang belum sepenuhnya tertutup, Brian berhenti sejenak. Ia mendengar semua gumaman Rania.

Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya. Rania ternyata berniat memanfaatkannya. Dan Brian justru tidak keberatan.

Karena kalau itu alasan yang membuat Rania tetap berada di sisinya, ia akan membiarkan wanita itu merasa sedang memanfaatkannya.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!