Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Tiyas duduk di hadapan kedua orang tuanya di ruang tamu yang hangat dan sederhana.
Suasana di sekitar terasa begitu menenangkan, kontras dengan badai yang baru saja porak-poranda di dalam batinnya.
Sang ibu duduk di sisinya, menggenggam erat jemari Tiyas yang masih terasa dingin.
Sementara sang ayah duduk di hadapan mereka, menatap putrinya dengan sorot mata penuh cinta yang tak pernah luntur, meski dulu sempat ada perselisihan di antara mereka.
"Nduk," suara Ayah terdengar berat, sarat akan ketulusan seorang orang tua.
"Sebelum kamu meminta maaf, Ayah dan Ibu sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu mengatakannya. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untukmu, kapan pun kamu ingin pulang. Tapi, kamulah yang tidak pernah pulang. Bagaimanapun keadaannya, kamu akan selalu menjadi putri kesayangan Ayah dan Ibu."
Ketahanan terakhir Tiyas runtuh seketika. Pertahanan diri yang ia bangun dengan topeng profesionalisme dan amarah dingin seketika meleleh mendengar kelembutan hati orang tuanya.
Ayah yang selama ini dikenal sebagai sosok pria paruh baya yang tegas dan kaku, perlahan meneteskan air matanya.
Tangis seorang ayah yang melihat putrinya terluka.
Tiyas menganggukkan kepalanya pelan, air matanya tumpah semakin deras, membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan lagi.
Ia merasa begitu hina sempat mengabaikan nasihat mereka demi pria yang salah, namun di saat ia jatuh sehancur-hancurnya, rumah inilah satu-satunya tempat ia bisa kembali menemukan ketulusan.
Suasana ruang tamu mendadak hening seketika. Hawa hangat yang tadinya menyelimuti ruangan berubah menjadi tegang dan mencekam.
Ayah menatap lekat-lekat mata putrinya, mencari sisa-sisa kebohongan atau candaan, namun yang ia temukan hanyalah genangan air mata dan luka yang teramat dalam.
"Sekarang ceritakan, ada apa? Dan di mana suami kamu itu?" tanya Ayah dengan nada suara yang mulai meninggi, menahan gemuruh emosi di dadanya.
Tiyas menarik napas panjang, menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian dengan pandangan nanar.
"Ayah, Ibu. Gio sekarang ada di Bandung," jawab Tiyas dengan suara bergetar pelan. "Dan, dia, berselingkuh dengan Mia."
Mendengar pengakuan itu, Ayah dan Ibu seketika seperti disambar petir di siang bolong.
Tubuh mereka menegang, napas mereka seolah tertahan di tenggorokan.
"Berselingkuh? Dengan Mia?!" seru Ibu tak percaya, kedua tangannya langsung membekap mulutnya sendiri.
"Mia, sepupu kamu sendiri, nduk?!" sambung Ayah dengan mata membelalak lebar, urat-urat di pelipisnya mulai menegang menahan amarah yang mendidih.
Tiyas menganggukkan kepalanya pelan, air matanya kembali luruh tanpa suara.
"Iya, Ayah. Ibu." jawab Tiyas lirih.
Mendengar konfirmasi lisan dari putri tunggalnya, amarah Ayah meledak seketika.
Pria paruh baya itu membanting telapak tangannya ke atas meja kayu di hadapan mereka hingga menimbulkan suara dentuman keras.
Brak!
"Kurang ajar!" geram Ayah dengan napas memburu dan rahang yang mengeras rapat.
Matanya merah menyala menahan kemarahan yang luar biasa.
"Anak tidak tahu diri! Sudah ditolong, diangkat derajatnya, malah menginjak-injak harga diri putriku! Apalagi sama Mia, tega-teganya sepupumu sendiri berbuat serendah itu!"
Ayah hendak bangkit dari kursinya, tangannya terkepal erat seolah ingin langsung melabrak pria yang telah meremukkan hati putrinya.
Namun dengan cepat, Ibu meraih lengan suaminya, menggenggamnya erat-erat untuk menahan langkahnya.
"Sabar, Pak. Istighfar, Pak, sabar." bujuk Ibu dengan suara bergetar, berusaha meredakan badai amarah di dada suaminya meski dadanya sendiri terasa begitu sesak dan perih.
"Jangan pakai emosi. Kasihan Tiyas, Pak. Dia datang ke sini butuh kita, bukan melihat kita emosi seperti ini."
Mendengar ucapan istrinya dan melihat Tiyas yang tertunduk gemetar mengusap air mata, napas Ayah perlahan-lahan mulai berangsur teratur, meski raut wajahnya masih menyiratkan amarah yang belum padam.
Ia kembali duduk, menatap putrinya dengan pandangan yang perlahan melembut.
Ibu merangkul bahu Tiyas rapat-rapat, mengusap punggung putrinya dengan penuh kasih sayang, lalu menatap suaminya dengan penuh ketegasan.
"Pak, apa pun yang terjadi di masa lalu, Tiyas sudah ada di rumah ini. Sekarang bukan waktunya menyalahkan siapa-siapa lagi.Tugas kita sekarang hanya satu: berdiri di samping Tiyas, mendukung dia sepenuhnya untuk mengambil keputusan terbaik."
Ayah menghela napas panjang dan dalam, mengusap wajahnya yang tegang.
Ia menatap Tiyas dengan mata yang berkaca-kaca, lalu mengangguk pelan.
"Ibumu benar, Nduk," kata Ayah dengan suara berat namun penuh kepastian.
"Kamu tidak perlu takut lagi. Rumah ini, Ayah, dan Ibumu akan selalu menjadi benteng pertahananmu. Kalau kamu mau menyelesaikan pernikahan beracun ini, Ayah yang akan berdiri paling depan membantumu. Kita tidak akan biarkan mereka semena-mena padamu!"
Tiyas mendongak, menatap kedua orang tuanya yang kini bersatu untuk melindunginya.
Rasa hangat yang begitu besar melingkupi dadanya, menggantikan dinginnya rasa takut dan pengkhianatan yang selama ini menyiksanya.
Ketegangan di ruang tamu perlahan mencair ketika Ayah menghembuskan napas panjang, mencoba mengembalikan ketenangannya demi sang putri.
Di tengah situasi yang begitu berat, Ibu tahu betul cara meredakan kepedihan di hati anak gadisnya.
"Sudahlah," ucap Ibu sambil tersenyum tipis, mencoba menghapus sisa air mata di pipi Tiyas.
"Ngomong-ngomong, Ibu tadi masak brongkos kesukaanmu, nduk. Ayo, kita makan dulu. Perutmu pasti kosong dari pagi."
Mendengar kata 'brongkos', kenangan masa kecil seketika berkelebat di benak Tiyas.
Masakan khas Jawa berkuah hitam gurih dengan kluwek buatan ibunya itu selalu menjadi obat paling mujarab setiap kali ia merasa lelah atau sedih.
Tiyas yang mendengarnya langsung menganggukkan kepalanya pelan, sedikit ketulusan dan kehangatan keluarga mulai meresap ke dalam rongga dadanya yang sempat membeku.
"Iya, Bu," jawab Tiyas dengan suara serak namun tersenyum tipis.
Mereka berdua kemudian bangkit dari ruang tamu, berjalan beriringan menuju ke ruang makan yang tak jauh dari dapur.
Di sana, di atas meja makan sederhana, sepanci brongkos hangat yang mengepulkan aroma rempah yang khas sudah menanti, siap memberikan ketenangan sementara di tengah badai hidup yang baru saja dimulai.
Tiyas kembali menikmati masakan ibunya yang sudah lama sekali tidak ia cicipi.
Rasa gurih kuah kluwek yang berpadu dengan empuknya daging dan kacang tolo seketika membangkitkan kenangan masa kecil yang hangat dan bebas dari beban.
"Makan yang banyak, nduk. Jangan karena Gio lalu kamu jadi lupa makan dan menyiksa diri sendiri," ucap Ibu sambil menyendokkan tambahan porsi ke piring Tiyas dengan penuh perhatian.
Tiyas menganggukkan kepalanya pelan, menelan suapan terakhirnya dengan senyuman kecil yang tulus di balik sisa-sisa kesedihannya.
Ayah yang duduk di seberangnya memperhatikan Tiyas dengan lekat.
Melihat putrinya mulai mau makan dengan lahap, raut wajah Ayah yang tadinya dipenuhi amarah kini sedikit melembut, menyadari bahwa putrinya masih butuh banyak tenaga untuk menghadapi badai ini.
"Sudah makannya? Kalau sudah, sekarang kamu istirahat dulu, Nduk. Perjalanan jauh dan pikiranmu pasti sangat penat," pinta Ayah lembut setelah mereka selesai makan.
Tiyas bangkit dan menganggukkan kepalanya. Ia melangkah pelan menuju kamar lamanya—kamar masa kecil yang sudah lama ditinggalkannya setelah menikah.
Begitu ia mendorong pintu dan melangkah masuk, udara kamar yang berdebu tipis menyambutnya.
Suasana ruangan itu masih sama persis seperti terakhir kali ia tinggalkan.
Namun, langkah Tiyas seketika terhenti saat matanya menangkap sebuah bingkai foto di atas meja belajar.
Foto lama semasa mereka masih berpacaran. Di sana, ia dan Gio tersenyum begitu lebar dan bahagia, seolah dunia sepenuhnya milik mereka.
Tiyas menatap foto itu cukup lama. Tidak ada lagi rasa cinta atau rindu yang tersisa di dadanya, melainkan hanya rasa ironi yang teramat pekat melihat betapa manisnya sebuah kebohongan yang pada akhirnya harus runtuh di tempat ia memulai segalanya.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘