Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Salah Paham soal Gaun
Tiga hari setelah pertemuan di kafe, sebuah paket besar datang untuk Lia.
Pengirimnya Tante Lenny.
Di dalam kotak terdapat gaun biru muda dengan potongan sederhana, jauh lebih baru dan mahal daripada pakaian yang pernah Lia miliki. Sebuah kartu kecil terselip di atas kain.
Untuk Lia. Terima kasih sudah mengirim lapis legit. Rudy bilang warna ini cocok untukmu. Anggap saja hadiah dari Tante.
Lia membaca kartu itu dua kali.
Ia yakin Rudy tidak bermaksud buruk. Mungkin ia hanya memberi tahu ibunya bahwa gaun ungu malam itu terlihat bagus. Namun, menerima pakaian dari keluarga pria yang baru saja ditolak bisa menimbulkan kesalahpahaman baru.
“Kembalikan saja,” kata Fenny melalui panggilan video. “Tulis baik-baik. Kalau Tante Lenny tulus, dia akan mengerti.”
“Saya takut terkesan sombong.”
“Lebih baik jelas sekarang daripada ditagih sebagai tanda setuju nanti.”
Lia mengangguk. Ia melipat kembali gaun itu dan menyiapkan kartu ucapan terima kasih.
Sebelum sempat menutup kotak, Vanessa masuk ke ruang setrika.
“Wah, hadiah dari Rudy?”
“Dari Tante Lenny. Saya akan kembalikan.”
“Kenapa? Bagus, loh. Orang yang memberi juga keluarga baik.”
“Saya tidak nyaman menerima.”
Vanessa mengambil kartu tanpa izin. “Rudy bilang warna ini cocok untukmu. Manis sekali.”
Lia merebut kartu itu dengan tangan gemetar. “Tolong jangan membaca barang pribadi saya.”
“Saya cuma membantu.” Vanessa tersenyum. “Kalau Sebas tahu, mungkin dia akhirnya sadar kamu punya pilihan lain.”
“Ini bukan permainan.”
“Bagi kamu mungkin bukan. Bagi keluarga ini, jelas iya.”
Suara mobil memasuki halaman. Beberapa menit kemudian Sebastian lewat di koridor, baru pulang dari SCBD. Vanessa sengaja membawa kotak itu keluar.
“Sebas, lihat hadiah untuk Lia.”
Lia bergegas menyusul. “Saya sedang mengembalikannya.”
Sebastian melihat gaun biru di dalam kotak, lalu membaca nama pengirim pada label.
“Dari Rudy?”
“Dari Tante Lenny,” jawab Lia. “Rudy hanya bilang warnanya cocok.”
“Dia tahu ukuranmu?”
“Saya tidak tahu.”
Vanessa menyandarkan bahu ke dinding. “Mungkin dia memperhatikan saat makan malam.”
Rahang Sebastian mengeras.
Lia menutup kotak. “Saya sudah bilang akan mengembalikan.”
“Kenapa?” tanya Sebastian.
Pertanyaan itu membuatnya bingung. “Karena saya tidak mau salah paham.”
“Atau karena takut saya marah?”
Lia menatapnya. “Kalau saya mau menerima, apakah Ko Sebas berhak marah?”
Sebastian terdiam.
Vanessa tersenyum makin lebar, menikmati ketegangan.
“Tidak,” kata Sebastian akhirnya. “Itu keputusanmu.”
“Bagus.” Lia mengangkat kotak. “Dan keputusan saya tetap mengembalikan karena saya sudah menolak Pak Rudy.”
“Kalau kamu suka gaunnya, saya bisa...”
Sebastian menghentikan kalimat sebelum selesai. Lia tetap menangkap maksudnya.
“Membelikan?”
“Saya hanya tidak mau kamu mengembalikan sesuatu karena merasa tidak pantas.”
“Saya pantas memakai gaun bagus. Tapi saya juga ingin bisa membelinya sendiri suatu hari nanti.”
Jawaban itu membuat Sebastian menatapnya lebih lama. Bukan penolakan terhadap perhatian, melainkan pernyataan bahwa Lia ingin memiliki kuasa atas barang dan hidupnya sendiri.
“Kalau begitu, saya tidak akan membelikan,” katanya.
Vanessa terkekeh. “Pekerja rumah bicara seperti pengusaha.”
Lia menoleh. “Tidak ada larangan pekerja punya rencana.”
Sebastian mengambil kartu kurir kosong dari meja dan menyerahkannya. “Pastikan ada resi dan foto kondisi barang. Bukan karena mereka akan berbuat buruk, tapi supaya tidak ada orang lain memutar cerita.”
Tatapannya singkat mengarah pada Vanessa.
Ia meminta Pak Kelik mengantarnya ke jasa kurir sore itu. Lia sendiri memotret kondisi gaun, label, serta kartu balasan sebelum paket disegel agar tak ada cerita bahwa ia merusak atau menerima diam-diam.
Di mobil, Pak Kelik bertanya, “Mbak Lia yakin tidak mau simpan? Gaunnya bagus.”
“Bagus bukan berarti harus saya miliki.”
“Pak Sebastian tadi kelihatan seperti mau membeli semua gaun biru di Jakarta lalu membakarnya.”
Lia terkejut, lalu tertawa meski berusaha menahan.
Paket diterima petugas kurir dengan nomor resi. Lia mengirim pesan sopan kepada Tante Lenny, menjelaskan bahwa ia sangat menghargai niat baik, tetapi tidak bisa menerima hadiah pribadi yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Balasan datang malam itu.
Tante mengerti. Maaf membuatmu tidak nyaman. Rudy juga bilang keputusanmu harus dihormati.
Lia menunjukkan pesan tersebut kepada Sebastian di ruang keluarga agar urusan itu selesai tanpa ruang untuk cemburu.
“Sudah dikembalikan,” katanya.
Sebastian membaca sebentar. “Saya tadi bersikap buruk.”
“Sedikit.”
“Sangat.”
“Ko Sebas mau jujur sekali sekarang.”
“Karena pura-pura tidak cemburu juga tidak berhasil.”
Lia tersenyum. “Yang penting Ko Sebas ingat, pilihan tetap milik saya.”
“Saya ingat.”
Sebastian mengembalikan ponsel. “Saya juga sudah bicara dengan Vanessa soal jebakan di kafe. Dia tidak akan lagi mengatur tugas keluar untukmu tanpa persetujuan Cornelia.”
“Ko Sebas yang memutuskan?”
“Mama yang memutuskan setelah saya menyampaikan fakta.”
Lia mengangguk. Perbedaan itu penting. Sebastian tidak diam-diam mengambil alih pekerjaannya, melainkan membawa masalah kepada orang yang memang mengatur rumah.
“Terima kasih.”
“Untuk kali ini, boleh.”
“Biasanya tidak boleh?”
“Biasanya kamu berterima kasih untuk hal yang seharusnya menjadi hakmu.”
Kata hak membuat dada Lia hangat. Selama bertahun-tahun, ia lebih sering diajari berutang budi daripada mengenali hak.
Di ujung ruang, Vanessa mendengar percakapan itu. Rencananya menyalakan pertengkaran justru membuat mereka semakin terbuka.
Ia menunggu sampai Lia pergi, lalu mendekati Cornelia yang baru turun.
“Tante,” katanya pelan, “kalau hubungan Sebas dan Lia terus dibiarkan, besok-besok omongan orang bukan lagi soal gaun. Saya takut nama keluarga benar-benar jadi bahan gosip.”
Cornelia memandang punggung Lia yang menghilang di lorong. “Kamu sudah dua kali memakai omongan orang untuk menekan dia.”
“Karena omongan itu nyata.”
“Dan sering kali kamu yang memulainya.”
Vanessa terdiam, lalu memainkan kartu terakhir. “Kalau Tante tidak percaya, tanyakan saja kenapa Sebas punya bekas gigitan di tangan setelah Lia naik ke lantai dua malam itu.”
Tatapan Cornelia berubah tajam.