Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Tiga Hari Menuju Gerhana dan Langit yang Berdarah
Tiga hari di Ibu Kota Naga Langit terasa seperti tiga tahun bagi mereka yang peka terhadap aliran qi.
Lin Tian tidak menghabiskan waktu tungguannya dengan berdiam diri di dalam kamar penginapan. Seorang pembunuh yang cerdas tidak pernah menyerang tanpa merencanakan rute pelarian. Menggunakan identitas "Li Fan" dan kekayaan dari cincin spasial Zhao Yan, ia menyewa sebuah halaman tertutup yang sepi di distrik luar kota, jauh dari mata-mata Pasukan Naga Besi.
Di siang hari, ia menyamar sebagai pedagang keliling, berjalan menyusuri jalanan utama dan gang-gang sempit ibu kota. Ia tidak hanya menghafal tata letak jalanan di atas tanah, tetapi juga menyuap para pekerja sanitasi kekaisaran untuk mendapatkan peta kuno jaringan saluran pembuangan bawah tanah dan terowongan limbah yang bermuara ke luar tembok kota.
Di malam hari, ia duduk bersila di tengah halaman, memurnikan sisa-sisa energi dari pertarungan-pertarungan sebelumnya dan menstabilkan lautan qi hitam keemasan bercampur merah di dantiannya. Ia juga menghabiskan ribuan batu roh tingkat menengah untuk membeli dua puluh Jimat Bayangan Darurat dari pasar gelap—jimat pelarian jarak pendek yang hanya bisa digunakan sekali, namun cukup untuk membawanya teleportasi sejauh satu mil secara acak.
Seiring berjalannya waktu, perubahan halus namun mengerikan mulai merayap ke seluruh Ibu Kota.
Pada hari kedua, para kultivator di kedai-kedai teh mulai mengeluh bahwa qi di udara terasa "kering" dan sulit diserap. Pada hari ketiga, tanaman spiritual di taman-taman bangsawan mulai layu secara misterius, dan hewan-hewan peliharaan spiritual meraung gelisah di dalam kandang mereka. Tidak ada yang tahu bahwa di jauh di bawah kaki mereka, Urat Naga Bumi sedang dicekik dan dikuras habis-habisan oleh Formasi Pencuri Naga.
Ketika malam ketiga tiba, langit di atas Kota Naga Langit tidak bertabur bintang.
Bulan purnama yang seharusnya bersinar terang perlahan tertutup oleh bayangan bumi. Sebuah gerhana bulan total. Namun, alih-alih menjadi gelap gulita, bulan yang tertutup itu memancarkan cahaya merah darah yang suram, mewarnai atap-atap emas istana dan jalanan batu bata dengan rona merah yang menakutkan. Angin malam berhenti berhembus. Udara terasa berat dan statis, seolah-olah langit itu sendiri sedang menahan napas.
Lin Tian berdiri di atas genteng penginapannya, menatap bulan merah itu. Matanya yang hitam pekat memantulkan cahaya gerhana.
"Waktunya tiba," bisiknya.
Ia tidak mengenakan topeng porselen penyamarannya malam ini. Ia mengenakan pakaian malam hitam pekat yang ketat, mengikat pedang hijau bergeriginya di punggung, dan menyimpan jimat-jimat pelarian di ikat pinggangnya. Dengan satu langkah ringan, ia melesat ke dalam kegelapan, bergerak menuju Istana Kekaisaran.
Patroli Pengawal Bayangan malam ini jauh lebih tegang. Aura gerhana membuat insting mereka gelisah, namun mereka hanya mengira ini adalah anomali alam biasa. Lin Tian dengan mudah menghindari sorotan cahaya lentera qi dan indra spiritual mereka, melesat dari satu bayangan ke bayangan lainnya hingga ia tiba di tepi Danau Cermin Bulan.
Permukaan danau yang biasanya tenang kini bergetar hebat. Airnya mendidih pelan, memancarkan uap tipis. Formasi ilusi di atasnya sudah sangat lemah, hampir runtuh karena seluruh energinya sedang disedot ke bawah tanah untuk memberi makan ritual. Lin Tian tidak perlu menggunakan token gioknya; ia cukup menyelam langsung menembus lapisan ilusi yang menipis.
Air di bawah permukaan kini terasa panas dan berbau belerang. Arus qi pembunuh di dalam air sudah hilang, sepenuhnya ditarik ke pusat formasi. Lin Tian berenang cepat menuju pintu batu raksasa, menyelinap masuk ke dalam terowongan, dan kembali ke bibir tebing di dalam gua bawah tanah raksasa itu.
Pemandangan di bawah sana telah berubah menjadi neraka sungguhan.
Delapan pilar obsidian kini memancarkan cahaya merah yang menyilaukan, berdenyut seirama dengan detak jantung raksasa. Ratusan kultivator yang dirantai di dinding gua kini hanya tinggal kulit pembalut tulang; mata mereka cekung, napas mereka tersengal-sengal, kesadaran mereka sudah lama hancur karena rasa sakit akibat penyedotan darah yang terus-menerus.
Di tengah danau darah yang kini mendidih liar, kepompong darah yang membungkus Tetua Xue Tu mulai retak.
Cahaya merah menyilaukan memancar dari celah-celah kepompong itu. Tekanan spiritual yang membanjiri gua membuat stalaktit-stalaktit di langit-langit runtuh dan hancur menjadi debu sebelum menyentuh tanah. Ini bukan lagi aura Pondasi Awal. Ini adalah tekanan dari seorang ahli yang sedang berada di ambang batas pembentukan Inti Emas.
"Akhirnya..."
Suara Xue Tu bergema di seluruh gua, terdengar berlapis dan bergema seperti suara iblis kuno. Kepompong itu pecah sepenuhnya. Xue Tu berdiri di atas altar giok, rambut putihnya berkibar liar tanpa angin. Matanya sepenuhnya berwarna merah darah, dan di dadanya, sebuah pusaran energi padat sedang mencoba mengkristal menjadi Inti Emas.
"Dengan darah Penjaga Kunci dan Urat Naga Bumi ini, Istana Langit Hitam akan bangkit dari bayangan! Kekaisaran ini akan menjadi lahan penggembalaan kita!" Xue Tu mengangkat kedua tangannya, tertawa gila. "Menyeraplah! Serahkan seluruh esensi bumi ini padaku!"
Formasi mencapai puncaknya. Delapan pilar obsidian menarik energi mentah dari Urat Naga Bumi di kedalaman terdalam, menyalurkannya melalui danau darah, dan memaksakan masuk ke dalam tubuh Xue Tu.
Dari tempat persembunyiannya, Lin Tian menatap dengan mata yang dingin dan penuh perhitungan. Tangannya perlahan menggenggam gagang pedang hijaunya.
Energi Urat Naga Bumi yang masif dan murni meluncur deras melalui jalur formasi, menuju ke delapan pilar penstabil untuk disaring sebelum masuk ke tubuh Xue Tu. Aliran energi itu menghantam pilar pertama, kedua, dan ketiga dengan lancar.
Namun, saat aliran energi raksasa itu masuk ke pilar keempat—salah satu dari empat pilar yang telah disuntikkan qi korosif hitam keemasan oleh Lin Tian tiga hari lalu—bencana itu terjadi.
Qi iblis milik Lin Tian yang tertidur di dalam rune pilar langsung terbangun oleh pemicu energi masif ini. Alih-alih membiarkan energi Urat Naga lewat, qi hitam keemasan itu bertindak seperti bendungan yang tiba-tiba ditutup, sekaligus racun yang bereaksi dengan api.
KRAAAK!
Suara retakan yang memekakkan telinga menggema dari pilar keempat. Cahaya merah pilar itu tiba-tiba bercampur dengan warna hitam pekat yang korosif. Aliran energi Urat Naga Bumi yang seharusnya mulus tiba-tiba tersumbat dan berbalik arah secara paksa, menciptakan gelombang kejut balik (backlash) yang langsung merambat ke pilar kelima, keenam, dan ketujuh yang berada di jaringan yang sama.
Di atas altar, tawa gila Tetua Xue Tu tiba-tiba terpotong oleh suara teriakan kesakitan yang mengerikan.
Pusaran energi di dadanya yang hampir membentuk Inti Emas tiba-tiba terkontaminasi oleh qi hitam korosif yang meledak dari pilar-pilar yang rusak. Kristal energi yang seharusnya mulus dan sempurna kini retak seribu, memancarkan hawa destruktif yang mulai merobek meridian dan organ dalam Xue Tu dari dalam.
"Apa?! Tidak mungkin! Energi naga ini... mengapa menjadi korosif?! Siapa yang berani mengotori formasi suci ini?!" Xue Tu memuntahkan darah hitam kental, jatuh berlutut di atas altar giok. Aura Inti Emas yang baru saja ia sentuh kini runtuh dengan liar, mengancam akan meledakkan tubuhnya menjadi serpihan daging.
Formasi raksasa itu mulai kehilangan kendali. Rantai-rantai besi yang mengikat para tawanan mulai bergetar dan memanas. Danau darah mendidih semakin liar, memercikkan cairan panas ke segala arah.
Lin Tian tidak menunggu Xue Tu pulih atau mencoba menstabilkan kultivasinya. Ia melompat dari atas tebing, tubuh melesat turun bagai elang hitam yang menukik ke arah mangsanya yang terluka. Pedang hijau bergeriginya ditarik dari punggung, bilahnya mendesis nyaring, lapar akan darah sang Tetua.
Pemburuan telah berakhir. Eksekusi dimulai.