Indonesia
NovelToon NovelToon
THE LAZY GENIUS

THE LAZY GENIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ardyan1

Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2,1

Tiba-tiba

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu yang pelan tapi tegas. Ketukan yang sopan.

Yamada menoleh ke arah pintu. Pintu kayu yang warnanya senada dengan langit-langit. Jantungnya yang baru berdegup sedikit lebih kencang.

"Yamada?"

Suara seorang perempuan terdengar dari luar. Suara yang lembut, dewasa, dengan sedikit nada khawatir yang tidak bisa disembunyikan.

Tubuh Yamada langsung menegang. Bulu kuduk di tengkuknya yang baru berdiri.

Dia memanggil namaku?

Bagaimana dia tahu namaku? Apakah nama tubuh ini juga Yamada? Kebetulan yang terlalu aneh.

"Yamada, kau sudah bangun?" Suara itu terdengar lagi, kali ini sedikit lebih keras, sambil gagang pintu bergerak pelan.

Yamada berdiri dengan refleks, masih dalam keadaan bingung. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Harus bersembunyi? Harus menjawab?

Gagang pintu bergerak.

Pintu terbuka, dengan deritan kecil.

Seorang perempuan masuk ke dalam ruangan.

Dia terlihat seperti seorang wanita berusia sekitar empat puluhan. Tidak terlalu tinggi. Rambutnya panjang dan berwarna hitam kecokelatan, diikat setengah ke belakang dengan sederhana. Ada beberapa uban tipis di pelipisnya. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam, dengan kerutan halus di dahi dan di sudut matanya. Dia mengenakan celemek di atas baju sederhana berwarna krem. Tangan kanannya masih memegang lap dapur.

Begitu melihat Yamada berdiri di dekat tempat tidur, dengan wajah pucat dan tatapan bingung, ekspresinya berubah. Kekhawatiran itu mencair, digantikan oleh kelegaan yang begitu besar sehingga matanya sedikit berkaca-kaca.

"Syukurlah."

Satu kata itu keluar dengan napas yang tertahan. Seolah-olah dia sudah menahan napas selama berhari-hari.

Wanita itu berjalan mendekat, dengan langkah cepat tapi tidak berlari. Dia berhenti sekitar satu meter di depan Yamada, seolah-olah takut mendekat terlalu cepat akan membuatnya kaget.

"Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja? Ada yang sakit?"

Yamada tidak menjawab. Dia tidak bisa menjawab. Otaknya sedang sibuk memproses. Wanita ini... ekspresinya... terlalu tulus untuk seorang orang asing.

Wanita itu berhenti, melihat Yamada yang hanya diam menatapnya.

"Yamada?" Dia memiringkan kepalanya sedikit.

Dia mengenalku. Dia benar-benar mengenalku. Bukan sebagai orang asing yang tiba-tiba muncul di kamarnya. Tapi sebagai seseorang yang sudah dia kenal sejak lama. Seseorang yang dia sayangi.

Yamada menatap wanita tersebut. Ada sesuatu yang aneh.

Sangat aneh.

Wanita itu berbicara seolah-olah dia sudah mengenal Yamada sejak lama. Seolah-olah dia sudah melihat Yamada tumbuh dari bayi hingga menjadi remaja 15 tahun ini.

Namun Yamada tidak mengenalnya sama sekali. Tidak ada satu pun memori tentang wanita ini di dalam kepala Yamada yang asli.

"Maaf..." Akhirnya Yamada membuka mulut. Suaranya kecil.

Wanita itu terlihat bingung. Alisnya sedikit terangkat.

"Kenapa? Kenapa kau minta maaf, Nak?"

Yamada berpikir sejenak. Otaknya yang malas dipaksa untuk bekerja dengan cepat untuk mencari alasan yang paling tidak merepotkan dan paling tidak mencurigakan.

Dia tidak mungkin mengatakan, "Maaf, Bu, saya bukan anak Ibu. Anak Ibu yang asli mungkin sudah meninggal atau jiwanya tergeser karena saya baru saja meninggal ditabrak truk di dunia lain dan bereinkarnasi ke tubuh anak Ibu." Karena itu terdengar seperti kegilaan. Dan menjelaskan kegilaan itu akan sangat, sangat merepotkan. Mungkin dia akan dikira kerasukan, dibawa ke dukun, atau dikurung.

"Aku..."

Yamada memegang kepalanya dengan kedua tangan. Dia mencoba terlihat seperti orang yang baru bangun dari sakit. Ini adalah akting terbaik yang bisa dia lakukan dengan energi minimal.

"...sedikit pusing. Kepalaku sakit."

Itu bukan kebohongan sepenuhnya. Kepalanya memang terasa sedikit berat, seperti ada data yang sedang diunduh di latar belakang.

Ekspresi wanita itu langsung berubah khawatir lagi. Kelegaan tadi hilang, digantikan oleh kecemasan seorang ibu.

"Jangan memaksakan diri. Kau baru saja sadar, jangan langsung berdiri terlalu lama." Dia mendekat dan menyentuh dahi Yamada dengan punggung tangannya. Tangannya hangat, sedikit kasar karena pekerjaan rumah, tapi sentuhannya lembut.

"Tidak demam." Dia bergumam lega. "Syukurlah. Kau membuat Ibu sangat khawatir."

Kemudian dia tersenyum lembut. Senyum yang tulus, yang membuat mata wanita itu sedikit menyipit. Senyum yang membuat Yamada merasa bersalah tanpa alasan yang jelas.

"Mungkin karena kau baru sadar setelah tidur hampir dua hari. Dua hari kau tidak bangun sama sekali, hanya tidur. Ayahmu sampai tidak bisa tidur semalaman."

Yamada terdiam. Informasi itu menghantamnya.

Dua hari?

Berarti tubuh ini memang sudah hidup sebelum dirinya mengambil alih? Berarti anak laki-laki yang asli, pemilik tubuh ini sebelumnya, mengalami sesuatu yang membuatnya koma atau tertidur selama dua hari? Dan tepat saat dia tertidur, jiwa Yamada masuk?

Pikiran itu membuat Yamada merinding. Merinding yang terasa di kulit barunya. Ada rasa tidak nyaman yang aneh. Seperti dia adalah seorang penyusup yang menduduki rumah orang lain tanpa izin.

Apakah pemilik asli tubuh ini sudah mati? Apakah dia menghilang? Apakah Yamada membunuhnya secara tidak langsung dengan mengambil alih tubuhnya?

"Bu..."

Kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Tanpa dia rencanakan. Tanpa dia pikirkan.

Wanita tersebut tersenyum, seolah-olah itu adalah hal yang paling wajar di dunia.

"Ya? Ada apa, Nak? Kau mau air? Ibu ambilkan?"

Yamada sendiri terkejut setengah mati di dalam hati. Kenapa aku memanggilnya ibu? Mulutnya bergerak sendiri.

Dia tidak tahu. Namun mulutnya bergerak secara alami, lidahnya membentuk kata itu dengan fasih, seolah-olah otot-otot mulut tubuh ini sudah terlatih selama 15 tahun untuk memanggil wanita ini dengan sebutan "Ibu".

Seolah tubuh ini mengingat sesuatu yang tidak diketahui pikirannya. Memori otot. Memori tubuh.

Yamada menatap wanita itu. Ada perasaan asing di dalam dadanya. Perasaan yang bukan berasal dari Yamada yang pemalas itu.

Hangat.

Familiar.

Nyaman.

Seperti saat dia mencium aroma sup yang dimasak di dapur, aroma yang seharusnya tidak dia kenal, tapi terasa seperti rumah.

Tetapi perasaan itu bukan miliknya.

Setidaknya...

Bukan sepenuhnya miliknya. Itu adalah sisa-sisa perasaan dari pemilik lama tubuh ini. Gema dari 15 tahun kehidupan yang dijalani anak laki-laki ini sebelum Yamada datang.

Wanita itu kemudian berkata, dengan suara yang lebih pelan, seolah-olah tidak ingin mengganggu istirahatnya,

"Beristirahatlah dulu, Yamada. Jangan pikirkan apa pun dulu. Ibu akan buatkan bubur untukmu. Kau pasti lapar."

Dia berjalan menuju pintu, langkahnya ringan karena kelegaan. Sebelum keluar, wanita itu berhenti, tangannya sudah memegang gagang pintu, dan menoleh lagi seolah-olah baru teringat sesuatu yang sangat penting.

"Oh, hampir lupa."

Yamada menatapnya, masih dengan tatapan bingung yang dia coba tutupi.

"Ayahmu memintamu menemuinya setelah kau bangun."

"Ayah?" Kata itu lagi-lagi keluar secara otomatis dari mulut Yamada.

"Ya." Wanita itu tersenyum, tapi senyumnya kali ini sedikit berbeda. Ada sedikit rasa hormat dan sedikit rasa takut di dalamnya saat menyebut kata "Ayah".

"Dia sudah menunggumu sejak kemarin. Dia bilang ada yang penting ingin dia bicarakan denganmu. Sepertinya tentang... sekolahmu."

Pintu tertutup dengan pelan. Klik.

Yamada kembali sendirian.

Ruangan menjadi sunyi lagi. Hanya terdengar suara angin yang menggerakkan tirai dan suara burung-burung kecil dari luar jendela.

Dia menatap kedua tangannya yang tergeletak di atas pangkuannya. Tangan anak 15 tahun.

Kemudian melihat cermin di sudut ruangan.

Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima belas tahun masih menatap balik kepadanya, dengan wajah yang sama bingungnya.

"Jadi..."

Yamada berbicara pelan, suaranya hampir hilang ditelan sunyi.

"Siapa sebenarnya aku sekarang? Apakah aku masih Yamada yang lama? Atau aku adalah Yamada yang baru? Pemilik tubuh ini?"

Tidak ada jawaban. Cermin tidak bisa menjawab. Langit-langit kayu tidak bisa menjawab.

Namun tepat ketika dia hendak kembali ke tempat tidur karena hanya tempat tidur yang bisa memberikan jawaban paling jujur bagi seorang pemalas, yaitu dengan membiarkannya tidur dan melupakan semua masalah ini untuk sementara

[........]

Yamada membeku. Darahnya seolah berhenti mengalir. Bulu kuduknya berdiri lagi, tapi kali ini bukan karena wanita tadi.

Suara yang sama seperti sebelumnya. Suara yang dia dengar di dalam kegelapan total setelah kematiannya. Suara mekanis, datar, yang berbicara langsung di dalam otaknya.

Suara yang sama seperti sebelumnya.

[Synchronization initiated.]

Sinkronisasi? Sinkronisasi apa?

Yamada menatap kosong ke depan, ke dinding kayu di hadapannya. Matanya tidak berkedip.

Kemudian sebuah jendela transparan muncul di hadapannya. Melayang di udara, sekitar setengah meter di depan wajahnya. Jendela itu berwarna biru muda transparan, dengan tulisan-tulisan putih yang bersinar pelan. Tidak seperti hologram murahan, jendela ini terlihat sangat solid, sangat nyata, seolah-olah memang ada di sana.

[System initialization: 3%]

Yamada tidak bergerak. Dia menatap angka itu.

Senyumnya yang tadi sudah menghilang sejak melihat cermin, kini menghilang lebih dalam lagi. Wajahnya yang muda itu berubah menjadi datar.

"...Jangan bilang."

Dia sudah memiliki firasat buruk. Firasat yang sangat buruk. Firasat yang lebih buruk daripada saat melihat truk itu datang ke arahnya.

Angka itu berubah, dengan suara 'ting' kecil yang hanya terdengar di dalam kepalanya.

[System initialization: 7%]

Yamada mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Gerakan yang sangat familiar, gerakan putus asa yang khas.

"Kenapa aku malah mendapatkan sistem?"

Di semua cerita reinkarnasi yang pernah dia dengar sekilas dari teman-temannya yang otaku, sistem adalah hal yang paling merepotkan. Sistem berarti misi. Misi berarti harus bekerja. Harus naik level. Harus melawan monster. Harus menjadi pahlawan. Semua hal yang bertentangan dengan filosofi hidup santai Yamada.

Tidak ada jawaban dari jendela itu.

Hanya satu kalimat yang muncul di bawah persentase, dengan font yang lebih kecil.

[Please wait.]

Tolong tunggu.

Yamada menatap tulisan itu selama beberapa detik. Tulisan yang begitu sopan tapi begitu memaksa.

Kemudian menghela napas panjang. Napas yang paling panjang sejak dia bereinkarnasi.

"Yah..."

Dia kembali menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Kasur berderit. Dia menatap langit-langit kayu, dengan jendela sistem yang masih melayang di atasnya, menampilkan angka 8% yang perlahan naik.

"Setidaknya aku masih bisa tidur sambil menunggu loading ini selesai."

[System initialization: 8%]

Yamada menutup matanya, mencoba untuk kembali ke mode malasnya yang ideal.

Dan tanpa menyadarinya

di dalam tubuh yang kini ditempatinya, jauh di dalam kesadarannya yang terdalam, di tempat di mana seharusnya hanya ada dirinya...

sesuatu yang lain juga sedang membuka mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!