Indonesia
NovelToon NovelToon
Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikahmuda / Idola sekolah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mina

Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.

Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.

Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.

Sialan emang.

Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.

Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Operasi Penyelamatan Kamar

"Woi, malah pada bengong lagi ini anak!" Seru Bima gemas. "Kalian beneran mau dikawinin sekarang juga ya?!"

Gue sama Kian tersentak barengan. Otak gue yang tadinya korsleting mendadak reboot paksa. Tanpa komando, kami balik kanan dan lari tunggang-ganggang menuju kamar utama. Gaya lari kami udah gak ada estetik-estetiknya lagi, udah mirip buronan kasus pencucian uang yang dikejar satpol PP.

"Ra, lu lipat selimut! Gue beresin baju-baju di lantai!" perintah Kian panik. Suaranya melengking naik satu oktav.

"Oheh!" seru gue gak jelas. Tangan gue yang gemetaran mulai narik ujung selimut tebal di atas kasur. Tapi ya namanya juga nasib apes, gerakan kami kalah cepat sama takdir.

Klek.

"Kalian lagi ngapain?"

Suara berat, dingin, dan sangat berwibawa milik Om Heru menghentikan gerakan kami seketika.

Mampus.

Kedua orang tua Kian dan orang tua gue melangkah masuk. Kamar utama villa yang tadinya lumayan luas, mendadak berasa makin sempit. Pandangan Om Heru sama Papa bergerilya memandangi setiap sudut kamar. Meneliti mangkok mi instan di meja dapur sampai kondisi lantai kamar mandi yang masih basah.

"Kalian... tidur berdua di kamar ini?" tanya Om Heru lurus. Matanya menyipit tajam, menatap gue sama Kian bergantian kayak detektif lagi nginterogasi tersangka kasus curanmor.

"Nggak!!" sahut gue sama Kian kompak sambil menggeleng kuat-kuat. Ini fix kebohongan terbesar abad ini. Anak TK aja pasti tahu kami berdua lagi bohong.

Papa gue melangkah mendekat, matanya menatap gue penuh selidik. "Kamu gak bohong kan, Elora?"

"Beneran, Pa! Ra-Elora semalam tidur di sofa ruang tamu kok! Kian yang di kasur!" seru gue asal jeplak, mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga diri gue yang udah di ambang jurang.

Sementara itu, Mama gue yang dari tadi diam, mendadak berlutut di tepi tempat tidur. Tangannya sibuk mengelus-elus dan meraba-raba sprei putih yang agak kusut itu dengan sangat teliti.

Gue menelan ludah. "Ma... Mama ngapain?"

"Nyari... takutnya ada bercak darah perawan kamu," sahut Mama tanpa dosa, masih sibuk menyingkap lipatan sprei.

"MA!!!" pekik gue histeris. Muka gue rasanya tak cuma matang lagi, tapi udah hangus jadi arang. Kian di sebelah gue bahkan sampai batuk-batuk kecil ngedenger itu.

Tante Maya yang berdiri di samping Om Heru menyenggol lengan suaminya. "Aduh, Papa ini gimana sih, mereka itu kan anak baik-baik. Mereka gak bakal berani ngapa-ngapain, percaya deh sama aku. Jangan bikin anak-anak takut begitu, ah."

"Mama sih!" Om Heru langsung berbalik menatap Tante Maya dengan raut wajah kesal setengah mati. "Kamu benar-benar kelewatan! Gimana kalau anak orang kenapa-napa?! Kalau sampai mereka kebablasan gara-gara ide konyol kamu ini, Mama yang Papa suruh tanggung jawab!" omel Om Heru kencang sekali. Suaranya menggelegar, bikin cecak di langit-langit kamar mendadak jantungan.

Tante Maya mengerucutkan bibirnya, membela diri. "Ya Mama kan cuma iseng aja... lagian biar mereka makin dekat, Pa. Biar ada kemajuan gitu lho hubungan anak kita."

"Kemajuan mata kamu!" semprot Papa gue ikut-ikutan gemas.

Tapi di tengah baku hantam verbal antar orang tua itu, mata tajam Om Heru mendadak menangkap sesuatu di atas nakas sebelah tempat tidur. Beliau melangkah mendekat, mengabaikan omelan Tante Maya, lalu memungut sebuah benda kecil yang tergeletak di samping cangkir teh.

Itu jepit rambut mutiara kesayangan gue. Dan apesnya... jepit itu tertindih sama jam tangan hitam punya Kian.

Gak berhenti di situ, pandangan Om Heru turun ke bawah nakas. Di sana, jelas-jelas kelihatan dua buah bantal yang saling menempel rapat di tengah kasur, lengkap dengan bekas lekukan dua kepala. Bukti sah dan meyakinkan bahwa ada dua kepala manusia yang tadi malam bobo cantik berdua.

"Jelasin ke Papa. Ini apa?" Om Heru mengangkat jam tangan Kian dan jepit rambut gue tinggi-tinggi.

Gue langsung mengatupkan bibir rapat-rapat. Mau ngeles pakai alasan apa lagi? Mau bilang jepit gue jalan sendiri ke jam tangan Kian? Gak masuk akal. Rasanya gue mau menguap aja jadi gas helium.

Kian menghela napas panjang. Dia melangkah satu tindak ke depan, memosisikan dirinya sedikit di depan gue, seolah refleks mau jadi tameng dari amukan para orang tua.

"Oke, Kian ngaku," ujar Kian tegas. "Kami memang tidur berdua di kasur ini semalam."

"Kian!" bisik gue panik sambil narik ujung kausnya.

"Tapi Kian sumpah demi apa pun, Pa, Om... kami gak ngapa-ngapain," lanjut Kian mantap. "Kian cuma meluk Elora karena udara semalam dingin banget gara-gara Mama ngunci semua pintu. Kian gak ada niat jahat. Kalau Om mau marah, marah ke Kian aja. Jangan salahin Elora."

Ruangan mendadak hening. Tatapan mata Kian yang super jujur bikin Papa gue yang tadinya udah siap meledak perlahan mengempis lagi kayak balon bocor. Papa mendesah berat sambil memijat pelipisnya.

"Kalian ini... kalian kan sudah besar harusnya tau kan mana yang salah dan mana yang benar?," tegur Papa. "Ingat ya Kian, Elora, kalian itu memang udah dewasa, tapi status kalian saat ini belum sah. Ada batasan yang harus tetap dijaga. Sekali nama baik keluarga tercoreng, bukan cuma kalian yang kena. Paham?"

"Paham, Pa," jawab gue dan Kian kompak, menunduk dalam-dalam.

"Dan untuk Mama..." Om Heru berbalik penuh, menatap Tante Maya dengan pandangan paling dingin. "Karena semua kekacauan ini murni berasal dari ide gila Mama..."

Tante Maya mulai menunjukkan raut wajah cemas. "Pa... jangan bilang kalau..."

"Uang bulanan Mama untuk bulan ini Papa potong lima puluh persen."

"APA?!" Tante Maya memekik histeris, memegang dadanya seolah baru aja dihantam meteor jatuh. "Papa bercanda kan?! Lima puluh persen?! Terus nasib arisan Mama gimana?! Tas yang udah Mama keep di langganan Mama gimana, Pa?!"

"Gak ada bercanda. Ini hukuman biar Mama kapok," tegas Om Heru tanpa bisa diganggu gugat.

Tante Maya langsung pura-pura menangis histeris. "Aduh... Pa... jahat banget sih... hobi Mama mati seketika ini mah..." rengeknya heboh, lengkap dengan gaya mengusap pipi padahal jangankan air mata, belek pun gak ada yang keluar dari matanya.

Gue dan Kian cuma bisa saling melirik dan akhirnya bisa bernapas lega.

1
ms. S
lanjut... novelnya menarik buat dibaca hingga bisa inget jaman pdkt sama gebetan. bikin deg2an juga Krena serasa jatuh cinta
ms. S
up lagi kak. novelnya kocak abis . aku sng novel yg kyk gini, lucu, sedih tapi ga mewek2 bgt, dan masih sesuai realita lha . sgra nikah yuk mereka berdua penasaran
Mina: makasih kak, seneng deh baca komennya🫰
total 1 replies
paijo londo
asli fix nih yg bloon kyaknya elora Ter la lu polos g tau kalo si kian itu udah suka elora dari lama🤭🤭🤭
paijo londo
mampir' thor🤦🤦aduh kyaknya hidup elora bakal kiamat kena serangan mental menghadapi kelakuan si kian q yg baca kok ikut2an jadi stress ya🤔🤔🤔
ms. S
ya ampun aku jadi deg2an ini kayak akunsama kian🤭🤣
Nurwana
asik asik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!