Indonesia
NovelToon NovelToon
Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.

"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar

Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Setelah melalui perjuangan merayu agar kedua jagoannya mau mandi pagi tanpa acara drama kedinginan lagi, Abi akhirnya selesai memakaikan baju kaos dan celana pendek yang bersih untuk Akbar dan Aqil.

Rambut halus kedua bocah itu disisir rapi oleh Abi. Wajah mereka tampak segar dan segar.

"Sudah ganteng dua-duanya," puji Abi sambil menepuk pelan bahu kedua putranya. "Ayo, ikut Ayah."

"Mau ke mana, Yah? Sawah lagi?" tanya Akbar mendongak.

"Ndak mau sawah... Aqil mau maen saja," potong si bungsu cepat.

Abi terkekeh pelan seraya menggeleng. "Nggak ke sawah. Kita ke rumah Nenek dulu, yuk. Sarapan di sana."

"Yaaaay! Sarapan tempat Nenek!" jerit Aqil girang, mendadak lupa kalau kemarin pagi baru saja diomel habis-habisan oleh sang nenek.

Mereka bertiga melangkah menyusuri jalan setapak desa yang masih berembun pagi. Jarak rumah tempat Abi dan anak-anaknya tinggal dengan rumah panggung Bu Marni sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya terpisah beberapa pekarangan rumah tetangga. Udara pagi yang sejuk menyapa kulit mereka, diiringi suara ayam berkokok dan sapaan hangat dari beberapa tetangga desa yang berpapasan.

"Bu, masak apa?" tanya Abi santai seraya menarik kursi makan. "Kami mau numpang makan di sini."

Bu Marni yang sedang membalik potongan ayam di atas wajan panas langsung menoleh. "Ibu masak ayam goreng ini tadi," sahutnya seraya mengangkat potongan ayam beraroma harum ke atas wadah.

Melihat piring berisi ayam goreng yang baru matang, Akbar dan Aqil langsung berbinar-binar matanya dan duduk manis di meja makan.

Bu Marni mematikan kompor, lalu menatap anaknya dengan pandangan dalam. Raut wajahnya mendadak berubah serius saat menyerahkan piring berisi ayam goreng hangat ke meja.

"Makanya kamu nikah lagi, Bi," cetus Bu Marni tiba-tiba.

"Sampai kapan kamu mau begini terus? Mengurus anak dua sendirian, bolak-balik repot dari sawah ke rumah..."

Abi yang baru saja hendak meraih piring nasi mendadak menghentikan gerakannya. Pria muda itu menghela napas pendek, lalu terkekeh pelan mencoba mencairkan suasana. "Ibu ini... pagi-pagi sudah bahas nikah lagi."

"Ibu serius, Abimanyu," potong Bu Marni cepat.

"Kamu itu masih muda, baru dua puluh sembalan tahun. Masa mau membujang terus? Anak-anak juga butuh sosok ibu yang ngurusin sehari-hari. Kasihan kalau apa-apa cuma sama kamu, mana kamu harus ngurus sawah lagi."

Abi menuangkan air putih ke gelasnya, mendengarkan wejangan ibunya dengan kepala tertunduk pelan. Pembicaraan tentang menikah lagi bukanlah hal baru, tapi selalu berhasil meninggalkan rasa pahit tersendiri di benaknya.

Bukan karena ia meratapi nasib, melainkan kenangan pahit saat mantan istrinya memilih pergi meninggalkan dirinya dan kedua anak mereka yang masih balita demi laki-laki lain yang lebih mapan secara ekonomi. Pria kota yang konon punya mobil bagus dan pekerjaan Mapan, sangat berbanding terbalik dengan Abi yang hanya seorang petani muda bermodal lumpur dan cangkul.

Sejak hari kepergian wanita itu, Abi bersumpah pada dirinya sendiri untuk menutup rapat-rapat pintu hatinya. Fokus hidupnya sepenuhnya ditumpahkan untuk membesarkan Akbar dan Aqil serta mengolah sawah peninggalan almarhum ayahnya.

Abi belum kepikiran ke sana, Bu," sahut Abi pelan namun tenang. "Fokus Abi sekarang cuma mau besarin Akbar sama Aqil dulu. Abi ndak mau nyari yang aneh-aneh lagi. Lagipula anak-anak juga sudah biasa cuma sama Abi."

"Biasa gimana?" sergah Bu Marni.

"Kemarin saja sampai begitu kamu bawa pulang dari sawah! Itu bukti kalau kamu itu keteteran momong dua anak sendirian! Kamu ndak usah trauma atau kapok gara-gara mantan istrimu yang ndak bersyukur itu. Masih banyak perempuan baik-baik di desa ini yang mau terima kamu sama anak-anak!"

"Ibu... kemarin kan namanya musibah kecil,"

"Nenek, Aqil mau paha ayamnya!" seloroh Aqil dengan mulut agak menganga, jarinya menunjuk-nunjuk piring masakan Bu Marni.

"Mas Akbar juga mau paha, Nenek!" sambung Akbar tak mau kalah.

Mendengar celetukan cucu-cucunya, aura tegang di wajah Bu Marni seketika meleleh. Wanita tua itu menghela napas panjang, menatap Abi sebentar dengan tatapan iba sekaligus gemas, sebelum akhirnya mengambil dua paha ayam terbesar dan membagikannya ke piring Akbar dan Aqil.

"Nih, buat cucu-cucu Nenek yang paling ganteng," ujar Bu Marni lembut. Ia lalu melirik Abi yang sedang mengambil piring nasi untuk dirinya sendiri.

"Pokoknya dengarkan kata Ibu, Bi. Ibu ndak bakal selamanya ada buat bantu kamu. Pikirkan matang-matang."

Abi hanya mengangguk pelan tanpa menjawab lagi, mengunyah nasinya dalam diam sementara celoteh riang Akbar dan Aqil yang menikmati ayam goreng kembali meramaikan meja makan pagi itu.

Setelah piring-piring bersih dan perut kedua bocah itu terisi kenyang, Akbar dan Aqil langsung sibuk bermain dengan mainan kayu kecil di ruang tengah. Abi menyandarkan punggungnya ke kursi, meneguk sisa teh hangatnya seraya menatap Bu Marni yang sedang merapikan meja.

"Bu," panggil Abi.

"Nadia ada rencana mau berkunjung ke sini lagi ndak dalam waktu dekat?"

Bu Marni menghentikan usapan lapnya di meja, lalu mendongak menatap anak sulungnya itu seraya menggeleng pelan.

"Mungkin ndak lagi, Bi. Kemarin Nadia sempat telepon Ibu, dia kan lagi hamil sekarang. Ya namanya orang hamil muda, gampang lelah kalau harus jalan jauh ke desa."

Abi mengangguk-angguk paham, senyum tipis terukir di wajahnya teringat sang adik yang sudah membina rumah tangga sendiri.

"Oalah, begitu... ya alhamdulillah kalau Nadia sehat-sehat."

"Iya, makanya nanti kita saja yang ke sana," lanjut Bu Marni seraya membawa piring-piring kotor ke bak cuci piring. "Nanti kalau pas sawahmu lagi ndak terlalu sibuk, kita mampir nengok ke rumah adikmu sekalian bawa oleh-oleh hasil panen dari desa."

"Iya, Bu. Nanti gampang pas Abi senggang," sahut Abi ringkas.

Abi bangkit dari kursi makan, merapikan kausnya sebentar lalu berjalan menuju ruang tengah tempat Akbar dan Aqil sedang asyik bermain. Pria itu berjongkok di depan kedua anak jagoannya.

"Mas Akbar, Aqil..." panggil Abi lembut. "Ayah mau berangkat kerja dulu. Kalian mau ikut Ayah ke mana-mana, atau mau di rumah Nenek saja?"

Akbar yang sedang memegang mobil-mobilan kayu mendongak, lalu dengan cepat menggelengkan kepala. "Ndak mau ikut Ayah! Mau di sini saja sama Nenek!"

"Iya, Aqil mau di sini saja!" timpal si bungsu penuh semangat. "Aqil sama Mas Akbar mau main ke rumah Radit, Yah!"

"Yakin mau ke rumah Radit? Jangan nakal ya di sana, nurut sama Nenek," pesan Abi seraya mengelus gemas kepala kedua anaknya bergantian.

Bu Marni yang baru selesai mencuci tangan di dapur melangkah ke ruang tengah sambil mengelap tangannya dengan serbet. Memperhatikan anak sulungnya yang sudah bersiap-siap, ia bertanya, "Mau ke sawah lagi, Bi?"

"Iya, Bu," jawab Abi sambil mengangguk. "Kemarin kan ndak jadi garap gara-gara dua curut ini malah mandi lumpur. Mumpung cuaca pagi ini lumayan cerah, Abi mau kelarin matun sama benerin pematang yang jebol."

"Ya sudah kalau begitu, tapi kamu jangan lama-lama di sawah. Ini anak-anakmu nanti ditinggal dikit sudah kelayapan ke mana-mana. Ibu ndak sanggup kalau harus ngejar-ngejar mereka ke sana-sini. Kamu tahu sendiri kan Ibu ini sudah tua, napasnya sudah ndak kuat kalau disuruh lari-lari."

"Iya, Bu, cuma mau lihat-lihat saja kok. Nanti kan di sana ada Pak Darno sama yang lainnya. Sekalian Abi mau ngobrol bentar sama mereka soal giliran air irigasi, jadi ndak akan lama-lama."

"Ya bagus kalau begitu. Biar kamu ndak keasikan di sawah juga," balas Bu Marni seraya melirik kedua cucunya yang mulai kasak-kusuk.

"Siap, Bu," sahut Abi.

"Mas Akbar, Aqil... dengar kata Nenek, ya. Mainnya di halaman saja, jangan kelayapan jauh-jauh. Kasihan Nenek nanti capek ngerjar kalian."

"Iya, Ayaaaah!" seru kedua bocah itu kompak.

1
ig: denaa_127
komen pilih
Abi + Kayla
Abi+ Dinda.
Kayla+ Pardi
Abi + Yanti
ig: denaa_127
setuju ngga mas Abi sama Kayla?
Elly Maryani
mas Abi diam" suka neng Kayla nih... gercep bgt... mau ngapain mas nanti lebaran haji kerumah neng Kayla?🤭😅😂
Fitri Yah
hahahaa .. iso ae ni mas abi 😄
Lisa
Cocok banget nih Abi & Kayla 👍👍😊
D_wiwied
wehehe mas Abi dah mulai berani ya,, godain Kayla terus tuh sampe merah merona wajahnya 😁😆
D_wiwied: masih malu2 tuh mereka
total 2 replies
D_wiwied
sudah tau pas-pas an aja masih kami kejar Din, ga ada harga diri banget sih, gatau diri jg ya kamu
D_wiwied
cieee mas duda senyum2 sendiri pasti keinget kejadian tadi di pematang sawah ya kaaan, awas ati2 lho mas bentar lg bakal muncul benih2 ikan eeh benih2 cinta 😆🤣🤣
D_wiwied
wehh ternyata mas duda bisa bercanda jg ya, malah godain kayla.. gek dibantuin mas jangan digodain terus 😆😂
D_wiwied
kakak Kayla panutan, mas Akbar aja bs nurut.. pertanyaannya kamu dah siap blm Kay seandainya jd ibu mereka 😆😁
Lisa
Abi ini Kayla jatuh malah digodain sih..
Fitri Yah
hahahhaa ...
Fitri Yah
good bi .... hempaskan wanita itu jauh2 👍👍
D_wiwied
jangan2 si mantan nih
D_wiwied
ya ampun kenapa ada bawang dimatakuuu 😭😭😭
Lisa
Mantan istrinya Abi ini seenaknya aj mau mengambil Akbar & Akil..jelas aj Abi g mengijinkan..
D_wiwied
cieee yg khawatir, lupa deh kalo lg ngambek 😆😆
D_wiwied
wkwkwk pengen ketawa liat kelakuan anak2 nya mas Abi tp ntar si Aqil mlh nangis kenceng lagi 😆😆🤣🤣🤣
Sartini 02
bagus jalan ceritanya, sering2 up ya
Lisa
Cpt sembuh y Akil..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!