Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Semua orang menoleh serempak dan melihat rombongan besar petinggi perusahaan berjalan setengah berlari ke arah divisi pemasaran.
Di posisi paling depan rombongan ada Pak Herman, sang Direktur Utama, yang wajahnya terlihat sangat tegang dan dipenuhi keringat dingin.
Di belakangnya mengekor ketat seluruh jajaran dewan direksi lain dan juga manajer HRD pusat.
Melihat Direktur Utama datang berkunjung, Bagas langsung merapikan jasnya terburu-buru dan memasang wajah menjilat yang paling menjijikkan.
"Pak Herman yang terhormat, selamat siang Pak," sapa Bagas sambil membungkuk sangat dalam menyambut bos besarnya.
"Bapak sebenarnya tidak perlu repot-repot turun kemari, saya kebetulan sedang menangani penyusup gila ini," lanjut Bagas mencari muka sambil menunjuk ke arah Ardi.
Namun hal yang tidak masuk akal terjadi, Herman sama sekali tidak mempedulikan sapaan Bagas sedikit pun.
Mata pria paruh baya itu justru tertuju lurus pada sosok Ardi yang sedang berdiri sangat tenang dengan kedua tangan di saku celana.
Herman langsung menerobos tubuh Bagas begitu saja dan berhenti tepat satu langkah di depan Ardi.
Pemandangan selanjutnya yang terjadi membuat napas semua karyawan di ruangan itu seakan berhenti mendadak.
Herman, sang petinggi nomor satu yang paling ditakuti di perusahaan itu, membungkukkan badannya hingga sembilan puluh derajat di hadapan pemuda bernama Ardi.
"Selamat datang di perusahaan Anda Tuan Ardi," ucap Herman dengan suara lantang dan penuh rasa hormat yang mendalam.
"Mohon maaf sebesar-besarnya karena saya dan jajaran direksi terlambat menyambut kedatangan Anda secara pantas Tuan."
Jajaran direksi elit di belakang Herman serempak ikut membungkukkan badan mereka dengan sangat sopan mengikuti sang direktur utama.
"Selamat datang Tuan Ardi!" seru mereka secara bersamaan hingga suara mereka memecah kesunyian ruangan divisi pemasaran.
Bagas mematung kaku di tempatnya berdiri dengan mulut menganga sangat lebar hingga lalat pun bisa masuk ke dalamnya.
Matanya membelalak sempurna seolah dia baru saja melihat hari kiamat turun tepat di depan hidungnya sendiri.
"P-Pak Herman, apa yang sebenarnya sedang Bapak lakukan?" tanya Bagas dengan suara bergetar hebat dan terbata-bata.
"Kenapa Bapak membungkuk hormat pada penyusup miskin tidak tahu diri ini?" lanjut Bagas yang masih belum mau menerima kenyataan akal sehatnya.
Plak! Sebuah tamparan luar biasa keras dari tangan Herman mendarat tepat di pipi kiri Bagas tanpa peringatan.
Bagas terhuyung mundur ke belakang dan memegangi pipinya yang memerah panas dengan tatapan tidak percaya.
"Jaga mulutmu yang kotor dan tidak berpendidikan itu Bagas!" bentak Herman dengan mata melotot merah menyala karena marah.
"Berani sekali kau memanggil bos besarmu sendiri sebagai penyusup miskin hah!"
Herman menoleh ke seluruh penjuru ruangan dan memberikan pengumuman resmi dengan suara menggelegar ke seluruh karyawan.
"Perhatian semuanya dengarkan aku baik-baik!" teriak Herman memusatkan perhatian.
"Mulai detik hari ini juga, mari kita sambut pemilik baru perusahaan tempat kita bekerja ini, Tuan Ardi!"
"Beliau adalah pemegang saham mayoritas mutlak sebesar delapan puluh lima persen dari PT. Teknologi Nusantara!"
Pengumuman mengejutkan itu bagaikan bom atom yang meledak tepat di tengah ruangan divisi pemasaran.
Seluruh karyawan terkesiap kaget, menutup mulut mereka, dan saling bertatapan dengan wajah sangat pucat.
Lutut Bagas seketika terasa lemas bagaikan puding yang kehilangan bentuknya.
Tubuhnya merosot perlahan menyusuri meja hingga dia jatuh terduduk di lantai berkarpet dengan tatapan kosong menatap sepatu Ardi.
"P-pemegang saham mayoritas mutlak?" gumam Bagas dengan suara yang nyaris tidak terdengar oleh siapa pun.
Ardi menatap ke bawah ke arah wajah hancur Bagas dengan senyum iblis yang sangat menakutkan bagi siapa pun yang melihatnya.
"Halo lagi, Pak Manajer bawahan kesayanganku," ucap Ardi dengan nada santai menyapa lawannya yang sudah kalah telak.
"Bagaimana rasanya melihat pria miskin sepertiku berubah menjadi bos besarmu sekarang?" tanya Ardi menginjak-injak harga diri Bagas tanpa ampun.
Ardi menundukkan wajahnya sedikit dan menatap tepat ke mata Bagas yang sudah berkaca-kaca penuh ketakutan.
"Apakah kau masih ingin bersikeras memanggil sekuriti untuk mengusirku dari dalam gedung perusahaanku sendiri?" bisik Ardi sinis tepat di telinga Bagas.
Bagas menggelengkan kepalanya kuat-kuat dengan wajah sepucat mayat orang mati.
"M-maafkan saya Ardi, saya sungguh tidak tahu tentang semua ini," isak Bagas mulai menangis kehilangan akal sehat dan arogansinya.
Di saat bersamaan, antarmuka cahaya emas tiba-tiba muncul di layar pandangan mata Ardi.
[Notifikasi Sistem Flash Sale Rp1]
[Dominasi mutlak terhadap target Bagas telah sepenuhnya tercapai.]
[Tingkat kepuasan balas dendam terdeteksi sangat tinggi, proses akuisisi selesai sepenuhnya.]
Ardi mengabaikan notifikasi visual itu sejenak dan kembali berdiri tegak menatap Pak Herman.
"Pak Herman, saya sangat tidak suka melihat ada tumpukan sampah yang menangis di divisi pemasaran ini," ucap Ardi tenang memberikan kode keras.
Herman langsung menangkap maksud tersembunyi dari ucapan mutlak bos besarnya itu.
"Baik Tuan Ardi, saya sangat mengerti apa yang harus saya lakukan," jawab Herman sigap sambil merapikan jasnya.
Herman berbalik cepat dan menatap Bagas di lantai dengan pandangan jijik seolah melihat kotoran.
"Bagas, mulai detik ini juga kau resmi dipecat dengan tidak hormat dari perusahaan ini tanpa uang pesangon sepeser pun!" teriak Herman memberikan vonis tegas.
"Bereskan semua barang rongsokanmu dan keluar dari gedung ini sekarang juga sebelum aku memanggil polisi!"
Bagas menangis tersedu-sedu layaknya anak kecil dan merangkak maju mencoba memeluk sepatu kulit mahal Ardi.
"Ardi tolong aku, aku mohon jangan pecat aku dari sini," tangis Bagas mengemis belas kasihan tanpa sisa harga diri.
"Aku janji akan memaksanya mengembalikan Siska padamu hari ini juga, ambil saja dia kembali!"
Ardi mendecih jijik mendengar tawaran itu dan menendang pelan bahu Bagas hingga pria itu terjerembap telentang ke belakang.
"Aku sama sekali tidak tertarik memungut kembali sampah plastik yang sudah aku buang ke tempat sampah Bagas," jawab Ardi sangat dingin menolak mentah-mentah.
"Tim sekuriti, seret mantan manajer gila ini keluar dari area gedungku sekarang juga!" perintah Ardi dengan suara lantang ke arah pintu masuk.
Dua satpam lobi yang tadi menyambut Ardi di bawah ternyata sudah membuntuti rombongan direksi sampai ke atas.
Mereka langsung maju tanpa ragu dan mengunci kedua lengan Bagas, lalu menyeretnya secara paksa melintasi lantai berkarpet itu.
"Lepaskan tanganku! Ardi tolong beri aku satu kali kesempatan lagi saja!" teriakan putus asa Bagas menggema memilukan di sepanjang lorong lift hingga akhirnya suara itu menghilang di balik pintu besi.
Ardi tersenyum puas dari dalam hatinya melihat akhir tragis mantan sahabat karib yang telah tega mengkhianatinya itu.
Dia kemudian menoleh ke arah Nisa dan Budi yang masih berdiri kaku bagai patung batu di meja kerja mereka.
"Nisa, Budi, dengarkan aku baik-baik, mulai hari ini kalian berdua yang akan memimpin penuh seluruh kegiatan divisi pemasaran ini," ucap Ardi santai memberikan perintah baru.
Kedua karyawan bawahan itu nyaris pingsan saking terkejutnya mendapat promosi jabatan manajer dari bos besar secara tiba-tiba di hari yang sama.
"T-terima kasih banyak Tuan Ardi, kami berjanji akan bekerja dengan sangat keras membalas budi Anda!" ucap Nisa sambil menangis tersedu-sedu karena terharu luar biasa.